
"Kita ke rumah sakit dulu ya sebelum ketemu Indra, harus cek keadaan kamu," ucap Hafidz saat teringat ucapan dokter, jika ingatan Gita sudah kembali harus segera di bawa ke rumah sakit.
"Baiklah," ucap Gita pasrah, meski sebenarnya dia tak ingin ke rumah sakit karena merasa baik-baik saja, hanya pusing tadi saat mendengar Karin dan Gavin berbicara, dan setelah sampai di kantor sang Papa, rasa pusing itu telah lenyap.
Hafidz melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana tempat Gita dirawat, mereka langsung menuju ruang dokter yang dulu menangani Gita, sebab Hafidz sudah membuat janji dengan dokter tersebut.
Dokter mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya saja Gita masih harus banyak istirahat dan jangan terlalu keras mengingat semua yang memang belum bisa diingatnya. Suatu saat ingatan itu pasti akan kembali dengan sendirinya. Ya, Gita belum mengingat semuanya, mungkin hal kecil yang memang sengaja tak mau diingat oleh gadis itu, tapi dia sudah mengingat semua tentang orang-orang tercintanya.
Mereka merasa lega mendengar ucapan dokter itu. Setelah dari rumah sakit, sesuai permintaan Gita, keduanya langsung ke kantor Indra, sudah tidak sabar ingin bertemu dengan pemuda itu.
"Maaf Bapak, Pak Indra sedang tidak di kantor saat ini, beliau baru saja keluar," ucap seorang resepsionis perusahaan Kakek Indra saat Hafidz menanyakan keberadaan pemuda itu.
Untung saja Hafidz memilih untuk bertanya terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan Indra, meskipun biasanya dia langsung masuk saat ada perlu dengan pemuda itu.
Setelah mengucapkan terimakasih dan tidak perlu mengatakan kedatangannya pada Indra, Hafidz pun undur diri, menyusul Gita Yanga sejak tadi menunggu di dalam mobil.
"Indra ada pertemuan sama klien, dia baru aja keluar," ucap Hafidz ketika sudah memasuki mobil.
Gita menghela nafas, berpikir sejenak. "Yaudah enggak apa-apa, nanti kita tunggu di apartemen aja. Sekarang aku pengen telpon Mama," Gita rindu dengan wanita itu, sekaligus merasa bersalah karena hampir dua minggu tak mengenalnya, ah sungguh menyesal, pasti Mama sangat sedih, pikirnya.
"Baiklah, kita ke apartemen Abang," putus Hafidz. "Tapi Papa gimana? Pasti khawatir sama kamu," tambahnya saat mengingat sang Papa yang belum mengetahui keadaan Gita.
Gita menggeleng, dia tidak memiliki ide apa pun, apalagi sang Papa saat ini sedang sibuk.
"Sebaiknya kita beritahu Papa dulu, urusan Indra bisa nanti malam setelah Papa tahu keadaan kamu. Kita pulang ke rumah Papa aja sekarang," Hafidz merubah keputusannya, dia tak mau sang Papa murka karena hal ini, sebab selama Gita sakit Papalah yang merawatnya.
__ADS_1
Gita hanya pasrah saja, sebab dia tidak memiliki ide sama sekali, yang terpenting setelah ini dia bisa menelpon sang Mama dan meminta maaf pada wanita paruh baya tersebut.
🥀🥀🥀
Sudah beberapa hari Indra tak tidur di apartemennya, dia memilih tinggal di rumah Oma untuk mengusir rasa sepi yang selalu menderanya. Tapi entah kenapa kali ini rasanya ingin tidur di apartemen. Dia bahkan sempat pulang ke rumah Oma terlebih dahulu, tapi dia memilih untuk pulang ke apartemen, rindu dengan kamar tidurnya yang beberapa hari ini kosong tanpa penghuni, tapi jangan salah apartemen tersebut tetap dibersihkan oleh Art keluarga Oma.
Malam telah beranjak menggantikan senja yang begitu indah kala dilihat dari pinggir lautan. Indra baru saja keluar dari rumah Oma, dia bahkan menolak ajakan sang Oma untuk makan malam terlebih dahulu, ingin segera mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah setelah seharian bekerja.
Sebelum sampai di apartemen, pemuda itu menepikan sejenak mobilnya, memutuskan untuk memesan makanan pinggir jalan dan akan memakannya nanti di apartemen saja, tak ingin terlihat jomblo ketika makan sendirian tanpa ada yang maupun pasangan.
Tak lama mobil yang dikendarainya sudah terparkir rapi di basement apartemen tersebut, sepeti biasa dia langsung menuju unit miliknya. Baru saja kakinya masuk ke dalam unit apartemen itu, dia merasa dejavu, seperti pernah merasakan hal ini sebelumnya. Mencium aroma masakan, padahal tidak ada siapa pun yang ke apartemennya hari ini.
"Mungkin bau makanan ini, tidak mungkin pelakunya sama seperti beberapa waktu lalu," ucapnya menghibur diri.
Tak butuh waktu lama untuk Indra memberitahukan diri, karena saking laparnya dia pun segera meraih bungkusan plastik yang berisi makanan yang dia beli tadi di pinggir jalan. Tentu saja saat ini dirinya membutuhkan piring dan sendok untuk alat bantu makan, dan kedua barang itu letaknya ada di dapur.
Dengan santainya dia masuk ke dapur untuk mengambil dua benda yang kini dibutuhkannya itu, tapi langkahnya terhenti di depan pintu dapur saat mendapati sesosok cantik yang kini menatapnya dengan senyuman. Mengerjapkan mata berulang kali, merasa jika yang kini ada dihadapannya hanyalah sebuah khayalan yang tak nyata, bahkan dia juga mengucek kedua matanya belum percaya apa yang dia lihat.
"Ini pasti halu," celetuknya.
"Diakan enggak inget sama gue," menghela nafas panjang saat mengingat gadis yang dicintai lebih memilih bersama lelaki lain dan justru tidak mengenalnya.
Indra mengabaikan khayalan yang terasa nyata itu, dia memilih untuk mengambil piring dan sendok yang dia butuhkan. Tapi matanya kembali melotot saat melihat meja makan yang sudah dipenuhi oleh beberapa hidangan, kali ini dia menatap gadis dengan senyum manis itu yang masih berada dalam posisinya. Seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat, sebab gadis itu kini menghampirinya dan tanpa ijin langsung memeluk tubuhnya erat.
"Maaf bang, Abang pasti kecewa sama aku," ucap gadis itu dalam pelukan sang kekasih.
__ADS_1
"Ini beneran kamu? Bukan khayalanku saja, kan? Aku enggak mau kalau ini hanya khayalan dan akhirnya buat aku kecewa karena sudah berkhayal terlalu tinggi," Indra masih belum percaya jika yang kini memeluknya itu adalah Gita, gadis yang beberapa hari ini membuatnya resah.
"Abang boleh cubit aku kalau enggak percaya," tantang Gita.
Indra menggeleng kemudian membalas pelukan gadis itu, terasa nyata, bahkan dia bisa mencium aroma khas gadis ini. Tidak salah lagi, jika kali ini dia tidak sedang halu atau mimpi.
"I long for you," ucapnya menenggelamkan wajah diceruk leher gadis itu.
"Maaf," hanya itu yang bisa Gita ucapkan, meski sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan karena semua yang terjadi tidak ada dalam rencananya.
Indra menggeleng, "Aku yang harusnya minta maaf, kamu tidak salah sama sekali," ucapnya, mengingat semua kejadian sebelum gadis itu kecelakaan.
Cukup lama keduanya berpelukan, menumpahkan rasa rindu, seakan tak bertemu seabad lamanya. Padahal mereka sering bertemu tapi dalam kondisi dan keadaan yang lain.
"Hem," suara seseorang dari belakang mereka membuat keduanya melepaskan pelukan tersebut dengan sangat berat.
"Untung tepat waktu," celetuk orang itu yang tidak lain adalah Hafidz.
"CK, kebiasaan datang diwaktu yang tidak tepat," Indra berdecak sebal, sebab gara-gara pemuda itu pelukan kerinduan itu berkahir.
.
.
🥀🥀🥀
__ADS_1