
Gita menghembuskan nafas panjang berulang kali, dia baru saja mengantar Indra ke kamar yang biasa di tempati sang Papa saat berada di negara ini. Aktifitas keduanya tadi tidak menimbulkan sesuatu yang menggetarkan berlebihan, sebab dia meras kasihan saat melihat wajah Indra yang begitu pucat, sepertinya pemuda itu masih jet lag. Ah, tidak dia pasti kecapean, sebab ini perjalanan pertama ke lain benua.
Gadis itu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, menatap langit-langit kamar. Memikirkan apa tujuan pemuda itu datang ke tempat ini? Ada kerjaan? Tapi sepertinya tidak. Terus apa coba? Gita bingung sendiri memikirkan tujuan pemuda itu datang ke tempat ini. Cukup lama dia termenung, hingga tersadar saat cacing dalam perutnya mulai demo, ternyata dia belum makan malam. Terpaksa bangkit dari tidurnya menuju kamar paling ujung, dimana Indra berada.
Gadis itu pun mengetuk pintu perlahan, saat pintu terbuka nampaklah Indra dengan wajah yang sudah segar, pakaian yang dia pakai pun sudah berganti. Ah, membuat jantungnya tiba-tiba berdentum keras, menjadi salah tingkah, takut jika pemuda itu mendengar detak jantungnya.
"Abang pasti belum makan malam, kan?" Indra pun mengangguk dengan senyum menawannya, "Mau makan di sini atau di luar?" tanya gadis itu.
"Hem, ikut kamu aja," jawab pemuda itu, sebenarnya dia ingin makan di apartemen saja, tapi sungkan saat akan menjawab seperti itu, takut Gita menginginkan makan di luar.
"Yaudah, makan di sini aja ya Bang, aku lagi males keluar. Tapi kita makan seadanya, enggak apa-apa, kan?" Gita memang selalu malas makan di luar saat malam hari, sebab biasanya Hafidz memasak untuknya, atau sengaja membeli di luar untuk dimakan di apartemen.
"Tidak masalah," jawab Indra mengikuti langkah Gita menuju dapur.
"Hafidz biasanya pulang jam berapa?" tanya pemuda itu yang memang belum mengetahui jika Hafidz kembali ke Indonesia
"Lhoh? Bang Indra enggak tahu, kalau Abang pulang ke tanah air?" gelengan kepala Indra membuat Gita menghela nafas panjang.
"Kalian ini," hanya itu yang bisa di ucapkan oleh gadis itu.
Entah kenapa Indra merasa atmosfer di dapur tersebut menjadi makin panas, lihatlah keringat mulai muncul di seluruh tubuhnya. Tak menyangka jika mereka hanya berdua di apartemen ini, mampukah dia mengendalikan diri untuk tidak berbuat yang tentu saja tidak diinginkan.
"Biar ku bantu," akhirnya pemuda itu memilih menawarkan diri untuk membantu, berharap dengan begitu pikiran nakalnya menghilang.
"Enggak usah Bang, cuma goreng ikan aja. Masih punya sambal, jadi enggak usah buat lagi." tolak Gita, dia sengaja menghindari berdekatan dengan pemuda itu, sebab tidak sehat untuk jantungnya.
Akhirnya Indra mengalah, dia memilih duduk di meja makan, yang memang menjadi satu dengan dapur. Dia memerhatikan gadis itu menggoreng ikan, tersenyum saat melihat gadis itu membalik ikan yang dia goreng dengan wajah yang sengaja di tutup oleh tutup teflon.
"Bisa enggak?" tanyanya tak tega melihat Gita seperti itu.
"Udah kok, tinggal tunggu mateng aja." Gita menutup kembali teflon dengan penutup yang dia pakai untuk menutup mukanya tadi.
__ADS_1
Makan malam kalo ini terasa berbeda untuk keduanya, jika Gita merasa canggung hanya makan berdua dengan Indra, berbeda dengan pemuda itu, dia begitu menikmati ikan goreng buatan Gita. Ah ralat, bukan buatan gadis itu sebab Gita hanya menggorengnya saja. Bumbu yang membuat ikan itu begitu lezat ternyata bukan gadis itu yang meracik, melainkan sang Abang. Sudah dia duga, tapi tidak masalah, sebab dia bisa menikmati makanan tersebut sambil sesekali mencuri pandang wajah gadis yang duduk tepat dihadapannya.
"Kok enggak jadi tidur Bang? Emang udah enggak jet lag?" tanya Gita saat melihat Indra ke luar dari kamar, menghampiri dirinya yang sedang mengotak-atik laptop.
"Udah enggak, cuma tadi pusing sedikit," jawab Indra. "Dan saat melihat wajah manis mu seketika pusing dikepala ku hilang," tambahnya tentu hanya hati yang berbicara.
Gita masih penasaran apa sebenarnya tujuan pemuda itu ke negara ini. Tapi dia tidak mau Indra salah paham, dan akhirnya memilih diam.
"Sibuk ya?" tanya pemuda itu.
Gita menggeleng lalu meletakkan laptopnya, sebab dirinya memang tidak sibuk, tadi hanya mengirim email pada timnya saja.
Mereka mengobrol seperti biasa, saling menanyakan kabar satu sama lain, hingga malam beranjak larut dan keduanya pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.
Meski obrolan tadi hanya seputar kabar dan kegiatan yang mereka lakukan tanpa menyinggung masalah persamaan, tapi jantung keduanya berpacu lebih cepat, membuat mereka sedikit kewalahan untuk menetralkan nya.
"Waktuku tidak banyak, tapi kenapa tiba-tiba keberanian itu menghilang saat berhadapan dengannya." Indra terlihat frustasi, rencana ternyata tak semulus yang dia pikirkan.
Meski malam hampir melewati tengah malam, Indra belum bisa memejamkan mata sama sekali, memikirkan bagaimana cara berbicara serius dengan Gita, hingga waktu menjelang pagi, dia baru bisa memejamkan mata. Akhirnya dia bangun kesiangan bahkan sudah tak menemukan gadis pujaan hatinya itu, pasti Gita sudah berangkat bekerja atau ke kampus.
"Maaf ya Bang tadi aku tinggal, tapi udah sarapan, kan? Aku tadi buru-buru ke kampus, jadi cuma buat nasi goreng aja," ucap Gita.
Indra mengangguk, "Tidak masalah, nasi goreng juga enak kok," timpal Indra, "Apalagi kamu yang membuatnya khusus untukku," dan itu berasal dari suara hatinya.
"Kamu enggak kerja?"
"Enggak Bang, entah kenapa tiba-tiba Lucy memberi libur selama satu minggu, rasanya aneh aja. Bahkan aku tadi di usir dari kantor," keluh Gita.
Indra tersenyum dan sangat berterimakasih dengan gadis bernama Lucy itu, pasti gadis itu sudah menebak kedatangannya ke tempat ini.
"Aku mau bicara, bisa berarti dong?" tanya pemuda itu.
__ADS_1
"Bisa banget Bang, tapi kita ngobrol di balkon aja ya, biar lebih seger." Gita beranjak lebih dahulu.
Balkon yang memang cukup luas untuk bersantai itu, berisi dua kursi dan satu meja bundar, sepertinya sengaja di siapkan untuk menikmati langit dari lantai lima belas itu.
"Kamu enggak penasaran kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Indra saat mereka berdua sudah duduk.
Gita menyengir, "Sebenarnya penasaran, tapi takut Abang tersinggung," jawabnya jujur.
Indra tertawa, "Sudah ku duga, tapi kamu mau tahu apa enggak nih alasannya?" tanya pemuda itu lagi.
"Iya, tapi kalo Abang mau ngasih tahu, kalau enggak ya enggak apa-apa," Gita memang penasaran tapi tentu tak mau memaksa pemuda itu untuk mengatakan alasannya. Bisa jadi karena sebuah pekerjaan, atau ada hal lain entahlah.
Indra tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari balik kaos yang dia kenakan, membuat Gita mengernyit lalu membelalakkan matanya saat menyadari benda apa yang baru saja dikeluarkan oleh Indra. Ya, buku bersampul biru, ah semoga saja hanya kebetulan buku mereka sama. Doanya dalam hati, sebab dia akan sangat malu jika pemuda menemukan bukunya dan membaca semuanya.
"Kamu pasti familiar dengan buku ini bukan?" pertanyaan Indra membuat jantung Gita berdebar tak menentu, ternyata tebakannya salah, buku itu adalah miliknya. Ah, kenapa sekarang wajahnya terasa panas, membayangkan bagiamana jika Indra membaca semua isi buku tersebut, mau ditaruh dimana mukanya.
"Maaf aku lancang membacanya," Indra menyerahkan buku tersebut pada Gita.
Gita hanya mampu menggeleng, dia begitu gugup setelah mengetahui jika pemuda itu telah membaca habis buku tersebut.
"Apakah perasan itu masih sama seperti dulu untukku?" tanya Indra.
Gita hanya menunduk, tak berani menatap pemuda itu, "Dan kamu harus tahu, perasaan yang sama pun aku rasakan, bahkan hingga saat ini." Indra bisa melihat jika gadis dihadapannya ini terkejut, tapi masih dengan wajah menunduk.
"Aku menyesal baru menyadari semua itu setelah kamu bersama dokter brengsekkk itu. Andai aku menyadari sebelumnya, pasti kamu tidak akan pergi sejauh ini, bahkan hatimu tidak akan terluka karena dia," Indra terus berbicara, tak menghiraukan Gita yang terus menunduk, sebab dia tahu gadis itu pasti mendengar semua ucapannya.
"Satu tahun belakangan ini, aku melalui hari dengan begitu berat, menahan rindu padamu. Bahkan tiap hari selalu masuk kamar mu, berharap rindu ini sedikit berkurang, tapi ternyata aku salah, justru rindu ini makin menggebu." Indra menoleh sekilas, ternyata Gita masih dalam posisi seperti tadi, tapi dia merasa ada yang aneh, gadis itu menangis. Dia pun menghampiri Gita, duduk di lantai dengan bertumpu dua lututnya.
"Kenapa menangis?" tanya Indra panik, dia takut menyakiti perasaan gadis ini.
.
__ADS_1
.
🥀🥀🥀🥀