
Pagi ini sebenarnya sangat cerah, tapi seorang gadis masih betah bergulung di dalam selimut, dia sengaja bermalas-malasan karena jadwal kuliah hari ini siang hingga sore. Melihat jam sudah pukul tujuh pagi, dia pun bergegas meraih ponsel, ingin menghubungi seseorang yang sudah dua minggu lebih meninggalkannya, padahal janjinya hanya sampai dua minggu saja.
"Abang, kapan kembali? Katanya dua minggu di sana, eh sampai sekarang belum kembali, bohong banget," celetuk gadis itu saat sambungan video call nya diterima oleh sang Abang.
"Wa'alaikumsalam," jawab orang di sebrang sana.
Gita tersenyum canggung, "Assalamualaikum Abang ku yang paling ganteng, paling baik dan paling segalanya. Aku kangen tahu, kenapa lama sekali di sana?" ucapnya lebih lembut dari sebelumnya.
"Kalau ada maunya gitu." Hafiz paham betul dengan sikap saudara kembarnya ini, "Kangen mana kalau sama yang ini?" tiba-tiba layar tersebut menampakkan wajah seseorang yang tiap hari selalu memenuhi jadwal wajibnya.
Gita terkejut, dia tak tahu jika abangnya sedang makan siang dengan pemuda itu, "Lebih kangen sama yang ini lah," jawabnya dengan rona di pipi.
Terdengar gelak tawa dari seberang sana, dia tahu Indra yang terbahak sebab layar ponsel itu kini menampakkan wajah Hafidz yang cemberut. "Oke, Abang enggak akan kembali ke sana, ngapain juga enggak ada yang rindu," ucapnya.
Indra akhirnya memang memilih untuk bekerja di perusahaan Opa nya, tapi dia menolak saat akan diposisikan sebagai pimpinan utama, dia memilih untuk menjadi wakil sang Opa saja, sebab belum memiliki banyak pengalaman.
"Enggak percaya banget," timpal Gita, sebab dia tahu abangnya harus mengikuti wisuda S2 nya beberapa bulan lagi.
"Sabar, Papa masih di luar kota. Aku harus gantiin sementara, nanti kalo Papa udah kembali pasti langsung ke sana," ujar Hafidz menjelaskan.
"Berapa lama Bang?" tanya Gita, "Aku kesepian di sini," keluhnya.
"Lucy? Masih menemani kamu, kan?" gelengan kepala gadis itu menandakan jawaban dari pertanyaan nya.
"Lucy sedang ada sedikit masalah, jadi aku enggak mau memaksanya, lebih baik sendiri dari pada merepotkan gadis itu," jawab Gita.
"Bagaimana kalau aku kembali ke sana lagi?" pertanyaan itu tentu bukan dari Hafidz tapi dari pemuda yang kini duduk dihadapan Hafidz.
"Enggak!"
"Boleh banget!"
__ADS_1
Jawaban dua saudara itu membuat Indra terkekeh, sebab selain penolakan dari Hafidz, tatapan pemuda itu juga menusuk retinanya. Padahal dia hanya bercanda.
Gita mendengus mendengar jawaban abangnya.
"Maaf ya sayang, aku lebih takut dengan mata singa nya, dia seperti ingin menelan ku hidup-hidup," keluh Indra, membuat Hafidz memutar bola matanya jengah.
"Enggak apa-apa Bang, aku sangat mengerti sekali dengan sahabatmu itu, selain posesif, perkataanya juga enggak bisa di bantah. Aku jadi mikir, gimana istrinya nanti." Gita tersenyum saat melihat wajah Abangnya itu terlihat kesal, tapi semua yang dia katakan memang benar adanya, mungkin itulah cara Hafidz menjaganya.
"Udah dikasih tahu sama Meta?" tanya Hafidz setelah cukup lama mereka diam.
"Iya udah, beberapa hari yang lalu dia nelpon. Aku enggak nyangka aja akhirnya mereka menikah. Meta cerita dia menolak Devin udah berulang kali, tapi berulang kali pula cowok itu terus berusaha, hingga akhirnya dia memilih langsung melamar ke Papanya Meta, cewek mana sih yang enggak luluh kalau langsung di lamar gitu, udah pasti langsung mau diajak nikah. So sweet banget." Gita tersenyum membayangkan bagiamana Devin melamar Meta di depan Papanya.
"Kode Ndra," celetuk Hafidz.
"Eh, engg...." Gita tidak melanjutkan ucapannya sebab Hafidz lebih dulu menyela.
"Enggak mau dia Ndra, parah katanya cinta, tapi enggak mau di lamar," sebenarnya Hafidz tahu apa maksud ucapan Gita, tapi dia sengaja memanasi.
"Ih, bukan gitu Bang! Jangan percaya omongan dia!" seru Gita.
Gita membayangkan apa yang di ucapkan pemuda itu barusan, dia jadi senyum-senyum sendiri tidak jelas. Untung tidak ada orang lain yang melihat, jika ada mereka pasti mengira Gita sudah tidak waras.
🥀🥀🥀
Rasa lelah setelah menjalani kuliah beberapa jam lamanya, Gita memilih untuk kembali ke apartemen. Soal pekerjaan dia sudah meng-handle tadi sebelum berangkat ke kampus, dan akan memeriksa laporan dari anak buahnya nanti saat di apartemen.
Saat memasuki gerbang apartemen, seorang satpam yang sangat dikenalnya menghampirinya.
"Ada apa Tuan Philip?" tanyanya pada satpam itu.
"Nona, ada seseorang yang menunggu Nona, dia menunggu cukup lama, sekitar dua jam lebih," ucap tuan Philip.
__ADS_1
Gita mengernyitkan dahi, siapa yang datang ke apartemennya hingga mau menunggu selama itu. "Siapa dia Tuan? Laki-laki atau perempuan?" tanya Gita penasaran.
"Seorang gadis, mungkin seumuran Nona. Sepertinya dia orang baru, karena tadi saat masuk ke sini dia terlihat bingung, akhirnya saya menghampirinya. Sekarang dia ada di ruangan satpam, saya suruh tunggu di sana. Mari saya antar menemuinya." Tuan Philip berjalan lebih dahulu diikuti oleh Gita.
Gadis itu tidak bisa menebak siapa yang datang, seorang gadis seumuran dengan dia. Siapa kira-kira? Dan apa tujuannya ke tempat ini, hingga rela menunggunya? Ah entahlah, lihat dulu siapa dia, apa mengenalnya atau tidak?
"Silakan Nona, dia ada di dalam." Tuan Philip mempersilakan Gita untuk masuk, dan dia pun mengikuti di belakang.
Gita terkejut saat melihat seseorang yang sangat dia kenal, duduk di sebuah kursi, menatapnya dengan senyuman penuh luka. Entah kenapa dia merasa senyuman itu menyiratkan banyak luka yang di pendam.
"Gita," lirih gadis itu, lalu beranjak mendekat ke arah Gita, memeluk erat gadis tersebut.
"Salma." Gita membalas pelukan sahabat yang selama setahun ini tak diketahui kabarnya. Bingung kenapa gadis ini bisa berada di London? Lalu siapa yang memberi alamat apartemennya?
"Are you ok?" tanya Gita sambil melonggarkan pelukannya supaya bisa melihat wajah gadis ini.
Salma mengangguk, tapi Gita sangat yakin jika gadis ini sedang tidak baik-baik saja.
"Ayo naik ke unit ku, kamu terlihat kelelahan." Gita membawakan koper milik Salma sambil menggandeng tangan gadis itu, meninggalkan ruang satpam. Sebelumnya dia sudah berpamitan dengan Tuan Philip.
"Kamu pasti masih jet lag, sekarang bersihkan dulu badan mu, lalu istirahat. Aku akan buat makan malam untuk kita." Gita mengantar Salma menuju kamar yang beberapa waktu lalu di tempati oleh Indra.
"Makasih Git, kamu masih mau menerima ku setelah apa yang dilakukan Abangku ke kamu, kamu benar-benar perempuan luar biasa." Salma kembali memeluk sahabatnya itu, merasa bersalah atas apa yang dilakukan abangnya.
"Lupakan itu, aku tidak pernah marah sedikit pun dengan mu, sebab aku yakin semua yang terjadi itu sudah takdir, kamu enggak perlu merasa bersalah. Sekarang mandilah." Gita melepaskan pelukan tersebut, membiarkan Salma masuk ke dalam kamar mandi.
Gita pun memutuskan untuk mandi, setelah itu dia ke dapur untuk masak makan malam, meskipun sebenarnya tadi dia sudah makan di kampus, tapi tak mungkin membiarkan Salma kelaparan bukan? Dia tahu Salma pasti belum makan sejak tadi.
Selama memasak, pikirannya terus tertuju pada Salma yang terlihat murung, apa sebenarnya yang terjadi pada sahabatnya itu? Tapi dia tidak mau menanyakan saat ini, biarlah Salma beristirahat terlebih dahulu.
.
__ADS_1
.
🥀🥀🥀🥀