
Weekend adalah hari yang selalu di tunggu oleh Salman, sebab dia bisa bersama Gita seharian. Meskipun terkadang Salma mengekor kemana pun mereka pergi karena tak jarang kekasihnya masih harus berangkat ke rumah sakit di hari minggu.
Seperti pagi ini, pukul delapan pagi pemuda itu sudah duduk di ruang tamu rumah Gita. Mengobrol dengan Om Luky dan juga Tante Sinta, sedang gadis yang dia tunggu masih betah berada di kamar, padahal dia sudah menunggu sepuluh menitan lebih.
"Sepertinya saya ingin segera bertemu dengan Papanya Gita, mungkin Tante bisa kasih tahu kapan beliau ada waktu luang?" tanya Salman, dia ingin meminta restu pada Papa kandung Gita.
"Dua hari yang lalu Tante sempat telpon istrinya, katanya mereka sedang di luar negeri, mungkin minggu depan mereka sudah kembali," jawab Tante Sinta, tentu saja dia masih berhubungan baik dengan mantan suaminya itu apalagi Sita adalah adik kandungnya.
"Baiklah minggu depan saya ke sana, sama Gita itu pun kalau Gita tidak sibuk," sambung Salman.
Mereka kembali melanjutkan obrolan, sebab Gita masih saja belum terlihat batang hidungnya.
Gita yang baru saja keluar dari kamar, dikejutkan dengan adanya Indra yang juga baru saja keluar kamar. Pemuda itu terlihat rapi seperti akan pergi ke suatu tempat.
"Mau kemana Bang? Kencan pasti?" tebak Gita.
Indra bersikap datar, tidak menampakkan senyum yang selalu membuat gadis itu mabuk kepayang. Ya, sejak Gita pulang ke rumah Mamanya itu sikap Indra berubah, bahkan jarang sekali berbicara dengannya.
"Hmm, emang kamu aja yang bisa kencan?" jawab Indra masih dengan wajah datarnya.
Hati mana yang tak sakit, mendapati orang yang disayang bersikap kaku bahkan seakan tak ingin bertutur sapa dengannya. Tapi Gita, si gadis ceria itu mencoba bersikap biasa saja meski hatinya terluka, tak ingin membuat lelaki itu mencurigainya.
"Bagus deh, kapan-kapan kenalin pacarnya ke aku ya Bang," Gita tersenyum tulus, berharap Indra mendapatkan kekasih yang baik, meskipun hatinya harus patah, tak masalah yang penting pemuda itu bahagia dengan pilihannya.
Indra hanya berdehem kemudian meninggalkan Gita yang masih berdiri di depan kamarnya. Gita menatap pemuda itu dengan tatapan sayu, dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada pemuda itu, hingga bersikap seperti ini. Tapi dia tak tahu apa yang membuat pemuda itu menjadi kulkas seratus pintu.
Dirasa Indra sudah meninggalkan kediamannya, Gita mulai menuruni anak tangga perlahan, sambil menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba memburu, berharap Salman tak menyadari perubahan wajahnya saat ini. Tentu tak ingin mengecewakan pemuda itu, meski mereka belum memiliki ikatan resmi.
"Salma enggak jadi ikut Kak?" tanya Gita saat mereka sudah berada di dalam mobil Salman.
"Enggak, mau belanja sama Mama katanya," jawab Salman tanpa menatap wajah Gita sebab fokus matanya pada jalanan.
"Kita ke daerah rumah pohon itu lagi enggak apa-apa, kan? Tapi enggak ke rumah pohon dulu ya, atau kalau nanti mau mampir juga boleh sih," ujar Salman berharap Gita setuju dengan tempat yang akan mereka tuju saat ini.
__ADS_1
"Iya Kak, aku sih ngikut aja. Minggu lalu kita seharian di perpustakaan, sekarang refresing lagi, itu ide bagus sih," sambung Gita mengingat Minggu lalu mereka berdua, ah ralat tidak berdua tapi berempat sebab ada Salma dan juga Alya, mereka berdiam diri di perpustakaan hingga sore.
Awalnya mereka bertiga ingin mencari bahan tambahan untuk skripsi, tapi ternyata Salman memaksa ikut, akhirnya mereka berempat pergi bersama.
Cukup lama perjalanan yang mereka tempuh, tapi seakan waktu itu cepat berlalu sebab mereka melaluinya dengan canda tawa, sesekali mereka juga mengobrol serius. Hingga mobil Salman berhenti didepan sebuah penginapan yang tak jauh dari rumah pohon. Penginapan yang seperti hotel itu memiliki tiga lantai, dengan ciri khas bangunan rumah adat Jawa barat.
"Kamu masuk dulu ya, nanti ada seseorang yang akan mengantar, aku mau menemui seseorang sebentar, nanti aku nyusul," celetuk Salman, membuat gadis itu mengernyit tak mengerti, kenapa mereka masuk ke penginapan? Tidak mungkin kan mereka akan menginap?
Salman tersenyum melihat kebingungan di wajah Gita, "Jangan berfikir macam-macam, aku bukan pria brengsekk yang menjebak seseorang demi diriku sendiri, percayalah," ucapnya seakan mengerti dengan kekhawatiran Gita.
Gadis itu tersenyum canggung, kemudian mengangguk dia percaya Salman buka tipe lelaki seperti itu. Tak mungkin berniat tidak baik pada dirinya.
Setelah kepergian Salman, seorang wanita berpakaian khas karyawan mendatanginya, menuntunya masuk ke dalam penginapan tersebut. Bahkan wanita itu mengajak Gita mengobrol, memperkenalkan penginapan tersebut, hingga mereka bertemu seseorang dan menyapa Gita.
"Mbak Gita ya? Ini, buat Mbak," seorang itu menyerahkan setangkai bunga mawar merah yang masih segar.
Gita menerimanya dengan perasaan bingun, saat kaan menanyakan apa maksudnya, orang tersebut sudah berlalu tanpa permisi. Dan setiap orang yang mereka temui selalu memberikan bunga mawar merah dan juga putih untuk Gita, hingga kedua tangan gadis itu dipenuhi oleh bunga mawar dengan dua warna tersebut.
Gita masih tak mengerti dengan situasi ini, apalagi orang yang menuntunya itu justru membawanya ke lantai tiga dan mereka berdua turun lagi ke lantai dasar. Entah apa maksudnya, dia diajak berkeliling penginapan itu.
Gita mengangguk pasrah, mau keluar dia juga bingung, dimana jalan keluarnya, sebab mereka tadi berkeliling dan fokus Gita bukan lagi pada jalanan, melainkan orang-orang yang memberinya bunga.
Gita makin terkejut setelah membuka pintu kaca itu, di depan matanya ada sebuah kolam renang cukup luas, tapi yang menjadi fokusnya bukan itu, malinkan taburan bunga diatas air kolam tersebut, apalagi saat membaca tulisan yang dibuat dari bunga-bunga itu membuatnya makin terkejut. Dia bisa menebak sekarang siapa yang menyiapkan semua ini untuknya.
SAGITA I LOVE U itulah tulisan yang ada di kolam renang tersebut.
Salman datang dari arah samping kanannya, dengan membawa buket bunga mawar putih dan merah, dengan senyum tak lepas dari bibirnya.
Wajah Gita bersemu mendapatkan kejutan luar biasa tersebut, pasalnya dia tak pernah mendapatkan kejutan seperti ini sebelumnya. Wajahnya makin bersemu kala Salman berlutut dihadapannya.
"Sagita, aku ingin kamu menjadi bagian dari kisah bahagiaku dimasa depan. Mungkin ini terlalu cepat, tapi sungguh aku tak bisa lagi memendam perasaan ini. Mau kah kamu menjadi kekasihku, ah bukan hanya itu, jika kamu siap saat ini pun aku akan melamarmu menjadi istriku, tapi aku tak ingin memaksakan kehendakmu, masih banyak waktu untuk itu," Salman menatap manik mata teduh yang selalu meluluhkan itu dengan intens, dia bisa melihat wajah Gita yang bersemu, menambah kecantikan gadis itu.
"Kak, kamu tahu seperti apa perasaanku, meskipun jujur aku merasa bahagia saat bersamamu, tapi hati ini belum bisa sepenuhnya milikmu," timpal Gita sedikit tak enak hati sebenarnya, tapi lihatlah pemuda itu justru tersenyum.
__ADS_1
"Tidak masalah, selama kamu selalu berada di sisiku, aku yakin cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Sekarang, aku cuma mau kepastian dari kamu, jika kamu menolakku dorong aku ke kolam ini, tapi jika menerimaku kita sama-sama loncot ke kolam ini." Salman sudah berdiri lalu memberikan buket bunga itu pada Gita. Kemudian dia membelakangi Gita, siap menerima jawaban apa yang akan Gita berikan.
"Terima! Terima! Terima!" tiba-tiba suara riuh memenuhi pinggiran kolam renang itu, banyak pasang mata yang menyaksikan aksi mereka.
Gita makin gugup di buatnya.
Byurrr
Gita mendorong tubuh Salman hingga masuk ke dalam kolam renang itu, bunga-bunga yang tadi di tata indah kini berhamburan tak terbentuk.
"Yah!" seru mereka semua, mewakili rasa kecewa Salman.
Pemuda itu mengusap wajahnya yang terkena air, masih membelakangi Gita, dia tak mampu menatap wajah Gita saat ini, terlalu malu.
Byurrr
Hingga terdengar seseorang memasuki kolam renang tersebut, disusul sorak sorai semua orang yang menonton mereka berdua. Salman membalikkan badan, terkejut saat mendapati Gita berenang ke arahnya, sambil sesekali tersenyum.
"Maksudnya?" tiba-tiba Salman dibuat bingung dengan tingkah Gita, bukankah tadi gadis itu menolaknya? Tapi kenapa sekarang ikut masuk ke dalam kolam renang?
"Kak, kamu sudah lebih dulu mengisi hatimu dengan nama ku, dan sekarang aku akan menyusul mu, hingga hatiku dipenuhi oleh namamu. Itu alasanku menyusul mu ke sini," ujar Gita dengan senyum manis.
"Jadi?" tanya Salman.
Gita mengangguk masih dengan senyum manisnya.
Salman pun segera memeluk erat gadis itu, tak peduli dimana saat ini mereka berada. Untung kolam renang itu tidak terlalu dalam, hingga keduanya bisa menapakkan kaki mereka. Mengecup kening Gita berulang kali, membuat gadis itu kembali merona.
"Udah Kak, malu. Kita jadi tontonan mereka semua." Gita menunjuk sekeliling dengan ekor matanya yang masih dipenuhi beberapa orang.
Salman mengangguk, kemudian membawa Gita untuk naik ke atas, menerima pemberian handuk kimono yang sengaja disediakan oleh petugas.
"Maaf ya Kak, aku tadi lepas sepatu dulu, makanya lama. Aku enggak mau sepatuku rusak," Gita menyengir saat melihat Salman menggelengkan kepala mendengar alasan gadis itu.
__ADS_1
"Yuk ganti baju, setelah ini kita makan. Itu baju kamu." Salman menunjuk paper bag yang berada di meja dekat kolam renang itu.
🥀🥀🥀🥀🥀