Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Sama-sama Brengsekkk


__ADS_3

Gita memeluk erat tubuh Salma setelah mendengar semua cerita gadis itu, pasti pedih sekali. Tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi, tak ada yang bisa memutar waktu, maka jalani semua itu meskipun berat.


"Maafkan aku," lirih Salma.


Gita sangat paham dengan ucapan sahabatnya itu, dia mencoba meluruskan, "Ini semua sudah kehendak Sang Pencipta, enggak ada hubungannya sama sekali dengan kejadian itu, jadi jangan sangkut pautkan semua itu. Ini bukan sebuah karma, tapi memang sudah jalannya," tak ingin membuat Salma menyalahkan dirinya sendiri, padahal semua itu tak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya.


Gita melepaskan pelukannya, mengusap air mata yang terus membanjiri pipi Salma. "Menangis boleh, tapi jangan sampai berlarut-larut. Gue yakin Lo udah nangis sejak beberapa hari yang lalu, sekarang saatnya untuk mengakhiri tangisan itu. Buka lembaran baru, dan simpan rapat-rapat lembaran yang penuh dengan air mata itu. Oke?" Gita tersenyum saat gadis itu mengangguk, biasanya dia yang terlihat lebih manja dari kedua sahabatnya, tapi kini lihatlah dia ternyata bisa bersikap dewasa.


"Apa kita bisa keluar saat ini?" pertanyaan yang diajukan oleh Salma membuat Gita sedikit terkejut tapi beberapa detik kemudian dia mengangguk mengiyakan ucapan Salma.


"Bentar gue telpon temen dulu, dia pasti mau ngajak kita jalan-jalan." Gita beranjak dari duduknya, meraih ponsel yang berada di atas nakas dan menghubungi Lucy, dia tahu Lucy akan sangat senang jika diajak keluar malam, karena kalian tahu sendiri di siang hari gadis itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Selain itu, jika mengajak Lucy mereka bisa pergi dengan menaiki mobil, tidak jalan kaki atau naik sepeda, punya teman memang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.


Benar saja, Lucy langsung menyetujui permintaan Gita, dia juga sangat antusias saat mengetahui ada teman Gita dari Indonesia, itu artinya dia akan memiliki teman lagi dari negara kelahiran sang ibu. Mungkin suatu saat nanti akan menjadi alasannya mengunjungi negara kepulauan itu.


🥀🥀🥀


Di lain waktu, ditempat berbeda, sepasang suami istri sedang cemas memikirkan anak gadisnya. Sebab terkahir kali putrinya itu mengatakan ingin pergi ke rumah Kakeknya, tapi ternyata dia berbohong. Sebab merak baru saja dari tempat kakeknya itu, tapi gadis itu tak ada di sana bahkan tidak sampai ke sana.


Akhirnya dua orang itu menghubungi putra sulungnya yang berada di luar pulau, mungkin putrinya itu menyusul sang Kakak ke tempat itu, tapi hasilnya nihil, putrinya tak ada di sana, membuat mereka kelimpungan.


Mendapatkan kabar tak baik dari kedua orang tuanya, Salman memutuskan untuk pulang. Berkali-kali dia mengumpat seseorang yang telah membuat adiknya kabur entah kemana, dan lagi orang itu telah mempermalukan keluarganya dengan membatalkan pernikahan secara dadakan, dengan alasan yang sangat menyakitkan. Dia tahu adiknya saat ini pasti sedang meratapi apa yang menimpanya. Memikirkan itu, Salman langsung menuju kediaman Fajar, bahkan sebelum menuju rumahnya. Dia menyuruh sopir yang menurutnya untuk pulang menaiki taksi, dan dia yang akan membawa mobil sendiri.


Salman tidak sabaran saat menekan bel di sebuah apartemen, membuat si pemilik berdecak karena bel itu mengganggu ketenangannya.


"Ber...." Fajar tak mampu melanjutkan umpatannya sebab wajahnya langsung mendapatkan sebuah pukulan telak, hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.


"Brengsekkk Lo!" Salman kembali memukul wajah pemuda itu, padahal Fajar masih dalam posisi duduk di lantai akibat serangan tak terduga.


"Sesama brengsekkk tidak pantas jika saling pukul," bukan Fajar yang mengucapkan itu, melainkan Ryan yang baru saja keluar.

__ADS_1


Ucapan Ryan itu sontak membuat Salman menghentikan aksinya, dia tak terima dengan ucapan mantan anak didiknya di rumah sakit itu. "Apa Lo bilang?" tanyanya penuh emosi. Emosinya makin memuncak saat pemuda yang mengatainya itu tersenyum miring.


"Bukankah Anda dan dia sama? Sama-sama brengsekkk?" Ryan menantang, dia sama sekali tidak takut. Meskipun wajah Salman terlihat merah padam karena amarah.


"Apa Anda melupakannya?" Ryan berjalan mendekat ke arah mereka berdua, "Sungguh keterlaluan." Ryan menggelengkan kepala.


"Kau!" Baru saja Salman ingin melayangkan hantaman pada Ryan, pemuda itu langsung menghindar.


"Setahun yang lalu, iya setahun yang lalu apa Anda masih lupa?" ucap Ryan dengan tenang tanpa ada emosi sedikit pun.


Salman masih belum mengerti sepertinya, terlihat wajah pemuda itu masih merah padam, bahkan kedua tangannya mengepal kuat, siap menghantam siapa pun yang berani mengusiknya.


"Seorang pemuda sengaja menyakiti hati seorang gadis hanya demi wanita lain, dengan alasan dia hanya mengagumi gadis itu, padahal dia dia tak mau disaingi oleh orang lain yang mencintai gadis itu," ujar Ryan dengan sorot mata tajam menatap Salman. Dia bisa melihat jika wajah Salman kini sedikit berubah, bahkan kepalan tangannya pun makin mengendur, mungkin telah sadar akan kesalahannya di masa lalu.


"Sedangkan Fajar, meski perbuatannya tidak bisa dibenarkan, dia melakukan itu bukan atas kemauan dan kesadarannya sendiri, dia dalam pengaruh minuman keras. Dia di sini juga terluka, sama seperti Salma. Tidak seperti anda yang justru bahagia setelah menyakiti hati seorang gadis. Di letakkan dimana hati nurani anda!" Entah kenapa jika mengingat semua itu, Ryan merasa geram dengan Salman. Padahal sejak tadi dia terlihat tenang, tapi kini emosinya makin mendominasi.


Jangan tanya darimana dia mengetahui semuanya, tentu saja dari Fajar.


Salman membalas tatapan Ryan, tak habis pikir pemuda itu berani mengatakan hal tersebut, tapi dia sadar, semua perbuatannya di masa lalu itu memang salah. Mungkin dulu Papa Gita ingin sekali menghabisinya, tapi tak melakukan hal tersebut, sebab Gita melarangnya.


"Sialan!" umpat Salman dan pergi begitu saja.


Setelah kepergian Salman, Ryan membantu sahabatnya untuk berdiri, tapi Fajar menepis tangan Ryan.


"Lo juga sama, brengsekkk nya dengan kita," ucapan Fajar membuat Ryan terkejut, dia jadi teringat akan masa lalunya dengan gadis yang sama, yaitu Gita.


"CK, enggak asik Lo. Udah gue bantuin, bukannya terimakasih malah ngatain gue brengsekkk. Itu masa lalu, gue juga nyesel ngelakuin itu." Ryan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, energinya sedikit terkuras menghadapi Salman, untung saja dia tidak mendapatkan hantaman seperti Fajar.


Tak lama seorang gadis masuk ke dalam apartemen tersebut, sebab pintunya masih terbuka setelah Salman pergi tadi.

__ADS_1


"Dimana Mas Fajar?" tanya perempuan itu.


"Cari sendiri," Ryan sama sekali tidak menyukai gadis ini, menurutnya gadis ini terlalu sombong dan jutek, sama sekali tidak menyenangkan.


"Ya ampun Mas! Kamu kenapa?" teriakan gadis itu mengganggu gendang telinga Fajar yang baru saja datang dengan membawa kotak P3K.


"Brisik!" Fajar memutar bola matanya jengah, kenapa bisa gadis ini tiba-tiba ada di apartemennya. Dia menatap Ryan dan pemuda itu hanya menggidikan bahu.


"Biar aku yang ngobatin." Gadis itu merebut kotak P3K dari Fajar, tapi secepat kilat pemuda itu menariknya lagi.


"Enggak perlu, mending Lo pulang. Gue sedang tidak bisa diganggu." Usir Fajar.


Tapi gadis itu bergeming, "Kita harus fitting baju sekarang Mas," ujarnya.


"Lo aja sendiri, gue ogah!" Menikah saja dia tidak mau sebenarnya, apalagi di suruh fitting baju. Ah, dia tak bisa membayangkan akan seperti apa kehidupan rumah tangganya nanti.


Gadis itu hanya berdecak, tapi tetap berada di apartemen itu.


Di sisi lain, Salman memukul stir mobil beberapa kali, meluapkan kekesalannya pada mobil yang tak bersalah. Tiba-tiba dia teringat ucapan adiknya waktu itu.


"Apa Abang lupa kalau masih punya adik perempuan? Coba Abang bayangin, kalau itu terjadi sama aku? Apa yang akan Abang lakukan? Apa Abang akan membiarkan lelaki itu hidup tenang? Atau akan menghajarnya hingga tak berdaya?"


"Ah, sialan! Gue yakin ucapan Salma itu salah, ini hanya kebetulan saja. Tapi dia benar, hampir saja gue bunuh tuh anak. Ternyata rasanya sesakit ini." Salman memukul dadanya, merasa sesak mengingat adiknya, dan dimana lagi sekarang gadis itu.


Salman langsung melajukan mobilnya menuju kediaman kedua orang tuanya. Dia ingin memastikan apakah Salma sudah ada kabar atau belum, jika belum dia tak bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Salma baru saja menelpon, dia sekarang berada tempat temannya. Tapi dia tidak mengatakan dimana." Jawab Mama Hana berbohong, padahal dia tahu jika Salma bersama Gita, sebab gadis itu menelpon dengan ponsel Gita barusan.


Dia masih berharap Gita bisa menjadi menantunya, tapi sepertinya itu hanya akan jadi khayalannya saja, sebab putranya telah menyakiti gadis sebaik Gita.

__ADS_1


🥀🥀🥀


__ADS_2