Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Salam Rindu


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya terlihat sedang merenung, di tangannya memegang sebuah buku berwarna biru muda. Baru saja dia membaca seluruh isi buku tersebut setelah dua hari lalu menemukannya. Dia menghela nafas berulang kali guna menetralkan perasaan bersalahnya. Ah, apa dia menyesal dengan semua ini hingga merasa bersalah dengan apa yang telah dia lewati dengan perasaan penuh haru dan bahagia? Tapi sepertinya dia tidak akan menyesal, karena semua ini sudah jalan takdirnya.


"Ma, kenapa?" tanya sang suami yang baru saja keluar dari kamar mandi, menyambar pakaian bersih yang sudah disiapkan oleh istri tercinta.


Istrinya itu terlihat menghela nafas, "Enggak Mas," kilahnya.


"Iya bibirnya bisa bilang enggak, tapi wajah Mama keliatan kalau lagi mikirin sesuatu. Aku perhatikan sejak kemarin wajah Mama seperti itu." Sang suami kini sudah duduk di hadapannya, menatap lekat sepasang mata elang yang menyiratkan akan kelembutan milik sang istri.


"Kenapa? Katakan sama suami mu ini, mungkin saja bisa membantu meringankan beban pikiran Mama." Pria itu menyentuh pundak sang istri.


"Ini buku diary Gita." Wanita itu menunjukkan sebuah buku bersampul biru muda tersebut, "Ternyata selama ini anak kita saling jatuh cinta," ujarnya membalas tatapan sang suami.


Pria paruh baya itu mengernyitkan dahi, belum mengerti siapa yang dimaksud sang istri.


"Gita sama Indra," ujar Mama seakan mengetahui apa yang ada dalam pikiran suaminya.


"Lhoh? Sejak kapan? Kenapa mereka tidak pernah jujur sama kita?" Papi Luky ternyata belum menerima sepenuhnya informasi yang diberikan sang istri.


"Sepertinya jauh sebelum kita saling mengenal Mas," Mama menghela nafas, "Kenapa aku baru tahu sekarang?" sesalnya.


"Jangan bilang Mama menyesal menikah dengan lelaki tua ini?" tebak Papi.


Tentu Mama menggeleng, dia tidak pernah menyesal sama sekali menikah dengan lelaki ini, "Enggak Mas, aku enggak pernah menyesal menikah sama kamu. Mungkin kalau aku tahu sejak lama kita juga enggak akan nikah, tapi semua itu sudah terjadi, aku rasa memang takdir kita seperti ini. Yang aku sesalkan kenapa putriku harus memaksakan diri mencintai orang lain demi melupakan putramu itu, pasti rasanya sakit." Mama membayangkan bagaimana sulitnya Gita saat itu.


"Mereka saling mencintai tapi sepertinya belum mengetahui jika cinta mereka terbalas oleh orang yang mereka cintai," tambah Mama.


"Lhoh?" Papi terlihat bingung mendengar penuturan Mama, dia mengira mereka sudah saling mengutarakan cinta.


Mama mengangguk.


"Terus Mama tahu dari mana kalau Indra juga mencintai Gita?" tanya Papi.


"Sebelum aku menemukan buku ini di lemari pakaian Gita yang sudah tidak terpakai, aku sering kali melihat Indra masuk kamar Gita, duduk berlama-lama, bahkan aku pernah beberapa kali melihat Indra tidur di sana, aku kira dia hanya ingin berganti suasana saja, tapi ternyata aku salah. Mbak Yuni pernah melihat Indra memeluk foto Gita saat tidur di kamar itu. Bukankah itu menandakan jika mereka memiliki perasaan yang sama?" Mama menjelaskan penglihatannya selama setahun ini semangat putrinya itu memutuskan untuk kuliah di luar.

__ADS_1


Papi menghela nafas, "Tidak ada salahnya mereka saling mencintai, toh mereka juga tidak ada ikatan darah, kamu pasti tahu itu, kan?" ucap Papi pada akhirnya.


"Iya Mas, mungkin memang Indra yang terbaik buat Gita, semoga putriku masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu," harapan seorang ibu yang ingin melihat putrinya bahagia, tentu dia sangat yakin dengan seorang Indra yang baik itu, membantu putranya mencari sebuah kebenaran.


🥀🥀🥀


Gadis yang sedang dibicarakan oleh kedua orang tuanya itu saat ini sedang berada disebuah ruangan, tepatnya ruang kerja gadis itu. Merencanakan sebuah gebrakan baru tentang produk yang akan dia dan timnya pasarkan. Ya, Gita saat ini sudah bekerja di sebuah perusahaan perdagangan dengan posisi ketua tim pemasaran. Perusahaan milik sahabat yang sudah di kenalnya sejak setahun yang lalu, gadis berambut pirang bernama Lucy.


"Tidakkah kau rindu dengan pria berlesung pipi itu?" pertanyaan yang meluncur dari bibir manis sang bos sekaligus sahabatnya. Tentu saja yang dimaksud gadis itu adalah Indra, lelaki yang dicintai sahabatnya itu.


"Hey! Siapa yang tidak rindu dengannya? Tentu saja aku sangat merindukannya, tapi kini aku pasrah tak ingin kecewa untuk kesekian kalinya," Gita menjawab tanpa mengalihkan fokusnya dari layar laptop.


"Setidaknya pulanglah sesekali ke tanah kelahiran mu, Mama cantikmu pasti juga rindu putri cantiknya," berulang kali Lucy membujuk gadis itu, tapi jawabannya tetap sama, sebuah penolakan dengan dalih pekerjaan.


"Kau mengusirku?" kini Gita menatap Lucy.


"Ya tepatnya sepeti itu,"


Gita berdecak, "Aku akan tetap di sini meskipun kau mengusirku. Kau tahu?" Lucy menggeleng.


"Kalau begitu, tetaplah disini sampai sepuas mu. Asal kau jangan pergi dengan banyaknya tanggungjawab seperti saat ini," jawab Lucy membuat Gita tertawa, sebab kembali memenangkan argumen dengan si bos cantik.


"Ayo kita makan. Kali ini aku memaksa, kau terlalu sibuk hingga melupakan kesehatanmu sendiri." Gita akhirnya mengikuti langkah Lucy yang mengajaknya makan siang dan sudah sangat terlambat sebenarnya.


"Kau tahu? Pak dokter tampan itu selalu menanyakan mu, apa kamu tidak mau membuka hati untuknya?" tanya Lucy, mereka saat ini sudah berada di sebuah resto.


"Sudah kubilang, aku tidak mau menjalin hubungan dengan seseorang yang bekerja mengenakan jas putih saat bertugas itu. Dia memang menyembuhkan penyakit pasiennya, tapi justru melukai perasaan wanitanya," jawab Gita, padahal tidak semua dokter seperti itu bukan? Tapi Gita sudah trauma dengan masa lalunya.


"Tidak semua dokter seperti itu, mungkin dia berbeda,"


Gita menggeleng, "Hatiku hanya untuk satu orang yang saat ini jauh di sana. Sebelum dia menemukan pujaan hatinya, aku tidak akan berhenti berharap dan terus mencintainya. Itu tekadku saat ini, jadi kamu enggak usah promosiin cowok-cowok bule teman-teman mu itu," ujar Gita, membuat Lucy menghela nafas lalu menggidikan bahu acuh.


Selama setahun lebih berada di negara ini, dia sudah bisa menyesuaikan diri tentunya. Harinya memang dihabiskan di kampus, kantor dan apartemen saja, padahal godaan silih berganti berganti di negara yang menerapkan kehidupan hedonisme ini. Tak sedikit pun dia terlena akan hal itu, tentu saja sang Abang yang berperan penting dalam kehidupannya kali ini.

__ADS_1


"Lhoh Abang sudah pulang? Tumben? Wah sudah masak sebanyak ini juga?" pancaran mata gadis itu terlihat berbinar saat mendapati beberapa menu makanan di meja makan mereka.


"Iya sesekali lah, di kantor juga enggak banyak kerjaan. Gimana kerjaan kamu hari ini?" selalu seperthatian itu Abang tercintanya tersebut, benar-benar menggantikan peran Mama untuknya.


"Alhamdulillah lancar Bang. Ini rumbes masak khas negara kita, pasti ada maksud tertentu nih," tebak gadis itu.


Hafidz tersenyum, ternyata rencananya sudah terednus oleh adik kembarnya itu. "Iya memang, sebab dia minggu kedepan Abang enggak bisa masakin kamu kaya gini," ucapnya.


"Lhoh? Mau kemana lama banget Bang?" tanya Gita.


"Balik, kangen Mama. Kamu mau pulang juga?" gelengan dari kepala gadis itu sudah menjawab pertanyaannya.


"Aku sendirian dong,"


"Suruh Lucy nemenin kamu, nanti Abang yang bilang. Abang ada keperluan penting sama Papa, ya kamu tahu lah masalah apa. Papa belum bisa ke sini lagi, maaf ya," Hafidz sebenarnya tak tega meninggalkan Gita di sini sendirian, tapi dia pun tak bisa menunda kepentingannya tersebut.


"Tidak masalah Bang, aku akan baik-baik aja di sini," Gita mencoba tersenyum, berharap abangnya tak begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Nanti akan Abang sampaikan salam buat Bang Indra tercinta, kalau kamu kangen,"


Bugh


Gita menendang kaki Hafidz yang ada di bawah meja, tapi pemuda itu tak mengeluh justru terbahak.


"Enggak usah macem-macem! Enggak ada salam-salaman." Cetusnya.


*** Biarlah bintang yang menyampaikan salam rinduku untuknya.


Untuk raja yang selalu memenangkan hatiku.


Menguasai seluruh sel saraf otak ku


Hanya dia yang bertahta di hati ini meski waktu terlewat cukup lama tanpa kehadirannya bersama ku.

__ADS_1


Aku tetap merindu, rindu yang masih sama sejak pertama kali di rasa.


🥀🥀🥀


__ADS_2