Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Kisah Cinta


__ADS_3

Acara resepsi yang begitu mewah dihadiri oleh beberapa kolega yang berasal dari dalam dan luar negeri turut hadir dalam resepsi pernikahan seorang putri dari Renaldy Atmawijaya itu. Bahkan kedua orang tua Lucy pun turut hadir menyusul putrinya yang sudah berada di negara ini seminggu yang lalu.


Pengantin baru tersebut terlihat tak henti menyajikan senyum indah untuk tamu yang hadir. Semuanya mereka sapa dengan ramah tanpa memandang siapa yang hadir, tak terkecuali seorang perempuan yang beberapa saat lalu sempat membuat si pengantin wanita cemburu. Perempuan itu adalah Leoni, dia tak menyangka jika gadis yang dilihatnya tak sepadan dengan Indra ternyata salah besar, gadis itu adalah putri dari konglomerat yang memiliki beberapa perusahaan diberbagai daerah, bahkan salah satu perusahaan anak cabangnya bekerja sama dengan perusahaan keluarga Leoni.


"Selamat ya buat kalian, semoga langgeng dan lekas diberi seorang anak," dia tulus Leoni saat menjabat tangan kedua pengantin tersebut.


"Terimakasih Nona Leoni," jawab Gita dengan senyum manisnya. Tak ada rasa dendam atau benci dengan perempuan itu.


Leoni tersenyum, "Saya minta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu," ucapnya tulus dan Gita mengiyakan permintaan maaf gadis itu.


Hal yang sama pun terjadi pada seorang pemuda yang baru saja memasuki area ballroom hotel itu, dia terkejut saat melihat wajah sang pengantin wanita yang terpampang di depan pintu masuk. Rasa takut kini menyelimutinya, dia takut dengan ancaman gadis itu, yang dia kira hanya main-main tapi sekarang dia berfikir jika ancaman gadis itu akan menjadi bumerang untuknya. Apalagi mantan kekasihnya masuk rumah sakit setelah kejadian itu.


"Ah sial! Tahu gini gue tadi nolak ajakan bokap!" rutuknya, dia benar-benar tak ingin citra baiknya terhempas begitu saja, jika ancaman gadis itu terjadi. Saat ini dia ingin sekali bersembunyi di lubang semut saja, daripada bertemu dengan pengantin yang mengancam karirnya.


"Gandi ayo kita temui tuan rumah dulu. Kita harus terlihat, jika tidak akan sangat berbahaya bagi kemajuan bisnis keluarga kita." Sang Mama menarik paksa pemuda bernama Gandi itu.


Dengan perasaan tak menentu, Gandi pun mengikuti langkah kedua orang tuanya untuk bertemu si pemilik acara, siapa lagi jika bukan Ryan Renaldy, tapi untuk bertemu dengan pengantin sepertinya Gandi tidak akan melakukan hal itu.


Berbeda dengan Gandi, seorang pemuda menatap nanar wajah cantik yang selalu tersenyum diatas sana, penyesalannya makin menjadi ketika benar-benar melihat wajah cantik yang hampir dimilikinya itu. Sungguh penyesalan selalu ada dalam setiap kehidupan, seperti dirinya yang menyesal karena melepas mutiara indah itu demi batu kaca yang mengkilap tapi tak ada harganya.


Puk


Sebuah tepukan dipundak membuat pemuda itu menoleh.

__ADS_1


"Penyesalan memang akan selalu hadir, jika kita menentukan sesuatu dengan terburu. Kita sama Dok, menyia-nyiakan gadis yang begitu tulus mencintai kita, dan gadis itu orang yang sama. Dulu saya pernah menyesal, tapi sekarang saya bahagia melihat dia bahagia, bahkan rasa itu pun sudah tak lagi ada untuknya," ucap seseorang yang berprofesi sama dengan dirinya.


Pemuda itu mengangguk, "Kamu benar, saat ini saya memang harus bahagia melihat dia begitu bahagia dengan orang yang dia cintai dan mencintainya," ucapnya.


Dua pemuda itu adalah Salman dan Ryantaka, mereka sudah berbaikan bahkan kini keduanya bekerja di tempat yang sama kembali, dengan profesi yang sama sebagai seorang dokter bedah. Mereka berdua mendapatkan undangan dari orang berbeda, jika Taka atau Ryantaka mendapatkan undangan dari mempelai lelaki, berbeda dengan Salman yang mendapatkan undangan dari keluarga mempelai wanita, keluarga ya bukan dari mempelai wanita langsung.


Keduanya tersenyum ke arah sepasang kekasih yang baru saja hadir, mereka berempat duduk bersama dan mengobrol sebentar sebelum menemui pengantin di atas sana.


"Pasti nyesel kan Bang? Apa yang aku bilang dulu?" tuding Salma pada sang Abang.


Ya, yang baru saja hadir adalah Salma dan kekasihnya Fajar, entah alasan apa mereka kembali menjalin hubungan bahkan sebentar lagi juga menyusul Gita dan Indra.


Salman mengangguk, "Setidaknya Abang bisa belajar dari kesalahan masa lalu," ucapnya.


"Tapi apa Bang Salman enggak pengen tes DNA dulu, siapa tahu anak itu anak Abang. Kalau benar Abang pasti akan menyesal nantinya," sang calon adik ipar memberi saran, sebab dia bisa kembali dengan sang kekasih juga karena hasil tes DNA yang mengatakan bayi dalam kandungan gadis itu bukanlah darah dagingnya.


"Nah bener itu Bang," sahut Salma seakan memahami apa yang sedang dipikirkan oleh sang Kakak.


"Tidak usah bahas itu, saat ini kita sedang berada dalam acara pernikahan orang lain, bahas hal pribadi nanti di rumah. Sekarang kita temui pengantinnya." Salman berdiri lebih dahulu, meski sebenarnya dia malu bertemu dengan Gita, tapi dia tetap harus memberi selamat pada gadis itu.


Dan sambutan senyum bahagia dari dua mempelai membuat seorang Salman makin malu dengan mereka, dia yang sudah menyakiti tapi sambutan mereka tetap baik padanya.


Dua sahabat sedang berpelukan erat, sudah beberapa bulan mereka tak bertemu, terakhir saat Salma berkunjung ke London, dan itu sudah hampir setengah tahu lalu. Senyum bahagia keduanya terukir indah, mereka sama-sama saling merindukan satu sama lain.

__ADS_1


"Kamu hutang penjelasan denganku Salam," ujar Gita, dia ingin mendengar kisah hidup gadis itu hingga kembali bersama Fajar.


"Kamu juga, nanti kita atur jadwal pertemuan. Tapi setelah pernikahan ku ya, aku juga akan tinggal di Jakarta, Kak Fajar udah pindah di Jakarta sekarang," sambung Salma.


Gita begitu bahagia mendengar ucapan sang sahabat, itu artinya mereka akan sering bertemu karena berada dalam daerah yang sama.


Salman menatap keduanya penuh haru sekaligus penyesalan mendalam, sebab jika gadis yang kini menjadi mempelai wanita itu menjadi miliknya, dia akan sering mendengar tawa dua gadis itu, sebab mereka akan dipersatukan dalam ikatan keluarga. Ah, itu tidak akan terjadi, semuanya sudah berlalu dan nasi sudah menjadi bubur tak mungkin bisa dibuat menjadi nasi goreng.


"Kalian berdua harus datang pokoknya! Kalau perlu Gita harus nginep di rumahku barang semalam," ujar Salma sebelum meninggalkan kedua mempelai.


"Pasti datang, tapi untuk menginap jangan harap," Indra tak akan membiarkan istrinya kembali bertemu dengan dokter berkacamata itu, apalagi sampai mereka tinggal dalam satu atap, meksipun niat Gita tidur di rumah sahabatnya.


"Baiklah, aku mengalah sekarang." Salma meninggalkan mereka berdua, menyusul tiga pemuda yang lebih dahulu turun dan meninggalkannya.


"Apa kamu menyesal berpisah dengannya?" tanya Indra saat melihat Gita masih menatap mereka berempat, padahal bukan Salman yang dia tatap, tapi Salma.


"Abang cemburu? Jangan salah paham Bang, aku lihatin Salma sama Fajar, aku bahagia akhirnya mereka bersatu, setelah cobaan berat yang mereka hadapi. Untuk pertanyaan Abang, jawabnya tidak sama sekali, sebab di sisiku ada seseorang yang begitu tulus mencintai ku tanpa syarat." Gita tersenyum menatap sang suami yang terlihat salah tingkah saat dia puji.


"Gini aja udah salting, bagaimana malam pertama kita nanti Bang?" bisik Gita sengaja menggoda Indra meskipun dia malu sendiri dengan ucapannya.


"Eits, jangan salah. Kamu harus siap-siap nanti malam untuk itu." Indra mengedipkan sebelah matanya dan sukses membuat Gita salah tingkah dan muncul rona merah di wajahnya.


🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2