
Sesuai janjinya Papa pun memenuhi permintaan putri tercintanya, dengan menanam modal untuk perusahaan Kakaknya Karin, bahkan kini kedua sahabat itu sudah kembali membaik. Karin merasa berutang banyak dengan Gita yang selalu ada membantunya ketika terkena masalah, tapi dia justru tetap berbuat tak baik pada Karin, kini dia berjanji akan menjadi teman baik buat gadis itu.
Gita, gadis itu juga sudah menerima permintaan maaf tulus dari Karin, meski tidak tahu kedepannya akan kembali seperti mereka saat masih remaja dulu atau tidak, entahlah. Gita juga merasa bersalah karena perbuatan sang Papa membuat Karin seperti saat ini, tapi perempuan itu tidak mempermasalahkannya, Karin merasa itu sebuah teguran baginya.
Gita sekarang sudah lega, satu persatu masalahnya usai, tak ada dendam dengan siapa pun, dia sudah siap untuk melanjutkan kehidupan masa depannya dengan seseorang yang sangat dia cintai, tepat hari ini acara pernikahannya akan di gelar. Sudah sejak jam lima pagi, Gita duduk di depan cermin dengan dua orang yang sejak tadi memoles wajahnya tanpa lelah.
"Masyaallah anak Mama cantik sekali," ucap Mama saat pertama kali melihat wajah putrinya yang sudah tersentuh oleh make-up.
Gita tersenyum dia pun mengagumi hasil jari-jemari MUA yang dipersiapkan oleh Mama Sita ini, hasilnya begitu memuaskan, bahkan wajahnya yang tebal karena bedak tak merasa berat sedikitpun, polesan itu begitu ringan seperti tak bermake-up.
Selesai merias wajah Gita, dua perias terbaik itu pun undur diri, memberi ruang untuk ibu dan anak tersebut, sepertinya sang Mama ingin mengatakan sesuatu tanpa di dengar oleh kedua MUA itu.
"Sayang, beberapa jam ke depan statusmu sudah berubah menjadi seorang istri. Pesan Mama, jadilah istri yang patuh dengan suami selama perintahnya tak melanggar aturan Allah. Jaga pernikahan kalian, supaya menjadi keluarga yang utuh hingga maut memisahkan, jangan tiru perbuatan Mama dan Papa." Mama mengusap punggung gadis berbalut busana berwarna putih itu.
"Doakan ya Ma, supaya aku menjadi istri yang baik dan sholihah untuk suamiku nanti." Ingin sekali rasanya meneteskan air mata, tapi dia sadar tak mungkin meneteskan air mata saat ini.
"Pasti, Mama selalu mendoakan kebaikan untuk semua anak-anak." Mama menatap Gita penuh senyum, "Jangan menangis, ini hari bahagia kalian. Nanti boleh menangis kalau kalian sudah sah, tapi tangis bahagia," ujarnya lagi, menyadari bola mata Gita mulai berembun, dia pun segera meraih tisu dan menghapus embun itu sebelum menetes.q
"Tangisannya simpan untuk nanti malam, Mama tidak yakin jika nanti malam kamu tidak menangis," goda Mama, seketika membuat wajah Gita bersemu dan terlihat gadis itu salah tingkah.
"Mama ngomong apa sih? Aku enggak ngerti," ucapnya manja.
"Biar kamu enggak tegang, karena sebentar lagi arjuna mu mengucap satu kalimat sakral yang akan menyatukan kalian dalam ikatan halal," entah darimana Mama mendapatkan kalimat seperti itu, seperti bukan Mama saja.
"Mama puitis banget sih, siapa yang ngajarin? Jangan bilang Papi Lucy yang ngajarin Mama jadi seperti itu," tuduh Gita, dia pun mencoba mengalihkan rasa gugupnya.
__ADS_1
"Ish mana bisa Papi kamu seperti itu, dia ingatnya hanya pasal-pasal yang sama sekali tidak Mama ketahui sebelumnya, sekarang udah hafal di luar kepala gara-gara tiap hari makanannya pasal,"
Gita tertawa mendengar cibiran sang Mama, tak bisa membayangkan bagaimana pusingnya Mama saat mendengar Papi Luky curhat, apalagi curhat tentang masalah pekerjaan, sungguh sangat rumit dan mungkin banyak hal baru yang Mama ketahui.
"Tuh, kan, malah ngetawain Mama? Asal kamu tahu ya, Mama bahagia sekali mendapatkan pendamping hidup seperti Papi, kamu pun harus bahagia seperti Mama." Mama kembali menatap wajah putrinya yang masih tertawa karena ucapannya tadi.
"Ma, apa Papi enggak romantis ya? Aku jadi penasaran, sebab Mama sama Papi jarang sekali bermesraan di depan kita," tanya Gita penasaran dengan hubungan Mama dan Papi Luky.
"Siapa bilang? Papi tetep romantis, tapi itu rahasia kita berdua. Kami tahu diri untuk tidak bermesraan di depan para jomblo," ujar Mama membuat Gita mendengus dan kali ini gantian Mama yang tertawa.
"Tapi sebentar lagi aku enggak jomlo. Udah ada yang nemenin kalau bobok." Gita tersenyum entah membayangkan apa.
"Biasanya juga tidurnya ditemani sama Abang kamu, kan?" tanya Mama membuat Gita mengerucutkan bibirnya.
"Ih, kan beda Ma!" protesnya.
"Tau ah Mama, aku mau turun aja nemuin calon suami." Gita beranjak dari duduknya, dia tak sabar melihat wajah manis calon suaminya yang sudah satu Minggu tak dilihatnya sama sekali. Ah, rindu ini makin menjadi ketika dia mendengar ucapan pemuda itu lewat pengeras suara.
"Nanti dulu sayang, udah enggak sabaran banget sih," Mama terus menggoda putrinya membuat Gita cemberut, dan akhirnya wanita itu tak lagi menggoda Gita, memilih menyemangati gadis tersebut.
🥀🥀🥀🥀
"Sah?"
"Sah,"
__ADS_1
"Sah,"
Ucapan kata 'sah' menggema di seluruh ballroom hotel berbintang. Baru saja seorang laki-laki dengan lesung pipi itu mengikat seorang gadis yang dicintainya dalam ikatan halal pernikahan. Tangan yang sejak tadi dingin dan gemetar kini telah berubah menghangat, setelah ucapan sakral itu dia ucapkan dalam satu tarikan nafas. Kini gadis yang sangat dia cintai sudah sah menjadi istrinya, rasa syukur selalu dia panjatkan atas karunia yang diberikan kepadanya.
Senyum manis terbit dari bibirnya kala melihat gadis manis yang baru saja menyandang status sebagai istrinya itu jalan dengan diapit oleh dua wanita yang sangat penting dalam kehidupan gadis itu, sang Mama kandung dan Mama sambung yang terlihat mirip tanpa adanya perbedaan dari segi wajahnya.
"Kamu cantik sekali, Abang pangling," bisiknya saat gadis itu duduk tepat di sisinya.
"Bisik-bisiknya nanti dulu ya, sekarang kita selesaikan semua ini terlebih dahulu. Silakan tanda tangan di sini." Titah penghulu membuat si gadis tersipu malu, untung saja wajahnya penuh dengan make-up, jika tidak sudah pasti wajah itu terlihat memerah.
Prosesi ijab qobul usai, kedua mempelai menjadi artis dadakan, berbagai pose diambil oleh sang fotografer, mulai dari mereka memasang cincin pernikahan hingga duduk di pelaminan. Setelah dirasa cukup, acara pun dilanjutkan dengan resepsi yang akan diadakan hari ini juga, mulai siang setelah dhuhur hingga malam hari. Kedua mempelai memiliki waktu istirahat cukup sebelum acara resepsi.
"Kalian boleh istirahat tapi ingat jangan melakukan sesuatu yang membuat pengantin wanita tidak bisa melakukan resepsi sekarang, kalian boleh melakukan itu nanti malam setelah semuanya usai," tutur Mama yang sejak tadi selalu cerewet menurut Gita.
"Mama!" protes gadis itu tersipu malu, Mama selalu saja membahas hal seperti itu sejak tadi, entah apa yang dipikirkan oleh Mamanya itu.
"Lhoh benar ucapan Mama kamu, nak. Atau kalian boleh istirahat di kamar berbeda," usul Tante Arini.
"Kami tidak akan melakukan hal itu Ma, Tan, hanya butuh istirahat sebentar saja," ucap Indra merasa keberatan jika harus istirahat terpisah, dia ingin sekali memeluk istrinya itu saat ini, sebab kerinduannya selama satu minggu tak bertemu menjadi alasan utamanya.
"Baiklah, kalian istirahat, ingat jangan macam-macam! Mama cuman tidak mau resepsi semewah itu harus gagak karena pengantin perempuan tidak bisa jalan, kalian boleh melakukan apapun selain itu." Setelah mengatakan hal itu Mama pun menutup pintu kamar dan langsung meninggalkan mereka berdua.
Indra langsung mengunci pintu kamar, tak ingin ada seseorang yang masuk tanpa ijin, sebab dia tak ingin diganggu saat ini. Hal pertama yang dia lakukan setelah menutup pintu kamar adalah memeluk erat tubuh istrinya itu, sang gadis pun membalas pelukannya tak kalah erat.
.
__ADS_1
.
.🥀🥀🥀🥀