
Minggu pagi Gita berencana untuk pulang ke rumah Mamanya yang dulu, rindu dengan kamarnya yang damai tanpa ada gangguan si kampret Riky dan juga Indra yang selalu memperlakukan dirinya dengan sangat baik, tentu saja itu tidak sehat untuk jantungnya.
Rencananya sebelum pulang dia ingin berjalan-jalan dengan kedua sahabatnya, kemana lagi kalau tidak ke pusat perbelanjaan.
Tok Tok Tok
Gita mengetuk kamar Indra, dia merasa harus berpamitan dengan pemuda itu, takut Indra mencarinya.
Pintu terbuka, tampaklah seorang pemuda dengan wajah bantalnya, tak lupa rambut yang acak-acakan, bukan membuat Gita risi tapi dirinya justru terpana akan penampilan Indra yang seperti itu, menurutnya ketampanan Indra makin bertambah. Ternyata benar, cinta itu membuat orang bodoh, lihat saja penampilan Indra yang berantakan seperti ini justru membuat Gita terpesona, berbeda jika orang lain yang melihat, mereka pasti akan risi dengan penampilan pemuda itu.
"Baru bangun Bang?" Gita tak ingin lama-lama menatap wajah pemuda itu karena akan membuatnya makin tenggelam dalam pesona pemuda tersebut.
"Iya tadi habis subuh tidur lagi, ada apa?" tanya Indra dengan suara parau dan itu terdengar sek*si di telinga Gita.
"Maaf Bang aku ganggu ya?" menyesal sebab sudah membangunkan pemuda itu.
"Enggak kok, ada apa?" tanyanya.
"Aku mau menginap di rumah Ibu Bang. Mama bilang di Surabaya masih lama, jadi aku milih ke rumah Ibu aja. Aku cuma mau pamitan, takut Abang cari nanti kalo enggak pamitan," jawab Gita, tak menjelaskan alasan sebenarnya pulang ke rumah Mama nya yang lama, yang kini ditinggali Bu Nurul.
"Biar ku antar, tapi tunggu bentar aku mandi dulu." Indra akan masuk kembali ke kamar, tapi urung saat Gita kembali berbicara.
"Enggak usah Bang, aku mau jalan sama temen-temen dulu, aku akan bawa mobil sendiri," tolaknya.
Tapi sepertinya Indra tetap kekeuh ingin mengantar gadis itu, "Enggak apa-apa, sekalian ikut jalan boleh kan? Daripada di rumah sepi, enggak ada kamu enggak ada yang diajak ngobrol. Tunggu di bawah ya, aku mandi dulu, paling lama seperempat jam." Indra masuk ke dalam kamar tanpa mendengarkan ucapan Gita.
Gita menghela nafas berat, niatnya pergi ke rumah Mama untuk menghindari Indra dan juga Riky tentunya, tapi lihatlah Indra malah membuntutinya. Bagaimana dia bisa move on kalo seperti ini terus?
Tidak sampai lima belas menit Indra sudah berjalan ke arahnya, pemuda itu terlihat lebih rapi dan tampan tentunya dengan pakaian kasual, jaket denim yang melekat pada tubuhnya menambah keren penampilan pemuda itu.
Padahal sering kali Gita melihat penampilan Indra yang seperti itu, tapi entah kenapa sekarang terlihat lebih keren. Segera mengalihkan pandangannya saat Indra sudah berada di dekatnya, menyentuh dada yang terasa berdebar-debar saat melihat penampilan Indra seperti itu.
__ADS_1
"Ayo berangkat! Siap jadi sopir seharian buat adik tercinta," ucap Indra, tak tahukah dirinya jika seseorang yang berjalan di sampingnya sedang menahan gejolak hati yang tak menentu, ingin rasanya berteriak mengungkapkan apa yang dia rasa saat ini, tapi itu tak mungkin.
Indra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju pusat perbelanjaan, dimana Gita dan kedua sahabatnya akan bertemu.
Selama perjalanan Gita terdiam menetralkan detak jantungnya yang tak teratur, tapi saat Indra bertanya tentu saja dia akan menjawab, meskipun jawabannya lebih banyak singkat dan padat.
Setengah jam berlalu keduanya sudah berada di depan mall, dan ternyata Salma dan Alya sudah berada di mall tersebut. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki mall, menuju sebuah kafe dimana Alya dan Salma berada.
Saat memasuki kafe tersebut Gita dibuat terkejut sebab adanya seseorang yang tak ingin dia temui lagi.
"Kamu jajian sama dia?" tanya Indra menyelidik, dia juga terkejut mendapati sahabat lamanya yang sudah tak dia anggap lagi.
Ditanya seperti itu entah mengapa membuat Gita takut, takut Indra mengira dirinya memang ingin bertemu dengan Taka. Yah, pemuda itu adalah Taka, orang yang tak ingin Gita temui.
"Enggak Bang, aku enggak tahu kalau ada dia di sini," jawabnya.
Tanpa disangka Indra merangkul bahunya berjalan dengan santai menemui kedua sahabat Gita yang ternyata berada satu meja dengan Taka. Mendapatkan perlakuan seperti itu Gita sedikit senang, dia berharap Taka mengira jika dirinya dan Indra berpacaran dan membuat pemuda itu menyerah untuk mengejarnya.
Sedangkan pemuda yang masih setia merangkul bahunya itu menatap Taka dengan tatapan tak terbaca, keduanya saling tatap dengan tatapan membunuh.
Sedangkan kedua sahabat Gita tampak terkejut melihat Gita begitu mesra dengan Indra. Indra dan Gita tampak serasi bak sepasang kekasih. Gita yang cantik dan anggun berpasangan dengan Indra yang tampan dan keren. Tak menyangka jika di foto dan aslinya sangat berbeda jauh, ternyata Indra terlihat lebih tampan aslinya dari pada foto.
"Ma, ayo ikut gue bentar!" Gita menarik tangan Salma.
"Bang, tunggu bentar ya. Aku mau ke sana dulu," pamit Gita pada Indra yang sudah duduk di dekat kekasih Salma.
"Lo ngapain sih bawa dia? Kenapa enggak hilang dari tadi kalo ada dia Ma? Males banget gue ketemu sama dia," Gita kesal sebab hadirnya Taka ditengah-tengah mereka.
"Gue juga kagak tahu Git, tadi dia datang bareng Kak Fajar. Gue sebenarnya mau ke sini sendiri tapi Kak Fajar maksa untuk nganterin, katanya mumpung libur. Eh, tahunya Kak Fajar bareng Kak Ryan," jelas Salma merasa bersalah sebab Gita terlihat terganggu dengan hadirnya Taka.
Gita berdecak, apa maksud Taka berusaha mendekati dirinya lagi? Bukankah dulu sudah selesai dan tamat, tidak akan ada lanjutan semisal extra pertnya, enggak akan ada sama sekali.
__ADS_1
"Pantesan Lo gamon, Bang Indra Lo cakep gitu, Kak Fajar aja lewat jauh. Kalian itu serasi banget tau enggak sih? Keliatan kalau dia sayang banget sama Lo Git, tapi entah sayangnya seperti apa gue enggak ngerti, tapi keliatan kalo Bang Indra itu sayang sama Lo," Salma menatap Indra dari kejauhan, dia mengagumi pemuda itu.
"CK, ayo kembali, kasian Alya ditinggal sama cowok-cowok." Gita kembali menarik tangan Salma yang terus menatap Indra kagum.
Gita memilih duduk di sisi Indra, dia mengabaikan Taka yang terus menatapnya dan Indra bergantian. Mereka semua terlihat canggung, mungkin karena belum saling mengenal. Obrolan di meja itu di dominasi oleh ketiga gadis tersebut, tanpa mengikut sertakan para cowok.
Indra yang biasanya ramah dengan orang baru kali ini terlihat cuek sebab hadirnya Taka diantara mereka. Jika tidak ada pemuda itu, Indra pasti sudah membuka suara sejak tadi.
"Bro kerja apa kuliah?" Fajar memecah suasana canggung diantara tiga cowok itu.
"Kerja, Lo sendiri?" Indra balik bertanya. Mereka berdua tampak mengobrol dan saling berkenalan, tapi Taka tak sedikit pun menyahutnya.
"Dia Ryan temen kerja gue di rumah sakit," ucap Fajar.
Indra mengangguk, "Gue udah kenal," ucapnya tanpa melihat ke arah Taka.
Kini Fajar mengerti kenapa keduanya saling menatap dengan tatapan permusuhan, ternyata mereka saling mengenal dan jatuh cinta pada gadis yang sama. Tapi sialnya temannya itu kalah dengan pemuda yang bernama Indra ini. Pikir Fajar yang tak tahu menahu tentang Indra dan Gita.
"Bang, aku mau shoping sama mereka. Abang tunggu di sini aja atau mau ikut?" tanya Gita pada Indra.
Taka mengumpat dalam hati mendengar ucapan Gita yang terkesan manja dengan Indra. Mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, berharap emosinya terkontrol melihat mereka berdua seperti itu. Mereka sengaja memamerkan kemesraan dihadapannya, ini tak boleh terjadi, dia pasti akan merebut Gita kembali.
"Di sini aja, nanti kalau udah selesai telpon Abang ya." Ujarnya sambil mengacak rambut Gita dengan gemas.
Perlakuan Indra itu tak luput dari tatapan semuanya, terutama Taka yang dibakar api cemburu. Dengan gerakan cepat Taka berdiri meninggalkan tempat duduknya.
"Gua cabut Jar." Ucapnya sambil berlalu.
🥀🥀🥀🥀
Jangan lupa like dan komennya yah
__ADS_1