Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Baru Permulaan


__ADS_3

"Ziva minta maaf ya Ma, baru tahu kalo Mama nikah, Kak Gita sama Kak Hafidz enggak ngasih tahu sih," ucap Ziva.


"Enggak apa-apa, lagian Ziva kan jauh di Jakarta, acaranya juga cuma syukuran aja," timpal Mama.


"Masuk yuk, kok malah ngobrol di depan pintu gini. Mereka udah masuk semua tuh." Mama mengajak Ziva untuk masuk ke dalam rumah, sebab sejak tadi keduanya mengobrol di depan pintu setelah kedatangan gadis itu bersama si kembar dan Indra.


"Iya Ma," Ziva mengikuti Mama Sinta masuk ke dalam rumah.


"Dapat salam dari Mamah, Ma, Mamah enggak bisa ke sini, lagi sibuk banget. Ini aja nanti aku mau nebeng pulang ke Jakarta ikut Kak Hafidz, besok harus masuk sekolah," ujar Ziva saat mereka sudah duduk di ruang tamu hanya berdua, entah yang lainnya kemana.


"Iya enggak apa-apa, maklum Mamah kamu kan model terkenal, selain itu juga punya pekerjaan lain selain model, pasti sibuk banget," sambung Mama yang mengerti akan kesibukan kedua orang tua Ziva.


"Ayo kita makan siang dulu, kalian pasti belum makan, kan? Meskipun baru dari mall, karena tadi Mama udah larang makan di luar," Mama mengajak Ziva masuk ke dalam setelah cukup lama berbincang dengan gadis kecil itu.


Mereka berempat tadi memutuskan untuk jalan-jalan ke mall, dengan Gita yang selalu menempel pada Hafidz, dengan alasan masih kangen dan sebentar lagi abangnya itu akan pergi. Padahal alasan sebenarnya dia tak mau dekat dengan Indra, sengaja menghindari pemuda itu.


Untuk pertama kalinya mereka makan siang bersama, lengkap dengan kedua anak Mama Sinta dan Papi Luky ditambah dengan Ziva.


"Mungkin kalau Aisah masih hidup dia pasti sudah sebesar kamu Nak," celetuk Papi Luky tiba-tiba, setelah menyelesaikan makan siangnya.


Ziva menatap Hafidz, lalu bergantian menetap Gita, dia tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Om Luky.


"Jadi, Om itu punya anak perempuan, mungkin seusia kamu, dia meninggalkan kami semua saat masih kelas satu sekolah dasar. Kecelakaan sama Maminya setelah pulang sekolah," ucap Papi Luky seakan mengerti dengan kebingungan Ziva.


Mama mengusap punggung suaminya, berharap bisa menenangkan. Tapi Papi Luky justru mencegahnya, lalu menggeleng ke arah Mama, seakan mengatakan jika dia baik-baik saja.


Ziva terkejut mendengar hal tersebut, tapi dia tak bisa mengatakan apapun, hanya diam dan tetap menyimak perkataan Om Luky.


"Itu sudah lama terjadi, kami semua juga sudah mengikhlaskannya. Sudah takdir mereka meninggalkan kami lebih dulu, mereka sekarang juga pasti sudah bahagia di sana," Papi Luky kembali melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


Semuanya mendengarkan tanpa ada yang berniat untuk bertanya.


Setelah makan siang, Hafidz memutuskan untuk pulang ke rumah Mama, dia ingin bersiap terlebih dahulu, sebab nanti sore akan ke Jakarta. Gita pun ikut serta, sebenarnya gadis itu ingin mengantar sang Abang hingga ke Jakarta, tapi apa daya esok dia harus menghadap dosen pembimbingnya.


"Kita antar Lo sampai hotel deh," celetuk Indra saat dirinya membantu Hafidz memasukkan koper ke dalam bagasi.


"Biar gue sama sopir aja Ndra, lagian besok Lo harus kerja, Gita juga harus kuliah," tolak Hafidz secara halus, dia beralasan seperti itu sebab memikirkan perasaan sang adik jika terlalu dekat dengan Indra.


"Kita bisa pulang nanti malem, iya kan Git?" Indra meminta dukungan dari Gita. Gadis itu terkejut, bingung harus menjawab apa.


"Tapi Bang, aku mesti periksa naskah skripsi lagi Bang, takutnya banyak yang typo," Gita beralasan.


"Tenang aja, entar gue bantu, janji," putus Indra tak mau mengalah.


Akhirnya Gita mengangguk, dia tak memiliki alasan lagi. Ah semoga aja ini yang terakhir kali berdua dengan Indra. Karena jika terus berulang, maka hatinya tidak akan pernah baik-baik saja.


Hafidz melirik kembarannya sejenak, dia tahu apa yang Gita rasakan. Karena gadis itu menyetujuinya dia pun tak memiliki alasan untuk menolak lagi.


🥀🥀🥀


Selama perjalanan pulang Gita memilih untuk tidur, hatinya terlalu lelah terus berdekatan dengan Indra seharian ini. Pemuda itu benar-benar tidak ada kerjaan di hari minggu seperti saat ini. Tak bisa membayangkan minggu-minggu selanjutnya saat Indra tak ada kerjaan, dia pasti yang akan menjadi sasaran Indra untuk keluar rumah. Ah, membayangkan saja rasanya sesak, gimana kalau hal itu benar terjadi? Entahlah.


"Gita bangun, kita udah sampai." Indra mengguncang tubuh Gita lelah, sekali dua kali gadis itu masih dalam posisinya, hingga ke tiga kalinya Gita membuka mata dan langsung terkejut mendapati Indra berada dihadapannya.


"Bang Indra! Mau ngapain?" teriknya.


"CK, bangunin kamulah, emang mau ngapain coba? Kamu itu kalo tidur susah banget dibangunin sih?" protes Indra.


"Oh gitu, yaudah makasih Bang." Gita tak menghiraukan ucapan Indra, dia lebih memilih meninggalkan pemuda itu. Jantungnya sudah tak bisa diajak kompromi sejak melihat wajah Indra tepat dihadapannya.

__ADS_1


Indra pun menyusul Gita masuk ke dalam rumah, mereka menyalami kedua orang tuanya terlebih dahulu lalu masuk ke dalam kamar masing-masing.


Gita langsung merebahkan diri di atas kasur, lelah hati, pikiran dan badan. Entah obatnya apa, dia sendiri pun tak mengetahuinya. Cukup sepuluh menit untuk menenangkan diri, setelah itu dia membersihkan dirinya di kamar mandi.


Baru saja dia keluar dari kamar mandi, terdengar pintu kamarnya di ketuk dari luar. Dia pun bergegas membuka pintu tersebut, dan terkejut saat mendapati Indra yang berada di depan kamarnya dengan senyum merekah. Membuat jantungnya seakan ingin melompat.


"Bisa tidak sih kalau enggak sudah tersenyum manis gitu? Kalau gini caranya kapan gue bisa move on!" jerit Gita dalam hatinya.


"Kok malah melamun, katanya mau meriksa naskah skripsi, sini aku bantuin. Aku tunggu di sana ya." Indra menunjuk ruangan yang berada di pojok sebelah kamar Gita. Lantai yang dibatasi oleh tembok ditengahnya.


"Aku bisa sendiri Bang, Bang Indra istirahat aja, besok kan harus kerja," tolaknya, kali ini tulus dari hati, bukan karena ingin menghindar.


"Aku tadi udah janji, dan janji itu harus ditepati. Aku ke sana dulu." Indra berjalan meninggalkan Gita yang masih mematung dengan berpegangan pada daun pintu.


Gadis itu menghela nafas sebelum masuk ke kamar mengambil laptopnya.


"Coba sini aku bantuin, sekalian aku koreksi kalo ada yang salah." Indra meraih laptop yang sudah menyala itu dari pangkuan Gita tanpa rasa canggung, berbeda dengan Gita yang merasa makin frustasi dengan perlakuan Indra yang menurutnya tak wajar.


"Kalau butuh teman begadang untuk ngerjain skripsi, aku siap. Kamu buat di sini aja, nanti aku temani," ucap Indra tanpa menatap Gita, sebab fokusnya masih ke arah laptop milik Gita.


"Iya Bang, makasih," ucap Gita sekenanya.


Di belakang tembok tampak seseorang yang sedang tersenyum menyeringai, dia begitu bahagia melihat Gita yang terlihat begitu tersiksa, sebab terus berdekatan dengan orang yang dia cintai tapi tak bisa dia gapai.


"Ini baru permulaan Kak, baru sehari. Gimana hari-hari selanjutnya? Apakah Kak Gita akan kuat, atau sebaliknya?" gumamnya saat melihat interaksi kedua orang itu.


Hanya sebentar mengintip keduanya, lalu orang itu yang tak lain adalah Riky memilih masuk ke dalam kamar, tak ingin berlama-lama menatap Gita.


🥀🥀🥀

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2