Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Rumah Papa


__ADS_3

"Kalau kalian sama-sama cocok, kenapa enggak langsung nikah atau tunangan dulu gitu, daripada kelamaan pacaran," celetuk Papa Renaldy.


Dua insan itu saling tatap, lalu Gita mengangkat kedua bahunya seakan mengatakan, tidak tahu.


"Kalau saya siap aja Om, entah kalau Gita. Apalagi umur saya juga sudah tidak muda lagi," jawab Salman.


Seminggu berlalu, keduanya kini berada di Jakarta berkunjung ke rumah Papa Renaldi. Salman begitu bahagia saat mendapatkan sambutan ramah dari pria paruh baya itu. Dia langsung mengutarakan maksud dan tujuan mendatangi Papa dari kekasihnya tersebut.


"Kalau nikah aku belum siap Pa, masih pengen kuliah. Em, setidaknya setelah wisuda, itu waktu terdekatnya. Kalau tunangan, terserah Kak Salman aja lah, aku ngikut," jawab Gita, menatap dua laki-laki berbeda generasi tersebut secara bergantian.


"Nah tunangan dulu juga enggak apa-apa, mungkin beberapa bulan ke depan baru nikah. Gimana kamu siap tunangan sama Gita Minggu depan?" pertanyaan itu membuat kedua insan tersebut terkejut, tak menyangka jika harus secepat ini.


"Kok minggu depan sih Pa? Cepet bangat?" protes Gita.


"Saya siap Om," berbeda dengan Gita, Salman justru menyetujui permintaan Papa dari kekasihnya itu.


"Kak?" Gita menatap Salman, dia belum yakin dengan perasaanya sendiri.


"Tenang aja." Salman mengusap punggung tangan Gita, seakan mengerti dengan kegelisahan gadis itu.


"Baiklah, minggu depan kita tunangan, tapi enggak usah ngundang orang luar, cukup keluarga besar kita aja," pinta Gita dan langsung disetujui oleh Papa dan juga Salman.


Mereka kembali berbincang, hingga seorang wanita datang bersama seorang remaja. Bukan remaja itu yang membaut Salman terkejut, tapi wanita itu. Dia seperti...


"Udah lama Kak? Mau datang kok enggak kasih kabar ke Mamah, jadi Mamah enggak tahu. Maaf ya, Mamah baru belanja bulanan sama Revan." Wanita itu mencium kedua pipi Gita lalu ikut duduk di samping gadis itu.


"Iya Mah, enggak apa-apa. Aku juga belum lama datang," timpal Gita.


"Siapa? Pacar kamu?" tanya wanita yang dipanggil Mamah oleh Gita.


Gita pun memperkenalkan mereka berdua, dan ruang keluarga itu kini makin ramai dengan obrolan dua pasang yang berbeda usia tersebut.


"Kalian menginaplah di sini, besok hari minggu, kan? Lagian Gita juga udah lama enggak nginep si sini," pinta Mama Sita saat mereka makan siang bersama.

__ADS_1


Gita menatap Salman meminta persetujuan pemuda itu, sebab dia tahu Salman memiliki kesibukan yang tentu tak bisa ditinggalkan begitu saja, sebab pekerjaannya berhubungan dengan keselamatan nyawa seseorang.


"Kalau saya terserah Gita saja," jawab Salman.


Dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk menginap di rumah tersebut. Dengan Salman menempati kamar Hafidz, dan Gita, tentu saja menempati kamarnya sendiri yang telah lama dia tinggalkan.


"Ini kamar Bang Hafidz, Kakak bisa tidur di sini, kamarku sebelah kamar ini."


Salman mengangguk, saat Gita akan meninggalkan kamar tersebut Salman menariknya untuk tetap berada di kamar itu.


"Pinjam baju gantinya ada enggak?" tanya Salman.


Gita tersenyum dan merutuki dirinya sendiri sebab sudah berprasangka buruk pada kekasihnya itu.


"Maaf Kak, aku lupa. Ayo sini Kakak pilih sendiri." Gita mengajak Salman masuk ke walk in closet diikuti oleh Salman.


"Pasti kamu mikir yang enggak-enggak tadi, kan pas aku tarik? Hayo ngaku?" goda Salman saat Gita sedang membuka lemari yang berisi beberapa pakaian milik Hafidz.


"Atau sekarang mau yang enggak-enggak itu?" Salman makin gencar menggoda Gita, apalagi saat gadis itu terlihat malu-malu.


"Jangan macam-macam ya Kak! Udah ah, sana cari sendiri." Gita menutup kembali pintu almari tersebut, bukan marah tapi dia malu, sebab Salman bisa membaca pikirannya.


"Oke, oke aku minta maaf. Cariin bajunya yah. Aku enggak enak buka-buka barang milik orang lain." Salman kembali menarik tangan Gita supaya mencari baju ganti untuknya.


Setelah menemukan baju yang dimaksud, Gita tak langsung keluar kamar tapi memilih keluar menuju balkon, sebab Salman menanyakan sesuatu yang harus dia jawab. Tak mungkin kan jika mengajak Salman masuk ke kamarnya?


Keduanya bersandar di pagar pembatas sambil menikmati pemandangan jalanan komplek yang tak begitu ramai.


"Jadi Mama ku sama Tante Sita itu saudara kembar, makanya wajah mereka mirip banget, kan? Kalau bukan orang dekatnya mereka enggak bisa bedain, tapi kalau aku atau Bang Hafidz, bisa bedain mana Mama dan mana Tante Sita," jelas Gita saat Salman mempertanyakan wajah Tante Sita yang sangat mirip dengan Mama gadis itu, bedanya jika Mama kekasihnya itu berhijab tapi Tante Sita tidak, meski begitu mereka terlihat sama-sama cantiknya.


Salman mengangguk.


"Pasti penasaran kenapa bisa nikah sama Papa ku, kan?" tanya Gita saat melihat wajah kekasihnya yang sepertinya masih ingin bertanya, tapi enggan.

__ADS_1


Gita kembali menceritakan sedikit kisah hidupnya, tanpa menyebut penyakit yang Mama derita dan juga siapa yang mengasuh Hafidz waktu kecil. Sebab dia tak ingin menceritakan keburukan orang lain, biarlah itu sudah berlalu dan semuanya sudah saling memaafkan.


"Orang lain hanya bisa melihat dari luar, mereka kira kehidupan kamu sebagai anak sultan selalu bahagia, ternyata menyimpan banyak luka." Salman menyimpulkan semua cerita yang Gita alami sendiri sebelum seperti sekarang ini.


"Ya seperti itulah Kak, jika boleh memilih aku justru ingin hidup sederhana yang penuh cinta dari kedua orang tua, tapi ternyata kehidupanku tak semulus pundi rupiah yang mengalir setiap saat tanpa kendala," cetus Gita.


Salman menarik bahu gadis itu, dia menepuk pelan bahu tersebut, "Semua manusia memiliki porsi kehidupan masing-masing, bahkan kita tidak bisa memilih untuk jadi seperti ini atau seperti itu. Tuhan tahu yang terbaik buat kita," ucapnya.


Gita tersenyum menatap pemuda itu yang ternyata juga menatapnya, ada rasa bersalah saat melihat senyum kekasihnya itu, sebab dihatinya masih ada lelaki lain, meskipun sedikit demi sedikit dia sudah bisa menerima kehadiran pemuda dihadapannya ini.


"Kenapa?" tanya Salman saat tatapan Gita berubah sendu.


"Maafin aku ya Kak. Kenapa aku tadi sempat protes saat Papa menyuruh kita untuk tunangan, karena aku sangat merasa bersalah sama Kakak yang udah tulus mencintaiku, tapi aku? Aku bahkan tega sama Kakak, karena hatiku masih di isi nama lain, meskipun aku sudah bisa menerima kehadiran Kakak, tapi tetap saja aku jahat sekali sama kamu, Kak." Tanpa terasa buliran bening meluncur dari sudut mata indah Gita, dan Salman segera menghapusnya.


"Kamu enggak usah pikirkan hal itu, aku yakin suatu saat hatimu akan dipenuhi oleh namaku, percayalah. Aku sudah bilang, kan? Yang terpenting kamu tetap di sisiku, saat ini itu sudah cukup." Salman menghapus air mata itu lalu memeluk kekasihnya dengan sayang.


Bukan tak sakit hati atau marah, dia sebenarnya juga sakit dan ingin marah, tapi itu semua dia kesampingkan, sekarang misinya membuat Gita jatuh cinta padanya, sebab dia yakin cinta itu pasti akan tumbuh, meskipun melalui berbagai macam proses.


"Inilah yang membaut aku makin merasa bersalah Kak, Kakak begitu tulus menyayangiku," ucap Gita dalam pelukan kekasihnya.


Salman melonggarkan pelukan itu tanpa melepasnya, sebab dia ingin melihat wajah Gita, "Sudah enggak usah bahas itu lagi, kita bahas yang lain. Bahas pertunangan kita, misalnya," ucapnya tak ingin membuat Gita sedih.


"Em, baiklah. Tapi sebaiknya kita mandi dulu ya, kita lanjut nanti ngobrolnya," timpal Gita yang sebenarnya ingin melepaskan pelukan itu, sebab dia malu, apalagi mereka saat ini berada di balkon yang sangat terlihat jelas jika ada tetangga lewat.


"Yaudah yuk kita mandi bareng." Salman menarik tangan Gita untuk masuk ke dalam kamar.


Gita menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Salman, dia menatap tajam pemuda itu yang justru terkekeh bukannya takut.


"Beneran kita mandi bareng sayang, aku mandi si sini kamu mandi di kamar sebelah, kan bareng secara bersamaan maksudnya. Kamu sih pikirannya ke arah sana melulu," ucapnya sambil terkekeh.


Gita menghela nafas berat, kemudian keluar kamar tersebut tanpa sepatah kata pun, sebab dia sudah merasakan jika wajahnya memanas, karena lagi-lagi salah bicara. Apalagi tadi, saat Salman memanggilnya dengan kata 'sayang' rasanya begitu memalukan.


🥀🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2