
"Siapa yang ngijinin Abang masuk?" Gita mendengus saat melihat Indra sudah duduk di meja makan, dengan penampilan sudah rapi.
Indra tidak menjawab pertanyaan itu, dia justru mendekati Gita yang memilih duduk jauh dengannya. Gadis itu juga sudah terlihat rapi, entah mau kemana.
"Abang minta maaf dengan kejadian semalam, Abang cuma khawatir dan...." Indra tidak menyelesaikan ucapannya sebab Gita lebih dulu memotong.
"Dan cemburu? Dih, sama adik sendiri aja cemburu. Lagian enggak percaya banget sama aku," Gita mendengus kesal, mengingat kejadian semalam.
Ini yang salah siapa yang marah siapa? Batin Indra.
Indra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, dia bingung dengan sikap Gita saat ngambek. Memang baru pertama kali ini mereka berselisih, biasanya mereka selalu kompak.
"Sabar Ndra, kayaknya dia lagi PMS, masalah gitu aja diperpanjang. Indra sudah minta maaf secara langsung, itu kan yang kamu mau?" Hafidz tak habis pikir dengan saudara kembarnya itu, kenapa bisa bersikap kekanak-kanakan seperti sekarang ini? Padahal menurut cerita dari sang Mama, Gita berubah menjadi lebih dewasa dulu saat berhubungan dengan dokter itu. Tapi kenapa sekarang berubah? Apa dia dulu mencoba jadi orang lain, dan saat ini adalah dirinya sendiri.
Gita mendelik mendengar ucapan Abangnya, tapi dia juga membenarkan apa kata Hafidz, jika dirinya memang sedang PMS. "Yaudah aku maafin," ucapnya tanpa menatap wajah Indra.
"Gue duluan, selesaikan masalah kalian." Hafidz berlalu meninggalkan mereka yang masih diam belum mengisi piring dengan makanan, sedangkan dirinya lebih dulu menghabiskan sarapan disaat kedua sejoli itu sedang berdebat.
Sepeninggal Hafidz, keduanya makan dalam keheningan, padahal biasanya Gita akan selalu cerewet menawari Indra dengan berbagai lauk yang sudah dia siapkan, tapi kali ini gadis itu terlihat cuek. Indra sadar Gita masih kesal dengannya.
"Hari ini mau kemana?" tanya Indra saat mereka selesai menghabiskan makanan.
"Bandung." Jawab Gita tanpa menoleh.
"Nanti sore aja ya, Abang yang nganter. Siang ini ada janji sama klien," Indra mencoba membujuk Gita, supaya mau pergi dengannya. "Lagian Papi sama Mama udah pulang semalam, mendadak Papi ada janji pagi ini," tambahnya.
Gita menoleh sekilas, dia menghela nafas mengetahui jika kedua orang tuanya sudah lebih dulu pulang, padahal niatnya ingin ikut pagi ini.
"Mama semalam telpon, katanya nomor kamu enggak aktif." Ujar Indra.
Gita baru teringat jika ponselnya memang sengaja dia matikan sejak membaca pesan terakhir dari Indra, dia tak mau diganggu oleh kekasihnya itu, sebab masih kesal.
"Yaudah," Gita pasrah.
"Sekarang kamu pengennya kemana? Abang anterin," Indra akan menuruti kemauan Gita pagi ini, pekerjaannya akan dia kerjakan nanti sebelum bertemu dengan klien.
__ADS_1
Gita menggeleng, "Abang ke kantor aja, aku mau ketemu sama Meta, tadi dia ngajakin ketemuan tapi aku tolak karena mau ke Bandung, karena enggak jadi, sekarang aku mau kasih tahu dia untuk ketemu," tolak Gita.
Indra mengangguk, "Aku antar ke rumah Meta, sekalian ke kantor atau di di rumah Devin? Aku antar juga," celetuk Indra.
Gita menghela nafas melihat kekasihnya itu memaksa sekali akan mengantar dirinya, padahal dia bisa pergi sendiri, di apartemen ini juga ada mobil Hafidz yang lain yang jarang sekali di pakai. Tapi melihat usaha Indra, akhirnya Gita mengangguk menyetujui permintaan pemuda itu.
Indra mengantar Gita ke rumah Devin, sebab Meta sedang berada di sana. Pasangan pengantin baru itu akan melakukan honeymoon lusa, dan sebelum berangkat Meta ingin bertemu dengan Gita sahabatnya.
Kini kedua sahabat ini berada di cafe sebuah mall, menghabiskan waktu sambil menikmati kopi di pagi menjelang siang ini.
"Ada masalah?" tanya Gita, sejak tadi dia memerhatikan wajah Meta yang sepertinya sedang menyimpan masalah, dan dia baru berani bertanya saat mereka sudah duduk berdua saja.
Meta menghela nafas, "Gue kira setelah gue nikah, bokap berhenti tidur sama wanita-wanita malam itu, tapi nyatanya enggak. Gue harus gimana lagi coba?" Meta menatap lurus ke depan, mengingat semua perbuatan sang Papa yang suka jajan di luar.
"Lo yang sabar ya Ta," Gita tak ingin ikut campur dengan urusan Meta, yang bisa dilakukannya hanya memberi dukungan dan semangat.
Meta mengangguk, "Makasih Git," ucapnya dengan senyum tulus.
"Apa sebaiknya bokap nikah lagi aja ya? Dari pada uangnya dihabisin untuk wanita malam itu, rasanya gue enggak rela," Meta hanya butuh teman untuk mendengarkan semua keluh kesahnya tentang sang Papa.
"Devin juga setuju, tapi gue belum bilang sama Papa," Meta mengikuti jejak Gita, menyesap kopi kesukaannya yang masih hangat itu.
Keduanya berbincang cukup lama, setelah itu mereka melanjutkan menelusuri mall mencari sesuatu yang sedang mereka inginkan, dan berakhir dengan perpisahan untuk menuju rumah masing-masing.
Gita memilih kembali ke apartemen Hafidz, dia akan berangkat dari apartemen sebab sudah menghubungi sang Papa jika nanti sore akan ke Bandung untuk beberapa hari, sebab setelah itu dia akan berangkat bersama sang Papa yang ada pekerjaan di luar seperti biasa.
Baru saja Gita memejamkan mata, terdengar ponselnya berdering, dia pun bergegas meraih ponsel miliknya yang masih berada di dalam tas yang tadi dibawanya.
"Apa Ky? Lo duluan aja, gue bareng Bang Indra entar sore," setelah mengatakan itu dengan orang diseberang sana, Gita pun memutus panggilannya.
Tapi baru saja dia meletakkan ponsel itu, benda tersebut sudah kembali berbunyi, dia pun langsung menerima panggilan yang ternyata dari sang kekasih.
"Iya Bang,"
"...."
__ADS_1
"Kalau gitu aku pergi sama Riky aja, besok Abang nyusul," raut wajah gadis itu terlihat berubah, sebab dia memendam kekesalan dengan sang kekasih.
"...."
"Iya,"
Kali ini Gita meletakkan ponselnya dengan kasar, penyebabnya jelas sang kekasih yang baru saja menghubunginya itu. Indra tidak bisa mengantar Gita ke Bandung sore ini, sebab klien yang janjinya bertemu siang ini justru merubah jadwal untuk bertemu di malam hari, dengan terpaksa Indra pun membatalkan janjinya dengan Gita.
"Huhf, menyebalkan!" Gadis itu kembali merebahkan tubuhnya. Sejak semalam dia kesal dengan Indra, tadi pagi sudah sedikit mengurangi kadar kekesalannya, tapi lihatlah sekarang sang kekasih kembali membuatnya kesal.
Kali ini Gita menghubungi Riky, untuk menunggunya sejenak. Dia akan ikut dengan pemuda itu ke Bandung, rindunya dengan sang Mama belum tersalurkan sepenuhnya, kemarin hanya bisa memeluk sebentar tanpa bercerita sedikit pun.
Tidak butuh waktu lama untuk Gita bersiap, kini dia sudah keluar dari apartemen menuju apartemen Indra, tapi saat dia akan menekan bel, pintu sudah terbuka dan terlihatlah Riky yang juga sudah berpakaian rapi.
"Bang Indra ngebolehin?" tanya Riky, dia tak ingin insiden semalam terjadi lagi.
"Boleh, tapi banyak catatannya. Udahlah enggak usah pikirin dia, ayo berangkat." Gita berjalan lebih dulu diikuti oleh Riky.
Mereka memutuskan untuk memakai mobil Hafidz, sebab tak mungkin menggunakan sepeda motor yang kemarin Riky bawa, Gita pun pasti tidak akan mau.
.
🥀🥀🥀
Sejak berpamitan tadi, hingga satu jam berlalu, Gita belum juga memberi kabar, membuat Indra kelimpungan. Entah kenapa perasaanya tidak enak, apa mungkin dia kembali di Landa cemburu karena Gita pergi dengan Riky, atau karena hal lain entahlah pikirannya kini buntu.
"Ngambek lagi pasti. Ah sial! Harunya berangkat bareng gue tadi," entah kenapa Indra tiba-tiba kesal dengan klien yang mengganti pertemuan dengan mudah tanpa persetujuan darinya lebih dulu.
Sekarang dia hanya bisa menunggu kabar dari Gita saja, semoga Gita segera memaafkannya. Pemuda itu terkejut saat ponselnya berdering, dia mengira Gita yang menghubunginya, tapi ternyata bukan melainkan kembaran sang kekasih.
"Hal... Apa? Gue segera ke sana!" Mendengar ucapan seseorang diseberang sana, jantungnya berdebar tak menentu, tubuhnya juga seakan lemas tak berdaya, tapi dia harus segera sampai di tempat yang Hafidz ucapkan tadi.
.
.
__ADS_1
🥀🥀🥀