
"Kita mau makan siang dan ngerayain keberhasilanku kali ini, Bang Indra mau ikut?" Gita sudah sedikit tenang, berfikir positif jika Salman memang benar-benar sibuk, ya meskipun rasa kecewa itu masih ada.
"Kalian bertiga saja, aku harus kembali ke kantor siang ini. Maaf ya, lain kali mungkin," jawab Indra, dirinya memang sengaja meminta ijin masuk siang dan berjanji akan lembur malam ini, tentu alasannya karena ingin melihat gadis itu tersenyum dan menyampaikan amanat Hafidz.
"Baiklah, terimakasih dan aku minta maaf Bang, Bang Indra sampai rela ninggalin kerjaan karena diriku," sesal Gita yang baru saja mengetahui jika Indra bolos kerja di pagi hari.
"It's oke, tidak masalah. Yaudah aku pamit." Indra berlalu meninggalkan mereka.
Baru saja Indra pergi, seseorang datang dengan senyum manis menghiasi bibirnya, menenteng buket snack berwarna merah menyala.
"Teruntuk gadis manis dihadapan ku ini." Menyerahkan buket tersebut pada Gita, gadis itu tersenyum miring dan menerima buket itu.
"Enggak ngutang, kan?" bukannya berterimakasih Gita justru mencibirnya.
"Ish, gue enggak semiskin itu ya Kak. Please deh, Lo enggak usah buat gue jelek dimata temen Lo, entar turun reputasi gue sebagai cowok ganteng," mereka selalu seperti itu jika bersama, bak kucing dan tikus yang tak pernah akur.
"Bukannya terimakasih malah ngejelekin gue. Nyesel sumpah! Tau gini mending gue lanjut tidur di rumah," protesnya.
Gita terkikik melihat adik tirinya itu merajuk, dia selalu bahagia jika Riky seperti itu dan hal sama pun akan dirasakan oleh Riky jika Gita kesal.
"Baiklah adik gue yang paling ganteng se komplek, terimakasih sudah datang ya meskipun terlambat. Dan terimakasih snack nya, nanti bakal gue makan. Tapi enggak Lo racunin, kan? Jadi curiga gue,"
Riky berdecak sebal mendengar ucapan terakhir Kakak tirinya itu, padahal ucapan awalnya membuat dia terbang, tapi setelahnya justru dijatuhkan, makin sakit bukan?
"Udah deh, kalian berdua kalau mau debat entar di rumah. Gue udah laper banget, cacing di perut gue udah pada demo. Ayo kita pergi makan sekarang." Alya menarik paksa Gita dari hadapan Riky diikuti oleh Salma.
"Gue ikut ya, kebetulan gue juga belom makan." Riky mengejar langkah mereka tanpa menunggu jawaban tiga gadis itu, Riky pun mengikuti mobil Salma yang sudah lebih dulu melesat.
"Setelah makan anterin gue ke rumah sakit ya Ma," pinta Gita, dia penasaran dengan kesibukan kekasihnya itu. Bahkan sejak semalam pemuda itu tidak berinisiatif menghubunginya terlebih dahulu, membuatnya makin kesal tapi juga rindu.
"Siap!" timpal Salma tanpa menatap sahabatnya sebab masih fokus dijalanan.
__ADS_1
"Lo itu beruntung banget tau enggak? Meskipun mereka saudara tiri, tapi mereka sepertinya tulus sayang sama Lo Git, biasanya namanya saudara tiri pasti tidak akur. Ya meskipun Lo sama Riky sering tidak akur, tapi gue yakin Riky itu sayang dan peduli sama Lo," tutur Alya sedikit iri dengan kekentalan persaudaraan Gita dengan kedua saudara tirinya.
Gita mengiyakan ucapan Alya, sebab dia tahu betul kehidupan saudara tiri yang seperti dikatakan Alya. Tidak akur, bahkan saling bermusuhan. Dia jadi teringat akan Meta sahabatnya, dulu gadis itu memiliki saudara tiri dan mereka tidak akur, bahkan kakak tiri dan ibu tirinya seakan ingin membuangnya dari rumah ayahnya sendiri. Tapi beruntungnya, kejahatan itu segera terbongkar sebelum Meta benar-benar meninggalkan rumah itu, dan sang ayah langsung menceraikan istrinya itu. Gita baru mendapatkan cerita tersebut saat beberapa waktu lalu bertemu Meta di acara pertunangannya, tentu bukan Meta yang bercerita melainkan Arum.
Ah, mengingat pertunangan dia kembali kesal dengan pemuda yang berstatus sebagai ruangannya itu. Sepertinya pemuda itu sengaja menghindarinya, atau memang tidak merindukannya. Atau, ah sudahlah. Saat seperti ini memang sulit sekali untuk berfikir positif, apalagi masalah pasangan.
"Hey! Lo ngelamun?" tanya Salma setelah mematikan mesin mobilnya, dia baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah kafe yang baru pertama kali mereka kunjungi, sebab kafe ini baru buka dua Minggu lalu, tapi lihatlah pengunjung begitu penuh, hingga dia susah mencari tempat parkir.
"Eh, enggak," elak Gita, dia mencoba tersenyum dan menormalkan gejolak hatinya.
"Maafin Abang gue ya Git, dia pasti beneran sibuk. Dia itu sayang banget sama Lo." Salma menepuk pundak Gita pelan, dia merasa bersalah meskipun sebenarnya tidak perlu, sebab dia memang tidak bersalah dalam hal ini.
"Gue juga ngerasain gimana dicuekin seharian, karena kesibukannya. Ya meskipun terkadang pikiran negatif lah yang selalu muncul, tapi selalu gue cegah juga. Tapi pada akhirnya, semua itu hanya pikiran buruk gue aja, buktinya setelah dia tidak selesai dengan kesibukannya, dia langsung datangin gue." Salma seakan mengerti dengan kegelisahan Gita, sebab dia juga pernah mengalami hal yang sama.
Gita tersenyum lalu mengangguk, dia tak ingin membuat Salma merasa bersalah lagi.
"Iya gue enggak apa-apa. Gue percaya sama Abang Lo. Yu kita sekarang turun, katanya mau makan." Gita membuka pintu mobil tersebut.
Mereka berempat berjalan bersamaan memasuki kafe baru itu, katanya hidangan di sini bisa memanjakan lidah dan perut kita. Terlihat sekali, baru saja buka pelanggan sudah membeludak.
Mereka memesan makanan kesukaan, sambil menunggu sesekali mereka bercanda. Tapi ada yang aneh dari tatapan mata Salma yang terus menatap arah belakang Gita, mengabaikan candaan yang diciptakan oleh Alya dan Riky. Membuat gadis itu mengernyit, lalu menoleh ke arah tatapan itu.
Gita membeku saat melihat apa yang sejak tadi diperhatikan oleh Salma, tiba-tiba saja hatinya dipenuhi jarum yang menancap tanpa persetujuan. Air matanya bahkan sudah mengalir deras diikuti Iskan kecil.
Riky yang duduk disebelah Kakak tirinya itu menyadari ada yang salah dari Gita, dia pun ikut melihat kearah mata gadis itu. Tangannya mengepal erat, melihat sosok dibelakangnya yang terhalang oleh beberapa meja yang sudah mulai kosong.
"Gita?" lirih Salma saat gadis itu mendorong kursinya, berlari meninggalkan mereka, tak peduli dengan teriakan dua gadis itu.
Riky mengikuti langkah sang Kakak, sebenarnya dia ingin memukul orang yang sudah membuat sang Kakak menangis, tapi saat ini Gita lebih penting. Urusan dengan orang itu bisa kapan pun.
"Kak Gita!" Riky menarik paksa tangan Gita saat gadis itu akan berlari ke jalan raya, memeluk erat gadis yang pernah singgah dihatinya sebagai seorang perempuan bukan seorang saudara, tapi kini dia benar-benar menyayangi Gita sebagai seorang Kakak.
__ADS_1
"Kita pulang ya," lembut Riky berucap, bahkan Gita sedikit terkejut dengan ucapan lembut itu, sebab baru kali ini dia mendengarnya.
Gita mengangguk, "Jangan bilang siapa pun, termasuk Bang Indra," bukan tanpa alasan Gita berkata seperti itu, sebab dia masih mengingat ancaman Indra dulu.
"Tapi..."
"Demi kebaikan, akan aku selesaikan masalah ini sendiri, tapi tidak sekarang." Gita meraih helm yang diberikan oleh Riky, dan keduanya pun berlalu meninggalkan kafe tersebut.
Di sisi lain, setelah kepergian Gita dan Riky, Salma menghirup dua orang yang sedang berbincang sambil bercanda itu. Dengan segenap keberaniannya, dia melayangkan sebuah ciuman menyakitkan dari telapak tangannya pada pemuda itu, yang tak lain adalah Kakak kandungnya sendiri.
"Ah! Apa yang kamu lakukan Salma!" bentak Salman pada sang adik, tak lupa tatapan mata yang menghujam penuh permusuhan.
Tak seperti biasa, Salma menatap balik dua bola mata yang seakan mengikutinya itu. Tak ada sedikit pun rasa takut dari sorot mata gadis itu.
"Harusnya aku yang bilang seperti itu! Aku kecewa sama Abang!" ucap gadis itu dengan suara tinggi bernada penuh emosi.
"Hey! Kamu siapa sih? Kenapa membaut keributan di sini?" tanya seorang perempuan berpakaian seksi yang sejak tadi bergurau dengan Salman abangnya.
Salma menatap penuh kebencian pada perempuan itu, tak peduli dengan ucapan perempuan sialan tersebut.
"Aku saja kecewa sama Abang, apalagi Gita yang sudah Abang bohongi." Salma pergi begitu saja diikuti oleh Alya yang susah payah mengejar gadis itu.
Salman membeku, "Gita ada di sini? Dia pasti salah paham," lirihnya. Secepat kilat meninggalkan perempuan itu tanpa berpamitan, dia tak ingin membuat kekasih hatinya salah paham dengan apa yang dilihat.
Tapi terlambat, sebab Gita sudah lebih dari salah paham melihat kedekatan mereka berdua. Bahkan kini Gita sengaja memblokir nomor Salman, tak ingin diganggu pemuda itu.
Ya, Gita masih trauma dengan yang namanya perselingkuhan. Dirinya pernah merasakan sakit itu, bahkan kehidupan keluarganya dipenuhi dengan perselingkuhan yang menyayat hati. Percayalah, memang sampai sejauh itu Gita berfikir.
.
.
__ADS_1
.
🥀🥀🥀🥀🥀