Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Sepatu


__ADS_3

Hubungan Gita dan Salman makin dekat sejak pertama kali mereka pergi berdua, dan tempat pertama mereka pergi itu kini menjadi tempat favorit Gita. Tak jarang saat libur dia dan kedua sahabatnya pergi ke tempat itu meski tak ada Salman, mereka akan menghabiskan waktu di sana dengan tugas kuliah dan skripsi. Pernah juga mereka menginap di rumah pohon itu, tapi mereka hanya melakukan sekali saja sebab trauma, jika malam hari tempat itu akan makin sepi.


Hubungan Gita dengan Indra jangan di tanya, pemuda itu saat ini justru lebih banyak menghindari Gita. Entah apa alasannya, bahkan sekarang Indra jarang pulang ke rumah atau kalau pulang sudah larut malam.


Sedangkan hubungan Gita dan Riky masih tetap sama, Riky yang selalu jahil dengan Kakak tirinya itu. Tapi kini Gita pun seringkali membalas kejahilan Riky, meski pemuda itu seringkali marah-marah ketika dia balik mengerjai.


Seperti saat ini, gadis itu akan berangkat ke kampus, tapi saat keluar kamar tak mendapati satu sepatunya yang akan dia pakai. Tentu Gita sudah bisa menebak siapa pelakunya, sudah pasti Riky si adik sialan. Tanpa permisi Gita masuk kamar pemuda itu yang ternyata tidak di kunci. Dia tahu Riky pasti sedang mandi, sebab seragam putih abu yang akan dikenakan masih tersusun rapi di atas ranjang. Mbak Yuni lah yang selalu menyiapkan itu semua untuk Riky.


Tanpa ba bi Bu, Gita langsung membawa seragam sekolah Riky dan memasukkan seragam itu ke dalam tas miliknya. Lalu keluar kamar menuju meja makan, dimana sudah ada Mama dan Papi Luky, dan Indra.


Gita mengernyitkan dahi saat melihat ada Indra di meja makan, tak bisanya pemuda itu ikut sarapan. Tapi dia memilih untuk abai. Menurutnya itu lebih baik untuk hatinya, sebab sampai saat ini rasa itu masih sama, meskipun dia dekat dengan Salman sudah hampir tiga bulan lamanya.


"Riky enggak kamu ajak sekalian?" tanya Mama saat Gita akan duduk disampingnya.


"Kayaknya dia masih mandi, jadi aku tinggal," jawab Gita.


Tak berapa lama terdengar suara teriakan Riky dari arah lantai dua, Gita menahan senyum mendengar teriakan pemuda itu. Sudah pasti Riky sedang mencari seragamnya.


"Mbak, Mbak Yuni! Dimana seragamku?" suara itu makin mendekat ternyata Riky sudah menuruni anak tangga.


Mama menghampiri Riky yang terlihat sedang mencari Mbak Yuni. "Tadi Mama yang bawa ke kamar kamu, udah di sana Mama yang naroh di kasur, emangnya enggak ada?" tanya Mama yang sama-sama bingungnya pasalnya dia sendiri yang menaruh seragam Riky sebab Mbak Yuni sedang belanja.


"Enggak ada Ma!" jawab Riky.


Pemuda itu hanya mengenakan boxer dan kaos dalaman berwarna putih, sambil menyongsong tas sekolahnya.


"Masa sih? Coba Mama cek dulu, kamu sarapan aja sana nanti telat." Mama sebenarnya ingin tertawa melihat penampilan Riky, tapi sebisa mungkin menahannya, takut anak tirinya itu marah.


Berbeda dengan Mama, Gita terbahak saat melihat penampilan Riky, bukan hanya Gita bahkan Papi Luky pun ikut tertawa sambil menggelengkan kepala hanya Indra yang tersenyum masam melihat penampilan adiknya itu.


"Lo mau sekolah atau mau cosplay jadi pelawak?" tanya Gita masih dengan tawanya.

__ADS_1


Pasalnya Riky sudah mengenakan sepatu meski hanya memakai boxer dan singlet saja. Sepatu berwarna putih dengan tali sepatu berwarna hijau di sisi kanan sedangkan sisi kiri tali sepatunya berwarna kuning, entah sengaja atau gimana tidak tahu.


"Mana seragam gue Kak, gue tahu Lo yang nyembunyiin kan? Gue denger tadi Lo masuk kamar gue!" Riky tak memperdulikan ucapan Gita, sebab dia tahu Gita pelaku sesungguhnya.


"Mana gue tahu, dibawa kucing kali, seragam Lo kan bau ikan asin," cibir Gita.


"CK, awas ya gue bales!" bisik Riky setelah duduk di dekat Kakak tirinya itu.


Gita hanya menggidikan bahu acuh, "Lo ngerjain gue, gua akan bales ngerjain Lo!" batinnya.


Mama kembali dengan raut wajah bingung pasalnya tidak menemukan seragam putranya itu. "Mama cari seragam yang lain dulu ya, siapa tahu yang kemarin kamu peka udah kering," ucap Mama, tapi Gita mencegahnya merasa kasihan dengan sang Mama.


"Enggak usah Ma, biarkan aja dia sekolah pake kaya gitu, aku jamin dapat penghargaan dari gurunya," ucap Gita asal.


"Kamu itu, kasian adikmu. Hari ini dia latihan ujian, kalau sampai enggak berangkat kan sayang,"


"Akun yang umpetin Ma, dia rese ngumpetin sepatu ku sih. Makanya aku balas," cetus Gita membuat Mama langsung menatapnya tajam.


"Nih, gue balikin. Mana sepatu gue?" Gita meletakkan seragam itu di pangkuan Riky.


"Ada, gue masukin mesin cuci," jawab Riky enteng.


"Ma sepatuku! Sepatu itu pemberian dari Kak Salman dan baru ku pake sekali, pasti bakalan rusak. Tau gitu seragamnya enggak aku balikin." Gita beranjak dari duduknya meninggalkan sarapan yang baru tersentuh beberapa sendok, tujuannya kali ini ke belakang mencari sepatunya.


Indra yang melihat Gita begitu kecewa karena sepatu itu, entah kenapa dia merasa tak suka. Apalagi Gita menyebut nama dokter tersebut dihadapannya.


Riky menunduk saat tatapan mata elang sang Papi menembus relung hatinya, dia sudah tahu akan seperti apa nasib dirinya selanjutnya. Kartu ajaib yang baru diterima dua bulan lalu sudah pasti akan kembali berpindah tangan. Dan sekarang nasibnya pasti akan lebih buruk, Gita yang biasanya memberi tambahan uang jajan kini pasti akan marah besar. Dia tak tahu jika sepatu itu pemberian dari dokter berkacamata yang selalu menjemput Kakak tirinya.


Gita kembali ke ruang makan dengan wajah cemberut, lalu berpamitan tanpa menghabiskan sarapannya. Tepat saat dirinya keluar dari pintu pagar, mob Salman berhenti dihadapannya.


Tanpa menunggu di suruh, Gita langsung membuka pintu mobil dan masuk tanpa sepatah kata pun, wajahnya masih ditekuk, membuat Salman penasaran apa yang menyebabkan Gita cemberut sepagi ini.

__ADS_1


Di sisi lain, Indra melihat Gita masuk ke dalam mobil Salman, rasanya tidak rela seperti sebelum-sebelumnya, tapi dia bisa apa? Melarangnya? Tidak mungkin sama sekali, sebab Mama Sinta sendiri sudah memberi restu pada mereka. Ya, Salman datang ke rumahnya bertemu dengan Mama Sinta, mengatakan jika ingin mengenal putrinya lebih dekat, dan Mama menyetujuinya.


Indra hanya bisa menghela nafas, merasakan sesak di dada. Tapi dia tak tahu rasa apa yang dia alami saat ini? Cemburu kah? Atau hanya perasaan khawatir saja, entahlah.


Salah satu alasan Indra jarang pulang ke rumah, dia tak mau melihat interaksi antara Gita dan dokter itu, terlalu menyesakkan dada dan membuat moodnya hancur, pekerjaan pun akan terasa berat jika moodnya sudah tidak baik.


"Tumben sepagi ini sudah badmood? Ada apa?" tanya Salman setelah melajukan mobilnya kembali.


Gita menghela nafas dalam, "Maaf Kak, sepatu yang waktu itu sudah rusak. Gara-gara Riky," ujarnya.


Salman tersenyum sebab tak ingin membuat Gita merasa bersalah, "Tidak masalah, kita bisa beli lagi. Kenapa ribut lagi sama dia?" tanyanya.


Gita pun menceritakan kejadian pagi ini yang membuat moodnya hancur.


"Sudah jangan cemberut lagi, cuma sepatu aja. Masih bisa dibeli," cetus Salman mencoba menenangkan gadis itu.


"Aku merasa enggak enak aja sama kamu Kak, apalagi sepatu itu oleh-oleh dari luar negeri," ujar Gita.


"Tidak masalah, nanti kalau aku ke Singapur lagi, janji deh aku beliin lagi buat kamu. Kalau perlu lima pasang sekaligus," ucap Salman.


"Ih enggak usah Kak, ngerepotin aja," tolak Gita.


"Buat kamu, aku enggak pernah merasa direpotkan, jadi kamu jangan sungkan ya," sahut Salman.


Gita hanya mengangguk, setelah itu dia berpamitan sebab mereka sudah sampai di depan kampus Gita.


"Nanti makan siang aku kabari, kalau aku enggak sibuk kita makan bareng," ucap Salman setelah Gita keluar dari mobil dan gadis itu hanya mengacungkan ibu jari tanda setuju, dan langsung berlari menuju ruang kelasnya.


Salman menggelengkan kepala melihat tingkah Gita yang seperti itu, gadis itu benar-benar bisa menempatkan sikapnya dalam situasi yang berbeda. Dan dia makin mengagumi gadis itu.


🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2