
"Lho Gita mana Bang?" Salma terkejut saat mendapati sang Abang hanya sendiri tanpa adanya Gita.
"Udah pulang sama Abangnya. Kamu ngapain aja di toilet, lama banget?" Salman kesal sebab adiknya itu hampir setengah jam pergi ke toilet.
"Tadi ketemu Kak Fajar," jawab gadis itu sambil celingukan mencari Gita.
"Gita beneran pulang sama Abangnya? Ciri-ciri nya seperti apa Bang?" Salma penasaran dengan seseorang yang menjemput Gita, tak mungkin kan jika itu Indra? Masak iya Gita menghubungi Indra, tidak mungkin sekali, sebab gadis itu sedang berusaha menjauh dari Abang tirinya tersebut.
"Kamu kok kepo sih? Udah ayo pulang. Abang udah jamuran di sini nungguin kamu." Salman berjalan lebih dulu meninggalkan Salma, tapi gadis itu langsung mengejarnya.
"Cowok yang jemput Gita ini bukan bang?" ternyata Salma masih penasaran siapa yang menjemput Gita. Gadis itu memperlihatkan foto Indra yang dia ambil dari medsos Gita.
Salman mengangguk setelah melihat foto itu sekilas, "Dia enggak dijemput, tapi enggak sengaja ketemu di rumah sakit tadi. Dan langsung ngajak temanmu itu pulang," jelasnya.
Salma mengangguk, "Pantesan Gita kelimpungan, di luar rumah aja masih ketemu sama Indra, kapan bisa move on nya coba?" gumam Salma tapi masih di dengar oleh Salman.
"Jadi itu mantannya? Pantesan tatapannya kaya enggak suka gitu pas liat Gita sama Abang," sahut Salman.
"Bukan Bang, dia itu Kakak tirinya Gita. Tapi Gita suka sama dia sebelum mereka jadi saudara, ya gitu deh. Tapi cowoknya itu menganggap Gita hanya sebagai adik, enggak lebih. Itu yang Gita ceritakan," sanggah Salma.
Sepanjang perjalanan pulang mereka mengghibah Gita dan Indra, terutama Salma yang terus berbicara tentang mereka berdua, meskipun Salman mengabaikannya.
🥀🥀🥀
Sekarang Gita sedang berada di teras sebuah masjid, menunggu Indra yang sedang melakukan sholat Maghrib di masjid tersebut, sebab dirinya sedang berhalangan.
Gita teringat akan perbincangannya dengan Indra sebelum pemuda itu masuk ke dalam masjid. Entah angin apa yang membuat pemuda itu bercerita kenapa dirinya ada di rumah sakit dan menemui siapa. Padahal Gita tak menanyakan hal tersebut.
"Tadi itu aku cuman nganterin Tas atasanku, dia dibawa ke rumah sakit tapi barang bawaannya lupa enggak dibawa. Suaminya menyuruh aku anterin ke rumah sakit itu, dan kebetulan ketemu sama kamu," ucap Indra.
Gita sedikit terkejut mendengar penjelasan pemuda itu yang tanpa di suruh, seperti menjelaskan pada kekasihnya saja, padahal dirinya kan hanya dia anggap sebagai adik, tidak lebih. Entahlah apa maksud Indra menjelaskan semua itu.
Deringan yang berasal dari ponselnya mengejutkan gadis itu, saat mengetahui siapa yang menelepon dia pun langsung menerima panggilan tersebut.
"Iya, gue pulang bareng Bang Indra." Gita menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Lo tahu sendiri seperti apa hati gue saat ini. Dahla, gue ikhlas menerima semuanya. Dah Lo mandi sono, baunya nyampe sini tau enggak?" setelah itu Gita langsung memutus panggilan tersebut tanpa mendengar jawaban seseorang di seberang sana, dia kesal sebab sahabatnya itu justru menggoda dan menertawakannya.
Kali ini Gita membaca pesan yang baru saja masuk, dari Abangnya yang berada jauh di belahan dunia sana.
'Udah nikmatin aja, apa pun perlakuan Indra ke kamu. Anggap saja Indra itu Abang, enggak usah baper. Ingat enggak usah baper, kalo perlu di tulis di jidat biar inget terus. Indra cuma anggap kamu adik, dan kamu juga harus anggap dia sebagai Abang, jangan minta lebih'
Sama Abang aja enggak pernah baper, padahal kita ketemu juga belum lama, dan dihari yang sama juga pas ketemu sama Indra. Tapi kenapa sama Indra bisa baper, aneh.
Gita berdecak kesal membaca pesan dari Hafidz, Abangnya itu tidak memberikan solusi yang tepat malah membuatnya makin kesal, sama seperti Salma yang mengoloknya tadi.
"Ada apa? Kok keliatannya kesel gitu?" pertanyaan Indra mengejutkan gadis itu, entah sejak kapan Indra sudah duduk di sisinya.
"Eh, udah selesai Bang? Aku kok enggak tahu Bang Indra datang?" tanyanya yang tak memperdulikan pertanyaan Indra.
"Kamunya aja fokus sama hape sambil manyun," timpal Indra. "Kenapa? Ada masalah?" tanyanya.
Gita menggeleng, "Enggak ada Bang," jawabnya.
"Yaudah ayo, kita cari makan. Kamu punya rekomendasi makan dimana gitu enggak?" tanya Indra.
"Enggak Bang, aku ngikut aja mau makan dimana," jawab Gita.
"Udah pernah ke sini?" tanya Indra saat mereka sudah duduk.
"Belum Bang, aku jarang keluar rumah sih kalo malam. Palingan siang nongkrong di kafe Deket kampus," jawab Gita.
"Bagus, anak gadis itu lebih baik di rumah aja. Bahaya kalo keluyuran malam-malam. Tapi kalo kamu mau ke sini boleh ajak aku," sambung Indra sambil tersenyum manis ke arah gadis itu, membuat Gita mati-matian menahan gejolak dalam dada.
"CK, itu mah maunya Bang Indra aja. Ajak itu gebetan bang, jangan Adik sendiri," Gita menekan kata 'Adik' dalam ucapannya. Meski bibirnya dengan mudah melontarkan kata tersebut, tapi di dalam hati kecilnya merasakan perih yang begitu dalam, mengingat dia hanya Adik untuk Indra.
"Belum pengen cari gebetan Git, belum punya modal buat nyenengin anak orang," ujar Indra membuat Gita sedikit lega, tapi hanya sebentar saja. Setelah mengingat mereka berdua hanya saudara kelegaan itu menguap begitu saja.
"Lebih baik jalan sama kamu, nyenengin adik sendiri kan enggak masalah dan enggak ada ruginya," tambahnya, membuat Gita makin tak berdaya, bahkan makanan yang ada dihadapannya terasa hambar.
"Aku bukan adik kamu Bang! Aku enggak mau kamu anggap adik, meskipun kenyataannya seperti itu!" ingin rasanya Gita berteriak seperti itu, tapi tentu saja dia tak mampu melakukannya.
__ADS_1
Keduanya menikmati makanan sambil bercerita, lebih banyak Indra memang yang berbicara sebab Gita harus mengontrol perasaanya supaya tidak terlalu baper dengan perlakuan Abang tirinya itu.
"Woy! Lo Indra kan?" seseorang tiba-tiba datang dan langsung duduk di sisi Indra.
"Woy Jo! Makin ganteng aja Lo!" sahut Indra.
"Lo juga makin ganteng Ndra, gue sampe pangling liat penampilan Lo yang rapi gini," ujar pemuda itu sambil meneliti penampilan Indra yang masih mengenakan pakaian kantor.
"Cewek Lo cantik, bening banget. Dapat darimana Lo Ndra?" bisik pemuda itu tapi tentu saja Gita masih mendengarnya.
"Lo kira aer, bening?" protes Indra.
"Kenalin Jo, dia Gita. Ini Jonathan, temen Abang waktu SMP dulu," Indra mengenalkan keduanya.
Jonathan mengulurkan tangan dan di sambut oleh Gita, tapi Indra langsung menepisnya saat dirasa jabatan tangan mereka terlalu lama.
Plak
"Jangan lama-lama," ucap Indra membuat Jonathan mendengus.
"Posesif amat Lo Ndra!" protesnya.
Indra hanya menggidikan bahu acuh. Berbeda dengan Gita, hatinya kembali berperang saat Indra tak mengenalkannya sebagai seorang adik, bahkan tidak membantah saat Jonathan mengira dirinya kekasih Indra. Kalau begini terus lama-lama dia akan terbang, dan makin mengharapkan Indra. Gagal total untuk move on.
"Cariin cewek yang sebening dan secantik dia dong Ndra, mumpung gue jomblo nich," ujar Jonathan.
"Yang bening ini, Lo ambil aja gue ikhlas. Kalo yang cantik tuh banyak cewek-cewek yang enggak bawa gandengan." Indra menyerahkan air mineral yang masih sisa setengah pada Jonathan, membuat pemuda itu kembali berdecak kesal.
"Segala aer Lo kasih ke gue, CK. Kalo Lo kasih cewek Lo baru gue terima dengan ikhlas," ujarnya sambil mengembalikan botol air mineral tersebut.
"Jangan ngarep. Dah gue cabut dulu, silakan Lo lanjut pencarian cewek cantiknya." Indra berdiri lalu diikuti oleh Gita, dan dia meraih tangan Gita untuk digandeng.
Tentu saja perlakuan Indra kali ini membuat Gita benar-benar baper, apalagi pembicaraan pemuda itu dengan temannya yang secara tidak langsung mengakui dirinya adalah kekasih Indra secara tidak langsung. Siapa pun pasti akan baper dibuatnya.
"Kalo ketemu sama tu cowok lagi, pura-pura enggak kenal aja. Dia harus diwaspadai, udah terkenal playboy sejak masih SMP," ucap Indra saat keduanya sudah sampai di parkiran.
__ADS_1
Gita menghela nafas, lalu mengangguk. Ternyata itu alasan Indra yang tidak memperkenankan dirinya sebagai adik. Tapi kenapa kok rasanya sakit ya? Padahal tadi udah merasa terbang ke angkasa, sekarang malah dijatuhkan lagi. Entahlah.
🥀🥀🥀🥀