Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Meta dan Devin.


__ADS_3

Hafidz melangkah mendekati Gita yaang kini sedang berbincang dengan keluarga Salman sepertinya, sebab dia tak mengenal mereka. Mungkin para sepupu ruangan adiknya itu, sebab mereka terlihat seumuran dengan Gita.


Hafidz masih mengenakan masker yang menutup wajahnya, dia langsung memeluk Gita tanpa sepatah kata pun, membuat semua yang ada di sekitar mereka mengernyitkan dahi bingung. Hafidz berharap Gita juga seperti mereka, bingung dan memaksa melepaskan pelukan itu. Tapi nyatanya harapan tak sesuai kenyataan, sebab gadis itu justru membalas pelukannya erat.


Hafidz berdecak dalam hati, sebab surprise kali ini gagal total.


Tapi respon yang diberikan lelaki yang dia tahu sebagai tunangan adiknya itu sungguh luar biasa, sebab dia melihat Salman mengepalkan tangannya erat bahkan memaksa melepaskan pelukan itu.


Tapi lihatlah Gita justru kembali memeluknya, membuat Hafidz tersenyum. "Maaf Kak, biarkan aku memeluk dia sebentar, aku merindukannya," ucap Gita dalam pelukan Hafidz.


Tentu saja Salman makin bingung. Minat itu Hafidz langsung melepas maskernya dan tersenyum, tak ingin membuat Salman salah sangka lebih lama.


"Dia selalu seperti ini, bahkan umur kita sama tapi dia selalu merasa jadi anak kecil nan manja kalau dengan ku," ucap Hafidz membuat Salman salah tingkah, sebab sudah cemburu dengan saudara kembar tunangannya itu.


"Maaf, aku tidak tahu. Gita bilang kamu tidak bisa pulang. Tadi saya pikir kamu seseorang yang mencintai Gita, atau mungkin masa lalu Gita," cetus Salman.


"Tentu saja aku seseorang yang mencintai gadis manja ini," sanggah Hafidz.


"Kamu kok bisa tahu kalau ini Abang sih dek? Padahal Abang sengaja pake parfum Deril," tanya Hafidz setelah melepaskan pelukan itu.


"CK, bahkan Abang mau pake parfum cewek pun aku tetap hafal. Abang lupa kalau kita itu kembar, yang namanya saudara kembar pasti memiliki ikatan batin yang kuat," jawab Gita.


"Iya deh iya. Betewe Abang enggak mau dikenalkan sama tunangan kamu, terus sama mereka juga?" Hafidz melihat sekeliling dimana ada beberapa anak muda yang terus menatap mereka berdua.


"Ah iya, Kak kenalin ini Abang kembar ku, Bang Hafidz, yang sering aku ceritakan." Hafidz dan Salman saling berjabat tangan.


"Jadi kalian berdua sering gosipin Abang dong?" Hafidz pura-pura cemberut saat mengatakan hal tersebut.


Gita hanya mendelik mendengar pertanyaan Kakak kembarnya itu. Setelah itu dia kembali memperkenalkan Hafidz pada semua saudara Salman, termasuk Salma dan Alya yang memang ada di sana.


"Keren ya Sal, gue mau deh jadi Kakak ipar Gita," bisik Alya tepat di telinga Salma.

__ADS_1


"Iya Lo nya sih mau, tapi apa Hafidz mau sama Lo?" cibir Salma.


Alya hanya berdecak sebal, sebab sahabatnya itu memupuskan harapannya. Alya kembali berdecak saat saudara sepupu Salma juga memuji ketampanan pemuda itu, bahkan selain tampan Hafidz terlihat ramah dengan mereka yang baru dikenalnya.


"Gita, Hafidz, kita pulang dulu ya. Besok sudah masuk kuliah, jadi kita enggak mungkin pulang malam, takut juga cuma berdua," tiba-tiba Meta dan Arum menghampiri mereka, kedua gadis itu baru saja menikmati hidangan yang disajikan.


"Kalian pulang bareng Deril sama Devin aja, mereka berdua pasti tidak akan keberatan, biar mereka yang nyetir seperti tadi pagi," usul Hafidz.


Gita mengernyitkan dahi mendengar ucapan Abangnya, "Jadi kalian berdua tadi ke sini bareng Abang?" tanya gadis itu.


Hafidz tersenyum, lalu mengangguk.


"Huhf menyebalkan," keluh Gita.


"Bentar Abang ke sana dulu, kalian semua silahkan nikmati hidangan yang sudah disediakan, aku tinggal dulu ya." Hafidz melangkah meninggalkan mereka semua diikuti dua gadis itu.


"Maaf ya Gita sayang. Kami berdua mendoakan yang terbaik buat sahabat terbaik kita. Jangan lupa undangannya." Meta dan Arum bergantian memeluk Gita, mereka mengucapkan selamat pada gadis itu.


"Indra buat gue aja ya, biar Lo bisa ceper move on," bisik Meta sebelum melepaskan pelukannya.


Ya, sebelum acara pertunangan ini, Gita menceritakan semuanya tentang perasaanya pada Indra dengan dua gadis itu. Dan Meta selalu saja menggoda, dengan mengatakan ingin mendekati Indra, tapi penolakan itu selalu terlontar dari bibir manis Gita.


Meta tertawa lepas meninggalkan gadis itu yang terlihat kesal, dia hanya becanda tapi Gita menanggapinya dengan serius. Meta sebenarnya tak habis pikir dengan keputusan Gita yang menerima bertunangan dengan lelaki yang belum dia cintai, tapi dia hanya bisa berdoa semoga Gita bahagia dengan siapapun nanti akan bersanding.


🥀🥀🥀🥀


"Gue percaya sama kalian berdua, pastikan mereka selamat sampai rumah tanpa kurang apapun," ujar Hafidz pada duo D, dia merasa bertanggungjawab pada kedua gadis itu, sebab dialah yang membawa Meta dan Arum ke Bandung.


"Jangan macam-macam, terutama Devin. Gue percaya kalo sama Deril, tapi enggak sama Devin," sambung Indra yang juga ikut mengantar mereka ke parkiran.


"CK, enggak percaya amat Lo sama gue Ndra. Santai aja Meta bakalan selamat sampai rumah tanpa kurang apa pun," sanggah Devin.

__ADS_1


"Lagian aku juga ogah kalo sama Bang Devin," ujar Meta membuat mereka tertawa.


Akhirnya mereka pun kembali ke Jakarta bersama, Devin satu mobil dengan Meta menggunakan mobil gadis itu dan Deril bersama Arum dalam mobilnya. Bukan tanpa alasan Meta memilih bersama Devin, dia takut Arum yang sedikit pendiam itu akan mudah termakan omongan Devin yang tengil dan jangan lupakan jiwa cassanova pemuda itu. Deri, pemuda itu memang sering kali menikmati one night stand bersama wanita bayarannya, tapi dia yakin Deril tak akan memanfaatkan Arum.


Meta memang mengetahui kehidupan mereka berdua, karena berulang kali dia tak sengaja bertemu keduanya di klub malam bersama wanita bayaran.


"Lo juga tahu kalo Abang Lo juga sama kaya gue?" pertanyaan yang terlontar dari bibir Devin membuat Meta mendengus.


"Heem, tapi itu bukan urusan gue. Lagian dia juga bukan Abang gue," sanggah gadis itu.


"Iya iya, bukan Abang kandung tapi Abang tiri, sama aja, kan?" ternyata Devin mengetahui beberapa kisah kehidupan Meta.


"Itu dulu sekarang enggak lagi, Papa sudah cerai sama Mamanya dia," sanggah Meta.


"Oh, pantes gue udah jarang liat Lo di klub. Syukur deh. Pesen gue Lo enggak usah lagi datang ke klub, takut kaya waktu itu. Untung Lo ketemu sama gue, kalo enggak gue jamin Lo pulang sudah enggak perawan," ujar Devin membuat Meta berdecak.


Dia ingat, saat pertama kali datang ke tempat temaram itu. Saat itu dirinya sedang kalut dengan masalah yang menimpa keluarganya, sang Papa yang lebih membela Mama tirinya dari pada dirinya, bahkan tega mengusirnya dari rumah.


Saat itu dia bingung harus kemana? Ke rumah Arum, tak mungkin sebab gadis itu sedang keluar kota bersama keluarganya. Lahirnya dia memilih datang ke klub malam, dan untuk pertama kalinya dia menegak minuman memabukkan itu. Hingga di tak sadar dan saat bangun sudah berada di dalam kamar asing, dia bernafas lega saat mendapati pakaiannya masih utuh, itu artinya dia baik-baik saja.


Meta terkejut saat mendapati ternyata dirinya berada di apartemen Deril. Saat itu Deril menceritakan semuanya, jika Devinlah yang membawanya ke apartemen tersebut, saat dia mabuk di klub malam dan hampir saja dilecehkan sama lelaki tak dikenal. Sejak saat itu, dia tahu kehidupan dia pemuda itu, bahkan tak jarang mereka datang ke klub bersama, sebab dia percaya jika mereka berdua akan menjaganya.


"Harusnya Lo juga pensiun datang ke sana Bang, udah saatnya tobat, cari pasangan yang baik dan bangun rumah tangga. Supaya enggak jajan sembarangan," pesan Meta menatap Devin penuh permohonan.


"Harusnya iya, tapi siapa yang mau sama gue? Gue bukan orang kaya yang dengan mudah dapat pendamping hidup kaya Deril dan Hafidz,"


"Emang nikah harus kaya dulu ya? Enggak kan? Banyak tuh yang nikah terus mereka berjalan bareng dari nol, dan akhirnya berhasil. Malah kayaknya lebih seru, punya harta hasil kerja keras berdua,"


"Ayok, kapan Lo siap? Besok, lusa atau sekarang aja kita nikah setelah ini," celetuk Devin asal ceplos.


Meta memukul lengan pemuda itu cukup keras, setelah itu dia memilih untuk tidur, malas sekali berbicara dengan Devin yang selalu memiliki jawaban di luar harapannya.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


Maaf ya, sedikit meninggalkan Gita sebentar. Kita lihat kehidupan sahabatnya juga ya.


__ADS_2