
Seorang pemuda mengepalkan tangannya kuat-kuat melihat pemandangan dibawah sana. Tak pernah berfikir jika perempuan yang akan menjadi pemeran utama dalam surprise tersebut adalah gadis yang dia cintai.
"Lo kenapa enggak bilang kalau dia ceweknya?" tanya pemuda itu dengan suara lantang.
"Lo tenang dulu dong, gue juga baru tahu." Temannya itu menepuk pundak pemuda tersebut, mencoba menenangkan sahabatnya.
"Tau gini mending gue tidur di rumah!" baru saja dia akan meninggalkan tempat itu, tapi temannya mencegah dengan menarik tangannya kuat.
"Tetap di sini, kalo Lo mau selamat. Mereka baru jadian, belum menikah. Ingat kata orang, selama janur kuning belum melengkung, kesempatan itu masih terbuka lebar. Tapi jangan pernah libatkan gue dalam usaha Lo itu, karena gue pasti akan nolak," sergah temannya itu.
Terpaksa pemuda tersebut tetap bertahan di tempat itu, meski dengan hati yang berkecamuk. Tak rela gadis yang dia cintai menjadi milik orang lain. Baiklah, saat ini gadis itu jadi milik orang lain, tapi dia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan gadis itu.
🥀🥀🥀🥀
Gita baru saja keluar dari kamar mandi, terkejut saat mendapati kedua sahabatnya ada di sana.
"Kalian?" tanyanya dengan wajah bingung.
"Kaget ya? Pasti kaget masa enggak," Alya menjawab dengan pedenya.
"Kok bisa? Jangan bilang kalau kalian tahu semua rencana ini?" tebak Gita langsung menuduh kedua sahabatnya.
Mereka berdua tersenyum, lalu memeluk Gita secara bersamaan.
"Gue tadinya pesimis, kalo Lo bakalan nolak Bang Salman, tapi ternyata gue salah," celetuk Salma, ikut bahagia apalagi saat melihat wajah Abangnya yang begitu bahagia tadi.
"Gue juga ikut deg-degan tau, percuma kan kita nyiapin ini semua dari kemarin kalo Lo nolak Bang Salman, dia juga pasti kecewa banget," sambung Alya.
Gita tersenyum, ternyata kedua sahabatnya juga berharap jika dia bisa bersama dokter muda itu. "Enggak mungkin selamanya gue mengharapkan orang yang enggak bisa gue gapai, kan? Percuma kalau semuanya akan sia-sia pada akhirnya. Gue harus belajar membuka hati untuk orang lain," ujar Gita masih dalam pelukan dua sahabatnya.
Gita melepaskan pelukan itu, menatap kedua sahabatnya saat teringat sesuatu, "Jadi kalian berdua kemarin bohong dong," tuduh Gita pada mereka berdua.
"Enggak sepenuhnya bohong sih, kemarin gue emang ke mall sama Kak Fajar, sama dia juga, Bang Salman juga, tuh nyari baju." Salma menunjuk dress yang dipakai oleh Gita.
"Syukurlah, gue tadinya mikir kalo Abang Lo yang nyiapin dalaman gue, mau taroh dimana muka gue, kalo bener iya?" Gita menutup wajahnya, membayangkan Salman yang membeli dalaman untuknya.
__ADS_1
Kedua sahabatnya justru tertawa melihat Gita seperti itu. "Kita berdua juga kepikiran itu, makanya kita ikut bantu," ucap Alya.
Saat menyadari mereka masih berada di dalam toilet, ketiga gadis itu pun keluar menuju resto yang ada di penginapan tersebut. Tenyata Salman sudah ada di sana, bersama beberapa orang yang tidak Gita ketahui.
"Kok rame banget sih Ma? Mereka siapa?" tanya Gita bingung.
"Oh, mereka kan tadi yang ada di pinggir kolam renang, sebagian anak bimbing Abang, sebagian temannya. Kayaknya Bang Salman sengaja ngajakin mereka, deh," jawab Salma, meskipun belum tahu pasti tapi dia mengenal beberapa orang teman Salman dan juga anak bimbing di rumah sakit karena mereka beberapa kali datang ke rumah.
"Gue kok jadi malu ya," Gita menghentikan langkahnya, tapi sejurus kemudian Salma langsung menarik gadis itu.
"Biasanya aja Lo malu-maluin Git," cetus Alya.
"Itu kan Lo, Al!" Gita tak terima dengan ucapan Alya.
"Iya, maksudnya itu buat diri gue sendiri,"
"Nah itu Lo tahu,"
"Udah sih, kalian ini!" Salma jengah mendengar perdebatan mereka berdua, sebab kini mereka menjadi pusat perhatian.
Salma menarik Gita menuju sebuah meja, dimana ada Salman di sana, bukan hanya Salman tapi Fajar juga ada di sana, dan seorang pemuda yang sedang sibuk memainkan gawai miliknya.
Salman tersenyum manis saat Gita sudah duduk di sisinya. "Enggak apa-apa mereka semua temenku," ujarnya mungkin dia tahu jika Gita sedikit merasa risi saat menjadi pusat perhatian.
Gita hanya mengangguk kecil dan membalas senyuman itu.
"Kalian semua boleh makan apa pun sesuka kalian, gratis. Mau nambah sepuluh kali juga silakan," ucap Salman dengan lantang.
Terdengar suara riuh dari semua orang yang ada di dalam kafe tersebut, mereka pun mulai memesan makanan apa pun yang mereka inginkan.
Salman menyodorkan buku menu kehadapan Gita, "Mau pesen apa?" tanyanya.
"Samain aja deh, aku bingung," jawabnya.
Interaksi tersebut tak luput dari sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan kesal. Ingin rasanya dia berada di posisi Salman, tapi untuk saat ini rasanya tak mungkin.
__ADS_1
Gita baru menyadari jika seorang pemuda yang duduk bersebelahan dengan Fajar itu adalah Taka, sebab sejak tadi pemuda itu selalu menundukkan wajahnya. Tapi dia tak peduli, dan berpura-pura tak mengenalnya. Yang dilakukan justru sengaja memanas-manasi Taka, dengan selalu tersenyum dan mengobrol dengan Salman, mengabaikan mereka yang ikut duduk di sana.
"Inget Bang, masih ada kita. Kenapa kita cuma dijadikan obat nyamuk yang enggak mempan sama sekali," protes Salma yang memang duduk di sisi kanan Abangnya, jengah dengan sikap dua insan tersebut. Mereka berdua tertawa tanpa mengajak yang lain, bahkan bicara pun dengan berbisik.
"Oh, maaf ya. Saking serunya, sih!" ujar Salman menyadari jika mereka tidak hanya berdua.
Taka mendengus kesal dalam hati, dia juga jengah dengan sikap mereka yang sengaja memamerkan kemesraan dihadapan yang lain. Ingin rasanya dia kabur dari tempat yang membuatnya makin panas tersebut, tapi tidak mungkin dia lakukan sebab menghormati si pemilik acara.
Selesai makan dan membereskan semua pembayaran, Salman mengajak Gita ke rumah pohon, sebab gadis itu yang memintanya. Ternyata sang adik juga mengikuti mereka dengan membawa serta sang kekasih.
Taka sebenarnya ingin sekali pulang lebih dulu, tapi sialnya dia tidak membawa kendaraan sendiri, sebab tadi memilih nebeng dengan Fajar karena tak mau lelah menyetir. Tapi kini dia menyesal sebab harus mengikuti mereka pacaran. Sebenarnya jika Fajar dan kekasihnya saja dia tak masalah, sebab itu sebuah kebiasaan, tapi kini ada Gita, dan kekasihnya, yang sialnya adalah dokter pembimbing di rumah sakit. Membuatnya makin kepanasan tapi tak bisa berbuat apa pun.
"Kalian berdua kenapa enggak jadian aja? Sama-sama masih jomblo, kan?" ujar Salman pada Taka dan Alya.
"Enggak Bang! Kita enggak saling kenal," ujar Alya.
"Enggak! Dia bukan tipe saya," ucap Taka.
"Oh gitu,"
Tak ingin terus berada di dekat Taka, Gita pun mengajak Salman untuk ke danau, meski masih sedikit panas tak apa, yang penting bisa menghindari Taka yang terus menatap mereka berdua. Bukan tidak menyadarinya, Gita justru sangat sadar, jika pemuda itu terus menatapnya.
"Bilang aja kalau mau berduaan," goda Salman saat mereka sudah duduk di tepi danau.
"Ih, apaan sih Kak. Aku cuma pengen liat pemandangan danau, ya meskipun sudah hafal tata letaknya, tapi tetap bisa memanjakan mata," Gita menatap sekeliling, ternyata di tempat itu hanya ada mereka berdua.
"Iya juga enggak apa-apa, aku suka itu." Salman menarik tubuh Gita pelan supaya bersandar di bahunya.
Meskipun canggung, Gita tetap menurut.
"Makasih ya, udah ngasih aku kesempatan. Tadinya aku kira kamu akan menolak, tapi ternyata pikiranku salah." Salman mengusap kepala gadis itu.
Gita mengangguk, "Tolong ajari aku untuk mencintaimu, Kak. Jujur aku nyaman saat berada di dekatmu, tapi untuk perasaan cinta, sepertinya masih sangat minim. Maafkan aku ya." Gita menatap pemuda itu, berharap Salman tidak kecewa dengan kejujurannya.
Salman tersenyum, "Aku tahu itu, aku akan buat kamu jatuh cinta dengan caraku. Tapi ku mohon tetaplah bersamaku," ucapnya.
__ADS_1
Gita mengangguk, dia bahagia meskipun cintanya masih milik lelaki lain. Dia yakin suatu saat perasaan itu akan tumbuh, apalagi jika mereka sering bersama seperti ini.
🥀🥀🥀🥀