
"Aku ikut Abang aja ya, males pindah," rengek Gita pada saudara kembarnya.
"Ck, boleh ikut tapi setelah lulus S1," sanggah Hafidz.
Keduanya saat ini sedang mengemas barang-barang milik Gita untuk dibawa ke rumah Papi Luky, sebab Mama sudah pindah sehari setelah hari pernikahan.
"Boleh enggak sih Bang, kalo aku tetap di sini aja sama ibu. Kalo aku pindah ke rumah Papi Luky apa aku bisa move on? Coba bayangin bang, tiap hari aku ketemu sama dia, udah pasti move on nya bakalan sudah banget, yang ada makin nyesek bang," rengek Gita lagi, berharap kali ini dia mendapatkan jawaban sesuai keinginannya.
"Gini ya Dek." Hafidz ikut duduk di sisi Gita, sebab sejak tadi pemuda itu berdiri sambil mengemas barang-barang milik Gita.
Jika sudah memanggilnya dengan sebutan 'dek', Gita sudah tahu jawabannya. Sudah pasti tidak sesuai yang dia mau. Dia hanya bisa menghela nafas berulang kali.
"Abang tahu apa yang kamu rasakan, tapi coba deh kamu pikir, gimana perasaan Mama kalo kamu memilih tetap tinggal disini. Mama pasti mengira kalau kamu enggak seneng dengan pernikahan Mama ini, ya meskipun Abang tahu kebahagiaan kamu atas pernikahan Mama enggak sepenuhnya, tapi setidaknya jangan buat Mama khawatir. Ngerti kan, maksud Abang?" Hafidz menjelaskan dengan nada lembut berharap kali ini kembarannya itu mengerti dengan apa yang dia maksud.
Gita mengangguk, "Baiklah demi Mama, semoga aja Bang Indra ditarik ke Jakarta lagi," ucapnya.
"Gini amat punya sodara kembar cewek, bukannya lebih dewasa malah lebih kekanakan, mirip banget sama Ziva," batin Hafidz menyadari sifat Gita yang masih kekanakan dan manja tentunya.
Ngomong-ngomong tentang Ziva, gimana kabar gadis kecil itu ya? Jadi kangen juga sama Ziva. Ah enggak sempet ngasih kabar kalau dirinya pulang ke Indonesia, semoga saja tidak marah.
"Abang kok malah bengong sih? Itu hapenya bunyi." Gita menunjuk ke arah ponsel Hafidz yang tergeletak diatas sofa.
Hafidz bergegas mengambil ponselnya, melihat siapa yang menelepon dia terkejut saat mendapati gadis yang baru saja dia pikirkan itu yang menelponnya. Dia pun segera menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum, iya, maaf deh. Sama siapa? Baiklah nanti jam sepuluh ya, sharelok tempatnya." Hafidz menghela nafas panjang setelah menutup panggilan tersebut.
"Siapa sih Bang? Kok kaya marah-marah gitu, kedengeran sampe sini," Gita penasaran siapa gerangan yang menelpon abangnya itu.
"Kembaran kamu," jawab Hafidz asal.
"Bukannya kembaran ku itu Abang ya? Terus kembaran yang mana lagi? Jangan-jangan kita memang kembar tiga!" entah apa yang Gita pikirkan hingga berkhayal seperti itu.
__ADS_1
"Ck, bukan kembaran lahirnya, tapi kembaran sama-sama manjanya, kalau minta apa pun harus dituruti," jawab Hafidz yang membuat Gita makin penasaran.
"Siapa sih Bang? Pacar Abang? Kenalin dong kalo Abang punya pacar, biar aku seleksi dulu, dia pantes atau enggak buat abangku ini. Takutnya nanti dia cuma mau ngeruk harta Abang aja," celoteh Gita, membuat Hafidz menggelengkan kepala tak peduli dengan celotehan gadis itu.
"Ish Abang! Siapa sih aku penasaran!" teriak Gita saat Hafidz justru kembali membereskan barang miliknya.
"Kalau kamu ngoceh aja, ini enggak akan selesai sampai besok pagi. Dan aku enggak akan bantu lagi setelah itu, besok udah harus kembali," ucap Hafidz tak menghiraukan pertanyaan adiknya.
Gita cemberut, dia pun kembali membereskan barang yang akan dibawa, tidak semuanya memang, tapi cukup banyak.
Setelah selesai mengemas barang miliknya, dengan diantar oleh Hafidz, Gita pun menuju rumah yang akan dia tempati bersama keluarga baru sang Mama. Mulai nanti malam gadis itu akan tinggal di sana, sebab Hafidz berangkat nanti sore karena memilih penerbangan pagi lewat bandara internasional Soekarno-Hatta. Memilih menginap di hotel yang dekat dengan bandara.
"Kok sepi Ma?" tanya Hafidz setelah sampai di rumah Papi Luky.
Jarak antara rumah Mama dan rumah Papi Luky memang cukup jauh, menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit. Rumah Mama yang letaknya hampir diperbatasan kota Bandung, berbeda dengan rumah Papa Luky yang letaknya ditengah kota Bandung. Berada di komplek perumahan elit.
"Mereka lagi ke rumah Bik Astri, katanya lagi panen ikan mas, mungkin sebentar lagi pulang. Udah dari tadi pagi perginya," jawab Mama.
"Ayo masuk, Mama tunjukin kamar kamu. Sini Mama bantu bawa kopernya." Mama meraih satu koper milik Gita lalu memimpin masuk ke dalam rumah.
"Bentar, biar dibantu Kang Arif, kalian naik aja. Masuk kamar ke dua setelah tangga, tapi yang sebelah kanan ya," ucap Mama.
Keduanya mengangguk lalu melanjutkan langkah menuju kamar yang ditunjukan oleh sang Mama tadi. Sampai di atas, keduanya melihat sekeliling, ternyata ada empat kamar yang saling berhadapan, dengan jarak yang lumayan luas antara kamar satu dengan yang lainnya. Lalu di tempat paling pojok, ada ruangan santai sepertinya, dan ada satu tangga lagi menuju lantai tiga. Rumah yang luas hampir sama seperti rumah Papa yang ada di Jakarta, hanya beda desain. Tapi jika dibandingkan dengan rumah Mama, rumah ini terlihat lebih mewah dan luas.
Keduanya memasuki kamar yang ditunjuk oleh Mama. Gita berbinar saat melihat kamarnya. Kamar bernuansa biru muda seperti warna kesukaannya, tak lupa sudah lengkap dengan isinya. Bahkan di dalam kamar juga ada walk in closet sama seperti kamar miliknya, dan lagi kamar ini lebih luas dari kamarnya yang ada di rumah Mama.
"Tadi ada yang nangis-nangis enggak mau ke sini, eh setelah sampai sini malah jingkrak-jingkrak enggak jelas," cibir Hafidz saat melihat adik kembarnya itu tersenyum bahagia.
"Ish, ngerusak momen aja sih Bang," protes Gita.
"Kamu beresin sendiri ya, Abang mau ketemu Ziva. Dia udah nungguin, atau kamu mau ikut sekalian?" Hafidz baru saja membuka ponselnya, dan terdapat beberapa pesan dari gadis kecil itu.
__ADS_1
"Ck, ternyata aku disamain sama Ziva. Yaudah ayo aku ikut, beres-beres nya nantilah,"
"Lho kalian mau kemana lagi?" tanya Mama saat baru saja keluar dari kamar yang berada di sebelah Gita.
"Mau ketemu Ziva sebentar Ma, dia enggak bisa ke sini, soalnya sama Mamanya yang lagi pemotretan di Bandung," jawab Hafidz.
"Yaudah salam buat Ziva ya, kalau sempet ajak Mamanya sekalian mampir ke sini,"
"Barang-barang milik Gita, biar Bik Astri atau Mbak Yuni yang membereskan nanti. Tapi setelah itu kalian kembali ke sini lagi ya, kita makan siang bareng sebelum Hafidz kembali ke London," ucap Mama.
Keduanya pun mengangguk, lalu berpamitan untuk pergi, bersamaan dengan tiga pria berbeda masuk ke dalam rumah, membawa dua kantong kresek besar. Mungkin ikan yang baru saja mereka ambil langsung dari empang.
"Kalian mau kemana? Kita pulang malah kalian mau pergi?" tanya Papi Luky.
"Mau ketemu teman sebentar Pi, nanti kita kesini lagi," jawab Hafidz sedikit ragu saat akan mengucapkan kata 'Papi' sebab belum terbiasa.
"Gue ikut, tunggu bentar gua taruh ini dulu," ucap Indra dan berlalu ke belakang begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari Hafidz maupun Gita.
Gita menghela nafas panjang, ujiannya akan dimulai dari sekarang. Dia kira hari ini akan bebas dari Indra, tapi ternyata dia salah, salah besar sebab kini mereka sudah berada di dalam mobil yang sama, membuat Gita sulit untuk bernafas.
"Tumben diem aja dia?" tanya Indra yang penasaran dengan perubahan sikap Gita, sebab biasanya gadis itu akan berbicara panjang lebar selama perjalanan, tapi sekarang justru terdiam sambil memainkan benda pipih ditangannya.
"Sakit gigi kali Ndra," jawab Hafidz sekenanya.
"Enak aja dibilang sakit gigi! Aku denger lho," timpal Gita dari jok belakang, tanpa mengalihkan fokusnya dari ponsel.
Sedangkan dua pemuda yang duduk di depan justru terkekeh mendengar ucapan Gita.
"Nah kan, langsung ngomong, pancingan kita berhasil," ucap Indra masih dengan kekehannya. Ternyata mereka berdua sengaja memancing Gita supaya berbicara.
Sedangkan gadis itu hanya berdecak, tak mau menanggapi kejahilan kedua abangnya. Tepatnya sedang menata hati supaya lebih nurut dan tidak berontak lagi.
__ADS_1
🥀🥀🥀🥀
JANGAN LUPA, LIKE, KOMENNYA YAH. TERIMAKASIH SEMUANYA.