
Beberapa hari setelah pertemuan mereka dengan Alya dan suaminya, Indra memutuskan membawa Gita ke London, sebab setelah pertemuan itu sang istri selalu murung, tapi untung saja psikiater yang menangani Gita selalu bisa membuat wanita itu lebih baik. Tiga hari berturut-turut Mbak Fen menjemput Gita di rumah, setelah itu membawa Gita berjalan-jalan di tempat yang sejuk serta menenangkan.
"Nanti kita bisa berdiskusi lewat media sosial saat kamu di sana, atau kalau kamu mau boleh cari psikiater ahli di sana," ujar Mbak Fen sehari sebelum Indra membawa Gita pergi, tentu saja sepasang suami istri itu menyetujuinya.
Kini mereka sudah berada di dalam burung besi yang akan membawa mereka ke suatu tempat yang mungkin bisa membaut kehidupan mereka lebih baik, atau sebaliknya entahlah. Mereka hanya berharap kehidupan di negara orang ini akan lebih baik, dan jika mereka kembali nanti akan menjadi pribadi yang kuat tak seperti saat ini.
Indra memandang wajah sang istri yang kini tertidur lelap di sisinya. Mengusap sisa air mata di pipi wanita tercintanya itu. Sebelum tidur Gita memang menangis, sedih karena harus berpisah jauh dengan sang Mama dan keluarga lainnya. Meski begitu dia tetap harus pergi, sebab jika terus bertahan di tempat ini jiwanya tak akan baik-baik saja.
"Sebenarnya apa alasan utama yang membuatmu seperti ini? Aku rasa bukan hanya masalah kita belum memiliki momongan, tapi apa? Kenapa kamu tidak mau mengatakan sejujurnya pada ku sayang?" Indra mengusap puncak kepala istrinya lembut.
Lelaki itu merasa jika sang istri merahasiakan sesuatu darinya, tapi apa? Indra sama sekali tidak bisa menebak apa yang dirahasiakan wanita itu, tapi dia sangat yakin rahasia itu ada dan rahasia itulah yang membuat Gita selalu terpuruk dengan keadaanya.
"Abang harap kepergian kita ini membawa pengaruh baik untuk kita terutama buat kamu," gumamnya lagi.
Cukup lama memandang wajah istri tercintanya dia pun ikut terlelap, sebab malam makin larut bahkan suasana dalam pesawat itu pun sudah makin sunyi, mungkin sebagian sudah tertidur.
Belasan jam telah mereka lewati di atas udara, kini keduanya sudah berada di sebuah mobil yang akan mengantar mereka ke sebuah apartemen milik Papa yang dulu pernah ditinggali oleh Gita dan Hafidz saat mereka masih kuliah. Ya, mereka akan tinggal di sana untuk sementara waktu.
Awalnya sang Papa ingin membeli satu apartemen lagi di tempat berbeda dan masih dalam satu kota, tapi sepasang suami istri itu menolak, mereka memilih tinggal di apartemen lama.
🥀🥀🥀
...Empat tahun kemudian...
Dua orang wanita sedang duduk santai di sofa ruang keluarga, tertawa bersama saat tiga bocah kecil di hadapan mereka saling berebut mainan, tepatnya dua balita perempuan yang sedang berebut mainan dan satu bocah laki-laki selalu menengahi mereka.
"Mom Nathan capek, mereka berebut terus." Keluh bocah laki-laki itu, menghampiri dua wanita yang duduk di sofa, dan salah satunya adalah sang ibu.
__ADS_1
"Sudah biasa kan, kedua adik kamu seperti itu, jadi maklum lah, dia masih kecil. Nathan harus jadi Kakak yang baik buat Aline dan Alice." Mama bocah itu memeluk sang putra dengan sayang.
"Sini Nathan istirahat dulu, Bunda ambilkan puding coklat kesukaan kamu ya." Wanita paruh baya yang di sapa Bunda itu pun berlalu, tak lama datang kembali dengan satu piring puding cokelat.
"Ayo di makan dulu, nanti lanjut main. Aline, Alice sini nak, Kak Nathan punya puding nih, kalian mau enggak?" wanita itu memanggil kedua putrinya yang masih asik berebut mainan.
"Mau Bun," jawab dua balita itu serempak.
"Gita, terimakasih kami selalu jagaian Nathan selama aku kerja, sungguh aku berhutang budi pada mu," ujar Mama Nathan.
"Lucy, tidak perlu berterimakasih, kita saudara dan Nathan pun sudah aku anggap seperti anak sendiri. Aline sama Alice juga bahagia kalau ada Nathan, putra kamu itu benar-benar mirip ibunya, siap membantu orang yang kesusahan." Gita mengusap pundak sahabatnya dengan lembut, bersyukur memiliki sahabat yang begitu baik dengannya.
Ya, dua wanita itu adalah Gita dan Lucy, mereka dua wanita hebat dalam versi masing-masing. Jika Gita seorang ibu luar biasa untuk kedua putri kembarnya dan juga Nathan, maka Lucy seorang wanita pembisnis handal di kota itu, jarang bertemu dengan putra semata wayangnya, karena kesibukan, untung saja dia memiliki sahabat yang sudah seperti saudara sendiri.
Dua wanita itu memperhatikan Nathan, Aline dan Alice yang asik berebut puding, sesekali Nathan menyuapi Alice dan Aline secara bergantian hingga dirinya tak bisa menikmati puding tersebut dengan benar.
"Alice, Aline udah kalian makan sendiri dong, kasian Kak Nathan dia enggak bisa makan dengan benar kalau gitu," Gita memperingati dua putri kecilnya itu.
Akhirnya dua balita itu pun menurut, mereka makan sendiri dan membiarkan Nathan menikmati puding kesukaanya.
"Kau belum berniat memberikan Nathan adik Luc?" tanya Gita sambil menatap tiga bocah di hadapannya yang sedang asik makan.
"Kau becanda? Apa kau mau menambah beban dengan satu bayi lagi?" Lucy balik bertanya.
Gita tekekeh mendengar pertanyaan Lucy, "Boleh juga, tapi bayaran aku yang menentukan," ucapnya.
Lucy berdecak, dia tahu Gita sedang bercanda, "Tapi belum lah, Jhon juga belum membahas hal itu. Dia sangat menyayangi Nathan meski Nathan bukan darah dagingnya," tiba-tiba wajah Lucy terlihat sendu membuat Gita merasa bersalah karena telah salah memilih pembahasan.
__ADS_1
"Itu masa lalu Luc, Jhon juga sudah menerima dirimu apa adanya, lelaki brengsek itu juga sudah mendapatkan ganjarannya Luc, menyesal boleh asalkan jangan terlarut dalam penyesalan," tutur Gita lembut, dia tahu seperti apa perasaan sahabatnya itu.
Seperti yang dikatakan oleh Gita, Frans matan kekasih Lucy sekaligus ayah biologis Nathan sudah mendapatkan ganjarannya, dia mengalami penyakit aneh sejak setahun terakhir dan hanya bisa berada di tempat tidur tak bisa berpetualang mencari gadis muda lagi.
"Kau benar, menyesal pun percuma semua sudah terjadi, saat ini yang terpenting kebahagiaan dua pria yang menjadi semangat hidupku." Lucy tersenyum menatap putranya Nathan, dan membayangkan wajah Jhon sang suami yang saat ini sedang berada di luar kota bersama Indra, suami Gita.
"Grandma dan Grandpa duo A belum ke sini lagi? Atau kalian akan mengunjungi mereka dalam waktu dekat?" Lucy mengalihkan pembicaraan, dia tak ingin mengingat masa lalunya yang kelam, sebab kini dia sudah bahagia.
"Papaku sedang sakit Luc, beberapa kali Papa bujuk Bang Indra untuk kembali dan mengurus perusahaan, tapi aku menolak, jujur aku lebih nyaman tinggal di sini bersamamu Luc, kau sahabat terbaik yang tak pernah bermuka dua seperti mereka." Gita mengingat bagaimana sakitnya dia saat masih di negaranya, sahabat yang dia sayang sering kali meremehkan dirinya karena belum juga hamil setelah cukup lama menikah.
Lucy mengusap punggung wanita itu, "Abangmu sudah tahu hal ini?" tanyanya.
"Entahlah Luc, kamu tahu sendiri, kan? Dia menghilang tanpa jejak, sampai sekarang aku pun tak tahu dia dimana, tapi aku harap dia dan keluarga kecilnya bahagia. Aku yakin Abang pun pasti mikir dua kali jika harus kembali ke Indonesia, setelah apa yang dilakukan Papa." Gita menatap kosong ruang keluarga itu, sungguh rindu dia rindu dengan saudaranya itu.
"Kalian pulanglah sebentar, setelah Indra kembali nanti. Serahkan semua urusan disini padaku dan Jhon, aku tidak keberatan sama sekali," tutur Lucy.
Gita tersenyum, "Terimakasih Lucy, kau memang yang terbaik. Nanti aku bicarakan lagi sama Bang Indra," ucapnya.
"Bunda, aku ikut kalau mau ke Indonesia, aku pengen lihat seperti apa Indonesia itu," celetuk Nathan, sepertinya mendengar pembicaraan dua wanita itu.
"Wah, boleh banget, tapi Nathan harus ijin Mom dan Dad yah, kalau mereka ngijinin boleh banget ikut," jawab Gita.
Nathan menatap Mommy nya, "Boleh ya Mom?" tanyanya.
"Tanya Daddy dulu, kalau Daddy ngijinin Mommy tidak keberatan sama sekali," jawab Lucy membuat Nathan girang bukan main.
"Aku membayangkan jika mereka sudah besar, pasti Nathan akan jadi rebutan Alice dan Aline, apalagi anak itu tampan," celetuk Gita, terkekeh membayangkan tiga anak itu dewasa.
__ADS_1
Lucy tertawa mendengar ucapan Gita, "Kau ada-ada saja sih? Masih lama mereka untuk jadi dewasa, dan saat itu tentu kita sudah sangat tua." Bergidik membayangkan bagaimana jika dia sudah tua nanti.
🥀🥀🥀🥀