Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Gavin Sanjaya


__ADS_3

"Loh adek ku udah besar banget sih? Ganteng lagi, kalo bukan adek pasti udah Kak Gita gebet." Gita menepuk pundak Revan berulang kali dengan pelan, tak menyangka Revan yang dia kira masih sekolah menengah pertama itu sudah sedewasa ini, padahal Gita tidak tahu saja jika adiknya sudah masuk kuliah semester satu.


Revan tersenyum, dia bingung harus mengatakan apa, sebab yang dia tahu Kak Gitanya ini sedang amnesia, melupakan beberapa memori penting beberapa tahun terakhir ini.


"Kamu udah punya pacar belum? Tapi ganteng gini masak belum punya pacar sih?" Gita masih mengomentari penampilan Revan yang hampir menginjak dewasa ini, menatap kagum adik tirinya itu.


"Mana boleh sama Mama, kak," jawab Revan apa adanya, dia memang dilarang pacaran oleh sang Mama, dan pemuda itu menurutinya sampai saat ini, entah nantinya bagaimana dia tak tahu, sebab saat ini sedang jatuh cinta dengan seorang gadis.


"Gitu ya? Lagian kamu masih kecil, nanti kalo udah tujuh belas tahun kalo mau pacaran," ucapan Gita membuat Revan tersenyum tapi senyuman yang penuh rasa iba. Gita masih saja menganggap dirinya anak kecil, padahal terlihat jelas postur tubuhnya sudah menandakan jika dia sudah dewasa.


Pagi ini, sebelum berangkat kuliah Revan menyempatkan diri datang ke rumah sakit untuk menjenguk sang Kakak, tak tega rasanya melihat sang Kakak seperti ini, ingin sekali dia mengembalikan ingatan Kak Gita saat ini juga, tapi itu tidak mungkin dilakukannya.


Ceklek


Pintu ruangan tersebut terbuka, nampaklah Mama Sita dan Papa Renaldy di susul oleh dua pemuda yang tak Gita kenal, keduanya menatap Gita, hingga membuat gadis itu sedikit risih mendapatkan tatapan seperti itu. Dia mengernyitkan dahi saat merasa tak asing dengan salah satu pemuda itu, wajahnya mirip dengan dirinya sendiri, tapi dia siapa. Dan satu lagi adalah pemuda yang sama saat semalam dia terbangun dari tidur panjangnya.


"Mereka berdua mau jengukin kamu Nak," ucap sang Papa seakan mengerti apa yang Gita pikirkan.


Gadis itu hanya mengangguk, bingung harus mengatakan apa, sebab dia sama sekali tidak mengenal mereka berdua.


Cukup lama kedua pemuda itu berada dalam ruang perawatannya, tapi mereka berdua seakan enggan mendekat, hanya duduk di sofa, dan sesekali melirik ke arahnya. Gita tak mau ambil pusing, sepetinya mereka hanya rekan kerja sang Papa yang sengaja datang untuk membahas pekerjaan, karena Papa tak akan datang ke kantor.


"Mah, Karin kok enggak ke sini ya? Biasanya dia paling cerewet kalo aku sakit gini," celetuk Gita masih di dengar oleh tiga pria berbeda generasi tersebut.

__ADS_1


"Karin sibuk sayang, nanti dia juga ke sini," bohong Mama Sita, sebab dia tidak pernah mengetahui kabar gadis itu sudah sejak lama, entah dimana gadis itu sekarang? Demi kebaikan Gita biarlah dia berbohong.


Gita mengangguk mengerti, mungkin Karin sedang sekolah dan tak mungkin meninggalkan sekolahnya. Pikir gadis itu.


"Kamu istirahat lagi ya, biar cepet sembuh." Mama Sita membatu gadis itu berbaring, lalu menyelimuti tubuh Gita hingga ke dada.


"Ma, ponselku mana? Aku mau telpon Gavin, dia udah tahu kalau aku di rumah sakit, kan Ma?" pertanyaan Gita itu membuat semua orang yang ada di sana sempat terkejut, tapi setelahnya mereka hanya bisa menghela nafas.


Berbeda dengan Indra, pemuda itu memegang dadanya saat mendengar nama yang dikenalnya, nama pemuda yang pernah menjadi kekasih Gita dimasa gadis itu masih duduk di bangku SMA. Dan kenapa harus nama pemuda itu yang Gita sebut bukan yang lain? Jika nama lain mungkin Indra tidak akan merasakan sesak di dadanya.


Gavin adalah teman sekolahnya, dimana Indra dan teman-temannya sering berseteru dengan Gavin dan genknya. Bahkan perseteruan itu berlanjut hingga mereka kuliah, dan entah sejak kapan perseteruan itu tak lagi terjadi.


"Ponsel kamu rusak Nak, Papa belum sempet beli yang baru, setelah ini ya Papa belikan." Papa mendekat ke arah putrinya itu, dia juga tak menyangka jika Gita menanyakan tentang Gavin.


Hafidz yang baru mengingat siapa Gavin, dia hanya bisa menepuk pundak Indra pelan, mencoba memberi kekuatan pada pemuda itu.


"Gavin itu bukannya rekan kerja kita, kan? Kalau kamu punya nomor telepon nya, bisa hubungi dia." Titah Papa pada Hafidz, pemuda itu hanya mengangguk mengiyakan.


"Nanti aku sama Indra akan datang langsung ke kantornya Pa, semoga dia bisa membantu." Putus Hafidz, bukan tanpa sebab Hafidz ingin langsing mendatangi kantor Gavin, dia ingin pemuda itu tidak memanfaatkan keadaan adiknya yang sedang sakit.


Indra dan Hafidz memilih untuk pergi ke kantor Gavin saat ini juga. Indra sebenarnya tidak mau, tapi Hafidz terus memaksa dan meyakinkannya jika semuanya akan baik-baik saja.


"Kenapa enggak kasih tahu Gita aja kalau dia kehilangan sebagian memorinya?" tanya Indra kesal. Hatinya yang sudah hancur karena Gita tak mengingat dirinya ditambah dengan adanya Gavin, pasti akan membaut hatinya makin hancur lebur.

__ADS_1


Hafidz menggeleng, "Belum saatnya Gita tahu, dia masih sangat lemah Ndra, Lo harus sabar sebentar saja, nanti kalau Gita sudah lebih baik, kita akan katakan semuanya. Kata Papa saja, Gita akan langsung pusing jika mengingat orang-orang terdekatnya saat ini, makanya tadi gue milih enggak deketin dia dulu, takut tambah drop," jawabnya tanpa menoleh ke arah Indra, sebab fokus dengan jalanan yang lumayan padat.


Indra menghela nafas kasar, lalu mengangguk. Dia akan bersabar sebentar saja, demi Gita.


"Lo tenang aja, Gavin enggak bakalan berani macam-macam, tiga puluh persen saham perusahaan keluarganya milik Mama, dan selama ini gue yang selalu jadi wakil Mama saat rapat para pemegang saham," ujar Hafidz terpaksa memberitahu akan kekayaan yang dimilikinya pada Indra, supaya sahabatnya ini lebih tenang.


Indra tentu tercengang mendengar ucapan Hafidz, ternyata Mama Sinta memiliki banyak aset, yang tentu saja saham itu nantinya akan menjadi milik Hafidz dan Gita.


"Tapi dia itu licik Fidz," Indra tetap merasa khawatir dengan Gita, jika kembali bertemu dengan lelaki itu.


"Lo tenang aja dulu, gue pastiin dia enggak bakalan bisa berbuat kelicikan itu, ya meskipun kita harus tetap waspada." Hafidz menoleh ke arah Indra sekilas, dia melihat raut wajah penuh kekhawatiran pada pemuda itu. Meskipun dirinya juga khawatir, tapi tak separah Indra. Dia jadi tahu jika sahabatnya ini benar-benar mencintai kembarannya sepenuh hati.


Keduanya sampai di sebuah perusahaan yang baru pertama kali Indra datangi, mereka langsung di antar ke ruangan Gavin, sebab resepsionis sudah mengenal wajah Hafidz yang beberapa kali datang ke kantor tersebut.


Di depan ruang kerja Gavin, mereka lebih dulu mengetuk pintu ruangan tersebut, sebab sekretaris Gavin sepetinya sedang tidak berada di ruangannya.


"Masuk!" ucap seseorang dari dalam ruangan tersebut.


Hafidz membuka pintu ruangan itu dengan hati-hati, disambut senyuman oleh Gavin, tapi senyum pemuda itu memudar saat melihat seseorang yang dia kenal berdiri dibelakang Hafidz. Tatapan matanya tertuju pada pemuda yang berdiri dibelakang Hafidz itu, tatapan penuh selidik.


.


.🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2