
Keadaan rumah sebenarnya masih sama seperti biasa, namun terasa ada yang kurang sejak seorang gadis yang tinggal di rumah ini memutuskan untuk mengikuti jejak kembarannya. Apalagi untuk dua orang pemuda yang kini sedang menikmati makan malam berdua, mereka seperti kehilangan separuh jiwanya.
Jika Indra merasa kehilangan seseorang yang sangat dia cintai, seseorang yang selalu menjadi alasannya untuk terus maju, dan seseorang yang memiliki senyum manis yang selalu menghantui mimpinya. Berbeda dengan Riky, pemuda itu merasa kehilangan seseorang yang selalu jadi target keusilannya, tentu dia sangat bahagia jika gadis itu merajuk karena tingkah usilnya. Tapi juga kakak baik hati yang sering memberinya tambahan uang jajan.
"Kemana Bang? Makanan Lo belum habis? Bikin gue kagak nafsu makan aja Lo!" Riky meletakkan sendok dan garpunya dengan kasar saat melihat Abangnya meninggalkan ruang makan. Dia pun mengikuti jejak abangnya itu.
"Gue rela deh di marahi Papi tiap hari gara-gara gue berhasil ngerjain Kak Gita, dari pada gini," keluh Riky yang kini mengikuti sang Abang sampai taman samping rumah.
Indra menoleh sekilas, ternyata bukan hanya dirinya yang kehilangan gadis itu, tapi adik tengilnya ini juga merasa kehilangan, padahal sepengetahuannya mereka berdua jarang akur, mungkin hal itu sebagai tanda sayang, entahlah.
"Kira-kira Kak Gita lagi ngapain ya? Gue kangen sama dia, padahal baru beberapa hari dia pergi," Riky menghela nafas sejenak.
"Mungkin kalo dia perginya bukan karena ada masalah, kejadiannya enggak akan seperti ini," tambahnya.
Indra tetap dia, tapi dia membenarkan ucapan adiknya itu. Selain rasa rindu yang membuncah juga khawatir berlebihan sebab kepergian gadis itu dalam keadaan tidak baik-baik saja, bahkan seperti pelarian. Ya, meskipun awalnya gadis itu sudah merencanakan semuanya dari awal.
"Lo mau kuliah di mana?" pertanyaan yang keluar dari bibir Indra membuat adik tengilnya itu berdecak malas, dia tahu abangnya sedang mengalihkan pembicaraan, entah apa alasannya.
"Gue saranin kuliah di Jakarta aja, tinggal di rumah Oma, buat Oma deket sama Lo," tambahnya sebab Riky belum menjawab pertanyaannya.
"Kagak! Oma kagak mungkin nerima gue Bang, yang ada di pikirannya hanya Lo dan Lo, gue kagak ada sama sekali," tolak Riky.
Indra menoleh, dia merasa iba dengan adiknya itu, entah apa yang membuat sang Oma tidak mau menerima Riky dengan baik, padahal pemuda itu tidak pernah berbuat salah padanya. Dia pun menghela nafas dalam.
"Setidaknya Lo coba dulu," bujuk Indra lagi, tapi Riky tetap menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
"Justru sebaiknya Lo kembali ke sana aja, gue denger beberapa hari yang lalu Papi bicara sama Oma, suruh bujuk Lo balik,"
Sama halnya dengan Riky, pemuda itu pun menggeleng tanda tak setuju. "Gue pengen berhasil dengan usaha gue sendiri, Lo lebih berhak di sana," ucapnya.
__ADS_1
"Tapi gue tetep kagak mau, yang Oma harapin cuma Lo Bang, secara cucu laki-laki pertama itu Lo, dan Oma juga hanya menganggap cucu laki-laki nya cuma satu yaitu Lo, gue bukan," sakit sebenarnya ketika nenek kita sendiri tak mengakui keberadaan kita, tanpa mengetahui apapun alasannya.
"Baiklah, terserah Lo, gue cuma ngasih saran. Yang penting saat kuliah nanti belajar yang bener, jangan pacaran aja yang dipikirin." Indra menepuk pundak Riky sekilas lalu meninggalkan pemuda itu sendiri di sana.
Riky menghela nafas kasar, dia teringat saat masih kecil dulu ketika berkunjung ke rumah Omanya. Saat Abang dan saudara sepupunya, Erika diberi mainan atau dibelikan apa pun itu, dia selalu di lupakan, bahkan Omanya itu tak pernah sekalipun memberi sesuatu pada dirinya dengan kemauannya sendiri, kecuali sang Papa yang protes lebih dulu, atau menelpon Oma saat mereka akan ke sana, supaya memberi dia sesuatu sama seperti dua saudaranya itu.
Untung saja dia memiliki Mami yang begitu pengertian, tak pernah membedakan dia dengan abangnya, bahkan lebih memprioritaskan dirinya dibanding sang abang. Ah, dia jadi teringat wanita yang sangat dicintainya itu, rindu sekali dengan wanita itu, rindu akan pelukannya, nasehatnya dan masih banyak lagi. Dia masih mengingat semuanya, meskipun waktu itu dia masih duduk di sekolah dasar.
"Kenapa melamun Nak?" tepukan lembut di bahunya menyadarkan dia dari lamunan tentang sang Mami yang kini telah di syurga. Segera mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh.
"Ah enggak Ma, lagi pengen menikmati langit malam yang indah," kilahnya padahal sejak tadi dia tidak memerhatikan langit. Dan saat melihat ke arah langit dia terkejut karena langit begitu gelap tertutup awan hitam.
Mama tersenyum, dia tahu putra sambungnya ini sedang memikirkan sesuatu, tapi sengaja disembunyikan.
"Mama tidak akan memaksa kamu bercerita." Putus Mama dan ikut duduk di sana menempati tempat duduk yang tadi diduduki oleh Indra.
Riky menghela nafas, "Aku cuma rindu sama Mami, maaf Ma," merasa bersalah sebab menyebut Maminya dihadapan wanita ini. Ya, meskipun kelembutan yang sama yang selalu Mama berikan untuknya, tetap sang Mami adalah ratu dalam hatinya.
Riky yang memang belum mengetahui semuanya, dia sedikit terkejut, mengira jika Mama sambungnya ini memiliki seorang putra yang telah tiada.
"Tapi kamu tahu?" Riky tentu menggeleng sebab dia tak tahu.
"Anak Mama itu ternyata masih hidup dan sehat, sekarang dia menjadi pemuda tampan dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya,"
"Kok bisa?" penasaran ternyata menghantui pikiran Riky.
Mama pun menceritakan secara singkat kisah hidupnya saat bertemu kembali dengan Hafidz.
Di sisi lain dalam satu atap yang sama, seorang pemuda memasuki kamar yang beberapa hari ditinggal oleh pemiliknya. Merebahkan diri di sana, menghirup dalam-dalam harum kamar itu, keharuman itu tetap masih ada meskipun si pemilik kamar sudah beberapa hari meninggalkannya.
__ADS_1
Ah, kenapa rasanya nyaman sekali tidur di tempat ini, apa mungkin karena wangi yang masih sedikit tertinggal di sana, atau dia sedang merindukan pemilik kasur ini. Entahlah sepetinya kedua alasan itu tepat semua.
"Kenapa belum menelpon sih gadis manis? Apa kamu melupakan ku? Ah, masa secepat itu?" gumamnya sambil menatap langit-langit kamar.
Saat sedang memikirkan kemungkinan yang sedang dilakukan oleh gadis manis itu, tiba-tiba ponselnya berdering, dia pun segera meraih ponsel tersebut. Buru-buru turun dari tempat tidur untuk meninggalkan kamar tersebut saat mengetahui siapa yang menelpon, tentu dia tak mau orang diseberang sana mengetahui apa yang dia lakukan saat ini.
"Halo, tumben jam segini telpon?" tanya Indra dengan nafas ngos-ngosan, membuat orang diseberang sana mengerutkan keningnya.
"Lo habis dikejar maling ya?" tebak orang diseberang sana yang tak lain adalah Hafidz.
"Ngaco! Gue sengaja lari di tangga tadi," kilahnya.
Hafidz di sana tertawa, tapi dia percaya begitu saja dengan sahabat sekaligus saudaranya itu.
"Ada yang mau ngomong sama Lo, katanya kangen," ucapan Hafidz bagaikan petir yang datang secara tiba-tiba mengejutkan sekaligus membuat dada semakin berdebar.
"Ish, bohong banget Bang, yang kangen sama kamu itu dia Bang," wajah Gita memenuhi layar ponsel.
Entah kenapa Indra tak bisa berkata-kata apa pun, dia justru terus menatap wajah cantik yang kini sangat dirindukannya tersebut.
"Kamu baik-baik aja, kan? Betah di sana?" pertanyaan itu yang langsung meluncur dari bibirnya.
"Betah banget Bang, cuma dipersulit sama pemilik rumah. Aku dilarang pergi sendirian, mau pergi sama dia, dianya kuliah terus. Lalu aku percuma dong disini kalau tiap hari rebahan gini. Apalagi enggak bisa buka hape karena belum dibelikan kartu simnya, menyebalkan sekali tahu Bang," Gita mengadu pada pemuda itu, berharap bisa mau membantunya, mungkin dengan membujuk Hafidz.
Yang dilakukan Indra hanya terkekeh geli, apalagi saat melihat bibir gadis itu mengerucut, terlihat menggemaskan. Ah rindu ini sedikit terobati, ya meskipun hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh.
.
.
__ADS_1
🥀🥀🥀