Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Maafkan Aku


__ADS_3

Maaf baru bisa menyapa kalian lagi, kemarin-kemarin kurang sehat, harus up tiap hari di tempat lain, itu pun terpaksa buat nulis, karena sudah terkait kontrak. Dan aku anggurin cerita Gita dan Indra, maaf sekali lagi. Semoga kedepannya lebih rajin update. Buat kalian jaga kesehatan karena di cuaca yang seperti ini sangat rentan.


Dan buat teman-teman semua yang sedang dalam masa sulit karena bencana, semoga Allah memberi kesehatan dan kekuatan serta ketabahan buat semuanya. Mari kita doakan saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah, semoga musibah tersebut lekas berlalu. Aamiinn🤲


🥀🥀🥀


Dokter sudah memeriksa Gita beberapa saat lalu, memberi obat untuk wanita itu. Dokter mengatakan jika Gita hanya demam biasa, karena fisik gadis itu memang hanya demam, tapi jiwa gadis itu sedang tergoncang hebat, akibat rasa kecewa pada diri sendiri.


"Untuk menangani kondisi emosional Nona Gita ini Anda bisa datang langsung ke dokter ahli, saya rasa Nona Gita membutuhkannya saat ini," jelas dokter keluarga tersebut setelah mendengar penjelasan Mama tentang kondisi mental Gita.


"Apa dokter punya saran, misalnya dokter punya teman psikiater?" tanya Indra, sebab dia sama sekali tidak memiliki seorang teman dengan profesi tersebut.


Dokter tersebut mengangguk, "Ada, beliau salah satu rekan kerja saya, nanti saya sampaikan kapan beliau bisa ditemui," ucap dokter paruh baya itu.


"Baiklah Dok, terimakasih kami tunggu kabarnya,"


Setelah itu dokter tersebut pun berpamitan. Karena tugasnya menang sudah selesai, dia tak bisa menangani di luar batas profesinya.


"Jadi, Gita seperti ini sudah cukup lama?" tanya Papa.


Indra mengangguk, "Beberapa bulan setelah menikah Pa, aku tidak tahu kalau kejadiannya akan berakibat seperti ini, biasanya Gita akan mengurung diri di kamar selama seharian, setelah itu dia kembali terlihat baik-baik saja," jelas Indra akan kondisi Gita beberapa waktu belakangan ini.


"Kami sebenarnya sudah melakukan upaya, saran dari dokter untuk program hamil dan sebagainya. Pemeriksaan juga sudah kami lakukan, dan kami berdua dinyatakan sehat," jelas pemuda itu.


"Mungkin Gita terpengaruh oleh ucapan seseorang hingga dia menyalahkan dirinya seperti ini," Papa menatap sendu wajah putri satu-satunya itu.


"Entahlah Pa, saat ku tanya dia tidak pernah mau menjawab. Tapi setiap kali pulang dari kumpul dengan teman-temannya dia selalu seperti itu, mengurung diri menyalahkan dirinya, setelah aku beri nasehat dia pasti diam dan mengurung diri seperti yang ku katakan tadi," jelas Indra lagi.


Mama dan Papa menghela nafas hampir bersamaan, merasa iba dengan putri mereka.

__ADS_1


"Aku sebenarnya tak pernah mempermasalahkan semua itu, karena aku yakin suatu saat kita pasti diberi kepercayaan." Indra yang sejak tadi duduk di sisi ranjang sebelah sang istri, kini menggenggam tangan istri tercintanya itu.


Tiba-tiba kedua kelopak mata gadis itu terbuka, "Abang? Kok sudah pulang?" tanyanya dengan suara parau.


Indra tersenyum, tapi senyum yang menyiratkan sebuah kesedihan di dalamnya.


"Ada Papa dan Mama, mereka mengkhawatirkan mu." Indra tak menjawab pertanyaan istrinya itu, dia justru membantu Gita untuk duduk.


"Papa tidak mau kamu terlihat baik-baik saja di depan kami, padahal kamu sebenarnya tidak baik-baik saja," ujar Papa membuat Gita terkesiap.


"Maksud Papa?" ternyata perempuan itu masih pura-pura tak mengerti dengan ucapan sang Papa.


"Sudahlah Mas, biarkan Gita istirahat dulu. Badannya juga masih panas, untuk yang satu itu kita bicarakan nanti setelah dia sembuh." Mama merasa saat ini belum saatnya menanyakan sesuatu pada gadis itu, apalagi kondisi tubuhnya sedang tidak sehat.


Papa mengenal nafas, "Baiklah, sekarang kamu istirahat. Papa akan kembali ke kantor. Indra tolong pikirkan usulan Papa tadi." Papa berlalu meninggalkan kamar tersebut tanpa berniat mendengarkan sahutan dari mereka.


Setelah kepergian Papa, Gita langsung menubruk tubuh yang duduk dihadapannya dengan tangis berderai, "Abang, maafkan aku. Aku selalu mengecewakan mu." Ujarnya memeluk erat tubuh sang suami.


Gita mengangguk dalam pelukan sang suami.


Mama yang melihat itu tak kuasa meneteskan air mata, dia teringat akan masa lalunya yang sama sekali tidak mengasuh kedua anaknya sejak kecil.


"Kenapa kamu tidak mau mengatakan ini semua dihadapan Papa tadi?" tanya Indra merasa janggal dengan sikap sang istri yang terlihat menutupi masalah ini dari sang Papa.


"Maafkan aku Bang, aku tidak mau Abang di salahkan dalam hal ini. Aku tahu seperti apa watak Papa," ucapnya setelah itu melepaskan diri dari pelukan sang suami lalu bergantian memeluk sang Mama.


"Ma, maafkan Gita sudah membuat Mama khawatir. Aku baik-baik saja Ma, Mama tenang aja ya," ucapnya dalam pelukan Mama.


Mama menggeleng, "Mama tahu kamu tidak baik-baik saja sayang. Bersabarlah, Mama yakin suatu saat dia akan tumbuh di sini." Mama mengusap perut datar Gita sambil tersenyum.

__ADS_1


Gita mengangguk, "Iya Ma," ucapnya. Tapi di dalam hati entah apa yang dirasakan perempuan itu, dia mungkin bisa terlihat baik-baik saja dihadapan mereka tapi di saat sendiri dia tak sebaik itu.


"Papa sudah tahu tentang masalah ini, tapi sepertinya tadi Papa ingin mengetahui langsung dari kamu, apakah ada yang sengaja menyinggung perasaan mu karena hal ini? Sepertinya Papa akan menanyakan hal itu, kamu tahu sendiri kan sifat Papa mu seperti apa?" tutur Mama menjelaskan ucapan Papa yang ambigu tadi.


Gita menggeleng, "Tidak ada Ma, aku hanya merasa tidak berguna saja menjadi seorang istri. Semua temanku yang sudah menikah mereka sudah punya momongan, sedangkan aku belum," ucapnya jujur.


"Sekarang jangan pikirkan hal itu dulu, yang terpenting kesembuhan mu, yakinlah suatu saat amanah itu akan Allah percayakan pada mu." Tutur Mama.


Gita kembali memeluk erat tubuh sang Mama, mencari kenyamanan di sana. Kenyamanan yang berbeda saat memeluk sang suami.


Seharian Mama menemani putrinya itu, bahkan saat makan Mama pun yang menyuapi, dia memanfaatkan waktu seharian ini untuk bersama putrinya, sebab esok dia harus kembali ke rumahnya di Bandung menemani sang suami. Hari ini membiarkan sang suami berada di rumah orang tuanya.


Bahkan malam hari Mama pun memutuskan untuk menginap di rumah anak dan menantunya itu.


"Ijinkan Mama tidur dengan istrimu malam ini ya," pinta Mama pada menantunya saat mereka sedang makan malam, sedangkan Gita sudah tertidur sejak habis Maghrib tadi.


Indra mengangguk, "Iya Ma, tidurlah bersama Gita malam ini, semoga esok dia menjadi lebih baik. Mungkin Gita juga butuh Mama," timpalnya.


Mama tersenyum lalu mengangguk, "Terimakasih, besok Mama harus kembali ke Bandung, biar rindu Mama makin terobati, dan maaf kamu harus tidur sendirian malam ini," ujarnya.


"Iya Ma, tidak masalah sudah biasa tidur sendirian dulu." Indra terkekeh setelah mengucapkan hal itu.


Setelah makan malam, Mama menyiapkan makan malam untuk Gita, sebab putrinya itu belum makan. Membawa makanan tersebut ke kamar, saat membuka kamar ternyata Gita sudah bangun, duduk di depan meja rias sambil merenung, entah apa yang dipikirkan putrinya itu.


"Makan dulu ya Nak," ucap Mama membuat Gita terkejut.


"Mama! Aku kira Mama sudah pulang," ucap Gita dia bangkit mendekati sang Mama.


"Mama mau menginap di sini, menemani kamu tidur. Indra sudah mengijinkannya," Mama tersenyum dia mencoba tenang berhadapan dengan putrinya, meskipun di dalam hati kecilnya merasa perih karena melihat putrinya yang seperti itu. Mama tahu, Gita masih memikirkan persoalan tentang anak, dan mungkin masih menyalahkan dirinya sendiri. Sungguh rasanya tak sanggup membayangkan betapa menderitanya sang putri.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2