
Semalam suntuk Indra sama sekali tak memejamkan mata. Setelah puas menghabiskan beberapa bungkus gulungan yang berisi tembakau itu, dia memilih bermain gitar di balkon apartemen Deril. Mengabaikan dia sahabatnya yang sedang menikmati minuman berbau menyengat itu. Sama sekali dirinya tak berminat setelah mendengar ucapan Deril semalam. Menurutnya lebih baik mengekspresikan kesedihannya dengan bernyanyi.
Di tengah kesibukannya menyanyikan sebuah lagu melow, dari kejauhan terdengar bunyi adzan subuh, membuatnya meletakkan gitar itu sejenak dan berdiri menatap sekeliling bangunan apartemen tersebut. Entah kenapa pikirannya melayang menuju beberapa minggu lalu saat dia berada di kantor.
"Ada apa Ndra? Saya lihat beberapa hari ini kamu tidak ceria seperti biasanya, kaya orang lagi patah hati saja. Tapi setahu saya kamu jomblo, kan? Masa iya patah hati?" Pak Danu managernya yang sangat baik itu, bahkan Pak Danu sangat perhatian dengan anak buahnya.
"Bapak bisa aja, cuma kurang sehat aja Pak," jawabnya tak jujur, karena dia sendiri tak mengerti dengan perasaannya itu, kenapa dia begitu marah saat melihat Gita bersama dokter berkacamata itu? Dia selalu mengatakan marahnya hanya sebatas kekhawatiran dengan Gita sebagai adiknya.
"Cerita saja sama saya Ndra, siapa tahu saya bisa bantu. Kalaupun tidak, setidaknya kamu sudah merasa lega karena beban pikiranmu berkurang," Pak Danu memaksa.
Indra menghela nafas panjang, "Saya tidak mau mengganggu waktu kerja Bapak, nanti dikira Bapak makan gaji buta lagi," Indra memasakkan tersenyum yang justru membuat Pak Danu berdecak.
"Kamu keras kepala memang ya, saya cuma tidak mau pekerjaan kamu bernatakin gara-gara masalahmu itu. Lagian ini juga sudah jam istirahat," lagi, Pak Danu memaksa Indra untuk bercerita.
Indra pun menceritakan apa yang dia rasakan pada Gita, dia kesal ketikan Gita bersama lelaki lain, tapi dia merasa hanya menganggap Gita sebagai adik tak lebih. Pak Danu justru tertawa mendengar semua ceritanya, membuatnya mengerutkan dahi, bingung. Sebab tak ada sedikitpun yang lucu dari apa yang dia kisahkan.
"Kamu itu sebenarnya cerdas Ndra, tapi kenapa kamu bisa sebodoh itu masalah cinta? Jangan-jangan kamu baru pertama kali jatuh cinta sama wanita?" Pak Danu menggelengkan kepala tak percaya.
Indra mencerna ucapan Pak Danu, dia sama sekali belum pernah jatuh cinta. Bahkan menurutnya dengan Gita bukan cinta namanya, tapi sayang, ya, sayang sebagai kakak tidak lebih.
"Saya tidak mengerti maksud Bapak?" tanyanya.
Tawa Pak Danu makin menggelegar, bahkan beberapa karyawan yang melewati ruangan berdinding kaca itu sempat menghentikan langkah saat mendengar tawa Pak Danu.
"Beneran bodoh kamu ternyata! Kamu tahu enggak, kalau yang kamu rasakan itu namanya cinta Ndra, dan kamu cemburu kalau gadis itu sama laki-laki lain, masak kamu enggak sadar sih Ndra?" cibir Pak Danu.
__ADS_1
Indra memikirkan semua yang dikatakan Pak Danu hingga beberapa hari. Dan ternyata semua yang dikatakan Pak Danu benar adanya, jika dia mencintai gadis yang dianggap sebagai adik itu., tapi sepertinya terlambat sebab Gita terlihat bahagia dengan dokter berkacamata itu. Tak mungkin dirinya mengganggu kebahagiaan Gita, ya meskipun hatinya hancur, dan lebih hancur lagi saat mendengar mereka akan tunangan, bahkan dia tak tahu kapan Gita jadian.
Indra menghela nafas panjang, kemudian meninggalkan balkon berniat untuk menunaikan kewajibannya. Dia hanya menggelengkan kepala melihat dia sahabatnya tidur di sofa dengan keadaan amburadul, bahkan sampah makanan berserakan dimana-mana, seingatnya semalam Deril tak memiliki makanan apa pun, tapi kenapa sekarang banyak sekali sampah makan? Indra memilih tak peduli, dan berlalu masuk ke dalam salah satu kamar di apartemen tersebut.
🥀🥀🥀🥀
"Lo lihat sahabat Lo yang lemah ini Fidz, hanya karena patah hati dia sampai rela bolos kerja," samar-samar Indra mendengar ucapan Devin, dia pun membuka mata dan ternyata benar, Devin ada di dalam kamar itu salah satu tangannya memegang ponsel dan mengarahkan kamera ke wajahnya.
"Brisik Lo! Ganggu gue tidur aja!" serunya.
"Woy! Lo mau tidur berapa lama lagi hah! Lo udah tidur dari subuh, sekarang Lo tahu ini jam berapa?" Devin tak membiarkan sahabatnya itu menutup kelopak matanya lagi.
"Gue masih ngantuk!" Indra tetap tak mau bangun, tak peduli ini sudah jam berapa.
"Lo tahu, ini udah hampir Maghrib! Lo udah tidur seharian Ndra!" seru Devin.
Mendengar nama Hafidz di sebut, Indra langsung merebut ponsel itu, "Jangan dengerin omongan Devin! Ngaco, dia." Indra tentu tak ingin Hafidz mengetahui jika dia patah hati karena Gita mau tunangan dengan orang lain, tak ingin Hafidz mengatakan itu pada Gita tentunya. Ya, meskipun belum tentu juga Hafidz mengatakannya bukan?
"Serius juga enggak apa-apa Ndra, enggak menutup kemungkinan kan kalau Lo bisa cinta sama adik gue, secara kalian tinggal serumah," ujar Hafidz dari seberang sana, membuat Indra berdecak sebal.
"Teori Lo terlalu ngaco! Udahlah gue mau mandi, terus mau balik." Indra melempar ponsel itu ke arah Devin, untung saja Devin bisa menangkapnya, jika tidak sudah pasti ponsel itu mendarat cantik di wajah tampannya.
"Dia sengaja ngehindar Fidz," Indra masih mendengar Devin berbicara, tapi di tak peduli, biarkan Hafidz berpikir seperti apa, terlalu malu mengakui perasaanya.
Seperti yang dikatakan tadi, Indra langsung pulang bahkan tidak menunggu si pemilik apartemen pulang, dia tak mau sampai rumah tengah malam, rasanya ngeri membayangkan perjalanan malam seorang diri, padahal tadi malam dia melakukannya.
__ADS_1
Sampai di rumah tepat saat makan malam, dia mendengus saat mendapati mobil milik dokter berkacamata itu ada dihalaman rumahnya. Jika dia mengetahui sejak awal, pasti akan mampir ke suatu tempat dulu supaya tidak bertemu dokter itu. Sebab dia merasa jika dokter itu selalu menatapnya dengan tatapan merendahkan, seakan mengatakan 'akulah pemenangnya' dan itu salah satu alasan kenapa Indra malas bertemu dengan dokter tersebut.
"Pi, Ma, maaf aku udah makan tadi, jadi mau langsung ke atas aja," ucap Indra saat dia mampir ke ruang makan sebentar, tak ingin kedua orang tuanya menunggu.
Setelah sang Papi mengiyakan, Indra pun berlalu, dia melirik dokter berkacamata itu sekilas dan benar saja dokter itu juga menatapnya dengan tatapan sama, meremhkan. Indra tak menggubris, pemikirannya saat ini yang terpenting Gita bahagia. Dia rela cintanya tak terbalas asalkan gadis yang dia cintai itu bahagia bersama orang yang dicintainya.
Indra sedang bermain game di ponselnya, saat terdengar sebuah ketukan, dia pun mempersilakan orang itu masuk, sebab pintu kamarnya tidak di kunci.
"Bang?" Indra langsung menoleh ke arah sumber suara, tak menyangka sama sekali jika Gita yang datang ke kamarnya.
"Eh, ada apa Git?" Indra mencoba bersikap senormal mungkin, padahal sebenarnya dia begitu gugup dan takut. Gugup sebab Gita menatapnya lekat, dan takut, jika ternyata gadis itu mengetahui perasaanya. Mungkin saja Hafidz menceritakan kejadian tadi siang di apartemen Deril.
"Kenapa bohong? Katanya udah makan, terus ini apa? Ada kurir ngater makanan buat Abang." Gita menyerahkan dua kresek berwarna putih itu pada Indra.
Indra bernafas lega, dia sempat over thingking, ternyata tebakannya sangat salah. Karena Gita masuk ke kamarnya hanya untuk mengantar makanan yang tadi sempat dia pesan lewat online.
Indra tersenyum salah tingkah, "Tadi capek, dan gerah mau mandi," jawabnya asal.
"Capek atau emang enggak mau makan bareng Kak Salman? Ngaku aja Bang? Kenapa sih kalian kaya musuhan gitu, aku tahu dari tatapan mata kalian tadi," tebak Gita.
"Ah itu cuma perasaan kamu aja. Betewe makasih udah dibawain ke sini makannya, ayo kita makan bareng." Indra beranjak dari duduknya menuju sofa yang ada di ruangan itu.
"Abang aja, aku udah kenyang. Aku balik ke kamar aja deh." Gita berlalu begitu saja, membuat Indra sedikit kecewa, sebab dia berharap Gita mau makan bersamanya ya meskipun dia tahu Gita sudah makan, tapi setidaknya dia berharap Gita menemaninya makan.
Indra menghembuskan nafas kasar, saat menyadari harapannya tak berjalan sesuai keinginan. Tentu saja Gita tak mau berlama-lama dalam kamarnya, takut kedua orang tuanya berfikir macam-macam pastinya.
__ADS_1
Setelah menutup pintu kamar Indra, Gita mencoba menormalkan detak jantungnya yang tiba-tiba menggila, ternyata perasaanya pada pemuda itu masih sama, bahkan disaat dia sudah bisa menerima Salman dalam hidupnya. Dia pun menghela nafas berulang kali untuk menormalkan degub jantungnya, setelah itu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
🥀🥀🥀🥀