Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Jangan Main-main


__ADS_3

"Gimana?" tanya Meta saat Gita masuk ke dalam mobil dengan wajah ditekuk.


"Taulah, males gue Ta. Alasan dia tetap sama kaya kemaren," jawab Gita. Dia baru saja meninggalkan ruangan Salman setelah pemuda itu menjelaskan alasan kenapa bisa makan siang bersama Claudia. Tapi penjelasan Salman tidak masuk dalam pikirannya sedikitpun, dia justru makin kesal dengan pemuda itu. Untung saja saat itu ada rekan kerja Salman datang, dan dia pun langsung berpamitan.


Meta menghela nafas, dia sebenarnya juga merasa ada sesuatu diantara Salman dan wanita itu, tapi tentu Meta tak seberani itu untuk mengungkapkannya pada Gita, takut pikirannya meleset dan membuat hubungan mereka renggang, mungkin nanti jika dia menemukan sebuah bukti, maka dia langsung akan menyelamatkan sahabatnya itu.


"Menurut gue, Lo percaya aja sama dia, ya selama mereka tidak melakukan hal di luar batas, mungkin apa yang dikatakan Salman benar," timpal Meta.


"Iya sih, tapi Lo tahu gue seperti apa, kan? Gue itu tipe cewek pencemburu, apalagi kalau itu berhubungan dengan mantan. Dan gue sadar diri, makanya gue selalu jauhi mantan-mantan gue saat berhubungan dengan yang baru," Gita menghela nafas kasar, mencoba menenangkan gejolak hatinya yang kian terbakar api cemburu.


Meta mengangguk, dia paham betul dengan sahabatnya satu ini.


"Gue tadi ketemu sama mantan Lo, Taka, dia katanya kerja di rumah sakit itu?" Meta sengaja mengalihkan pembicaraan, saat mengingat pertemuannya dengan Taka.


Gita mengangguk, "Iya, Kak Salman dokter pembimbingnya. Sebelum gue jadian sama Kak Salman, dia terus berusaha deketin gue, tapi gue sengaja pura-pura enggak kenal. Males sama cowok kaya gitu," jawab Gita.


"Pantesan tadi gue bilang nungguin Lo, dia enggak tanya apa-apa lagi dan langsung pergi, ternyata kalian sudah pernah bertemu, gue kira belum." Meski menimpali ucapan Gita, sorot mata gadis itu tetap menatap jalanan yang sedikit renggang itu.


Gita terdiam cukup lama, membuat Meta menoleh sekilas dan ternyata sahabatnya itu sudah terlepas, membuatnya menggelengkan kepala.


"Kebiasaan," gumamnya.


Meta menatap Gita yang sedang terlelap itu, dia menghela nafas berat saat mengingat sesuatu, "Kenapa Lo enggak sama Indra aja sih Git? Ah, kalian berdua itu memang bodoh! Bisa-bisanya saling suka tapi memilih memendam perasaan sendiri, yang satu justru memilih menjalin hubungan dengan orang lain," gumamnya saat lampu rambu lalulintas berwarna merah didepan sana.


"Gue rasa Indra itu lebih baik dari tunangan Lo itu, entah kenapa sejak pertama melihat gue udah enggak suka, dan merasa ada yang kurang pas," Meta mengingat pertemuan pertama mereka saat acara pertunangan Gita, meski hatinya berpikir demikian, tentu saja dia tak berani mengatakannya, apalagi saat melihat Gita tersenyum bahagia.

__ADS_1


Sudah bukan rahasia lagi, jika kedua insan itu saling mencintai satu sama lain, hanya mereka berdua saja yang tidak mengetahui perasaan keduanya, entah kenapa mereka berdua tidak ada yang peka sama sekali, padahal tiap hari bertemu dan berinteraksi. Entahlah, Meta hanya bisa berdoa untuk kebaikan Gita.


🥀🥀🥀


Kepergian sang kekasih dengan wajah muram terus terbayang dalam ingatan Salman, tapi dia tak bisa mengikuti gadis itu, sebab ada jadwal operasi siang ini. Tentu tak mungkin meninggalkan pekerjaan hanya untuk kepentingan pribadi, dia bukan orang seperti itu. Pengabdiannya untuk masyarakat lebih penting dari pada kehidupan pribadinya, sebab dia sudah berikrar untuk mementingkan pasien diatas kepentingan pribadi.


Keseriusan di ruang operasi membuatnya lupa dengan masalah yang sedang dia hadapi. Pekerjaan berisiko tinggi, jika dia melamun dan melajukan kesalahan itu pasti akan sangat fatal untuk nyawa seseorang.


Dia bisa bernafas lega saat semua pekerjaannya usai meski sedikit terlambat dari jadwal kepulangannya. Sebelum memutuskan untuk pulang, dia lebih dulu mengecek benda pipih berwarna silver yang terletak diatas mejanya. Dia menghabiskan nafas kasar saat benda itu sepi pemberitahuan dari orang yang sangat diharapkan, mencoba untuk mengirim pesan tapi pesannya tidak terkirim, akhirnya dia memutuskan untuk mendatangi rumah kekasih hatinya itu sebelum pulang, memastikan keadaan gadisnya baik-baik saja.


"Lho, Gita enggak bilang sama kamu kalau malam ini katanya mau menginap di rumah Alya, aktanya Alya besok sidang. Padahal baru aja dia keluar, sepuluh menit yang lalu lah," ternyata harapan hanya menjadi harapan saja, sebab tak menemukan Gita di rumah.


"Enggak Tan, yaudah kalo gitu aku pulang aja Tan, titip salam buat Om." Salman menyalami Mama Sinta setelah itu berpamitan pulang.


Lelah seharian menjadi makin lelah saat tak berhasil bertemu dengan Gita, saat ini yang dia butuhkan adalah guyuran air dingin yang menenangkan, atau berendam di dalam air hangat untuk beberapa saat.


"Enggak, emang kenapa?" Salma justru balik bertanya.


Salman ikut duduk di samping adiknya, bersandar di sandaran sofa sambil mencari kenyamanan. Dia pun menceritakan apa yang diucapkan Mama Sinta.


"Hem, aku datang besok aja. Tadinya mau nginep di sana juga, tapi enggak dibolehin sama Papa," jawab Salma.


Salman mengangguk masih dalam posisi yang sama.


"Bang, jangan main-main ya sama Gita, kalau enggak mau nyesel. Aku tahu semua tentang Abang beberapa hari ini." Salma menatap tajam sang Kakak.

__ADS_1


Salman yang mendengar ancaman adiknya pun langsung menegakkan tubuh, menatap lekat sang adik. "Jangan ngaco kamu," ucapnya.


"Aku ngaco? Ih, enggak banget. Aku tahu selama beberapa hari ini Abang sering ketemu sama wanita itu, aku malu sama Gita Bang, aku sering muji kebaikan Abang selama ini tanpa membuka aib sedikit pun, tapi ternyata Abang malah seperti itu," Salma terlihat kesal, terbukti dia membuang muka setelah mengatakan itu.


"Serius kami enggak ada apa-apa dek, dia hanya konsul...." Salman terpaksa memotong ucapannya sebab sang Adik menyatunya dengan cepat.


"Bukan konsultasi lebih ke arah curhat, iya kan? Pesanku, Abang jangan pernah main-main kalau enggak mau kecewa untuk kesekian kalinya. Kalau sampai Abang ngecewain Gita, aku orang pertama yang akan membenci Abang setelah Gita." Salma meninggalkan sang Kakak dengan perasaan kesal. Kelakuan Kakaknya yang sudah tidak lagi muda itu sungguh tak bisa ditoleransi menurutnya, karena jika dia dalam posisi Gita, pasti dia pun akan terbakar api cemburu.


Jangan tanya darimana Salma mengetahui tingkah laku abangnya, tentu saja dia tahu sebab memiliki orang kepercayaan di rumah sakit milik keluarganya itu.


Salman menyugar rambutnya frustasi, dilema yang kini menyerang hatinya. Disini lain dia tidak mau membuat Gita kecewa, tapi di sisi lain dia juga merasa iba dengan mantan kekasihnya itu. Sebab wanita itu sendang dalam masalah, dan dia tak tega jika tidak mau mendengarkan kisahnya.


"Aku tidak mungkin menjauhi Claudia, dia sedang membutuhkan seseorang, untuk berkeluh kesah. Tapi aku juga tidak mau membuat Gita kecewa, ah, entahlah semuanya bikin pusing." Salman beranjak meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya, pikirannya campur aduk, entah apa yang akan dia lakukan setelah ini.


Selesai mandi, Salman mencoba menghubungi Gita, tapi sialnya nomor gadis itu tidak aktif. Akhirnya dia mengetuk pintu kamar Salma dengan tidak sabaran.


"Apa sih Bang? Ganggu orang tidur aja," protes Salma saat membuka pintu kamarnya.


"Minta nomor Alya dong, Abang mau telpon dia, mau nanyain tentang Gita," ucap Salman to the poin.


"Enggak usah, kasian Alya lagi belajar, jangan ganggu. Lagian Gita baik-baik aja, kita baru telponan setengah jam yang lalu," Salma menolak keras permintaan sang Kakak, dan sebelum sang Kakak merayunya, dia pun kembali menutup pintu dan menguncinya.


"Ah sial! Salma!" seru Salman dari luar kamar, membaut sang adik terkikik geli.


.

__ADS_1


.


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2