Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Pertunangan


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pagi ini dikediaman keluarga Gita disibukkan dengan persiapan acara tunangan gadis itu yang akan diadakan sehabis dhuhur nanti. Persiapan hampir sembilan puluh lima persen, hanya menunggu beberapa makanan yang belum diantar. Meski hanya mengundang keluarga besar serta beberapa tetangga, acara itu tetap terlihat mewah, jelas dari susunan dekorasi yang menghiasi halaman rumah itu terlihat mewah.


Gita benar-benar sudah memantapkan hatinya untuk Salman, meski masih sulit untuk melupakan Indra, sebab cinta yang tumbuh untuk pemuda itu berbeda tak seperti cinta yang tumbuh saat bersama mantan kekasihnya terdahulu. Mungkin salah satu alasannya, karena Indra selalu membantu keluarganya, bahkan Indralah yang mempertemukan dia dengan saudara kandungnya.


"Bang, semoga kamu mendapatkan pasangan yang lebih baik dari ku. Akan ku tutup kisah ini, dan aku akan membuka lembaran baru dan kisah baru bersama laki-laki yang mencintaiku. Aku pernah mendengar sebuah perkataan yang mengatakan jika lebih baik dicintai, sebab orang yang mencintai kita itu pasti akan memperlakukan kita dengan baik. Berbeda saat kita bersama orang yang kita cintai tapi tak mencintai kita," gumam gadis itu.


Gita saat ini berada di dalam kamarnya, masih betah di tempat paling nyaman dirumahnya itu. Duduk di meja belajar, sambil menikmati pemandangan foto hasil jepretannya dalam laptop, banyak sekali foto Indra bersamanya, ada juga foto pemuda itu bersama sang Kakak. Banyak sekali, bahkan dia lupa sejak kapan menyimpan foto Indra itu.


Terdengar suara ketukan pintu dari kamarnya, Gita pun mempersilakan orang itu untuk masuk, meski tak tahu siapa yang mengetuk pintu itu.


"Gita! Lo tega ya enggak ngundang kita di acara sepenting ini!" teriak seseorang yang baru masuk.


Gita langsung menoleh ke arah sumber suara, saat mengetahui siapa mereka yang datang, gadis itu pun langsung memeluk kedua sahabatnya.


"Kalian tahu dari siapa? Maaf, gue sengaja enggak ngundang siapa pun, kecuali keluarga besar aja." Gita memeluk kedua sahabatnya.


"CK, gue kira Lo lupa sama kita Git. Untung Hafidz ngasih tahu gue, kalo Lo mau tunangan hari ini, pagi buta kami langsung tancap gas ke Bandung," ujar Meta setelah melepas pelukan Gita yang begitu erat.


"Sorry," ucap Gita sambil nyengir.


Ya, kedua sahabat Gita itu adalah Meta dan Arum, mereka sengaja datang dari Jakarta untuk menghadiri acara tunangan sahabatnya itu. Keduanya mendapatkan alamat tesebut dari Hafidz, setelah pemuda itu memberitahu jika Gita akan bertunangan.


"Tadi Karin maksa ikut, tapi gue larang. Kemarin waktu Hafidz nelpon gue, kita lagi sama Karin dan dia tahu semuanya. Meskipun gue lihat dia kecewa karena kita enggak ngijini dia ikut," ujar Arum.


Gita menghela nafas kasar, "Gue udah maafin dia sebenarnya, tapi buat nerima dia seperti dulu lagi rasanya sulit, karena dia benar-benar udah ngecewain gue," cetusnya.

__ADS_1


"Udah enggak usah pikirin dia, lagian si Karin juga udah punya geng baru, kemarin itu kebetulan kita ketemu di kafe, dia juga bareng tiga teman barunya," Meta menengahi, tak ingin melihat Gita sedih dengan mengingat masa lalu yang menyakitkan.


"Hari ini Lo harus happy, jangan sampai calon tunangan Lo sedih melihat kekasihnya murung," sambung Arum.


Mereka menghabiskan waktu beberapa jam untuk bercerita panjang lebar, hingga Gita di rias pun mereka masih terus menceritakan keseruan saat di kampus dan juga perjalanan mereka menulis skripsi.


🥀🥀🥀


Meskipun hari ini acara pertunangan Gita, Indra tetap masuk tapi mengambil jam kerja setengah hari. Tentu dia tak ingin Gita kecewa karena keabsenannya yang tidak hadir dalam acara pertunangan itu, ya meskipun dia harus menguatkan hatinya untuk berdamai dengan keadaan.


"Semangat Ndra, percayalah sama Bapak, kalau dia jodoh kamu, kalian pasti akan bersatu, kalau tidak jodoh mau kamu kejar sampai ke dunia lain aja tetep kalian akan berpisah," pesan Pak Danu sebelum Indra pulang saat pemuda itu meminta ijin pulang.


"Terimakasih Pak, Bapak selalu menyemangati saya dalam hal apa pun, kalau begitu saya permisi, takut telat," setelah itu Indra berlalu meninggalkan Pak Danu yang tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah Indra yang terlihat lebih tegar sejak beberapa hari yang lalu.


Benar saja saat dia sampai di rumah, semua tamu sudah hadir dan masih menunggu keluarga Salman yang masih dalam perjalanan. Dia bergegas naik ke lantai dua dimana kamarnya berada, tak sengaja dia melihat kamar Gita yang terbuka, memperhatikan gadis itu yang sedang duduk bersama dia temannya dari Jakarta, ya tentu Indra mengenal Meta dan Arum.


"Indra?" Meta ternyata menyadari kehadirannya, membuat pemuda itu tersenyum kikuk.


"Lho, Lo ada di sini?" tanya gadis itu lagi.


Indra justru mengertukan keningnya, lalu menatap Gita yang justru tersenyum sambil menggeleng, sepertinya Gita belum bercerita jika Indra kini adalah kakak tirinya.


"Ya iyalah Met, ini juga rumah Bang Indra," jawab Gita.


"Maksudnya?" tanya Meta dan Arum secara bersamaan.

__ADS_1


"Yaudah kalian dengarkan penjelasan Gita, aku mau mandi dan ganti baju." Indra memutuskan untuk meninggalkan kamar itu, sebab hatinya tiba-tiba perih saat melihat Gita yang terlihat begitu bahagia.


Indra mencoba menenangkan dirinya sebelum keluar kamar untuk menemui semua tamu, terutama tamu utama yang kini sudah hadir. Bahkan acara itu seperti ya sebentar lagi dimulai. Berjalan perlahan menuruni anak tangga, dia terkejut ketika sebuah tepuka sedikit keras mendarat di pundaknya. Menoleh dan mendapati Riky yang berpakaian sama kini merangkulnya menuruni anak tangga bersama.


"Bang, kalo Lo enggak kuat mending sembunyi di kamar aja, dari pada pingsan malu-maluin." Cetus pemuda itu.


Indra menatap Riky jengah, meski dia patah hati tapi tak sampai separah itu.


Riky terus melontarkan cibiran yang membuat Indra jengah, sekalipun tak dia gubris ucapan adiknya itu, dia memilih menyalami beberapa tamu dan ikut duduk di barisan kelaurganya.


Indra menatap dua sejoli yang kini menjadi pusat perhatian semua orang, sebab mereka sedang bertukar cincin diatas panggung kecil yang didekorasi semewah mungkin. Hatinya bergetar, bahkan getaran kecil itu mengincangkan tubuhnya, ternyata yang dikatakan Riky ada benarnya, dia seakan ingin pingsan saat ini juga. Tapi lagi-lagi tepukan di pundaknya membuatnya sadar dari lamunan.


"Mereka belum menikah, masih ada kesempatan untuk mendapatkannya. Tapi gue harap Lo enggak ngelakuin itu, apalagi menyakiti salah satunya. Cukup doa yang jadi senjatanya. Jika doa itu tak mampu, maka dia memang bukan jodohmu," ucap seseorang itu membuat Indra terkejut. Bukan hanya perkataanya saja melainkan siapa yang mentakan hal tersebut.


"Lo balik? Kapan? Kok gue baru lihat?" Indra tak menggubris ucapan Hafidz, meski dalam hatinya memikirkan semua perkataan pemuda itu.


"Kita datang hampir bersamaan, gue sengaja pulang, ngasih kejutan buat adik gue yang manja itu. Lo diem enggak usah kasih tahu siapa pun, gue akan munc dihadapan dia sendiri nanti," jawab Hafidz. Dia membenahi tatanan maskernya yang sempat dibuka saat membisikan kata-kata itu pada Indra.


"Lo diantar duo demit ini?" tanya Indra saat melihat dua sahabatnya juga ada di sana.


"Iya, mereka maksa ikut, tadinya gue mau ke sini sendiri, tapi yasudahlah ada untungnya mereka ikut, gue bisa tidur di mobil," jawab Hafidz.


Deril dan Devan mendengus mendengar sebutan keduanya yang tercetus dari mulut Indra, ingin rasanya mereka membalasnya, tapi tak mungkin sebab saat ini mereka sedang berada di keramaian.


🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2