
Nabastala begitu cerah pagi ini, tapi tidak dengan wajah cantik jelita gadis yang kini sedang berkutat di dapur, wajah cantiknya berubah masam saat apa yang dia inginkan tak terealisasi. Sebab ucapan saudara kembarnya subuh tadi saat dia bersemangat meminta ijin menuju tempat dimana sang pujaan hati tinggal.
"Anak gadis itu enggak sopa kalau datang ke tempat laki-laki, apalagi ini masih pagi. Emangnya kamu mau ngapain sih?" Entah kenapa Abangnya itu begitu posesif saat ini, bukannya membuat dia bahagia tapi justru sebaliknya, menyebalkan. Apalagi ditambah sorotan mata yang menusuk hingga palung hatinya.
Pemuda yang lembut itu entah kenapa berubah garang jika berhubungan dengan dirinya dan laki-laki yang dia cintai. Apa mungkin itu semua karena kejadian tahu lalu itu? Entahlah.
"Padahal aku cuma pengen buatin Bang Indra sarapan," sungut gadis itu. Melempar mukena ke atas tempat tidur yang baru saja dia pakai sholat berjamaah bersama sang Kakak.
"Untuk saat ini enggak perlu. Kalau nanti kalian sudah menikah, silahkan. Sekarang lebih baik kamu buatin Abang sarapan," titah pemuda itu.
Ucapan Hafidz ada benarnya juga, tapi entah kenapa dia rasanya sangatlah kesal. Tadi malam Kakaknya itu sudah mengganggu, sekarang kembali berulah dan melarangnya ke apartemen Indra. Meski begitu, Gita tetap menuruti permintaan Kakak kembarnya itu dengan wajah ditekuk tak sedap dipandang.
"Kenapa pagi-pagi wajahnya sudah ditekuk gitu?"
Gita terkejut mendengar seseorang berbicara, dan orang itu sudah berada di sampingnya entah sejak kapan. Wajahnya yang semula muram kini berubah seketika, wajah ayunya telah kembali sebab datangnya seseorang.
"Siapa bilang? Enggak kok, ini aku tersenyum." Gita tersenyum tulus pada pemuda yang telah berdiri di sisinya itu.
"Kok bisa masuk? Kayaknya aku enggak denger ada bel deh," tanya Gita, tak menyangka Indra bisa berada di unit ini, padahal tadi sang Abang berpamitan untuk joging, lalu bagaimana Indra masuk?
"Tadi ketemu sama Hafidz di depan, mau joging juga, tapi dia bilang kamu lagi ngambek dan nyuruh aku ke sini. Dia sengaja enggak tutup pintunya," jawab Indra.
Gita tersenyum mendengar jawaban pemuda itu, ternyata Hafidz tak seperti yang dia bayangkan, lihat saja dia memberi kesempatan mereka berdua untuk bertemu.
"Kenapa ngambek, hm?" Indra menyelipkan anak rambut gadis itu yang terjatuh, membuat si empunya bersemu merah.
__ADS_1
Gita menggeleng, "Kesel aja sama Bang Hafidz," kilahnya, tak mungkin kan dia mengatakan yang sejujurnya, dia masih memiliki rasa malu.
"Udah, pagi-pagi enggak boleh kesel. Katanya kalau pagi hari diawali dengan kekesalan, seharian juga akan merasakan kekesalan seperti itu. Pagi hari itu harusnya diawali dengan senyuman, agar harimu menjadi lebih baik, apalagi senyuman mu itu bikin hati Abang meleleh." Indra tersenyum menggoda saat melihat gadis itu salah tingkah.
"Gombal banget sih? Pagi hari enggak boleh diawali dengan gombalan receh kek gitu, enggak baik." Gita sedikit menjauh dari pemuda itu, sebab dia sedang mencuci sayuran yang akan dia masak.
"Tapi kamu suka, kan? Buktinya wajah mu berubah pink gitu." Indra sempat melihat wajah Gita yang bersemu sebelum gadis itu menjauh darinya.
"Abang! Sana Abang duduk aja deh, nanti aku diomelin lagi sama little bos, kalo dia pulang sarapannya belum jadi." Gita menarik tangan Indra supaya menjauhinya, dia yakin masakannya tidak akan matang jika pemuda itu terus mengganggu.
"Aku bantuin aja, gimana?" tawar Indra.
"Enggak usah Bang, Abang cukup duduk tenang di sana." Gita tahu jika Indra sama sekali tidak biasa dengan dapur, mana bisa dia membantunya.
Indra menurut, dia hanya memperhatikan gadis itu dari meja makan. Sesekali dia tersenyum melihat gadis itu mengolah makanan, entah apa yang dia buat untuk sarapan pagi ini.
"Apa yang kamu masak pasti aku makan," jawab Indra.
"Baiklah, aku buat dua menu makanan. Yang satu request dari little bos," celetuk Gita tanpa menoleh ke arah Indra.
Indra sangat paham sekali, jika di pagi hari Hafidz sarapan dengan tumis sayuran yang masih setengah matang, mungkin kali ini Gita juga memasak menu tersebut.
"Aku bisa antar kamu ke rumah Papa nanti sore, enggak apa-apa, kan?" tanya Indra yang baru ingat jika nanti harus mengikuti sang Opa menemui klien setelah makan siang.
"Iya enggak apa-apa, Bang. Lagian kalau siang Papa juga pasti di kantor. Kalau Abang enggak sempet aku bisa ke rumah Papa sendiri, atau nanti malam sama Bang Hafidz," bukannya tidak mau diantar oleh Indra, tapi Gita kasihan dengan pemuda itu, pasti capek setelah pulang kerja.
__ADS_1
"Nanti aku yang akan mengantar, aku butuh bicara sama Papa kamu," Indra sudah meyakinkan tekadnya, jika dia akan meminang langsung gadis itu pada Papanya. Siapa tahu keberuntungan berpihak padanya.
Kali ini Gita menoleh, menatap pemuda itu cukup lama. "Abang mau bicara apa?" tanyanya.
Indra tersenyum melihat gadis itu diliputi rasa penasaran, "Seperti apa yang dikatakan Hafidz semalam," jawabnya.
Gita mendekat ke arah pemuda itu dengan membawa hasil masakan pertamanya, "Abang serius? Kuliah ku gimana? Nanggung Bang, sebentar lagi lulus," tanyanya, Gita sebenarnya sangat bahagia mendengar ucapan pemuda itu, berarti Indra serius dengannya, ah ya, pastilah pemuda itu serius dengan dirinya.
"Kan minta restu dulu sayang, belum tentu juga di restuin untuk nikah sekarang. Kalau memang Papa kamu sudah merestui, nanti kita pikirkan lagi soal kuliah kamu." Indra mengusap puncak kepala Gita.
Tapi tiba-tiba gadis itu beringsut mendekat ke arahnya, memeluk dirinya dengan erat. "Terimakasih Bang, aku akan menerima apa pun keputusan Papa nanti," ucapnya dalam pelukan Indra.
Indra membalas pelukan itu, dia berharap Papa Gita segera merestui mereka untuk menikah. Dia yakin jika Mama Sinta pasti sudah bercerita tentang hubungannya dengan Gita, terlihat dari sikap Om Renaldy yang sedikit berubah dengannya, bukan berubah menjadi tapi justru mereka makin dekat. Mungkin dengan mendekat, Om Renaldy bisa mengenal pemuda yang dicintai putrinya itu dengan baik. Kembali lagi ke tahun lalu, pasti semuanya butuh pertimbangan tidak seperti tahun lalu yang berakhir mengecewakan.
"Tapi nanti kalau kita menikah, aku belum bisa memberi nafkah sebanyak Papa mu memberi uang jajan, mungkin kamu harus sedikit berhemat, untuk tidak shopping berlebihan dulu, sampai...." Pukulan di punggungnya membuat Indra tak menakutkan ucapannya.
"Ish, Abang mikirin apaan sih? Aku tidak mempermasalahkan hal itu Bang, buat aku harta berlimpah itu nomor sekian, yang penting kita bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, itu sudah cukup." Gita menatap pemuda itu yang juga menatapnya dengan senyum penuh kebanggaan.
Siapa yang tidak bangga memiliki calon istri seperti Gita, gadis yang dibesarkan dengan kilauan harta, tapi dia tidak menuntun calon suaminya, bahkan dia bersedia hidup dengannya yang hanya bisa mengandalkan pikiran tanpa memiliki aset apa pun. Jika dibandingkan dengan saudara kembar gadis itu saja, dia sudah berbeda jauh bahkan sangat jauh sekali.
"Aku akan berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan kamu nantinya. Aku enggak ingin seorang gadis cantik yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang ini, nanti justru menderita hidup dengan ku. Jadi, aku akan berusaha sebaik mungkin membuatmu nyaman dan bahagia hidup dengan ku." Indra mengakhiri kalimatnya dengan mengecup kening gadis itu cukup lama.
Sedangkan Gita, dia begitu terharu mendengar ucapan pemuda itu. Dia tahu sebenarnya Indra sedikit tidak percaya diri dengan kondisinya, tapi buat Gita itu tidak akan jadi penghalang, selama pemuda itu masih mau berusaha.
.
__ADS_1
.🥀🥀🥀🥀