Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Akhir Kisah


__ADS_3

Setelah dipertimbangkan dengan matang, akhirnya Gita dan Indra memutuskan untuk pulang ke Indonesia menjenguk sang Papa, semua pekerjaan Indra dia serahkan pada Jhon suami Lucy, tentu saja mereka sama sekali tidak keberatan, bahkan Lucy yang membiayai kepulangan mereka semua, sebab Nathan ikut serta di sana.


Perjalanan yang cukup melelahkan ini kembali mereka rasakan setelah sekian lama tak mereka rasakan, rindu dengan tanah kelahiran pun makin menjadi saat burung besi yang mereka tumpangi sudah memasuki langit Indonesia.


Mereka pulang tanpa memberi kabar siapapun, sengaja ingin memberi kejutan sebenarnya, tapi mereka harus sedikit merasa kecewa saat sampai di rumah Papa.


"Serius? Sejak kapan Papa di bawa ke Singapur? Kenapa kamu enggak ngasih tahu?" tanyanya pada Revan sang adik.


"Baru tiga hari yang lalu sih. Mama sengaja enggak ngasih tahu Kakak, takut kalian khawatir," jawab Revan.


Gita menghela nafas berat, dia secepatnya harus ke Singapura untuk menjenguk sang Papa, tapi jika dia melanjutkan perjalanan dalam waktu dekat tentu merasa kasihan dengan tiga bocah yang menyertai mereka.


"Mamah kebiasaan, yaudah nanti kita nyusul ke sana, tapi enggak hari ini juga. Aku pengen ketemu Mama dulu." Gita rindu dengan wanita yang telah melahirkannya itu, jika saja dia tahu sang Papa sudah berada di Singapura, sudah pasti dia akan langsung ke Bandung menemui sang Mama.


"Sekarang kalian istrhat aja, kasihan tiga bocil itu, mereka kayaknya masih jetlag. Gue mau ke luar sebentar ada urusan." Revan berpamitan pada kakaknya yang baru saja datang, bukan maksud meninggalkan mereka tapi dia memang sudah memiliki janji dengan seseorang dan tak mungkin dibatalkan.


Gita menggiring tiga bocil itu untuk masuk ke sebuah kamar yang ada di lantai bawah, dia tak mau ambil resiko jika ketiga bocah itu harus tidur di lantai atas, takut mereka berlari kesana kemari dan naik turun tangga. Dia juga memutuskan untuk tidur di kamar tamu bawah saja, bersama tiga bocah itu. Meski begitu dia tetap melihat kamar yang menyimpan banyak kenangan di sana, kamarnya waktu masih gadis.


🥀🥀🥀🥀


Mendengar putrinya kembali ke Indonesia, Sinta bergegas ke Jakarta, dia pun rindu dengan putrinya itu. Meskipun dia sering mendatangi mereka di London, tetap saja rasa rindu itu selalu menemani dalam tiap langkahnya.


Hal yang pertama dia lakukan saat bertemu keluarga kecil itu, dia langsung mencium kedua pipi kedua bocah perempuan yang tak lain adalah Aline dan Alice, tak lupa pula melakukan hal yang sama pada Nathan. Sinta sudah menganggap Nathan juga cucunya, karena dia sudah seperti anak Gita, kemanapun selalu ikut dengan Gita dan Indra.


"Jangan tanyakan tentang Abang mu, jika dia sudah berniat untuk kembali, dia pasti kembali. Karena Mama pun tak tahu dimana dia saat ini, dia mengabari lewat telepon dan nomornya selalu berubah saat menghubungi Mama," jawab Mama Sinta saat mendapat pertanyaan dari Gita tentang saudara kembarnya.

__ADS_1


"Tapi apa dia tahu bagaimana kondisi Papa saat ini, Ma?" tanya Gita lagi.


Mama mengangguk, "Dia sudah tahu, Mama sudah memberitahu, tapi dia belum berniat untuk pulang. Biarkan saja, semua ini juga salah Papa mu. Kalau saja dia merestui pernikahan Abang mu, ini semua tidak akan terjadi," jawab Mama.


Gita bisa melihat sorot mata kesedihan dalam kedua bola mata sang Mama. Karena mereka harus kembali terpisah setelah belasan tahun terpisah dulu. Ibu mana yang tidak terluka saat melihat anaknya terluka, apalagi jika yang melukai adalah ayahnya sendiri.


"Sabar yah Ma, aku yakin kalau Mama yang meminta Abang untuk pulang, pasti Abang pulang Ma," Gita berharap sang Mama melakukan hal itu.


Mama menggeleng, "Tidak sayang, Mama tidak akan menyuruh Abang pulang, sebelum semuanya jelas. Mama tidak mau Abang mu kembali menderita," ucapnya.


Meski Gita tak begitu paham dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia berharap masalah itu segera berlalu dan mereka bisa kembali berkumpul seperti sediakala.


Dua hari di Jakarta, sudah cukup untuk Gita dan Indra beristirahat. Hari ini dia akan terbang ke Singapura hanya berdua saja, sebab tiga bocah kecil itu sudah ikut dengan Omanya ke Bandung kemarin. Awalnya Gita keberatan jika harus meninggalkan mereka bertiga, tapi karena putri kembarnya itu merengek untuk tetap bersama Oma, akhirnya dia menyerah dan menjanjikan pada putrinya untuk tidak rewel saat bersama sang nenek.


Perjalanan yang tak begitu lama dibandingkan perjalanannya tiga hari yang lalu. Hanya sekitar dua jam perjalanan udara, meraka pun sudah berada di negara yang luasnyaluasnya hampir sama dengan ibukota Jakarta itu, tapi negara itu sudah termasuk dalam daftar negara maju.


"Nanti sore kita ke rumah sakit sama-sama, sekarang kalian istirahatlah. Mama mau menyiapkan makan malam kita untuk dibawa ke rumah sakit," ucap Mama saat mereka sampai di dalam apartemen.


Tapi Gita tak tinggal diam, dia merasa tak butuh istirahat, akhirnya dia pun membantu sang Mama memasak. Mereka menghabiskan banyak kisah sambil memasak, membuat Mama sedikit lega karena ada teman bercerita dan berkeluh kesah, sebab selama ini dia hanya berkeluh kesah pada dirinya sendiri, tak mungkin mencurahkan isi hatinya pada Reva, meskipun Revan adalah anaknya tetap saja tak seheboh saat bercerita dengan sesama wanita.


Menjelang senja, mereka bertiga berangkat ke rumah sakit menaiki sebuah taksi, hanya beberapa menit saja mereka sudah sampai di rumah sakit tersebut. Gita tak sabar untuk bertemu dengan sang Papa.


Dari ambang pintu, Gita menatap wajah satu sang Papa dengan tatapan sendu, lelaki terlihat kurus dan wajahnya pun terlihat pucat, berbanding terbalik saat terakhir kali mereka bertemu. Tapi sebuah senyuman terbit dibibir kering lelaki cinta pertamanya itu.


"Papa, kenapa Papa jadi seperti ini?" Gita langsung menghampiri sang Papa dengan langkah tergesa, memeluk tubuh kurus itu dengan begitu erat. Air matanya tumpah membasahi baju rumah sakit yang dikenakan sang Papa.

__ADS_1


"Maafkan Papa ya Nak, dan terimakasih kamu sudah mau datang ke sini. Papa rindu sama kamu dan Abang mu. Tapi sepertinya Abang mu belum memaafkan Papa."


Perih sekali mendengar ucapan sang Papa, setelah dari tempat ini dia berjanji akan mencari Abangnya itu, meminta kembarannya tersebut untuk pulang menemui sang Papa.


Papa tak membiarkan putrinya larut dalam tangis, dia pun sengaja melepas pelukan, lalu tersenyum pada Indra. Kini bergantian dua lelaki beda generasi itu berhadapan, Indra mencium punggung tangan mertuanya dan duduk di tempat yang tadi Gita duduki.


Sedangkan Gita, duduk di sofa berdampingan dengan Mama Sita. Wanita itu mememluk putri sambungnya tersebut, sambil terus mengucapkan kata jika sant Papa akan sembuh dan baik-baik saja.


Malam menjelang, Gita melihat dua lelaki tercintanya sudah tertidur pulas, hanya dirinya dan sang Mama yang masih terjaga, padahal waktu masih sore, belum juga pukul dua satu malam, tapi Indra sudah terbuai dalam mimpi, mungkin suaminya itu kelelahan.


"Ma, aku pengen beli kopi, dimana ya?" tanya Gita pada sang Mama.


Mama pun memberitahu dimana letak cafe yang ada dalam rumah sakit tersebut.


Gita pun pergi ke cafe yang letaknya tidak terlalu jauh karena masih dalam area rumah sakit, dia percaya diri jalan seorang diri di malam hari, karena rumah sakit itu masih terlihat ramai. Usai membeli kopi, dia sengaja lewat jalan yang terlihat masih banyak orang berlalu lalang, dan saat di depan lobby, dia menatap seorang lelaki seumuran sang Papa, tapi wajah lelaki itu tak asing baginya. Lelaki itu duduk di kursi roda dengan selang infus di tangannya, dan seorang wanita muda mendorong kursi roda tersebut.


Dia mengingat wajah lelaki itu hingga sampai ruang perawatan sang Papa, tapi dia belum menemukan jawaban. Hingga saat dia melihat wajah sang suami yang ternyata sudah terkaga itu mulutnya menganga lebar karena terkejut.


"Ya ampunn! Bang, orang itu mirip kamu. Serius aku liat seorang Bapak-bapak, mirip banget sama kamu, plek sembilan puluh sembilan persen." Ucapnya antusias.


"Mana ada sih sayang? Kamu mungkin kelelahan hingga melihat orang wajahnya mirip dengan ku," Indra tak percaya, dia tak mau berfikir yang tidak-tidak, apalagi saat mengingat jika Papanya adalah orang dari negara tetangga yang tak tahu itu negara apa. Dan saat ini dia juga ada di negara tetangga, bukan?


Tapi ketidakpercayaan nya itu terjawab saat pagi hari dia dan Gita membawa Papa jalan-jalan ke taman dengan kursi roda. Dari kejauhan dia melihat seorang lelaki cukup berumur duduk di kursi roda dengan di dorong oleh seorang wanita muda. Bukan wanita itu yang jadi perhatiannya, tapi wajah lelaki itu yang mirip sekali dengan dirinya. Tidak, dia tak percaya, itu pasti hanya orang yang mirip saja, pikir nya.


Tapi lelaki dan wanita muda itu pun menatap Indra dengan tatapan tak percaya, karena wajah mereka yang sangat mirip, hanya yang membedakan kerutan di wajah saja.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀 TAMAT 🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


__ADS_2