Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Pernikahan Devin dan Meta


__ADS_3

Seperti tebakannya tadi sebelum masuk ke dalam rumah Meta, Karin benar-benar ada di dalam rumah tersebut, dan kenapa yang pertama kali bertemu dengannya justru Karin, bukan si pemilik rumah? Gita terkejut saat Karin langsung memeluknya erat.


"Gita, akhirnya kita bertemu kembali. Gue rindu sama Lo, rindu sama dimana kita bersama." Karin melonggarkan pelukannya supaya bisa melihat wajah Gita, "Maafin gue ya Git, gue beneran nyesel," tambahnya.


Gita tersenyum lalu mengangguk, teringat akan ucapan Indra. Sepertinya Karin juga benar-benar menyesali perbuatannya. "Gue udah maafin Lo, apalagi ini hari bahagia buat sahabat kita, gue enggak ingin merusak suasana kebahagiaan nya," sambung Gita.


Karin mengerti, meskipun Gita sudah memaafkannya tapi semuanya tidak mungkin kembali seperti dulu, dia telah menorehkan luka pada sahabatnya ini. Luka itu mungkin bisa sembuh, tapi tetap masih berbekas.


"Hei gadis London kapan datang? Gue kira Lo enggak akan datang." Meta memeluk Gita dengan mata berkaca-kaca, sebab hanya Gita yang mengetahui perjalanan cintanya, bahkan perselisihan antara sang Papa juga hanya gadis itu yang tahu.


"Lo sahabat gue, enggak mungkin gue enggak datang di hari penting ini. Selamat ya Ta, akhirnya akan mengakhiri masa lajang." Gita membalas pelukan Meta tak kalah erat, berbeda saat dengan Karin.


Meta melepaskan pelukannya, "Gue juga enggak nyangka. Awalnya gue kira Devin cuma main-main, tapi setelah dia datang ke rumah nemuin Papa, gue yakin kalau dia memang serius. Lo tahu sendiri, kan bagaimana kehidupan Devin sebelumnya? Itu yang membuat gue ragu," ucapnya lirih, berharap yang lain tak mendengar obrolan mereka.


"Tapi gue yakin Devin sudah berubah," meskipun sudah lama tidak bertemu dengan pemuda itu, Gita sangat yakin akan perubahan Devin.


Meta tersenyum lalu mengangguk, "Lo bener banget, dia udah berubah bahkan sekarang udah enggak pernah ke tempat laknat itu," binar bahagia terpancar jelas dari wajah cantik Meta.


Meta memperkenalkan Gita dengan yang lain, sebab kebanyakan di sana adalah teman Meta saat kuliah. Sedangkan teman SMA nya, hanya Gita, Arum dan Karin, karena memang mereka bertiga lah sahabat gadis itu dulu.


Malam ini terjadilah pesta untuk para gadis, mungkin mereka tak akan bisa seperti ini lagi di saat Meta sudah menikah nanti. Dan momentum ini sangat berharga, tak mungkin dilewatkan.


🥀🥀🥀🥀


Tak jauh beda dengan para gadis, di rumah mempelai pria juga sama, mereka menghabiskan malam bersama dengan berbagai kegiatan. Bedanya jika Gita bertemu dengan Karin, maka Indra tidak bertemu dengan Taka. Sepertinya pemuda itu sibuk dengan pekerjaannya. Indra pun bernafas lega tidak bertemu pemuda itu.


"Lo kapan nyusul Ndra?" pertanyaan itu terlontar dari bibir calon pengantin pria.

__ADS_1


"Tunggu saja tanggal mainnya, masih rahasia." Indra tentu tak mau menceritakan hal sesungguhnya, biarkan itu menjadi rahasia dia dan keluarga.


"CK, sukanya rahasia-rahasiaan. Kaya gue dong, langsung publikasi," Devin berdecak mendengar jawaban Indra, tapi Indra tidak peduli dia hanya menggidikan bahu, acuh.


"Itu kan Lo, jomblo abadi sekali dapet cewek spek bidadari, mana tuh bidadari mau aja dinikahi sama playboy cap jomblo kaya Lo, heran gue," bukan Indra tentunya yang membalas ucapan Devin, tapi temannya yang lain. Sedangkan Indra hanya diam menyimak pembicaraan mereka.


"Woy! Big bos kita dateng juga akhirnya!" semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah pintu masuk, dimana seseorang yang di panggil Big bos oleh Devin berdiri dengan senyum mengembang, melangkah mendekati mereka semua.


"Deril tuh yang Big bos, gue mah cuma pesuruh." Hafidz duduk di sofa bersebelahan dengan Deril.


Deril hanya menggeleng tak membalas ucapan Hafidz, sebab dia sedang asik menghirup sigaret yang mengeluarkan asap polusi berbahaya bagi yang menghirupnya.


Deril memiliki beberapa usaha kecil yang dia bangun sendiri sejak masih kuliah, di tambah dengan kekayaan milik keluarganya yang berada di luar kota. Bahkan dia sudah memiliki saham di perusahaan Papanya itu, tapi dia memang tidak berminat untuk memimpin perusahaan sang Papa tersebut.


Berbeda dengan Hafidz, meskipun dia sering mewakili sang Papa bertemu dengan beberapa klien, tetap saja dia belum memiliki jabatan khusus di sana.


"Oke. Gimana Fidz?" Deril menoleh ke arah Hafidz, dia memberi kode dengan kedipan matanya, membuat Hafidz tertawa, seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Deril.


"Gue setuju aja," jawab Hafidz masih dengan tawanya.


"Gue jadi curiga. Jangan bilang Lo berdua ngasih mau ngasih tiket honeymoon ke puncak, kalo itu gue ogah. Itu sama aja enggak modal," Devin mendengus melihat gelagat licik kedua sahabatnya itu.


Tawa Deril dan Hafidz pecah, diikuti semuanya. Ternyata Devin bisa menebak pikiran dua pemuda itu.


Pasalnya keluarga Hafidz memiliki villa di puncak, dan Deril memiliki usaha travel yang bisa mengantar siapa pun ke seluruh daerah Jawa. Sudah dipastikan kedua pemuda itu akan memanfaatkan fasilitas tersebut.


"Kado itu seikhlasnya yang memberi, bukan minta kek gitu," ujar Deril, membuat Devin makin kesal.

__ADS_1


Mereka menghabiskan malam tersebut dengan berbagai obrolan yang selalu membuat Devin kesal. Tapi calon pengantin pria itu justru bersyukur, kegugupan yang sempat melanda kini tergantikan dengan perasaan lega, sebab kehadiran sahabat nya.


Mereka benar-benar menghabiskan malam dengan begadang tanpa memejamkan mata sedikit pun, hingga subuh berkumandang. Mereka yang muslim memilih ke masjid untuk beribadah, sedangkan yang lain memejamkan mata barang sejenak.


Pagi setelah mereka sarapan bersama, semuanya memilih meninggalkan rumah Devin, sebab acara pernikahan pemuda itu akan dilaksanakan siang sehabis dhuhur nanti dan dilanjut dengan resepsi. Di tempat yang sama yaitu sebuah ballroom hotel berbintang lima.


Siang hari mereka semua datang bersama pasangan masing-masing, hanya seseorang yang terlihat datang sendiri, tapi baginya itu tak jadi masalah. Dia nyaman dengan kesendiriannya saat ini, bahkan tak terbesit dalam benaknya untuk mencari seorang gadis untuk dijadikan kekasih.


"Gue kira Lo bakalan ngajakin gadis kecil itu, ternyata datang sendiri," celetuk Deril saat melihat Hafidz datang seorang diri, sebab saudara kembarnya sudah datang bersama Indra, mereka berdua terlihat serasi dengan pakaian yang mereka kenakan. Sedangkan Deril datang bersama seorang gadis yang tak dikenal oleh Hafidz, terlibat mereka duduk berdampingan.


Hafidz mengernyitkan dahi bingung, siapa yang dimaksud oleh Deril.


Melihat kebingungan di wajah sahabatnya, dia pun kembali berucap. "Putri Miss Monika, model sekaligus desainer yang lagi naik daun itu, gue lupa namanya," ujarnya.


Hafidz menghela nafas, "Dia udah gue anggap adik sendiri. Lagian entah dimana dia sekarang, udah lama gue enggak tau kabarnya," jawabnya yang memang sudah lama tidak mengetahui kabar Ziva. Ya, gadis yang dimaksud Deril adalah Ziva, gadis kecil yang sering mengekori kemanapun Hafidz pergi saat dia pulang ke Indonesia.


"Lo jangan kayak si Indra, bilangnya nganggep adik sendiri, eh taunya cinta, entar nyesel," sambar Deril.


"Kalau gue serius nganggep dia adik, lagian dia masih dibawah umur, Lo itu aneh-aneh aja," sanggah Hafidz, sebab saat ini dia memang menganggap Ziva sebagai adiknya tidak lebih. Cinta? Ah tidak, Ziva gadis kecil dia tidak mungkin mencintai gadis kecil seperti Ziva, masih banyak gadis yang sudah dewasa bukan?


Keduanya menghentikan perdebatan kecil itu saat acara ijab qobul akan dimulai.


.


.


🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2