
Riky berulang kali memaksa untuk bertemu dengan Gita, tapi sang Papi terus melarang mengingat kondisi Gita yang masih hilang ingatan, tapi pemuda itu tak menyerah, kini dia membujuk sang Mama untuk menemaninya bertemu dengan Gita.
"Ma, aku pengen ketemu sama Kak Gita, pengen liat keadaanya, boleh, kan?" tanyanya pada sang Mama yang sedang menyiapkan sarapan pagi di dapur rumah Oma. Sang Papa sudah kembali ke Bandung kemarin sore, sebab harus kembali bekerja. Sedangkan dia dan Mama masih tetap di sini, menunggu kabar baik dari keadaan Gita.
Mama tidak langsung menjawab, berfikir sejenak bagaimana cara mereka berkunjung ke rumah sakit untuk melihat kondisi Gita, dengan dirinya saja Gita belum ingat, takut membuat kondisi Gita makin memburuk.
"Baiklah, nanti kita ke sana, ajak Oma juga. Mama juga sebenarnya kangen sama Kakak kamu," jawab Mam akhirnya membuat Riky lega, meski nanti Gita tidak mengenalnya setidaknya dia bisa melihat kondisi Gita saat ini.
Sekitar pukul sembilan pagi, Riky beserta Oma dan Mama benar-benar pergi ke rumah sakit. Mama menyembunyikan wajahnya menggunakan cadar, dia tak ingin membuat Gita memaksakan diri mengingatnya, suatu saat pasti Gita akan kembali mengingatnya lagi, dia harus bersabar akan hal itu. Mereka akan berkunjung ke sana sebagai teman Sita, meskipun menyakitkan untuk Mama, yang penting dia bisa mengobati rindunya dengan sang putri.
"Kita cukup menanyakan kabarnya saja, enggak usah bahas yang lain. Yang penting bisa melihat gadis cantik itu baik-baik saja," tutur Oma saat mereka sudah berjalan menuju ruang perawatan Gita.
Mengetuk pintu sebelum masuk, setelah dipersilahkan mereka pun masuk ke dalam ruang perawatan Gita, terlihat di sana ada Sita dan seorang pemuda yang tak mereka ketahui, Renaldy hari ini harus datang ke kantor karena ada klien dari luar kota yang ingin bertemu dengannya.
Sita menyapa mereka bertiga, setelah itu mengenalkan mereka bertiga pada Gita sebagai temannya.
"Gimana keadaan kamu sayang?" tanya Mama Sinta bergetar saat memandang wajah sang putri yang sama sekali belum mengenalnya.
Gita tersenyum lalu mengangguk, "Sudah lebih baik Tan," jawabnya.
"Dokter bilang besok boleh pulang, Mbak, tapi seminggu dua kali harus tetap kontrol," Sita menambahi meksipun dia sudah memberitahu sebelumnya lewat sambungan telepon tapi lebih baik menyampaikan secara langsung juga.
Riky hanya diam menatap Gita, rasa bersalahnya makin menjadi saat melihat kondisi Kakaknya itu, dia berperan penting dalam kecelakaan tersebut, dan membuat gadis itu seperti ini sekarang. Ah, benar-benar menyesal, jika saja waktu bisa diulang, dia tidak akan membawa Gita pulang bersama, biarlah gadis itu marah atau apa, dia tak peduli yang penting keselamatannya.
Riky memilih duduk di sofa dengan seorang pemuda yang mungkin seumuran Indra dan Hafidz, tapi dia bingung siapa pemuda itu, sebab tadi saat dirinya datang pemuda itu sedang menyuapi Gita buah.
"Hmm, anda siapa ya?" tanya Riky tanpa rasa takut.
__ADS_1
Pemuda yang sedang fokus dengan ponselnya itu mendongak menatap Riky dengan tatapan bingung, "Maksudnya?" tanyanya tak mengerti apa yang Riky maksud.
"Sejak kenal dan menjadi keluarga Kak Gita, saya belum pernah melihat anda," Riky menatap lekat pemuda itu, berfikir apakah pernah melihat pemuda itu sebelumnya? Tapi sepertinya belum pernah sama sekali.
Pemuda itu mengangguk, "Gue Gavin, pacarnya Gita." Dengan percaya diri penuh, Gavin mengenalkan dirinya sebagai pacar Gita, tentu saja Riky tak percaya, sebab saat ini Indra yang menjadi kekasih Gita.
"Jangan ngaco! Kak Gita itu kekasihnya Bang Indra, Lo pasti cuma ngaku-ngaku," hardik Riky dengan tatapan tajamnya.
Tapi Gavin tak melemah melihat tatapan tajam Riky, dia justru tersenyum miring mendengar fakta itu, meskipun sudah menduganya tapi belum yakin jika belum mendengar dari seseorang.
"Tanya aja Gita kalo Lo enggak percaya," Gavin tentu tak mau kalah begitu saja dengan pemuda yang duduk dihadapannya ini.
Riky menghela nafas kasar, saat menyadari jika kini Gita tidak mengingat Indra, mungkin yang Gita ingat pemuda di masa lalunya, dan dia yakin pemuda inilah yang menjadi masa lalu Gita.
"Lo jangan macam-macam ya sama Kak Gita, jangan berharap lebih. Kaka Gita sekarang memang enggak ingay siapa kita, tapi kalau ingatannya sudah kembali, gue yakin Lo orang pertama yang akan dia usir," Riky berdecak malas melihat tingkat percaya diri pemuda ini, sungguh rasanya ingin menguliti wajah pemuda itu.
Gavin pemuda itu sama sekali tak peduli dengan ucapan pemuda yang ada dihadapannya ini, yang menurutnya tak penting sama sekali. Dia siapa juga Gavin tak mau tahu, dia akan melakukan yang terbaik saat ini untuk Gita.
"Gavin, ini Riky adik sambung Gita. Kamu pasti enggak nyangka, kan?"
Gavin terkejut mendengar ucapan Tante Sita, sebab yang dia tahu Tante Sita ini adalah Mama dari Gita, tapi kenapa dia bilang kalau pemuda tengil dihadapannya ini adik sambung Gita?
"Maksudnya Tan, aku enggak ngerti?" tanyanya.
Tante Sita tersenyum, "Ceritanya panjang Vin, yang jelas Tante ini bukan Mama kandung Gita, tapi dia Mama kandung Gita." Tante menunjuk wanita berhijab itu dengan ekor matanya.
Gavin mengangguk, dia merasa tak perlu ikut campur terlalu dalam akan masalah ini. Saat ini yang terpenting dia sudah mengetahui siapa ibu kandung Gita, meski banyak sekali pertanyaan dalam benaknya, tapi dia memilih diam.
__ADS_1
"Tapi saat ini Gita belum mengingat Mamanya, sebenarnya Tante kasihan sama Mamanya," ucap Tante Sita sendu.
Gavin tak menyangka wanita yang duduk di sisinya ini kini telah berubah, tak seperti dulu lagi. Yang dia tahu dulu wanita ini sangat tidak suka dengan Gita, meskipun selalu bersikap manis saat berada di depan Gita, tapi dalam hatinya memiliki kebencian dan Gavin tahu akan hal itu, sebab Tante Sita pernah menyuruhnya untuk membuat Gita menjadi gadis buruk di mata sang Papa. Tapi kini wanita itu terlihat begitu tulus menyayangi Gita.
Bukankah manusia itu bisa berubah? Yang dulunya jahat bisa menjadi baik dan sebaliknya, seperti dirinya saat ini. Dulu memang Gavin pemuda yang urakan, bisa dibilang dia seorang badboy, tapi seiring berjalannya waktu dan usia dia berubah menjadi laki-laki yang lebih baik lagi.
"Aku yakin Gita tidak akan lama sepeti ini Tan, banyak sekali orang-orang yang menyayanginya, dia pasti akan segera sembuh," ucapnya penuh keyakinan.
Riky hanya melihat dan mendengar pembicaraan merek berdua, dan kini dia mengambil kesimpulan jika pemuda bernama Gavin ini adalah pemuda baik, tak mungkin berbuat nekat untuk merebut Gita dari sang Abang, dia tak rela Kakak cantiknya mengalami kejadian yang sama seperti setahun silam.
Tapi Riky tak mau percaya begitu saja dengan Gavin, mungkin saja dia berkata seperti itu hanya di depan Tante Sita saja untuk mengambil hati wanita itu, dan tentu saja memiliki niat terselubung dibaliknya. Sungguh hipotesis yang luar biasa.
"Sita, Mbak pulang ya. Tolong jagain Gita, sampai dia sembuh, nanti Mbak akan kembali ke Bandung, kasian Mas Luky sendiri, jadi tolong jagain Gita." Mama Sinta menghampiri mereka setelah cukup lama berbicara dengan Gita.
"Tentu saja Mbak, Gita juga anak ku." Tersenyum, senyum penuh kebahagiaan.
"Dia?" tanya Mama Sinta menatap Gavin sekilas dan kembali menatap saudara kandungnya.
"Iya dia pemuda yang aku ceritain kemarin Mbak," Tante Sita mengangguk.
"Salam kenal Tante, saya Gavin." Gavin berdiri menyalami Mama Sinta tentu saja disambut baik oleh wanita itu.
"Ah iya, saya Sinta Mamanya Gita. Terimakasih ya sudah mau membatu kami," ucapnya tulus dan Gavin mengangguk sebagai jawaban.
Mereka tidak banyak mengobrol, sebab Mama akan bersiap untuk pulang, sopir yang dikirim oleh sang suami sudah tiba di rumah mertuanya.
.
__ADS_1
.
🥀🥀🥀