Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Warna Yang Sama


__ADS_3

Entah kenapa rasanya berat sekali melangkah meninggalkan bandara, berharap seseorang yang baru saja menghilang dibalik pintu itu akan kembali menemuinya. Tapi sepertinya harapan itu tak akan terjadi, sebab sudah sepuluh menit sejak pemuda itu menghilang tak ada tanda-tanda akan kembali lagi. Akhirnya dia menyerah, meninggalkan tempat itu.


Dia kembali ke apartemen untuk menghabiskan hari libur ini dengan bersantai tentunya. Tapi sebuah pemandangan dihadapannya membuatnya terkejut, dua orang yang dia kenal sepertinya sedang meributkan sesuatu, terlihat dari cara mereka berbicara meskipun dengan jarak yang lumayan jauh.


"Lucy? Apa yang kalian ributkan?" tanyanya setelah berada di dekat kedua orang itu.


Bukannya menjawab kedua orang itu justru membisu, menyimpan rapat-rapat perdebatan yang tadi begitu menegangkan.


"Pikirkan kembali ucapakan ku tadi." Setelah mengucapkan itu Lucy langsung menarik tangan Gita yang terlihat kebingungan.


"Ada masalah apa Lucy?" tanya Gita penasaran.


"Nanti akan aku ceritakan," jawab Lucy dan Gita hanya menganggu sebab wajah Lucy terlihat tidak seperti biasanya.


Gita terus mengikuti langkah Lucy hingga mereka sampai di apartemen gadis itu.


"Kekasihmu sudah pulang, kan?" tanya Lucy dan dijawab anggukan oleh Gita.


"Aku baru saja mengantarnya ke airport," ucap Gita.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Aku penasaran," ujar Gita tidak sabaran.


Lucy menghela nafas panjang sebelum memulai ceritanya. "Sebenarnya Frans itu kekasihku," ucapan Lucy membuat Gita terkejut tentu saja, sebab selama ini dia tak pernah tahu siapa kekasih gadis itu.


"Jangan bercanda Lucy, guyonan mu sungguh tidak bagus sama sekali," Gita tak mau percaya begitu saja dengan ucapan Lucy.

__ADS_1


"Aku tidak bercanda kali ini, dia memang kekasihku," ucap Lucy terlihat menyiratkan banyak luka.


Gita menghela nafas berat, "Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya, aku jadi tidak enak dengan dirimu, sering kali Frans menggodaku, terus aku sering mengatainya tidak baik, maaf untuk itu," ucapnya mengingat dia selalu mengumpati pemuda tersebut saat menggodanya.


"Itu tidak masalah, walaupun dia menggoda mu, aku percaya kau tidak akan merespon, aku tahu kau gadis baik-baik. Aku sengaja merahasiakan hal ini tentu saja atas permintaannya." Berulangkali Lucy menghela nafas berat seakan masalahnya dengan Frans sangatlah sulit di pecahkan.


"Sejak pertama kami pacaran, aku selalu menuruti permintaannya apa pun itu, bahkan saat dia meminta tubuhku pun aku menyerahkannya. Aku hanya takut jika menolak dia akan melakukan itu dengan wanita lain, dan ternyata dugaan ku benar, Frans sering kali melakukan hal tersebut dengan wanita lain saat aku tak berada di apartemennya. Tentu saja itu membuatku hancur, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal di apartemen, itu hanya alasan saja, karena setiap malam aku sering menginap di apartemen Frans."


"Dia selalu beralasan saat aku meminta untuk menikahiku, berbagai macam alasan apa pun, membuatku kesal. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menggunakan kontrasepsi, biarkan saja aku hamil dan dia pasti akan menikahiku, seperti itu rencana ku. Dan ternyata aku hamil, tapi dia tetap masih menolak untuk menikahiku. Itu yang membuat kami berantem tadi," Lucy mengakhiri ceritanya.


"Kau itu cerdas dalam mengelola bisnis, tapi kenapa boddoh dalam masalah percintaan?" Gita tak habis pikir dengan kisah cinta Lucy yang terkesan hanya Lucy saja yang memiliki perasaan cinta, sedangkan Frans hanya memanfaatkan gadis itu untuk kebutuhan biologis nya.


"Memang seperti itulah kenyataanya, aku begitu bodoh. Kasian dia kalau Dadynya enggak mau mengakui. Meskipun Frans enggak mau menikahiku, aku akan tetap merawatnya." Lucy mengusap perutnya yang masih rata, harapannya hanya satu ayah bayi itu mau bertanggungjawab.


Gita ikut mengusap perut rata Lucy, "Baik-baik di sana ya baby, Dadymu pasti segera mencintaimu," ucapnya. Dalam hati dia mengumpati Frans yang tak pernah puas dengan satu wanita saja, sebab dia pernah beberapa kali melihat pemuda itu membawa perempuan ke apartemennya. Padahal Lucy sudah mengorbankan semuanya demi lelaki itu.


🥀🥀🥀🥀


"Lhoh, Abang dimana sekarang? Kok kamarnya beda?" tanya Gita setelah menerima panggilan Vidio dari Indra.


Pemuda itu menuruti perintah peri hatinya, memberi kabar setelah sampai di rumah, meskipun dia masih jet lag, tetap melakukan hal itu. Apalagi dia juga sudah rindu dengan gadis ini.


"Aku di rumah Oma, aku sudah memikirkan apa yang kamu katakan waktu itu, sepertinya aku harus mencobanya dulu," jawab pemuda itu dengan senyum mengembang.


Gita membalas senyuman itu, jujur dia rindu sekali dengan senyuman yang selalu membuatnya klepek-klepek tersebut.

__ADS_1


"Senyuman mu itu membuatku ingin kembali ke London lagi, nyesel enggak nyeret kamu dan bawa pulang," ucapan Indra tersebut sontak membuat kedua pipi Gita merona.


"Apalagi kalau pipinya keliatan merona gitu, rasanya pengen gigit." Indra makin melebarkan senyuman saat melihat wajah gadis pujaan hatinya bersemu, lelah yang dia rasakan seketika lenyap melihat wajah merona malu-malu itu.


"Ish, Abang bisa aja." Hanya itu yang bisa diucapkan gadis di seberang sana.


"Kamu tahu, setelah masuk ke dalam pesawat, ingin rasanya aku menghampiri mu lagi, karena rinduku makin memuncak, padahal baru beberapa menit kita berpisah. Apa kamu merasakan hal yang sama?" pertanyaan macam apa itu, tentu saja gadis itu merasakan hal yang sama, dia bahkan ingin segera kembali ke negara nya, jika tidak ada pekerjaan yang sudah menanti.


Gita menceritakan hal konyol saat di bandara waktu itu, membuat Indra menyesal kenapa tidak kembali pada Gita saja, memilih lebih lama di London sepertinya bukan hal buruk. Meskipun sangat menguji iman seorang Indra, apalagi mereka tinggal dalam satu rumah yang isinya hanya mereka berdua. Untung saja keduanya tidak melakukan hal di luar batas.


Cukup lama mereka menghabiskan waktu untuk bercerita satu sama lain. Mungkin hari-hari kedepannya mereka akan sering melakukan hal itu, berbicara lewat video call cukup lama, saling menatap penuh rindu.


Setelah menutup panggilan dengan berbagai ucapan penuh rindu, Indra memilih untuk memejamkan mata beberapa saat, sebab tiba-tiba badannya kembali merasa lelah. Tapi dia tak bisa memejamkan mata, sebab bayangan Gita terus menari di otaknya.


Teringat saat gadis itu tersenyum malu-malu, saat gadis itu membalas tatapan mesranya. Ah rasanya seperti mimpi waktu seminggu bersama gadis itu. Menurutnya Gita sudah banyak berubah, tidak se manja setahun lalu, entah karena di depannya saja atau dengan yang lain juga, dia tak tahu.


"Ah iya, bukannya dia memberiku sesuatu." Indra bangkit dari tidurnya mencari paper bag berwarna coklat pemberian Gita. Penasaran juga dengan sisi di dalamnya.


Perlahan dia membuka isi papebag tersebut, tapi keningnya mengkerut saat melihat isi dalam kotak itu, sebab benda itu tidak asing di matanya. Tentu saja, sebab isinya sebuah buku bersampul biru muda seperti buku yang mempersatukan mereka, tapi kenapa Gita memberikan buku itu lagi padanya, padahal dia sudah khatam membaca buku itu.


"Apa salahnya di lihat dulu, mungkin Gita menulis sesuatu di dalamnya." Indra membuka buku tersebut, ternyata isinya berbeda. Berarti buku itu ada dua dengan sampul sama.


"Rasa sakit ku ternyata bukan karena lelaki itu, tapi karena tak bisa melihat senyuman mu tiap hari seperti dulu. Apa itu artinya rasa ini masih ada untukmu?"


"Kau benar-benar telah menguasai hatiku, memusatkan semua pikiranku padamu, apakah kau juga seperti ku?"

__ADS_1


"Aku tak berani berharap,"


Indra menghela nafas membaca lembar kedua buku tersebut, sebab lembar pertama sepertinya sengaja di kosongi. Dia menyesal kenapa tidak dari dulu menyadari perasaanya, hingga menyakiti gadis itu. Ah, sudahlah ini memang sebuah takdir, seperti yang gadis itu katakan padanya, yang terpenting sekarang mereka sudah mengetahui perasaan satu sama lain.


__ADS_2