
"Kak, minggu depan aku sidang. Pokoknya Kakak harus datang ya," ucap Gita pada Salman.
"Baiklah sayang, akan Kakak usahakan ya. Kakak enggak mau janji, takut enggak bisa nepatin nantinya. Kamu tahu sendiri kan pekerjaan Kakak seperti apa?" celetuk Salman.
Gita mengangguk, sebab mulutnya masih penuh dengan makanan yang baru saja dia masukkan ke dalam mulut.
Saat ini keduanya sedang berada di ruangan Salman. Gita sengaja datang dengan membawa makanan untuk makan siang bersama tunangannya itu.
"Setelah ini mau kemana? Pulang atau mau jalan kemana dulu?" tanya Salman setelah menghabiskan makanannya.
"Pulang aja deh Kak, tapi aku pengen pulang ke rumah Ibu, kangen sama Ibu. Lagian Mama juga enggak ada di rumah," jawab Gita, gadis itu juga sudah menghabiskan makanannya. Dia mengumpulkan sampah bekas makanan mereka lalu membuangnya di tempat sampah.
"Minum air putih dulu. Kebiasaan kamu itu setelah makan enggak minum air putih." Salman merebut teh dalam kemasan dari tangan gadis itu dan menggantinya dengan air mineral.
"Makasih Kak," Gita menyengir, lalu menegak minuman dalam botol itu hingga tandas.
"Yaudah Kakak antar, tapi nanti satu atau dua jam lagi. Kamu mau nungguin, kan? Kakak udah janjian sama anak-anak koas hari ini, sebentar lagi mereka pasti datang," baru saja Salman menyelesaikan ucapannya, terdengar ketukan di pintu ruangannya.
"Tuh kan mereka sudah datang. Masuk aja!"
Nampaklah tiga pemuda dan dia perempuan masuk ke dalam ruangan Salman. Gita mendengus saat ada Taka diantara lima orang itu, tapi dia bersikap biasa saja seolah tak mengenal Taka seperti biasa.
"Sayang, kamu tunggu di dalam aja ya," ucap Salman setelah melihat kekasihnya itu seperti tak nyaman berada diantara mereka.
Gita mengangguk.
"Kalian tunggu sebentar." Salman ikut beranjak dari duduknya, dia mengikuti Gita sampai depan pintu yang menuju ruang pribadi Salman.
"Kalau mau nonton drama atau apa, pake aja laptop itu. Atau mau tidur siang juga enggak apa-apa. Kakak tinggal ya,"
Gita mengangguk, sebelum pemuda itu pergi dia sempat mencuri kecupan di pipi Salman. Membuat pemuda itu tersenyum karena Gita langsung menutup pintu kamar tersebut. Sebab baru kali ini Gita berinisiatif melakukan hal itu tanpa diminta, padahal biasanya dia yang meminta, dan gadis itu tak langsung menyetujuinya.
__ADS_1
"Ciie, kami lihat lho Pak. Jangan kelamaan Pak, nanti di ambil orang," salah satu dari dokter muda itu menggoda Salman, sedangkan yang lainnya hanya senyam senyum tak jelas.
"Ya jangan dong. Kalian tunggu aja undangannya," timpal Salman dan mereka bersorak gembira kecuali satu orang, siapa lagi jika bukan Taka.
Pertemuan itu ternyata tidak memakan waktu terlalu banyak, bahkan tak lebih dari satu jam lamanya. Tapi Gita justru tertidur pulas dengan ponsel yang masih menyala, memutar adegan drama negara sebrang.
Salman tersenyum melihat Gita yang damai dalam lelapnya. Tak tega jika harus membangunkan gadis itu, mungkin Gita kecapean dengan segala aktifitas kuliahnya. Dia pun meraih ponsel yang masih menayangkan drama tersebut, berniat mematikan ponsel itu. Tapi niatnya urung dilakukan saat melihat background yang terpampang di layar ponsel kekasihnya itu. Sebuah senyuman terukir indah dari bibir manisnya, hatinya begitu berbunga mendapati layar utama ponsel Gita.
"Kenapa kamu begitu manis? Bahkan layar utama ponselku terpampang jelas foto kita berdua. Aku jadi terharu," ujarnya terus menatap layar ponsel itu, dimana dia dan Gita saling melempar senyum termanis mereka.
Setelah puas memandangi foto itu, Salman menyimpan ponsel Gita di atas nakas. Kini giliran dia menatap lukisan nyata yang sedang berbaring dengan nyaman itu. Mengusap garis wajah gadis yang sangat dia cintai tersebut, setelah puas dia mengakhiri penjelajahan itu dengan mengecup kening Gita dan membiarkan gadis itu terlelap.
Salman kembali ke meja kerjanya, memeriksa beberapa data pasien yang dia terima tadi dari asisten perawat, sambil menunggu kekasih hatinya terbangun dari tidur siangnya.
Akan tetapi hingga semua pekerjaannya usai, tak ada tanda-tanda jika Gita akan mengakhiri tidur siangnya, akhirnya Salman pun terpaksa membangunkan Gita yang masih dalam posisi sama saat dia melihat sejam yang lalu.
"Sayang, katanya mau pulang ke rumah Ibu, ayo bangun. Ini sudah sore." Salman mengusap pipi Gita perlahan, berharap gadis itu akan bangun.
"Jam berapa Kak?" Gita mengalihkan tatapannya, tak ingin terlalu lama menatap pemuda itu, apalagi wajah Salman yang begitu dekat bahkan dia bisa merasakan hembusan nafas dan juga detak jantung Salman yang memburu. Dia takut pemuda itu lepas kendali.
"Sepertinya belum terlalu sore, masih banyak waktu untuk menghabiskan sore ini berdua di sini," jawab Salman dengan senyum menggoda.
Gita mendorong tubuh kekasihnya itu, meskipun dorongan itu tak mampu mengalihkan posisi Salman.
"Aku marah kalau Kakak kaya gini," ujarnya.
Salman terkekeh, "Maaf ya, Kakak sengaja, pengen liat kamu kesal, karena kamu terlihat makin cantik saat kesal," ucapnya.
Gita cemberut, dia beranjak dari tidurnya, mencuci muka sebentar, lalu meraih tas dan juga ponsel miliknya.
"Ayo Kak, katanya mau anterin aku pulang. Kalau enggak mau yaudah, aku naik taksi aja." Gita melangkah meninggalkan kamar tersebut, dan Salam langsung mengejar gadis itu.
__ADS_1
"Maafin Kakak ya, jangan ngambek dong." Salman mengira Gita marah dengannya, padahal Gita berbuat seperti itu hanya membalas kelakuan Salman tadi.
"Udah Kakak fokus nyetir aja, aku enggak mau mati muda. Belum nikah juga," celetuk Gita membuat Salman tersenyum.
"Yaudah, kita nikah besok yuk." Celetuk Salman.
"Heeem," hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Gita.
"Serius ya, besok Kakak akan datang ke rumah kamu dengan membawa penghulu," cetus Salman.
"Ih, aku masih pusing mikirin sidang Kak, Kakak malah bahas nikah. Nanti ya, kalau aku sudah lulus, atau kalau aku sudah kerja," timpal Gita.
"Yah,"
Selama perjalanan mereka membicarakan banyak hal, hingga tak terasa mereka berdua sampai di rumah Bu Nurul, dan ternyata sepasang suami istri itu sedang pulang kampung, membuat Gita menghela nafas, merasa kesepian sebab tak ada yang menemaninya di rumah, ya kecuali art dan pekerja lainnya.
"Kakak temani sampai kamu tidur, kalau perlu Kakak akan menginap di sini," ucap Salman.
"Itu sih maunya Kakak aja. Yaudah kalau mau nemenin, nanti sampai jam sepuluh aja ya. Aku buatin makan malam untuk kita berdua." Salman menurut, dia menunggu Gita di rumah keluarga.
Tak lama Gita turun dengan pakaian berbeda, sepertinya gadis itu baru selesai mandi.
"Kakak mandi ya, ini baju Bang Hafidz pakai aja. Mandi di kamar tamu itu, enggak apa-apa, kan? Aku enggak tega liat Kakak masih pakai baju kerja, pasti badannya lengket." Gita menyerahkan pakaian yang ada di tangannya dan Salman menerima itu dengan senang hati.
"Kamu memang pengertian, yaudah aku mandi ya." Salman mencuri sebuah kecupan di pipi gadis itu sebelum masuk ke kamar tamu, meninggalkan Gita yang masih bersemu.
"Sepertinya cinta itu sudah tumbuh untukmu Kak." Gita menyentuh pipinya yang masih terasa hangat bekas kecupan kekasihnya itu.
"Kenapa rasanya berbeda ya?" Gita bingung dengan perasaanya kali ini, sebab tak jarang Salman mengecup pipinya saat mereka akan berpisah tapi kali ini terasa begitu hangat dan menyenangkan.
🥀🥀🥀🥀
__ADS_1