
"Lo gila ya! Apa sih sebenarnya yang ada dalam otak Lo sampai berbuat kek gitu? Enggak habis pikir gue, gimana nasib pacar Lo? Tega emang Lo ya?" seorang pemuda berkemeja warna biru mengumpat sahabatnya.
"Akkhhhhhh! Bingung gue! Gue khilaf serius? Gue enggak nyangka bisa jadi kek gini. Tolong Lo bantuin gue ya?" pemuda berkemeja maroon meremas rambutnya, frustasi. Bingung dengan semua masalah yang dia hadapi saat ini.
"Gue enggak bisa bantu apa-apa. Lo harus tanggungjawab, itu saat ini yang haru Lo lakuin. Dan sebelum itu, Lo harus jujur sama pacar Lo, dan Lo harus terima konsekuensinya, dengan gagalnya pernikahan kalian," pemuda berkemeja biru itu sebenarnya kasihan dengan sahabatnya ini, sebab sebentar lagi dia akan menikah dengan kekasihnya.
"Gue enggak mau pernikahan ini gagal, ini adalah momen yang sangat kami tunggu selama ini. Dasar cewek licik!" dia mengumpat perempuan yang telah membuatnya hancur.
"Kalo tahu kejadiannya bakalan kek gini, waktu itu mending gue diem di apartemen, enggak ketempat terkutuk itu," penyesalan memang akan selalu datang di akhir.
"Emang kalian melakukan itu dimana?" tanya pemuda berkemeja biru.
"Di apartemen gue, Gue enggak tahu kenapa dia bisa tahu apartemen gue. Waktu itu gue kira dia pacar gue. Aakhhh setan!" dia tak ingin mengingat semua yang mereka lakukan waktu itu, apalagi saat itu dia dalam keadaan mabuk berat, hanya karena bertengkar dengan sang kekasih, yang memintanya untuk segera melamar, tapi dia menolak sebab masih ada hal yang haru diselesaikan.
"Enggak ada gunanya Lo merah-merah enggak jelas, semuanya sudah terjadi. Anggap saja pacar Lo itu bukan jodoh Lo," bukankah seperti itu seharusnya, mau dirubah seperti apa pun saat ini tetap tidak bisa, pemuda itu harus bertanggungjawab dengan menikahi gadis yang telah mengandung anaknya.
"Gue enggak sanggup. Gue enggak bisa bayangin gimana dia nanti saat tahu semuanya? Gue enggak sanggup." Air matanya tiba-tiba luruh saat mengingat kekasih hatinya itu.
"Sanggup enggak sanggup Lo harus jujur sebelum terlambat."
Pemuda berkemeja maroon itu menghela nafas kasar, "Lo harus bantuin gue." Dia menatap sahabatnya, "Gue tahu Lo suka sama cewek gue, 'kan? Gue mohon, jaga dia setelah ini. Buat dia move on dari gue, meskipun gue tahu itu sulit. Setelah ini, gue enggak akan pernah menunjukkan wajah gue dihadapannya," itulah keputusan pemuda itu akhirnya, dia tak mungkin membohongi kekasihnya, dia harus jujur dan bertanggungjawab dengan apa yang dia perbuat.
"Sok tahu Lo!" pemuda berkemeja biru hanya menanggapi seperti itu, meskipun dia membenarkan ucapan sahabatnya ini. Tak menyangka jika sahabatnya mengetahui rahasia itu, rahasia yang hanya dirinya yang tahu, mengagumi bahkan mencintai kekasih sahabatnya sendiri, tapi tentu dia tak pernah berfikir untuk merebutnya sama sekali. Awalnya dia suka dengan gadis itu setelah seseorang yang dia sukai bertunangan dengan orang lain, tentu saja karena mereka sering bertemu dan diam-diam dia selalu memperhatikan gadis itu. Bukan hanya bertemu bahkan dia juga sering menjemput gadis itu di rumahnya, tentu saja atas perintah sahabatnya.
🥀🥀🥀
Waktu satu minggu ternyata secepat ini berlalu, rasanya baru kemarin dia tiba di tempat ini dengan berbagai macam perasaan dan praduga, tapi kini dia harus kembali ke negara tercinta. Ah rasanya belum siap, rindu ini masih belum sembuh sepenuhnya, masih ingin bersama seseorang yang selalu menghantui pikirannya ini.
Dia menghampiri gadis yang selama seminggu ini terus menemaninya kemana pun dia mau. Gadis itu sedang mengemas barang miliknya, padahal dia sudah melarang tapi gadis ini tetap melakukan apa yang dia mau.
"Sudah biar aku saja," ucapnya.
__ADS_1
"Ini udah hampir selesai." Gadis itu tersenyum menatapnya. Senyuman yang selalu dia rindukan.
"Sekarang Abang istirahat ya, besok harus bangun pagi. Jangan sampai ketinggalan pesawat," gadis itu yang tak lain adalah Gita berjalan meninggalkan kamar yang selama satu minggu ini ditempati pujaan hatinya.
Indra mengangguk, tapi dia tidak menuruti perkataan gadis itu. Dia justru mengikuti langkah gadis tersebut hingga sampai depan kamar gadis itu.
"Apa kamu enggak ingin aku berada di sini lebih lama lagi?" tanyanya saat Gita akan membuka pintu kamarnya. Dia sebenarnya hanya ingin menggoda gadis itu saja.
Gita menoleh dengan mengernyitkan dahi, bingung. Sesaat kemudian dia menghela nafas, pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dia ingin sekali selalu bersama pemuda ini, bahkan dia belum siap jika pemuda itu besok sudah kembali ke negeri tercinta.
"Tentu saja, tapi tidak untuk sekarang. Nanti kalau Abang sudah menghalalkan ku, untuk sekarang aku enggak mau egois, Abang harus bekerja tidak mungkin meninggalkan pekerjaan untuk waktu yang lama," jawab Gita serius.
Indra tersenyum mendengar jawaban gadis itu, kemudian meraih bahu Gita supaya menghadap ke arahnya. "Aku pasti akan sangat merindukan mu. Aku akan bekerja keras untuk modal menghalalkan mu, doakan aku ya. Jangan lupa selipkan namaku dalam setiap doa mu," ucapnya.
Gita mengangguk, tentu saja dia sudah melakukan hal tersebut sebelum pemuda di hadapannya ini memintanya.
"Yaudah sekarang kamu juga harus tidur, besok 'kan sudah janji mau nganterin sampai bandara." Indra mengacak rambut gadis itu.
Gita mendengus, "Tumben minta ijin," cibirnya membuat pemuda itu terkekeh dan langsung memeluknya. Setelah puas, pelukan itu pun berkahir dengan kecupan singkat di kening. Dan kembali masuk ke dalam kamar masing-masing.
Pagi yang di tunggu-tunggu itu pun tiba, ah ralat bukan pagi yang ditunggu, melainkan pagi yang tak ingin dilalui secepat ini. Semalam kedua insan itu tidak tidur dengan nyenyak, memikirkan jika esok harus berpisah untuk sementara, rasanya belum siap berpisah masih ingin bersama bahkan ingin selali bersama, tapi untuk saat ini tidak mungkin.
"Bang, aku punya sesuatu. Tapi bukanya nanti kalau sudah sampai rumah ya." Gita menyerahkan sebuah paper bag yang berisi kotak cukup besar berwarna merah muda, dan dibingkai dengan pita warna yang sama.
"Apa ini?" tanya Indra
"Nanti Abang juga tahu isinya apa, tapi buka kalau sudah sampai rumah," Gita mengulang ucapnnya lagi.
"Baiklah, terimaksih." Indra menyimpan paper bag tersebut di depan tempat duduknya. Saat ini mereka sudah berada di dalam taksi menuju bandara. Dengan Gita yang bersandar di bahu pemuda itu. Sedangkan Indra merangkum kedua bahu gadis tersebut.
"Kalau sudah sampai jangan lupa telpon ya, mau malam siang atau pagi, yang penting langsung telpon," titah Gita, membuat Indra tersenyum.
__ADS_1
"Siap sayang ku,"
Tak pernah membayangkan hal sepeti ini akan terjadi dalam hidupnya, mencintai dan dicintai seorang gadis. Apalagi gadis yang sejak pertama sudah menyentuh hatinya, dialah cinta pertamanya pada seorang gadis. Sungguh luar biasa, ternyata gadis ini pun memiliki perasaan yang sama padanya.
Tak berapa lama mereka sampai di bandara, keduanya memih untuk sarapan terlebih dahulu, sebab masih ada satu jam sebelum pesawat take-off.
Indra mengambil sendok milik Gita, membuat gadis itu cemberut. "Kok diambil sih Bang?" protesnya.
"Biar aku suapin, kapan coba bisa seperti ini lagi. Mungkin tahun depan, itu kalau kamu memang rindu sama aku," ujar Indra sengaja menyindir Gita, sebab gadis itu belum pernah pulang sejak keberangkatannya waktu itu.
Gita tersenyum canggung, mungkin dia akan mengagendakan untuk pulang dalam beberapa bulan ke depan. Kali ini dia memiliki alasan kuat untuk pulang, tentu saja pemuda yang kini menyuapinya dengan telaten.
Mereka berdua melewati waktu terkahir ini dengan saling menguatkan hati. Mengungkapkan rasa cinta yang meluap, dan sebentar lagi akan ada rindu yang menggebu.
"Kamu jaga diri baik-baik ya, minta teman kamu itu tidur di apartemen lagi, jangan sendirian." Indra belum melepas pelukannya sejak beberapa menit yang lalu, bukan hanya Indra tapi Gita pun enggan melepaskan pelukan itu.
"Abang juga. Aku pasti sangat merindukan mu, tunggu aku pulang ya." Gita mendongak menatap wajah pemuda dihadapannya ini.
"Itu sudah pasti. Aku juga akan sangat merindukanmu pastinya." Indra pun membalas tatapan itu, ingin sekali dia kembali merasakan bibir berwarna merah muda tersebut, tapi dia tak mau membuat gadis itu tak nyaman tentunya.
"Aku harus segera masuk, kamu juga harus langsung kembali," titah Indra.
"I love you my girl. Baik-baik di sini ya, aku pergi dulu." Indra akhirnya mendaratkan kecupan di kening Gita sebelum dia melangkah lebih maju lagi.
"I love you more." Tanpa di duga Gita mendaratkan kecupan di bibir pemuda itu, membuat Indra tercengang tentu saja. Dia menyesal kenapa enggak sejak tadi saja dia melakukan hal tersebut. Ah sial!
Indra tak bisa berbuat apa pun, sebab namanya sudah dipanggil untuk segera masuk ke dalam pesawat. Dia hanya bisa melambaikan tangan dan sesekali menoleh ke arah belakang dimana Gita masih berdiri di tempat itu dengan senyum yang tak memudar. Tapi Indra tentu tak tahu, jika gadis itu merasa sesak di dadanya. Bahkan buliran bening terjatuh setelah Indra menghilang di balik tembok.
.
.🥀🥀🥀🥀🥀
__ADS_1