
Seorang gadis berjalan santai menikmati udara di belahan benua lain yang baru pertama kali dipijak. Meski begitu gadis ini begitu percaya diri, melangkah dengan anggun. Rambut panjangnya dibiarkan terurai hingga beberapa helai beterbangan tertiup angin, tinggi semampai dengan sepatu berhak tinggi tak membuatnya tenggelam dari kerumunan penduduk asli negeri ini.
Udara yang segar membuatnya sedikit melupakan peliknya kehidupan asmara yang dia lalui. Padahal sebelum berangkat dia masih menangis dalam pelukan sang Mama, bahkan jika diijinkan dirinya akan menarik sang Mama masuk ke dalam jet pribadi Papanya, tapi itu tidak mungkin, sebab Mama memiliki kewajiban lain. Dia tersenyum ketika mengingat saat itu.
Gadis itu tersenyum saat mendapati seseorang yang dia tunggu sejak tadi, rela menunggu hampir satu jam lebih, mengabaikan ajakan sang Papa yang terburu karena sudah ditunggu rekan bisnisnya.
"Abang!" serunya berlari menuju seseorang yang sangat dia rindukan. Rindu kasih sayang dan cintanya yang tulus tanpa mengharap imbalan apa pun, tak sama seperti beberapa pemuda yang mendekatinya karena alasan yang sangat tak di sukai.
Pemuda yang memiliki garis wajah sama, perbedaanya hanya tinggi dan postur tubuh saja. Semua orang yang melihat mereka berdua pasti sepakat mengatakan jika mereka kembar dan memang itu adanya.
"Hei, jangan bar-bar gitu dong! Apa kamu lupa sepatu seperti apa yang kau pakai?" pemuda itu menggelengkan kepala saat gadis itu menubruk tubuhnya, mengabaikan koper yang sejak tadi dia seret.
"Kangen," ucapnya masih memeluk erat pemuda itu.
"Abang juga kangen, tapi enggak selebay ini sampai nangis segala?" pemuda itu yang tak lain adalah Hafidz tentu membalas pelukan saudara kembarnya.
"Loh kenapa makin kencang nangis nya? Why? Apa yang terjadi?" keharuan itu berubah menjadi rasa khawatir saat tangis gadis itu makin menjadi.
"Ayo kita pulang sekarang, kamu bisa ceritakan semuanya nanti." Hafidz melepas pelukan itu, meraih koper yang tergelatak tak jauh dari mereka kemudian membingkai tubuh gadis itu dengan salah satu tangannya. Keduanya berjalan menuju taksi yang sudah menunggu sedikit lama.
Hafidz memang belum mengetahui semua yang terjadi sebelum Gita datang ke negara ini. Gita sengaja tidak memberitahu lewat telepon, dia ingin menyampaikannya secara langsung.
"Jangan bilang nangis karena rindu sama Mama?" tebak Hafidz saat mereka sudah masuk ke dalam taksi.
Gita mengangguk, "Salah satunya itu, apalagi kalau inget wajah Mama, rasanya aku enggak tega ninggalin Mama sendirian." Mengusap air mata yang kembali luruh saat teringat akan Mama tercinta.
"CK, cuma dua minggu ini. Nanti kumpul lagi," protes Hafidz sebab adiknya itu hanya pergi liburan.
"Siapa bilang cuma dua minggu?" Gita menatap Hafidz yang terlihat bingung dengan ucapannya.
__ADS_1
"Aku sudah memutuskan untuk mengikuti jejak mu Bang, menerima permintaan Papa untuk melanjutkan kuliah di sini. Kayaknya akan menyenangkan," Gita tersenyum membayangkan memiliki banyak teman baru, apalagi jika itu bule-bule cantik yang sering dilihat di kota Bali.
"Serius!" Hafidz terkejut, dia sadar pasti ada yang disembunyikan oleh adiknya itu, sebab sebelumnya Gita menolak keras permintaan sang Papa, apalagi saat sudah memiliki tunangan, tak mungkin kan mereka akan LDR terlalu lama?
Gita mengangguk sebagai jawaban.
"Yah, LDR dong? Kasian?" Hafidz mengacak rambut Gita membuat gadis itu makin cemberut.
"Ish, bernatakin kan jadinya," protes gadis itu.
Tak terasa mereka pun sampai di apartemen Hafidz, pemuda itu menarik koper milik Gita, membiarkan adiknya itu mengikuti langkah lebarnya. Beberapa orang yang mengenal Hafidz terlihat menyapa saat mereka berpapasan.
Apartemen milik Hafidz termasuk salah satu apartemen mewah dan luas tentunya, memiliki satu kamar utama dan dua kamar lainnya. Tak lupa ruang tamu, ruang keluarga dan juga dapur bersih dengan peralatan mutakhir terpasang nyata di sana. Gita tahu dapur itu pasti selalu digunakan oleh pemilik apartemen ini. Puas melihat dapur, dia pun langsung menuju kamarnya.
"Papa sering menginap di sini Bang?" tanya Gita melihat sekeliling kamar itu.
Sedangkan Hafidz memilih merebahkan diri diatas tempat tidur, lelah sebab seharian beraktifitas tanpa henti.
"Sebenarnya apa yang terjadi Dek?" tanya Hafidz lembut, membuat gadis itu menghela nafas lalu ikut duduk di sisi ranjang.
"Banyak yang terjadi," jawab Gita memulai kisahnya.
🥀🥀🥀
Dua hari ini Indra terlihat tak bersemangat bekerja, dia tak banyak bicara, bahkan saat rekan kerjanya menggoda dia tak ambil pusing dan tak membalas godaan itu. Dia merasa separuh hatinya telah pergi menjauh, meski dia pun menyetujui ucapan gadis itu yang mengatakan 'ini yang tebaik Bang' tapi buat dirinya hal ini bukanlah yang terbaik, melainkan hal yang menyesakkan.
Pagi itu sebelum sarapan, Gita mengajaknya mengobrol di tempat biasa mereka berdua duduk bersama, ruangan di depan kamar mereka berdua.
"Bang, aku udah mutusin buat lanjut kuliah di sana, jadi ini bukan sekedar liburan, lebih tepatnya penyesuaian diri sebelum mulai belajar di sana," ucapan Gita membuatnya terkejut, dia tak bisa berbuat apa-apa selain mengikhlaskannya.
__ADS_1
"Wah bagus dong, biar makin pinter dan tambah pengalaman," ucapan dan hatinya berbeda pendapat kali ini, jika ucapannya merasa bahagia berbeda dengan hatinya yang bergejolak, belum siap ditinggal pergi gadis ini. Apalagi sejauh itu, bagaimana nanti jika ada yang naksir dengan gadis itu? Rasanya dia tak mampu membayangkan, apalagi jika Gita membalas rasa tersebut.
"Itu salah satu alasannya, tapi alasan terpenting bukan itu, ingin menikmati suasana baru dengan perasaan dan hati baru juga," Gita tersenyum membayangkan bagaimana kehidupan di negara itu.
Indra mengangguk tak lupa memberi semangat pada gadis itu, meski di dalam palung hati terdalamnya menginginkan gadis itu tetep berada di sini.
"Indra woy!" seru Mbak Salsa mengejutkan pemuda itu dari lamunannya.
"I, iya, ada apa Mbak?" tanyanya tergagap.
"CK, ngelamunin apa si Ndra? Mbak dari tadi panggil kami enggak nyaut-nyaut."
"Maaf Mbak, sedikit kurang enak badan," bohongnya, bukan badannya yang kurang fit, tapi hatinya yang terasa kosong.
"Kalau gitu enggak jadi deh, buat dikerjain Adi aja." Mbak Salsa kembali ke tempat duduknya membuat Indra mengerutkan kening, bingung apa yang terjadi.
"Kalau kurang enak badan, istirahat aja Ndra. Jangan dipaksain buat kerja," ucap Mbak Salsa, membuat Indra mengangguk.
"Iya Mbak, sebentar lagi selesai, kok,"
Hari ini Indra benar-benar memilih pulang lebih awal, sebab dirinya benar-benar sakit, seluruh tubuhnya terasa lemas dan menggigil, meski suhu tubuhnya sebenarnya naik. Mungkin efek hampir tiga malam ini dia sulit tidur, sebab memikirkan akan terpisah lama dengan Gita. Tak bisa lagi melihat senyum manis gadis itu, dia pasti sangat merindu dengan semua yang ada dalam diri gadis itu.
Saat sakit seperti ini, dia teringat Gita yang waktu itu rela tidur di kamarnya hingga pagi. Tapi sayang waktu itu dia belum menyadari rasa cintanya itu, jika sudah mungkin dia akan mengungkapkan saat itu juga.
"Kau itu benar-benar gadis luar biasa, begitu baik seperti Mama, yang mudah memaafkan seseorang yang telah menyakitinya. bahkan kamu melarang semua orang di sekitarmu untuk tidak menyakiti lelaki brengsekkk itu. Kalau tidak ingat akan janjiku sudah ku pastikan lelaki itu akan babak belur," gumam Indra mengingat akan ucapan Gita.
"Semoga kamu selalu bahagia." Indra mendekap guling seakan guling itu adalah Gita yang akan menerima respon dari pelukannya. Tapi sayang dia hanya bisa membayangkan saja.
.
__ADS_1
.
🥀🥀🥀🥀