
Gita, gadis itu langsung menelepon sang Mama setelah kepergian Indra, sebab dia tadi sempat memberitahu sang Mama, jika dia dan Indra ingin meminta restu Papa.
Mama mendengarkan semua yang diceritakan oleh sang putri, menyimak hingga Gita menyelesaikan semua kisahnya. Terdengar helaan nafas dari seberang sana.
"Menurut Mama itu juga keputusan yang baik, bukannya sejak awal niat kamu kuliah? Jadi tetaplah pada niat awal, selesaikan kuliah kamu dulu, setelah itu kalau mau menikah tidak masalah. Mama yakin Papa kamu tidak sekejam itu harus nunggu Indra punya rumah dulu, enggak. Pasti setelah kamu lulus kuliah Papa akan mengijinkan kalian untuk menikah," tutur Mama dari seberang sana.
"Baiklah Ma, kalau menurut Mama itu yang terbaik. Aku bisa apa selain menuruti permintaan Papa," sambung Gita.
"Papa seperti itu juga karena sayang sama kamu. Mungkin kalau kamu laki-laki seperti abangmu, Papa juga akan memperlakukan kamu sama seperti Abang mu,"
Gita tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh sang Mama, "Maksud Mama apa? Aku enggak ngerti," tanyanya.
Terdengar helaan nafas dari sang Mama, "Mama sebenarnya kasihan sama Abang mu, tapi mau bagaimana lagi itu sudah aturan dari Papa. Mama enggak bisa apa-apa, apalagi Abang tidak menolak permintaan Papa," ujarnya yang justru membuat Gita makin bingung.
"Ada apa sih Ma, kok aku masukin bingung?" tanya Gita penasaran.
"Pertama, Abang kuliah di luar itu atas kemauan Papa, Abang kamu menurut. Menurut Mama kalau yang pertama ini masih wajar. Tapi yang selanjutnya membuat Mama kasihan sama putra Mama itu," terdengar helaan nafas kembali.
"Kamu tahu kan kalau apartemen yang dia tempati itu milik Papa?" Gita mengangguk mendengar pertanyaan sang Mama meski sang Mama tidak bisa melihatnya.
"Papa mu tidak memberikan apartemen itu cuma-cuma untuk Abang mu, dia memberi batas waktu satu tahun untuk Abang membayar apartemen itu. Kalau dalam satu tahun tidak bisa melunasi, Abang harus kembali ke rumah Papa mu. Mama sempat marah sama Papa mu yang terlalu keras dengan dia, tapi Abang mu menerimanya tanpa banyak protes,"
Gita tak menyangka jika dibalik sikap tenang saudara kembarnya itu memiliki beban yang diciptakan oleh sang Papa. Tak habis pikir kenapa sang Papa bisa melakukan hal tersebut.
"Papa mu memang memberikan fasilitas sama Abang, tapi bisa dibilang hanya pinjaman dan harus membayarnya. Mungkin Papa melakukan itu supaya anaknya mengerti bagaimana sulitnya mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Dan sesuatu yang kita dapatkan dari usaha sendiri itu rasanya akan lebih memuaskan, mungkin itu juga yang ingin Papa kamu ajarkan," Mama terus melanjutkan ceritanya hingga tengah malam keduanya baru mengakhiri panggilan itu.
Gita menghela nafas setelah menutup panggilan dari sang Mama, dia mengingat bagaimana abangnya. Dia merasa kasihan, tapi tentu dia tak bisa berbuat apa pun. Untung saja dia dilahirkan sebagai seorang perempuan, jika tidak sudah dipastikan akan mendapatkan perlakuan yang sama sepeti sang Abang, dan dia pasti tidak akan sanggup melakukan itu.
__ADS_1
"Ah, Abang. Kenapa enggak pernah cerita sama gue ya? Kenapa sih Papa pelit banget sama anak sendiri? Heran deh. Padahal Abang baru saja menikmati harta Papa, tapi Papa justru seperti itu," gumam Gita, membayangkan wajah abangnya yang begitu lelah saat pulang dari kantor.
"Untung saja Bang Indra enggak di perlakukan seperti itu," tambahnya.
Gita terus memikirkan ucapan Mama, hingga terlelap. Entah jam berapa gadis itu terlelap menyelami alam mimpinya.
🥀🥀🥀
Seharian Gita tak meninggalkan kamar, bahkan saat makan pun dia tak menampakkan diri. Akhirnya sang Papa menyuruh art untuk mengantar makanan ke kamar gadis itu.
"Papa terlalu keras sama Gita pasti, udah tahu anaknya enggak bisa di kerasi sedikit pun," protes Sita saat tak mendapati Gita di meja makan siang tadi.
"Biarkan dia belajar lebih dewasa Mah, gimana jadinya kalau mau menikah tapi masih seperti sekarang ini? Papa malah khawatir dengan suaminya nanti," timpal Papa yang sangat mengerti dengan putrinya itu, meskipun beberapa tahun belakangan memilih tinggal jauh darinya.
Sita hanya bisa menghela nafas, meskipun tidak terlalu dekat dengan Gita, apalagi setelah kejadian beberapa tahun lalu, dia tetap menyayangi Gita sebenarnya.Tapi dia juga tidak bisa memaksa kehendak sang suami, sebab putra semata wayangnya saja diperlakukan keras oleh suaminya itu.
Hingga sore hari, Gita baru menampakkan wajahnya saat Indra menjemput. Berpamitan dengan Papa dan Mama Sita, meskipun marah Gita tak pernah melupakan hal itu. Pergi harus berpamitan dengan orang tuanya.
Gita menghela nafas kasar, "Aku masih kesal sama Papa," jawabnya tanpa menatap Indra.
Mendengar jawaban kekasihnya, Indra pun menepi, berhenti di pinggir jalan. Melepas sabuk pengaman lalu memutar tubuhnya menghadap gadis itu. Meraih kedua tangan Gita, "Enggak baik menahan kekesalan terlalu lama. Percayalah jika keputusan Papa kamu itu adalah yang terbaik," ujarnya membuat Gita menoleh.
"Iya Bang, tapi entah kenapa aku masih kesal aja sama Papa," keluh gadis itu, membalas tatapan lembut pemuda dihadapannya.
"Itu berarti kamu belum ikhlas menerima keputusan ini. Enggak apa-apa, ikhlas memang sulit, tapi aku yakin kita akan terbiasa seiring berjalannya waktu," tutur Indra sambil tersenyum, senyuman yang selalu membuat Gita tak bisa melepaskan tatapan dari wajah manis itu.
"Nah gitu kan manis," ujar Indra saat Gita membalas senyumannya.
__ADS_1
"Apa sih Bang. Emang gula manis." Gita melepas paksa kedua tangannya, memalingkan wajah menghadap jendela, sebab dia sadar jika saat ini wajahnya pasti sudah bersemu merah.
"Kita lanjut ya," cetus Indra dan Gita menjawab dengan anggukan.
Tak lama mobil Indra memasuki halaman sebuah rumah mewah, terlihat rumah itu sudah dihiasi oleh bunga-bunga berwarna putih. Meskipun pernikahan Meta tak dilaksanakan di rumah, tapi acara lainnya tetap dilakukan di rumah itu.
"Abang ikut masuk enggak?" tanya Gita saat mobil yang Indra kendarai sudah berhenti.
"Abang enggak bisa ikut masuk, udah di tunggu yang lain di rumah Devin. Kamu masuk sendiri enggak apa-apa, kan?"
Gita mengangguk, tak masalah baginya masuk sendiri ke dalam rumah itu. Dulu dia sering sekali menginap di rumah ini saat masih SMA, tentu saja bersama Arum dan Karin. Ah, Karin apakah gadis itu ada di tempat ini juga? Kenapa dia lupa menanyakan hal itu.
"Kenapa kok melamun?" tanya Indra saat Gita sepertinya enggan turun.
"Jangan bilang minta dibukain pintu lagi?" tebak Indra, membuat Gita terkekeh dengan alasan kemarin malam.
"Bukan Bang, aku cuma mikir Karin di sini juga enggak ya?"
Indra memutar tubuh Gita supaya menghadap ke arahnya, "Meskipun Karin di sini, kamu jangan sampai merusak momen bahagia Meta, berdamailah dengan dia, sudah lama sekali kan kejadian itu, dan sampai saat ini kita semua masih diberi kesehatan," ucapnya.
Gita tersenyum, hatinya tersentuh mendengar ucapan sang kekasih, benar apa yang dikatakan Indra, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan persahabatan yang sudah retak.
"Baiklah Bang, kalau gitu aku turun ya. Abang hati-hati, jangan aneh-aneh di rumah Devin," pesan Gita, sebab dia tahu sahabat kekasihnya itu tak bisa meninggalkan minuman haram, entah untuk sekarang, mungkin sudah berubah.
"Siap cantik." Indra membawa Gita ke dalam pelukannya. Seperti biasa mereka mengakhiri pertemuan hari ini dengan sebuah pelukan penuh kasih sayang.
Setelah memastikan Gita benar-benar masuk ke dalam rumah Meta, Indra pun kembali melajukan mobilnya menuju kediaman orang tua Devin, dimana sahabat-sahabat nya sudah menunggu di sana, termasuk Hafidz yang sengaja pulang untuk menghadiri acara pernikahan sahabatnya. Indra tahu, di sana nanti dia juga pasti akan bertemu dengan seseorang yang tidak dia sukai, mungkin sekarang saatnya untuk memperbaiki persahabatan mereka juga.
__ADS_1
.
🥀🥀🥀🥀