
Sesuai janjinya, sore ini Indra pulang lebih awal dan langsung bersiap untuk mengantar Gita ke rumah Papanya. Mungkin jika Gita seorang laki-laki, Indra tidak akan memaksa untuk pulang ke rumah biarlah sesukanya, tapi di sini Gita seorang gadis dan dia masih memiliki orang tua, ya meskipun di apartemen ini ada sang Kakak tapi menurut Indra sangat tidak pantas jika gadis itu tak pulang ke rumah.
"Udah siap?" tanya pemuda itu saat melihat wajah Gita dibalik pintu yang baru terbuka.
"Udah Bang, tapi tunggu bentar. Abang masuk dulu aja, enggak apa-apa, kan nunggu sebentar?" Gita meninggalkan pemuda itu setelah melihat Indra mengangguk.
Lima menit berlalu, Gita sudah kembali dengan menarik sebuah koper kecil yang berisi barang pribadinya.
"Yuk Bang," ujar gadis itu.
Indra mengambil alih koper yang menurutnya sangat mini itu, entah apa isinya. Jika dipikir dua buah baju saja sepertinya tidak akan muat dalam koper itu.
"Ini koper isinya apa?" tanya pemuda itu setelah koper tersebut beralih ke tangannya.
"Ada deh," jawab gadis itu, tentu saja dia tak ingin mengatakan isi koper tersebut, sebab akan memalukan jika diceritakan isinya. Pasti kalian bisa menebak isinya apa, kan?
Indra mengacak rambut gadis itu, gemas. Membuat si empunya cemberut, dan kembali merapikan rambut yang sedikit berantakan akibat ulah Indra.
Perjalanan terasa begitu cepat, entah karena jaraknya yang memang dekat atau karena mereka melalui perjalanan itu dengan obrolan asik, hingga tak terasa mobil yang dikemudikan oleh Indra memasuki halaman rumah Renaldy.
Gita menghela nafas saat menyadari jika mereka telah sampai, rumah yang sudah lama tak dia kunjungi, tapi rasanya tetap sama. Sebab rumah ini mengingatkan akan masak kecil dulu, meskipun rumah tersebut sudah berubah, tapi tetap saja ingatan masa kecil itu kembali terlihat.
"Kenapa?" tanya Indra menyentuh tangan gadis itu.
Gita menggeleng, "Enggak apa-apa Bang. Aku itu nungguin Abang turun dulu, terus bukain pintu buat aku, eh malah bengong di situ," celetuk gadis itu beralasan, dia tak ingin Indra khawatir.
Indra tersenyum kikuk, dia mengira jika Gita masih enggan turun dari mobil karena alasan lain, eh tenyata alasannya seperti itu. Bergegas turun, tapi ternyata Gita pun mengikuti, mungkin karena terlalu lama menunggunya.
"Katanya minta dibukain pintu?" tanya pemuda itu.
"Abang kelamaan sih." Gita berjalan lebih dahulu, meninggalkan Indra yang menurunkan koper dari bagasi.
Pintu terbuka, nampaklah seorang wanita paruh baya yang sangat mirip dengan sang Mama, bedanya jika Mama menutup kepalanya dengan hijab, wanita di hadapannya ini tidak, bahkan memotong rambutnya lebih pendek.
__ADS_1
"Sayang, akhirnya kamu datang juga." Wanita itu memeluk tubuh Gita dan langsung dibalas oleh gadis tersebut.
"Ayo masuk, Papa sudah menunggu kalian berdua. Langsung ke ruang makan saja, Papa udah di sana." Wanita itu menggiring dua sejoli tersebut ke ruang makan. Ternyata Papa dan Revan sudah menunggu mereka berdua.
Revan menyalami dua orang yang baru datang itu, memeluk kakak perempuan yang selalu dirindukannya.
"Adik kecilku ternyata udah sebesar ini ya? Lihat tinggi badan kita aja hampir sama." Keduanya terkekeh saat Gita menyamakan tinggi badan mereka.
Beralih dari Revan, dua sejoli itu menyalami sang Papa yang duduk tenang sambil menyaksikan interaksi kedua anaknya.
Makan malam kali ini terasa berbeda sebab ditambah kehadiran dua orang itu. Harusnya ada Hafidz juga, tapi pemuda itu sedang mengemban tugas dari sang Papa, menggantikan sang Papa yang baru pulang tadi pagi dari luar kota. Kini Hafidzlah yang sedang berada di sana.
.
🥀🥀🥀
"Om tahu, kalian berdua saling menyayangi. Tapi apakah kamu sudah yakin untuk menjalani bahtera rumah tangga? Sudah siap dengan semua konsekuensinya?" tanya Om Renaldy, menanggapi ucapan Indra yang ingin meminang putrinya.
Keduanya kini duduk di taman samping rumah, menikmati secangkir kopi yang masih menguarkan bau sedap khas kopi itu.
Om Renaldy menghela nafas panjang, "Kalau seperti itu, biarlah Gita menyelesaikan kuliahnya dulu." Putus lelaki itu.
"Pa?" Gita yang baru saja datang mendengar ucapan dua pria tersebut.
"Aku, kan bisa melanjutkan kuliah di sini," sambungnya ikut duduk bersama dua pria itu.
Renaldy menatap putrinya tak suka, "Biarkan Papa bicara sama Indra," ucapnya telak, membuat gadis itu hanya bisa menghela nafas kasar.
"Gini, satu tahun. Papa ingin melihat kesungguhan Indra, bukannya Papa tidak percaya sama dia, Papa cuma takut kejadian masa lalu terulang lagi sama kamu." Papa menatap Gita yang sepertinya tak terima dengan keputusannya.
"Selama satu tahun, biarkan Indra menyiapkan semuanya, menyiapkan kehidupan rumah tangga bersama mu nantinya. Jika kalian berdua menikah saat ini, kalian mau tinggal di mana? Tinggal di sini, Papa oke saja, tapi kamu? Sepetinya kamu enggak mau. Mau tinggal di apartemen?"
"Udah Pa, cukup. Mau tinggal dimana pun, meskipun itu di kontrakan aku tidak masalah. Enggak semua kehidupan mewah itu menjamin kebahagiaan," Gita bersikeras untuk mempertahankan keinginannya.
__ADS_1
Saat gadis itu akan melontarkan ucapannya lagi, Indra menyentuh tangan gadis itu, berharap tak melanjutkan ucapannya lagi.
"Baiklah Om, saya akan menunggu Gita sampai dia menyelesaikan kuliah nya. Dan saya janji, saat menikah nanti sudah punya rumah sendiri, Om enggak usah khawatir. Saya bukan lelaki pengecut yang dengan gampangnya mengkhianati kepercayaan Om dan Mama Sinta." Indra menerima keputusan Renaldy, menurutnya lebih baik seperti itu. Semua ucapan Om Renaldy memang benar, untuk saat ini dia hanya akan memberikan beban pada Gita jika mereka menikah sekarang, sebab dia memang belum memiliki apa pun, semua yang dia gunakan saat ini adalah milik sang Opa.
"Indra aja sabar nungguin kamu, kok kamu malah yang udah enggak sabaran," goda sang Papa membuat gadis itu makin cemberut.
Gita meninggalkan kedua pria berbeda generasi itu tanpa sepatah kata pun, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Indra yang melihat itu hanya bisa menghela nafas, setelah ini dia harus memberi pengertian pada gadis itu.
"Maaf ya Ndra, Om melakukan semua itu karena Om sayang sama Gita. Biarkan dia berfikir dewasa, jika semua kemauan dan keinginannya tidak harus di penuhi seketika, sebab Gita sejak dulu seperti itu, entah kalau sama Mamanya seperti apa, tapi kalau sama Om dia selalu seperti itu." Renaldy sudah tak khawatir melihat putrinya seperti itu, sebab sejak kecil gadis itu selalu dituruti semua kemauannya.
"Kayaknya cuma sama Om dan Abangnya saja, kalau sama Mama Sinta sepertinya enggak." Indra sedikit banyak mengetahui tentang gadis itu, tapi tak pernah memaksa keinginan nya pada sang Mama.
Dua pria itu melanjutkan obrolan mereka hingga malam beranjak makin larut, Indra pun berpamitan dengan Renaldy, sebab besok harus kembali bekerja.
"Udah, enggak usah cemberut gitu. Apa kamu sudah tidak sabar untuk menikah denganku?" tanya Indra dengan senyuman penuh arti.
Gita menatap Indra sekilas, lalu membuang muka. Kenapa pemuda itu berfikiran sama seperti sang Papa? Dia kan jadi malu, padahal alasannya bukan itu.
"Bukan begitu Bang, aku cuma enggak mau LDR-an lagi. Aku enggak bisa bayangin, jauh dari kamu Bang," ucapnya manja.
"Apa kamu enggak percaya sama aku?" tanya Indra, menatap gadis itu yang kini juga menatapnya.
"Aku percaya sama Abang," jawabnya penuh keyakinan.
"Kalau begitu, kamu tidak usah khawatir. Aku juga akan mempersiapkan untuk kehidupan masa depan kita. Sudah ya, terima keputusan Papa, karena semua itu memang yang terbaik menurutku." Indra mengusap puncak kepala Gita.
Gadis itu menghela nafas panjang, "Yaudah lah, aku emang bisa apa selain menerimanya," ujarnya.
Indra mengangguk, "Yaudah Abang pulang, besok abang antar ke rumah Meta, kalau kamu mau menginap di sana," ucapnya.
Mereka mengakhiri pertemuan malam ini dengan berpelukan cukup lama. Setelah itu, Indra benar-benar meninggalkan rumah mewah tersebut.
.
__ADS_1
🥀🥀🥀🥀