
"Sstt, jangan berisik, aku kaya kenal suara orang yang lagi berantem di dalam." Gita meletakkan telunjuk di depan bibir, berharap Lucy diam, tapi wanita itu justru mendelik dan menarik tangan Gita secara paksa.
"Jangan ikut campur urusan orang. Mereka pasti akan marah, meskipun kamu mengenalnya." Lucy tak ingin terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu, sebab jika di negaranya seseorang yang ikut campur urusan orang lain pasti dia yang akan terkena masalah.
"Dengan Lucy, temanku sedang tidak baik-baik saja di dalam sana. Aku tak akan membiarkan terjadi sesuatu pada temanku itu." Gita kekeh ingin membantu Karin yang sedang menangis.
"Gita! No!" Seru Lucy, tapi kedua perempuan keras kepala itu tak ada yang mau mengalah hingga seseorang terjatuh dari dalam kamar tersebut sebab di dorong dari dalam.
"Karin!" Gita melepas paksa pergelangan tangannya yang dicekal oleh Lucy.
Gita menghampiri Karin, "Ayo aku bantu." Ujarnya sambil mengangkat sedikit tubuh Karin.
Tapi Karin tetap bertahan dan memegang perutnya sambil meringis. "Sss sakit," lirihnya.
Lucy menyadari jika sesuatu terjadi pada teman Gita itu, dia pun langsung ikut membantu dan terkejut saat mendapati sebuah noda berwarna merah di kaki teman Gita itu.
"Darah?" ujar Gita dan Lucy secara bersamaan.
Melihat keadaan Karin yang begitu mengkhawatirkan, Gita langsung masuk ke dalam kamar tersebut yang masih terbuka sedikit, sebab salah satu Kaki Karin masih berada di tengah-tengah pintu.
"Lo! Akan gue inget wajah Lo! Kalau sampai sesuatu terjadi sama Karin, jangan harap Lo bisa bebas gitu aja." Gita menunjuk wajah pemuda yang sedang duduk di sofa dengan santai sambil menikmati sigaret.
Pemuda itu hanya tersenyum tipis tak takut sama sekali dengan ancaman seorang gadis yang menurutnya tak mungkin bisa melakukan apa pun.
"Jangan kira gue cuma becanda Argandi Sasongko!" Seru Gita geram dengan pemuda itu, dia pun langsung meninggalkan pemuda tersebut menghampiri Karin dan Lucy yang ternyata sudah tidak ada di depan ruang tersebut, mungkin Lucy sudah menghubungi seseorang untuk menolong Karin.
Jangan tanya Gita mengetahui nama pemuda itu dari siapa? Dia jelas tahu nama-nama anak konglomerat di negeri ini, selain sering berseliweran di telinganya, mereka juga sering bertemu dalam acara ulah tahun perusahaan atau acara lainnya.
Pemuda itu mengernyit saat mendengar gadis tersebut mengetahui nama lengkapnya, dia jadi bertanya-tanya siapa sebenarnya gadis tersebut? Tapi sepertinya dia belum pernah melihat gadis itu sebelumnya. Entah kenapa tiba-tiba dia khawatir dengan ancaman gadis itu.
__ADS_1
Sedangkan Gita, dia turun ke lantai bawah mencari keberadaan Karin dan Lucy, ternyata sopir yang mengantar mereka berdua tadi yang membantu Lucy dan Karin, tapi Gita mengernyitkan dahi saat melihat seorang perempuan yang dia tahu salah satu karyawan Lucy ada di tempat itu.
"Gita cepat, kasian temanmu!" seru Lucy saat melihat Gita hanya bengong.
Gadis itu pun langsung berlari masuk ke dalam mobil, tak peduli lagi dengan karyawan Lucy yang juga ikut masuk ke dalam mobil tersebut.
Mobil itu melaju dengan kecepatan diatas rata-rata menuju rumah sakit terdekat, untung saja skill mengemudi sopir pribadi keluarga Atmawijaya itu sudah terlatih, jadi mereka semua tidak khawatir meski mobil melaju dengan kecepatan bak angin topan.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di depan IGD rumah sakit, degan segera memanggil petugas rumah sakit untuk membawa Karin masuk keruang IGD. Mereka semua menunggu di luar ruang IGD dengan perasaan cemas. Bahkan Gita melupakan keberadaan karyawan Lucy yang masih berada di tempat itu.
"Lucy? Kau bersamanya?" tanya Gita saat teringat akan karyawan Lucy tersebut.
Lucy menghela nafas berat, "Dia nyusul aku ke sini, padahal udah aku tolak berkali-kali dia tetap aja enggak nyerah, padahal dia tahu aku sedang mengandung anak orang lain. Aku juga awalnya enggak tahu dia nyusul, tapi tiba-tiba dia kirim pesan bilang kalau ada di hotel tadi," jelas Lucy membuat Gita mengangguk, lalu menatap pemuda yang duduk berseberangan dengan mereka berdua.
"Mungkin dia jodoh kamu Lus, dia cerdas, tampan juga, kenapa kamu enggak terima?" tanya Gita.
Gita tak lagi membantah ucapan Lucy, biarlah perempuan itu menentukan jalannya sendiri dia tak ingin ikut campur, dia akan mendukung jika itu hal yang baik.
****
"Gita, kamu pulanglah, aku tak mau Indra marah karena calon pengantinnya ada di sini. Aku sudah baik-baik saja, tak usah khawatir." Karin menyentuh tangan Gita berharap gadis itu mau mengikuti perintahnya.
Gita menggeleng, tak sanggup melihat sahabatnya terbaring lemah di rumah sakit seorang diri, apalagi dia baru saja kehilangan janin dalam kandungannya, sungguh tak boleh dibiarkan sendiri di rumah sakit.
"Aku mau pulang, tapi kalau sudah ada yang nungguin kamu di sini. Atau aku kabari Kakak kamu, kalau memang kamu tidak mau Papa sama Mama datang," usul Gita, sebab tadi saat dia akan menelpon kedua orang tua Karin, perempuan itu melarangnya, dan menceritakan jika dia sudah lama tak pulang ke rumah, bahkan diusir oleh orang tuanya dan kini tinggal bersama sang Kakak yang sudah memiliki keluarga.
Tapi Karin menggeleng, dia tak mau sang Kakak khawatir dengan keadaanya.
"Karin apa yang terjadi?" keduanya terkejut saat mendapati seseorang yang baru saja mereka bicarakan masuk ke dalam ruangan Karin dengan tergesa.
__ADS_1
"Bang?" lirih Karin.
"Maaf Abang baru bisa datang, tadi Gandi yang ngasih tahu kalau kamu dirawat disini karena keguguran," perkataan sang Abang membuat Gita dan Karin makin terkejut, kenapa bisa Gandi mengetahui keberadaan dan kondisi Karin saat ini, apa mungkin pemuda itu mengikuti mereka sejak dari hotel tadi.
"Aku baik-baik saja Bang," ucap Karin tak ingin membuat sang Abang terlalu khawatir.
Setelah memastikan Karin baik-baik saja, Gita pun pulang dengan sang sopir, sedangkan Lucy sejak tadi dia pergi bersama pemuda yang Gita tahu sebagai karyawan wanita itu, entah pergi kemana dia tak tahu.
Gita pulang ke rumah dengan perasaan sedikit lega, hanya sedikit karena dia masih mengkhawatirkan keadaan Karin dan besok sudah pasti dia tak diijinkan untuk keluar rumah, apalagi saat ini dia pulang sampai malam.
"Kamu darimana saja? kenapa baru pulang?" tanya Papa saat gadis itu sudah sampai di rumah.
Gita ikut duduk di sisi sang Papa, lalu menceritakan semua hal yang terjadi tadi siang hingga malam ini tanpa terkecuali.
"Maafkan Papa, karena sakit hati dengan perlakuan dia ke kamu, akhirnya Papa mencabut kerjasama dengan perusahaan orang tua Karin, dan sekarang mereka menjadi terpecah sepeti itu, Papa menyesal." Papa merasa semua yang terjadi pada keluarga Karin karena dirinya, apalagi saat tahu jika Karin di usir dari rumah karena usaha orang tuanya bangkrut.
"Papa?" Gita menggeleng, pantas saja kemarin Arumi dan Meta seakan sedang menutupi sesuatu atas bangkrutnya perusahaan Papanya Karin, ternyata Papalah yang mengakibatkan semuanya.
"Pa, please bantu keluarga Karin lagi, terutama perusahaannya, mereka membutuhkan semua itu Pa, aku enggak suka dengan Papa yang pendendam sepeti itu," tutur Gita penuh permohonan.
"Kalau buat perusahaan Papanya Karin kembali Apa enggak bisa, sebab mereka sudah menjual semuanya. Tapi Papa janji akan bantu perusahaan Kakaknya Karin yang sedang berkembang," ujar Papa, membuat Gita langsung memeluk tubuh sang Papa erat.
.
.
🥀🥀🥀
Hai-hai hai, kayaknya beberapa hari ke depan aku enggak bisa up, karena ada suatu hal. Maafkan author ya, semoga segera bisa melanjutkan menulis kembali. Terimakasih 🙏
__ADS_1