
Gita memeluk erat tubuh semampai dengan perut sedikit membuncit itu dengan erat, rindu dengan teman yang berasal dari benua Eropa itu. Sempat melupakan keadaan Lucy saat dirinya berada di negeri tercinta, sebab masalah yang silih berganti.
"Lucy, i miss you," lirihnya dalam pelukan Lucy.
"Miss you too." Lucy melepas pelukannya sebab merasa sesak saking eratnya pelukan itu.
"Kamu sama siapa?" tanya Gita.
"Eh masuk dulu yuk, nanti kita ngobrol di dalam, kamu pasti lelah, apalagi ada ini." Gita mengusap perut buncit Lucy pelan.
Keduanya kini duduk di sofa ruang tamu, tapi Gita langsung meninggalkan Lucy untuk mengambil air minum buat wanita hamil itu.
"Kamu pasti haus, minum dulu Lusy." Gita meletakkan segelas jus jeruk yang memang sudah tersedia di dalam lemari pendingin.
"Terimakasih,"
"Kamu ke sini sama siapa? Lalu tahu alamat rumahku dari siapa?" Gita amat sangat penasaran dengan jawaban dari dua pertanyaannya itu, sebab selama ini dia tidak pernah memberitahukan alamat rumahnya ada sahabatnya itu.
Lucy tersenyum, "Aku tanya sama teman mu, Salma. Kalau tanya aku kesini sama siapa, seperti yang kamu lihat aku datang seorang diri." Jawab Lucy yang terlihat baik-baik saja meskipun datang sendirian ke negara asal sang ibu itu.
"Lalu Frans?" tanya Gita, penasaran kenapa kekasih wanita itu tak menemaninya.
Kali ini Lucy tersenyum tapi sambil menggeleng, "Aku sudah putuskan untuk merawat anak ini tanpa Dadynya, karena dia enggak menginginkannya." Ujar Lucy mengelus perutnya yang mulai membuncit tersebut.
Gita memeluk kembali tubuh sahabat bulenya ini, merasa iba dengan kehidupan yang dihadapan oleh Lucy, meski sebenarnya Lucy baik-baik saja sebab di negaranya sana hal sepeti ini sudah biasa terjadi.
"Kok nangis? Harusnya aku yang nangis nona." Lucy mengusap punggung Gita yang sedang terisak.
"Ternyata hidupmu lebih menderita dari aku, kamu harus menjalani semua ini sendiri, pasti berat banget." Gita melepas pelukannya lalu mengusap bekas air mata yang sudah terjatuh.
__ADS_1
"Hey, aku tidak seburuk yang kau kira ya. Aku baik-baik saja bahkan sangat baik. Ini pilihanku, dan aku bahagia dengan pilihanku sendiri." Lucy menatap Gita yang terlihat bersedih setelah dia menceritakan semuanya.
"Tapi aku tetap tak tega dengan mu." Gita merasa jika Lucy sebenarnya tidak baik-baik saja, pasti memiliki beban yang berat.
Lucy menggeleng, "Aku serius, aku baik-baik saja. Aku kesini bukan ingin melihat kamu nangis, tapi mau lihat kamu tersenyum bahagia, jadi berhentilah menangis atau aku pulang." Ancam Lucy yang sukses membuat Gita berhenti menangis.
Gita mengangguk, "Baiklah, aku tidak akan menangis lagi, karena sepetinya yang aku tangisi baik-baik aja," ucapnya membuat Lucy terkekeh.
"Lalu kemana barang-barang mu? Jangan bilang kamu tidak membawa barang ke sini?" tanya Gita sebab sejak tadi dia tak melihat Lucy membawa barang-barang miliknya.
"Di hotel...." Lucy tak jadi melanjutkan ucapannya sebab mata Gita sudah melotot sempurna.
"Kamu harus tidur di rumah ku, di sini banyak sekali kamar kosong. Ibu hamil tidak boleh menginap di hotel seorang diri. Apalagi kamu sahabatku, jelas aku tak akan membuatmu terlantar selama di sini, apalagi kalau Papa tahu kamu menginap di hotel nanti aku yang dimarahi. Jadi, kita haru ambil semua barang mu dan bawa ke sini." Gita tentu tak akan membiarkan Lucy berada diluar lingkungan rumahnya, apalagi wanita itu sedang hamil.
"Baiklah Nona, kau menang." Lucy pasrah, dia tak mungkin menolak Gita, apalagi dia juga sebenarnya merasa takut tinggal di hotel seorang diri.
"Nah begitu kan bagus." Gita tersenyum sambil mengacungkan dua jempol tangannya.
Gita makin terharu dengan sahabatnya itu, wanita itu begitu baik bahkan sejak pertama kali mereka berkenalan hingga di sudah berada di Indonesia pun Lucy masih tetap sahabat baiknya.
"Ah terimakasih Lucy, aku terharu mendengarnya. Kamu memang terbaik!" Kali ini Gita kembali memeluk tubuh Lucy tapi hanya sekilas, hanya untuk mengungkapkan rasa terimakasih karena telah membuat dirinya bahagia.
"Tunggu, kamu tahu aku sakit? Siapa yang bilang?" tanya Gita penasaran.
"Kau mulai meragukan kemampuan ya? Aku tahu dari siapa itu tidak penting, yang terpenting saat ini aku bahagia melihat sahabat-sahabat ku menuju pintu kebahagiaan. Semoga kalian lenggang," ucap tulus Lucy.
Gita mengaminkan doa sahabatnya tersebut, harapannya juga sepeti itu, langgeng hingga maut memisahkan.
"Nanti aku akan kembali ke Indonesia lagi kalau Salma menikah," ujar Lucy sambil menikmati cemilan yang disediakan oleh art rumah Gita.
__ADS_1
"Kamu serius Salma mau nikah? Kapan? Terus sam siapa? Kenapa dia enggak ngasih tahu aku ya?" pertanyaan dia lontarkan pada Lucy.
"Kamu tidak tahu? Ah, mungkin karena dia juga sibuk nyiapin pernikahan jadi dia belum sempat bilang sama kamu. Mungkin nanti dia akan bilang saat acara pernikahan mu." Jelas Lucy yang tak ingin membuat Gita berprasangka buruk pada Salma.
"Mungkin juga sih Lus, tapi semenjak dia pulang dari London waktu itu, dia tak pernah hubungi aku. Lalu dia menikah sama siapa Lus?" tanya Gita lagi
"Em, sama pacarnya yang dulu sempat putus, itu sih yang diceritakan Salma." Jawab Lucy sesuai cerita dari Salma.
Gita mengernyitkan dahi, bingung dengan ucapan Lucy, sebab sepengetahuan dirinya kekasih Salma itu udah nikah sama gadis yang mengaku hamil dengan Fajar, kekasih Salma. Lalu kenapa Salma mau menikah dengan pemuda itu.
"Kok bisa?" tanya Gita.
Kali ini Lucy menggidikan bahu, "Nanti kamu tanya aja sama Salma, sebab aku tidak berhak untuk membicarakan hal tersebut," ucapnya.
Gita mengangguk ucapan Lucy ada benarnya, meski dia penasaran dengan apa yang terjadi pad Salma sahabatnya.
Mereka masih terus mengobrol seakan lupa waktu, hingga kedatangan Papa Gita dari kantor, membuat keduanya berhenti mengobrol. Lucy berbasa-basi dengan Papa Gita sebentar, setelah itu mereka menuju hotel dimana Lucy menginap.
Gita terkejut saat Lucy menunjuk sebuah hotel, ternyata hotel tersebut sama dengan hotel kemarin saat dia melihat Karin sedang di dorong keluar gerbang.
Gita terus mengikuti kemana langkah kaki Lucy berpijak, akhirnya mereka sampai lantai ke lima belas, dimana hanya ada dua kamar dalam lantai tersebut dan Gita baru menyadari jika sahabatnya itu memesan kamar yang harganya pasti sangat fantastis dalam satu malam, hanya bisa menggelengkan kepala dengan sikap Lucy.
Langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang yang amat dikenalinya dari salah satu kamar yang ada di lantai tersebut, bahkan pintu kamar itu terlihat terbuka.
"Karin?" lirihnya lalu mendekat ke arah kamar itu.
"Gita, where are you doing?" seru Lucy saat melihat sahabatnya justru menuju ke kamar lain.
.
__ADS_1
.
🥀🥀🥀🥀