
Semalam tidurnya tidak nyenyak sama sekali, ah ralat bukan tidak nyenyak tapi matanya tak bisa terpejam, entah sampai jam berapa. Rasanya baru beberapa menit saja dia tertidur, tapi alarm yang sengaja dipasang mengusik tidur nyenyak ya yang hanya sebentar.
Kalian pasti tahu kenapa dia tidak bisa memejamkan mata? Tentu saja dia sangat, sangat bahagia mendengar pengakuan seseorang yang selama hampir tiga tahun lebih dia cintai. Ternyata cintanya terbalaskan meskipun dia mengetahui sudah cukup terlambat. Tapi tak mengapa, yang terpenting doanya selama ini mulai terkabul sedikit demi sedikit.
Gadis itu langsung menuju kamar mandi, mengambil air wudhu kemudian melakukan kewajibannya. Salah satu yang membuatnya bersyukur dipertemukan kembali dengan saudara kandungnya, yaitu dia menjadi rajin melaksanakan kewajiban yang dulu sering kali ditinggal, demi urusan duniawi. Ternyata perjalanan hidup yang tidak muda itu, ada kebaikan yang tersimpan di dalamnya. Dia membayangkan jika mereka berdua hidup bersama sejak kecil, belum tentu saudara kembarnya itu menjadi pemuda yang taat seperti saat ini. Mungkin malah sebaliknya.
Selesai melakukan kewajibannya, gadis itu memilih untuk keluar kamar, dia ingin menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Kok rasanya seperti seorang istri yang akan menyiapkan sarapan untuk sang suami. Membayangkan hal itu, gadis itu pun tersenyum, berharap khayalannya kali ini akan jadi nyata.
Gadis itu yang tak lain adalah Gita, terpaku saat menyaksikan seseorang sedang melakukan hal yang tak pernah dilihat sebelumnya di dapur. Dia pun segera menyusul pemuda yang sudah membuatnya tersenyum barusan.
"Abang masak?" tentu saja jawabannya iya, gimana sih kok malah tanya seperti itu? Jelas-jelas Indra sedang memotong bawa sambil sesekali mengucek matanya.
"Emang Abang bisa masak?" tanyanya lagi bahkan sebelum Indra menjawab pertanyaan awalnya. Tapi potongan bawang merah dia atas talenan sudah menjawab semua pertanyaannya. Potongan yang tak beraturan, bahkan satu bawang ada yang dipotong jadi dua bagian saja.
Indra menyengir, jujur dia memang bisa masak, tapi khusus masak mie instan sama air, itu saja jarang sekali dia lakukan. "Lihat yukub pasti nanti bisa," jawabnya percaya diri.
"Biar aku aja Bang, lihat di yukub berlaku untuk yang sudah bisa motong bawang," timpal gadis itu sambil tertawa melihat potongan bawang yang berada di atas talenan, seperti potongan anak kecil yang sedang belajar memotong-motong benda.
Indra menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Emang kamu bisa masak?" pertanyaan itu kini dilontarkan untuk gadis yang sedang fokus menyelamatkan bawang mereka dengan potongan lebih cantik.
"Awalnya enggak bisa, Abang tahu sendiri, kan kalau di rumah aku enggak pernah ke dapur, kaya anti gitu," jawab Gita tanpa menatap pemuda yang kini fokus menatapnya.
"Kaya Abang gini, aku sok pede liah tutorial di medsos, eh tapi rasanya enggak enak dimakan. Tapi aku enggak mau nyerah, mengingat Bang Hafidz enggak suka makanan luar, dia lebih milih masakan Indonesia dan tentu saja dia memasak sendiri. Tapi aku tersentuh untuk belajar masak dari dia, supaya kalau pulang kerja enggak repot-repot masak dulu, sedangkan aku malah leyeh-leyeh," Gita terus bercerita tentang pengalamannya di dapur, hingga kini bisa masak sedikit demi sedikit meski yang bisa dia masak hanya masakan sederhana saja.
Indra tentu saja mendengarkan semuanya, menurutnya ini adalah kesempatan langka, sebab dia bisa leluasa menatap gadis itu.
Selesai memasak mereka berdua sarapan bersama, entah rasanya berbeda tak seperti biasanya. Bahagia bercampur haru menyeruak dalam dada sebab bisa kembali menikmati makanan dimeja yang sama.
"Bang aku mau ke kampus dulu, mungkin enggak Sampai tenaga hari sudah pulang. Abang kalau mau keluar juga enggak apa-apa dari pada di sini kesepian," pamit Gita dengan setelan rapi.
"Kalau ikut kamu boleh enggak?" Indra berharap dia bisa ikut gadis itu ke kampus, sebab tak ingin tinggal diam di apartemen sendirian.
__ADS_1
"Em, boleh deh, ayo!" Gita langsung mengajak pemuda itu sebab Indra terlihat rapi dengan pakaian santainya.
Saat menunggu Gita belajar, Indra melihat sekeliling kampus. Meski sebenarnya merasa bosan, tapi dia tak berani meninggalkan area kampus, tentu saja kerena dia tidak hafal tempat ini. Hingga gadis yang dia tunggu menghampirinya setelah dia memberi tahu dimana keberadaannya saat ini.
"Mau pulang atau jalan-jalan dulu Bang?" tanya Gita.
"Emang kelas kamu udah selesai?" Indra justru balik bertanya.
Akhirnya mereka memutuskan untuk jalan-jalan sebentar, setelah makan siang keduanya kembali ke apartemen.
"Katanya disuruh cuti seminggu?" tanya Indra saat melihat Gita tidak istirahat justru mantengin laptopnya.
"Iya emang bener itu Bang, tapi aku enggak bisa lepas tanggung jawab gitu aja. Aku emang diberi cuti tanpa kuminta, tapi imbalan yang diminta temen lucnut itu sungguh menyulitkan ku. Daripada kelimpungan nantinya aku cicil aja, enggak apa-apa, kan Bang?" Gita menatap Indra sekilas, rasanya dia tak tega terus mengabaikan pemuda itu.
Indra menggeleng, lalu mengacak rambut Gita gemas.
"Maaf ya Bang, kamu kesini malah aku cuekin." Gita merasa bersalah sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi.
"Udah enggak apa-apa, selesaikan pekerjaan kamu. Kita masih bisa ngobrol nanti kalau kamu udah selesai," Indra memang tidak keberatan sama sekali, saat ini yang terpenting dia bisa selalu bersama gadis itu untuk beberapa hari ke depan, sebelum mereka LDR an yang entah sampai beberapa bulan ke depan.
Tak lama ponsel Gita berbunyi, dia segera meraih ponsel yang berada di atas meja itu, tersenyum saat minat siapa yang menelpon.
"Mama, kangen," ucap gadis itu saat layar ponselnya dipenuhi wajah Mama.
"Kenapa enggak pulang aja kalau kangen? Mama juga kangen sama kamu," timpal Mama dari seberang sana.
"Mana Indra?" tanya Mama penasaran apakah pemuda itu selamat sampai London.
Gita memberikan ponselnya pada Indra yang sudah duduk di sisinya. Indra mengobrol dengan sang Mama sebentar, setelah itu sepertinya Mama berpamitan.
"Kalian berdua jangan macam-macam ya di sana! Awas aja kalau kalian berdua macam-macam." Ancam Hafidz saat layar ponsel dipenuhi wajah Gita dan Indra.
Bukannya takut Gita justru memamerkan kemesraan pada sang Abang dengan menyandarkan kepalanya di bahu Indra dan meminta Indra untuk menyuapinya cemilan yang sejak tadi mereka makan.
__ADS_1
Pemandangan itu membuat Hafidz berdecak, meskipun dia percaya Indra bukan tipe lelaki brengsekkk, tapi ketika dua insan saling mencintai hidup dalam satu rumah akan sangat berbahaya.
"Lo tenang aja, nikmati liburan di tanah kelahiran. Gue enggak bakalan berbuat lebih dari ini." Indra sengaja mengecup bibir Gita sekilas, membuat pipi gadis itu merona, malu. Apalagi Indra melakukan itu di tonton oleh Hafidz, dan kini pemuda di benua lain itu hanya mampu berdecak.
Si pelaku tertawa puas, sebab berhasil membuat Hafidz marah. Tapi obrolan mereka tetap berlanjut.
"Meta udah bilang sama kamu, kalau bulan depan dia mau nikah?" tanya Indra setelah Hafidz menutup telponnya.
Gita menatap pemuda yang kini tiduran berbantal pahanya itu sambil mengernyitkan dahi. "Serius bang? Meta memang beberapa bulan ini jarang ada kabar, aku juga sibuk dengan berbagai pekerjaan dan juga kuliah, mungkin Meta belum sempat bilang ke aku," ucapnya.
Indra mengangguk, "Iya, setelah sekian lama banyak drama yang mereka lalui, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah," jawabnya.
"Sama temen Abang yang paling enggak banget itu? Kok Meta mau sama dia sih, bukannya dia playboy ya?" gadis itu sedikit banyak tahu tentang Devin.
"Sstt, enggak boleh gitu. Bukan mau atau tidaknya, tapi karena mereka ditakdirkan untuk bersama, Apalagi mereka saling mencintai." Indra meletakkan telunjuknya di bibir Gita, merasa ucapan Gita tak patut.
Gita mengangguk membenarkan ucapan Indra, "Bang kalau seandainya kita tidak ditakdirkan untuk bersama gimana?" tanya Gita, dia hanya murni bertanya, tentu saja harapannya terus bersama pemuda itu.
"Aku akan memaksa supaya kita terus bersama." Indra mengubah posisinya menjadi duduk, dia merangkum wajah Gita dengan kedua tangannya.
"Apa kamu enggak mau sama aku terus?" tanya pemuda itu membuat Gita menggeleng, tentu saja dia juga ingin sekali bersama pemuda ini. Membayangkan mereka menikah saja rasanya sangat bahagia, apalagi jika hal itu menjadi kenyataan.
"Kamu pulang ya, terus kita nikah." Indra menatap sepasang bola mata inda dihadapannya ini, ucapannya sungguh-sungguh bukan bercanda, rasanya tidak rela jika terpisah jarak jauh lagi seperti setahun lalu.
Pipi gadis itu merona mendengar ucapan nikah dari bibir pria berlesung pipi itu. Sungguh dia juga menginginkan hal yang sama, tapi tidak semudah itu, dia harus menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Itulah permintaan sang Papa.
"Pengennya gitu Bang, tapi aku harus menyelesaikan kuliah dulu. Mungkin kurang lebih satu tahun, jadi aku harap Abang sabar menunggu," jawab Gita.
"Itu sudah pasti, Abang siap nungguin kamu," timpal Indra lalu mengecup kening gadis itu dan membawanya kedalam pelukan.
.
.
__ADS_1
.🥀🥀🥀🥀