Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Sisi Lain Karin


__ADS_3

Selama beberapa hari di rumah Gita sering mimpi bertemu seseorang yang pernah dia lihat tapi tak dikenalnya, entahlah pertanda apa mimpi itu, rasanya aneh. Saat bertanya pada sang Papa, jawaban Papa hanya "itu kebetulan saja" selalu seperti itu jawabannya.


Disisi lain dia juga merasa heran dengan perubahan Karin, sahabatnya itu belum pernah sama sekali datang ke rumah setelah dia pulang dari rumah sakit, justru Meta yang hampir tiap hari datang menghiburnya. Dia seperti merasa ada hal yang disembunyikan oleh semua orang terdekatnya. Terbukti saat Meta pertama kali datang ke rumah, sepetinya gadis itu keceplosan mengatakan diantar suami, tentu Gita makin curiga.


Tentang buku bersampul biru itu, dia belum berani membuka kembali buku tersebut, sebab waktu itu kepalanya benar-benar pusing hingga sang Papa memberinya obat, dan membuat dia terlelap hingga pagi hari.


Hari ini dia ingin mencari informasi tentang sesuatu yang sepertinya disembunyikan oleh orang lain. Dia sudah janjian dengan Gavin disebuah cafe, Gavin sempat menolak, pemuda itu ingin mendatangi Gita saja, tapi Gita tak mau, dia ingin membicarakan hal ini di luar rumahnya.


Tak hanya dengan Gavin, dia pun membuat janji dengan Karin, berharap mereka berdua bisa membantu, tapi entahlah apakah mereka bisa membantunya atau tidak.


"Bik, aku pergi ya, nanti kalau Papa nyariin bilang aku pergi sama Gavin, diantar sopir kok," pamit Gita pada art di rumah itu. Pertanyaannya kenapa tidak berpamitan dengan Mama Sita? Sebab, dulu gadis itu memang tidak dekat dengan Mama Sita, wanita itu akan terlihat lembut saat ada sang Papa, tapi jika sang Papa tidak ada, wanita itu cuek sekali, bahkan terkadang tak menganggap kehadiran Gita. Itu dulu sebelum Sinta ditemukan.


Setelah berpamitan dengan Art-nya, gadis itu pun langsung pergi bersama sopir yang akan mengantarnya kemana pun. Untuk sampai di cafe tersebut, memang membutuhkan waktu cukup lama, bukan karena jaraknya yang terlalu jauh, tapi karena kemacetan ibu kota.


Gadis itu turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam cafe, sebab Gavin mengatakan jika dia sudah datang. Senyum yang selalu memabukkan buat siapa saja yang menatapnya kini terbit kala melihat seseorang yang telah menunggunya, orang itu pun membalas senyum gadis tersebut.


"Maaf, harus nunggu, tadi macet soalnya," ujarnya sungkan, sebab dia yang membaut janji dia juga yang datang terlambat.


"Tidak masalah, belum juga lima menit," Gavin tersenyum saat melihat wajah Gita yang terlihat sungkan.


"Kenapa harus ketemu di luar sih? Kamu kan masih sakit, aku bisa datang ke rumah sebenarnya?" tanya Gavin, dia khawatir dengan kondisi Gita yang memang belum pulih.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama kamu, tapi sebentar kita tunggu Karin, katanya hampir sampai." Gita melihat pesan yang baru saja masuk dan ternyata dari Karin yang mengatakan dia sudah berada di parkiran.


Tak lama Karin datang, dengan penampilan yang luar biasa, bahkan Gita menganga tak percaya melihat penampilan Karin yang seperti gadis dewasa, pakaian yang dikenakan gadis itu membentuk lekuk tubuh Karin dengan panjang dress diatas lutut, bahkan di bagian dada hampir terlihat belahan dada gadis itu. Seingatnya Karin tak pernah memakai pakaian seperti itu, gadis itu selalu berpenampilan tomboy, tapi kenapa sekarang berbeda?

__ADS_1


"Kalian udah lama nunggu ya? Gue tadi ada urusan sebentar." Karin duduk disalah satu kursi yang ada di sana bahkan sebelum kedua manusia itu mengijinkannya.


"Ah enggak, aku baru datang," jawab Gita.


"Ada hal penting apa sebenarnya?" tanya Karin tidak sabaran, entah gadis itu seperti terburu-buru saja.


"Kita pesan makan dulu, nanti setelah makan kita bicara," tutur Gita, menurutnya jika berbicara sebelum makan maka mereka sudah pasti tidak jadi makan.


Gita makin dibuat curiga, kala Karin terlihat cuek justru terus fokus dengan ponselnya, bahkan mengabaikan mereka berdua, tapi untung Gavin mengajaknya berbicara panjang lebar, hingga pesanan mereka datang dan mereka pun menikmatinya.


"Aku ke toilet bentar ya, kamu aku tinggal enggak apa-apa, kan?" ujar Gavin saat makanan mereka sudah habis.


"Iya enggak apa-apa, ada Karin juga," jawab Gita.


Setelah Gavin pergi, ternyata Karin juga ijin ke toilet, membuat Gita duduk sendirian, tapi tak masalah baginya. Hingga cukup lama dia menunggu, keduanya tak muncul juga, membaut dia berinisiatif untuk menyusul ke toilet, entah keputusannya itu benar atau salah, dia tak tahu.


"Bodoh! Harusnya Lo minta sebagian harta mereka untuk membantu gadis bodoh itu. Hari gini masih ada aja pekerjaan cuma-cuma." Karin, ya Gita mendengar dengan jelas jika yang mengucapkan hal sepeti itu adalah Karin sahabat tercintanya.


"Gue bukan Lo! Gue yang sekarang juga bukan Gue yang dulu, catet itu Rin. Dan gue ikhlas membantu keluarga Gita untuk kesembuhan gadis itu. Itung-itung sebagai permintaan maaf gue karena dulu pernah mempermainkannya," Gavin seakan tak percaya dengan perubahan seorang Karin, dulu gadis itu begitu menyayangi Gita, tapi kenapa sekarang justru sebaliknya.


Gavin, pemuda itu berubah menjadi seperti sekarang setelah kepergian sang Mama yang selalu menginginkannya menjadi laki-laki yang baik, bukan pemuda yang selalu membuat onar seperti dirinya. Penyesalan itu terjadi saat sang Mama sudah tidak tak bernyawa lagi karena dia belum menuruti keinginan sang Mama.


Gita memegang kepalanya yang terasa begitu pusing, bayangan masa lalu menerpanya seakan memenuhi seluruh otaknya. Ingin berteriak, tapi tak mungkin, akhirnya dia memilih untuk kembali ke meja yang tadi, menunggu dua orang itu datang.


Memejamkan mata sejenak, berusaha mengurangi rasa sakit di kepalanya, dia tak ingin membuat Gavin khawatir jika gadis terlihat tidak baik-baik saja seperti saat ini. Menghela nafas berulang kali, berharap rasa sakit di kepalanya segera berakhir.

__ADS_1


"Maaf lama ya," ucapan Gavin membuat Gita terkejut, sebab sejak tadi dia masih memegang kepalanya yang masih terasa pusing.


"Kamu kenapa? Pusing? Kalau pusing aku antar pulang saja, aku enggak mau terjadi sesuatu sama kamu," benar saj dugaan Gita, Gavin terlihat begitu khawatir saat melihat wajah Gita.


"Kenapa? Pusing lagi?" tanya Karin yang baru saja datang, tapi Gita tak menjawab masih teringat dengan jelas sepeti apa Karin.


"Aku pulang sendiri aja Vin, ada sopir yang menunggu di luar," ujar Gita, itu buka. alasan utamanya, sebab dia ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.


"Yaudah, aku antar sampai parkiran." Gavin menuntun Gita menuju parkiran, gadis itu tidak menolak sama sekali.


Karin, gadis itu pun ikut pergi karena orang yang membuat janji saja sudah pergi lebih dahulu, untuk apa menunggu, kan?


"Pak hati-hati ya, jangan ngebut," ucap Gavin pada sopir pribadi keluarga Om Renaldy.


"Siap den," jawab sopir tersebut.


Kini wajah Gavin beralih kae arah Gita, "Sampai rumah langsung istirahat ya, biar cepet sembuh," ucapnya lembut, mengusap puncak kepala Gita.


"Ah iya terimakasih, aku pulang dulu ya Vin," pamit Gita. Mobil yang ditumpangi Gita bergerak melesat meninggalkan parkiran cafe tersebut.


Setelah memastikan mobil itu sudah tak terlihat lagi, Gavin berniat untuk kembali ke kantor, masih ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan.


.


.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2