Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Pekerjaan Lebih Penting


__ADS_3

Indra akhirnya memilih meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan tak menentu. Dia juga bingung dengan perasaannya sendiri, selama ini dia menganggap Gita seperti adiknya sendiri tak lebih, tapi kenapa dia sangat marah ketika melihat Gita tersenyum manis dengan lelaki lain? Tidak mungkin kan jika dirinya jatuh hati pada gadis itu. Itu tidak mungkin terjadi, rasa yang dia alami saat ini hanya khawatir dengan adiknya, bukan karena rasa cinta.


Dia mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Seakan dirinya tak merasakan jika kini laju motornya semakin lama semakin cepat sebab hati dan pikirannya dipenuhi oleh gelak tawa dan senyum Gita dengan orang lain.


Untung saja tak terjadi apa pun dengan pemuda itu, hingga dia sampai di rumah dengan selamat.


"Lo cemburu ya Bang lihat Kak Gita sama cowok? Sampai rela ngikutin mereka," Indra di sambut cibiran dari Riky yang sedang bermain game di ruang keluarga sambil menikmati cemilan.


"Bukan urusan Lo!" sungut Indra dan berlalu meninggalkan pemuda itu.


"Kalo Lo suka bilang aja gampang, kan? Dari pada Lo nyesel nantinya, kalo dia udah jadi milik orang lain!" seru Riky, tentu saja Indra masih mendengarnya dengan jelas, tapi dia tak menanggapi ucapan adiknya itu.


Riky tersenyum miring, melihat sikap Abangnya. "Bagaimana reaksi Lo kalo tahu Gita suka sama Lo, Bang?" gumamnya.


"Tapi gue harap Lo enggak tahu itu, biar kita sama-sama sakit. Gue enggak mau menanggung sakit sendiri," entah apa yang ada dalam pikiran Riky hingga setega itu dengan Indra.


Sesampainya di kamar, Indra langsung meraih gitar, lalu ke luar kamar menuju balkon. Sebelum memetik gitar miliknya, lebih dulu Indra menyalakan ro kok yang sempat dia beli tadi sebelum sampai rumah. Sebenarnya dia jarang sekali menyesap benda itu, tapi entah kenapa sekarang dia memilih menyesap benda yang bisa mengeluarkan asap berbahaya tersebut. Berharap bisa menghilangkan bayangan Gita yang tertawa dan tersenyum manis dengan dokter itu.


Cukup lama dia menikmati kepulan asap yang mengelilinginya, sepertinya sudah sedikit melupakan tentang Gita dan dia memilih untuk memetik gitar miliknya. Dia tidak bernyanyi, hanya memetik senar gitar tersebut tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Mungkin sengaja ingin menikmati lantunan nada yang tercipta dari gerakan jemarinya.


🥀🥀🥀


Sejak tadi sebenarnya Salman tahu jika Indra mengikuti mereka sampai ke tempat itu, bahkan dia masih bisa melihat Indra saat mereka sudah naik ke rumah pohon. Salman tetap pura-pura tidak mengetahuinya, biarkan saja Indra tetap di sana, coba kita lihat akan sampai kapan pemuda itu bertahan di tempat persembunyiannya. Dibilang egois, ya memang Salman memang egois, dan dirinya mengakui itu.


Salman keluar dari rumah pohon bermaksud membeli minuman untuk mereka berdua, sekilas dia melihat ke arah dimana Indra tadi bersembunyi, dan dia tersenyum saat melihat Indra sudah tak ada di tempat itu.


"Ternyata dia sudah mengaku kalah," gumamnya sambil tersenyum miring.

__ADS_1


Tadinya Salman akan menemui Indra jika pemuda itu masih ada, dan berpura-pura tak tahu jika Indra ada di sana, tapi sepertinya rencana itu harus gagal sebab Indra sudah pergi.


Tak lama Salman kembali dengan membawa kresek berisi minuman kemasan dan beberapa cemilan yang dia beli tak jauh dari tempat itu.


"Nich minuman sama beberapa cemilan buat nemenin ngobrol." Salman meletakkan kresek berwarna putih dengan logo minimarket itu dihadapan Gita.


Gadis itu mendongak lalu tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Dia membuka botol air mineral terlebih dahulu, sebab kerongkongannya terasa kering sejak tadi, tapi tentu saja dia malu mengatakan hal itu pada Salman.


"Keluarga kamu hebat ya, bisa menjalin silaturahmi dengan baik. Pasti kalau berkumpul rame banget." Celetuk Gita sambil melihat album foto yang isinya Salman dan para sepupu.


"Iya, kita tiap tahun pasti ngadain pertemuan keluarga. Terutama keluarga dari Papa, jadi kita saling mengenal meskipun berjauhan," jawab Salman dia juga ikut melihat album foto yang sedang dilihat oleh Gita.


"Seru banget pasti, berbeda sama keluarga ku. Kita jarang banget ketemu kalau enggak dalam satu acara, misalnya ada yang menikah atau ada yang meninggal. Selain itu sangat jarang sekali, bahkan aku udah beberapa bulan enggak ke rumah Papa di Jakarta, selain sibuk juga karena enggak ada yang diajak ke sana," Gita menceritakan sedikit kehidupannya pada pemuda itu.


"Abang kamu emangnya enggak mau?" tanya Salman.


"Bukannya Abang kamu yang namanya Indra itu?" Salman makin penasaran dengan kehidupan Gita yang menurutnya penuh teka-teki.


"Itu Abang tiri Kak, kita jadi saudara juga belum lama. Dia juga di kota ini belum lama, karena pekerjaannya pindah ke sini, dulunya juga di Jakarta,"


"Kalau Abang kandungku sekaligus kembaran ku, dia kuliah di London. Kapan-kapan kalau dia pulang aku kenalin, dia orangnya baik. Kalau penasaran seperti apa orangnya, dia mirip banget sama aku, tapi versi cowok, dan satu lagi dia lebih tinggi dari aku," jelas gadis itu panjang lebar.


Salman mendengarkan semua cerita gadis itu dengan saksama, dia baru sadar ternyata Gita terlihat lebih dewasa saat berbicara seperti ini. Dan dia baru menyadari saat Gita sedikit menceritakan tentang Papanya, terlihat raut yang berbeda tak seperti saat menceritakan Abangnya.


"Jadi, kamu benar anak pengusaha yang terkenal itu? Tapi kenapa kamu enggak milih tinggal sama Papa kamu aja?" Salman sedikit penasaran dengan alasan Gita yang memilih tinggal bersama Mamanya dibanding dengan Papanya.


"Banyak alasannya Kak, lagian dari kecil aku sudah tinggal sama Papa, dan sekarang aku milih tinggal sama Mama aja, biar adil," jawab Gita yang tak mau mengakui alasan sebenarnya, menurutnya belum saatnya dia menceritakan kehidupan masa lalunya dengan Salman yang memang baru kenal beberapa hari saja.

__ADS_1


"Kok malah jadi mendongeng sih Kak, ayo kita turun, aku pengen lihat danau di sana." Gita baru saja akan beranjak dari duduknya tapi Salman mencegah.


"Nanti ke danaunya setelah kita makan siang, sekarang kita cari makan dulu," ucap Salman.


Gita pun mengikuti kemauan pemuda itu, mereka berdua keluar dari rumah pohon bergantian.


"Kita jalan kaki aja ya, enggak jauh kok paling seratus meter, sambil menikmati sejuknya tempat ini," ujar Salman.


Gita pun mengiyakannya, tak masalah jalan seratus meter tidak terlalu jauh juga, pikirnya.


"Mas dokter sudah lama?" sapa seorang yang sedang membenahi tanaman bunga di depan kafe yang akan mereka tuju.


"Calonnya ya Mas? Cakep bener dah!" seloroh orang tersebut padahal Salman belum menjawab pertanyaan pertamanya.


Salman hanya tersenyum menanggapi, tak mungkin kan mengatakan jika Gita calon istrinya pada orang itu, bisa bisa Gita ilfil mendengar pengakuannya. Lebih baik diam, biarkan mereka berprasangka sepeti apa.


"Mari Pak, kita masuk dulu ya," keduanya pun langsung masuk ke dalam kafe tanpa mendengar jawaban dari orang tadi.


Keduanya memesan makanan dan menyantapnya. Selesai menghabiskan makanannya, tiba-tiba ponsel Salman berdering dan pemuda itu langsung menerimanya.


"Gita maaf banget, kita harus pulang sekarang. Aku harus menggantikan Om ku operasi. Kamu enggak apa-apa kan kalau kita pulang sekarang?" tanya Salman dengan nada penyesalan, pasalnya dia masih ingin berlama-lama dengan Gita apalagi sekarang merek sudah lebih dekat dan saling terbuka.


Gita tersenyum, "Enggak apa-apa Kak, lagian kita masih bisa ke sini lain kali. Pekerjaan Kakak lebih penting dari apa pun, sebab menyangkut nyawa orang lain. Ayo kita pulang sekarang." Gita beranjak dari duduknya.


Ingin rasanya Salman memeluk gadis itu yang begitu pengertian dengan kondisi dirinya yang seorang petugas kesehatan, tenaganya dibutuhkan kapan pun tanpa mengenal waktu. Tapi tentu Salman belum seberani itu untuk memeluk Gita.


🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2