
Gita sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi, masih malas bertemu dengan Salman, meskipun sebenarnya dia juga merindukan pemuda itu, tapi egonya lebih tinggi, membuatnya terpaksa bersikap cuek. Mungkin hampir satu jam Gita berendam di bathtub, tapi dia tetap santai saat memilih pakaian dan sebagainya.
Saat sampai ruang keluarga, Gita melihat Salman sedang berbicara lewat telepon, gadis itu menunggu sampai Salman menyelesaikan pembicaraannya.
"Kenapa enggak ke rumah sakit? Kalau memang sedang dibutuhkan, kamu pergi aja, aku enggak masalah kalau kita enggak jadi pergi." Terlihat sekali Gita masih belum memaafkan pemuda itu dari cara bicaranya.
Salman menghela nafas menyadari jika Gita masih marah dengannya, meskipun mau menerima kehadirannya saat ini. "Enggak sayang, hari ini waktuku hanya untukmu. Sudah siap, kan? Ayo kita pergi sekarang." Salman meraih tangan gadis itu, tentu Gita tak menolaknya.
"Kamu pengen kemana?" tanya Salman saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Terserah," jawab Gita tanpa menatap si penanya, sebab dia sibuk melihat jalanan yang mereka lewati.
"Ke rumah pohon?" tanya Salman meminta persetujuan.
"Enggak, selain itu,"
Salman menyebutkan beberapa tempat, tapi jawabannya selalu sama, padahal tadi Gita mengatakan terserah, yang artinya menurut Salman, Gita akan mengikuti kemana pun dia mau, tapi nyatanya Gita tidak setuju dengan semua pilihannya. Membuat pemuda itu kesal, tapi dia langsung sadar awal dari semua ini adalah kesalahannya.
Akhirnya Salman memutuskan mengajak Gita ke rumah pohon, dia ingin berbicara berdua tanpa ada yang mengganggu tentunya. Meskipun dia sudah menebak jika gadis itu akan bertambah kesal saat diajak ke tempat ini lagi, tapi biarlah dia percaya Gita pasti akan memaafkannya sebentar lagi.
"Kok ke sini? Aku kan udah bilang enggak mau ke sini." Protes Gita saat menyadari mobil Salman berhenti di parkiran dekat rumah pohon, sebab sejak tadi dia sibuk bermain ponsel.
Tapi lihatlah, meskipun protes gadis itu sudah lebih dulu turun dan meninggalkan Salman begitu saja. Bahkan Gita langsung naik ke atas rumah pohon itu tanpa menunggu Salman.
Cukup lama Gita berdiri melihat sekeliling hutan pinus itu, tapi Salman belum juga muncul, membuatnya mendengus berulang kali. Akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah pohon tersebut, duduk di dekat jendela, tempat kesukaannya saat berada di rumah minimalis diatas pohon ini.
"Lama banget sih? Ngapain aja tuh orang? Ngeselin! Huhf," gumamnya.
"Apa aku keterlaluan ya? Tapi gimana lagi, aku kesel banget, disaat aku nungguin kehadirannya, dia malah asik sama cewek lain. Ngeselin banget! Tau gini tadi tidur di rumah aja." Gita terus meluapkan kekesalannya dengan gumaman tidak jelas.
Salman tersenyum saat mendengar beberapa gumaman gadis itu, dia menyadari satu hal, jika Gita memang cemburu. Bukannya membuat dia waspada, tapi dia justru bahagia. Itu artinya Gita sudah memiliki rasa yang sama dengannya.
__ADS_1
"Aku minta maaf ya, tadi beli minuman sama beberapa makanan di minimarket depan sana." Salman ikut duduk di sisi gadis itu yang kini menatap luar jendela.
"Iya," jawab Gita singkat tanpa menoleh ke arah pemuda itu.
Salman mencoba untuk bersabar menghadapi Gita, padahal sejak tadi dia sudah sedikit kesal karena terlalu lama menunggu gadis itu mandi. Bahkan dia sudah menyusul ke kamar Gita, tapi ternyata kamar itu di kunci, membuatnya kembali ke ruang keluarga, menunggu Gita dengan sabar.
Salman meraih kepala Gita supaya bersandar di pundaknya, tangan kirinya meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. Gita memberontak, dia mencoba melepaskan diri dari pemuda itu, tapi sebenarnya hati kecilnya merasakan kenyamanan dalam posisi seperti ini.
"Lepas ih!" Gita berusaha melepaskan diri, tapi tetap tidak berhasil.
"Sayang, aku minta maaf soal kejadian beberapa hari yang lalu. Aku janji enggak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku juga janji akan datang ke acara wisuda kamu, kalau sampai aku enggak nepatin janjiku, kamu bisa marah," ujar Salman, berharap gadisnya ini luluh dan memaafkan kesalahannya.
"Hemm, iya," jawab Gita.
"Coba sini dong tatap mata ku, kalau kamu enggak mau berarti masih marah." Gita mendengus, tapi dia menuruti permintaan pemuda itu.
Keduanya saling menatap hingga beberapa saat, hingga Gita menyadari sesuatu, saat merasakan hembusan nafas pemuda itu menerpa wajahnya. Dia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Iya maaf." Salman tersenyum kikuk, merasa malu dengan apa yang sudah dia perbuat, ya meskipun niatnya belum tersalurkan.
Gita mengangguk, dia tersenyum melihat wajah pemuda itu yang terlihat salah tingkah. Dia teringat akan drama yang sering dia tonton, tentu saja menikmati saat adegan yang baru saja akan terjadi tapi gagal itu. Tapi dia tidak berharap itu terjadi saat ini bersama Salman, menurutnya hal seperti itu sudah tidak wajar dalam hubungan berpacaran.
Salman menarik tubuh Gita hingga berada dalam pelukannya, berharap bisa mengurangi rasa malu sebab telah lancang ingin melakukan hal itu.
"Maaf tadi hampir kelepasan, aku tidak akan melakukan itu sampai kita menikah," Gita mengangguk mendengar penuturan kekasihnya itu.
Cukup lama keduanya menumpahkan rasa rindu yang tertunda, sebab sebuah kejadian yang tak diinginkan beberapa hari yang lalu.
"Kak, aku haus." Gita melepaskan diri dari pelukan pemuda itu.
Mendengar ucapan Gita, Salman tersenyum. Sebab nada bicara gadis itu sudah kembali normal seperti biasa, itu artinya Gita sudah memaafkannya. Dia pun melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
Keduanya menikmati makanan yang tadi dibeli oleh Salman, sambil bercerita. Salman menceritakan saat dia seminar di luar kota, dan Gita tentu menceritakan saat ditinggal pemuda itu pergi, dan juga saat dia menghindari pemuda tersebut.
"Maaf ya sayang," ucap Salman.
"Iya udah aku maafkan. Udah enggak usah minta maaf lagi, aku enggak apa-apa, asalkan Kakak enggak mengulang kejadian yang sama. Kakak tahu, aku paling benci pengkhianatan," ujar Gita menekan kata terakhir.
"Kehidupan kedua orang tuaku penuh dengan pengkhianatan dan perselingkuhan, dan itu membuat aku terpisah sama Mama dan Bang Hafidz hingga belasan tahun. Itu alasan kenapa aku tidak suka dengan yang namanya pengkhianatan bahkan aku benci dengan orang yang melakukan hal itu." Gita mengingat bagaiman terpuruknya Mama, wanita itu sungguh tersiksa dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh saudara kandungnya sendiri. Tanpa terasa buliran bening menetes dipipinya. Dia mengusap dengan kasar buliran itu, sekarang mereka sudah bahagia dan tak perlu di ingat lagi hal menyakitkan tersebut.
"Kamu menangis? Kenapa?" Salman khawatir melihat gadis itu meneteskan air mata, dia mengira dirinyalah yang jadi penyebab runtuhnya kristal bening itu.
"Enggak Kak, aku cuma teringat Mama. Sudah lupakan, semua itu sudah terlewatkan, saat ini kita semua sudah bahagia dengan pilihan masing-masing," jawab Gita sambil tersenyum tak ingin membuat pemuda itu khawatir lagi.
Salman sebenarnya penasaran dengan kehidupan keluarga Gita, meski Gita pernah bercerita, tapi sepertinya gadis itu bercerita dalam versi singkat. Tapi dia tak punya banyak keberanian untuk menanyakan hal itu lebih dalam, takut Gita kembali menangis.
Deringan yang berasal dari ponsel Gita, mengalihkan keduanya dari pikiran masing-masing. Gita pun segera menerima panggilan itu.
"Aku lagi pergi sama Kak Salman, kenapa? Serius? Suruh dia masuk ke kamar ku, aku sebentar lagi pulang. Iya." Gita menutup panggilan itu, lalu meletakkan ponselnya ke dalam tas.
"Ada apa sayang?" tanya Salman sebab wajah Gita menyiratkan ada sesuatu yang terjadi.
"Kita pulang sekarang ya Kak, ada temanku dari Jakarta. Kasihan dia kalau nunggu lama di rumah. Enggak apa-apa, kan?" tanya Gita, dia takut pemuda itu keberatan jika mereka pulang di tengah hari seperti ini.
"Baiklah, kita pulang sekarang." Salman menyetujui.
"Kakak enggak marah, kan? Kata Bang Indra, temanku itu seperti sedang memiliki masalah,"
Salman tersenyum, "Enggak, kita bisa jalan lagi lain waktu. Mungkin temanmu itu juga sedang membutuhkanmu saat ini," jawabnya.
Akhirnya mereka berdua meninggalkan tempat penuh sejarah untuk keduanya tersebut, dengan hati yang berbeda dibanding saat datang tadi. Sebab kini keduanya telah mengikhlaskan sesuatu yang membuat mereka berjauhan.
🥀🥀🥀🥀
__ADS_1