
Gita memegang kepalanya yang terasa begitu pusing, mengingat apa yang dia dengar tadi, dan serpihan-serpihan masa lalu yang memenuhi pikirannya. Sesekali gadis itu meringis, kepalanya seakan ingin pecah, mencoba mengatur ritme nafasnya yang memburu, menenangkan pikiran yang membuat kepalanya makin berat, cukup lama gadis itu bisa menguasai dirinya.
"Non, ke rumah sakit aja ya?" sang sopir terlihat panik sejak tadi, bingung harus melakukan apa saat melihat nona mudanya kesakitan seperti itu.
"Enggak Pak, aku baik-baik aja, Bapak tenang," Gita sedikit demi sedikit sudah bisa menguasai gejolak jiwa dan pikirannya, perlahan pusing yang sejak tadi mendera kini berangsur membaik, meski masih sedikit terasa pusing tapi tak separah tadi.
"Pak ke kantor Papa aja," ucap Gita pada sopir yang akan mengantar kemanapun dia pergi. Dia teringat suatu hal hingga memutuskan untuk menuju kantor sang Papa, ingin memastikan sesuatu tentunya.
"Baik Non,"
Gadis itu sibuk mengotak-atik panselnya, entah sedang mencari apa, bahkan pesan dari Gavin sengaja diabaikan. Juga mengabaikan kepalanya yang masih berdenyut, menurutnya apa yang dicari saat ini lebih penting dari pada pusing di kepalanya.
"Ah sial, gue lupa ini kan hape baru," ujarnya merutuki dirinya sendiri saat tak menemukan apa yang dia cari.
"Mana gue lupa sandinya," gumamnya.
Sang sopir yang sedang mengemudi itu menoleh ke belakang saat mendengar ucapan nona mudanya, entah apa yang dibicarakan nona mudanya itu, tapi sepertinya bukan berbicara dengannya, karena wajahnya sejak tadi terus menunduk menatap ponsel ditangannya. Dia sedikit khawatir dengan gadis itu, takut kepalanya kembali sakit seperti tadi.
Perjalanan menuju kantor Papa terasa begitu lama, sebab kemacetan yang terjadi, membuat Gita kesal, berulangkali mendengus saat mobil yang dia tumpangi lagi-lagi berhenti. Entah kenapa gadis itu menjadi tidak sabaran.
Sampai di kantor sang Papa, gadis itu segera keluar dari mobil, tak lupa berpesan pada sang sopir untuk pulang lebih dulu, dengan alasan dia akan pulang dengan Papa.
Rasanya sudah lama sekali dia tak mengunjungi kantor ini, terlihat beberapa perbedaan dari terakhir kali dia ke tempat ini. Langkahnya begitu lebar, seakan sedang dikejar oleh maling saja, entah apa yang membuat Gita seperti itu. Tapi gadis itu selalu membalas sapaan karyawan sang Papa yang menyapanya lebih dulu, tak lupa senyum manis yang selalu dia tampilkan. Menaiki lift yang dikhususkan untuk petinggi perusahaan menuju lantai teratas gedung ini.
Menimbang mencari ruangan yang akan dia masuki, setelah yakin meski tanpa bertanya dia langsung masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Clek
__ADS_1
"Bagiamana Om... Gita?" seseorang yang ada di dalam ruangan tersebut terkejut mendapati ternyata Gita yang masuk ke dalam ruangannya, dia kira tadi wakil direktur yang masuk. Karena fokus dengan dokumen di hadapannya dia tidak langsung melihat siapa yang masuk.
Pemilik ruangan itu berdiri menghampiri gadis yang memasang wajah garang dihadapannya, entah apa yang gadis itu pikirkan saat melihat dirinya ada di tempat itu.
Bugh
Bugh
Bugh
Gita memukul dada orang tersebut saat dia sudah berada dihadapan gadis itu, "Jahat! Kenapa tega sama aku! Ih ngeselin!" ujar Gita terus memukul dada pemuda tersebut.
Pemuda itu mengernyitkan dahi, tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Gita. Dia pun membiarkan gadis itu terus memukulnya, karena pukulan itu tak akan membuat luka di dadanya.
"Jangan pura-pura enggak tahu! Aku kesel sama Abang! Tega banget membiarkan aku sama cewek rese itu!" Gita masih saja memukul dada pemuda dihadapannya ini.
"Apa Bang, tidak terima!" Gita menatap tajam pemuda tersebut, seakan ingin mengulitinya saat ini juga.
Tapi reaksi pemuda itu di luar dugaan, sebab langsung memeluk tubuh gadis cantik dihadapannya. "Kamu sudah ingat Abang?" tanyanya dalam pelukan gadis itu.
Gita mengangguk lalu membalas pelukan tersebut.
"Alhamdulillah, syukurlah akhirnya kamu sembuh," ucap pemuda itu yang tak lain adalah Hafidz. Tak menyangka adik kembarnya akan secepat ini mengingat semua memori yang terlupakan itu.
Keduanya kini memilih duduk di sofa, sambil menikmati minuman dan cemilan yang baru saja dibawakan oleh OB. Hafidz sengaja menunda urusannya dengan Om Hardi, sebab dia tak ingin melewatkan saat-saat yang sudah dinanti oleh semua orang itu. Hanya berdua, sebab Gita belum ingin memberitahu keadaanya pada sang Papa yang masih dalam satu kantor, karena menurut Hafidz Papa sedang ada tamu.
"Aku tadi enggak sengaja denger percakapan Karin sama Gavin, ucapan Karin mengingatkan pada luka lama karena dia berkhianat menusuk dari belakang, dan aku jadi teringat semua yang dilakukan oleh Karin. Mengingat semua perjuangan Abang mencari Mama. Ah, semuanya aku ingat, tapi aku sengaja tidak langsung bicara dengan Gavin, aku ingin memastikan dulu dan memilih datang ke sini," jelas Gita saat pertama mengingat kembali masa lalu itu.
__ADS_1
"Tapi kamu enggak di apa-apain sama mereka, kan?" Hafidz khawatir dengan dua orang itu, dia tahu betul seperti apa Gavin dulu, dan Karin dia juga tahu jika gadis itu sedikit tidak beres.
Gita menggeleng, "Gavin sudah berubah Bang, tapi Karin hanya ucapan di bibirnya saja baik, tapi hatinya lebih busuk dari comberan. Padahal waktu di pernikahan Meta, aku sudah mulai percaya kalau dia sudah berubah, eh ternyata aku salah," Gita mengingat beberapa waktu lalu disaat kebersamaan mereka di rumah Meta sebelum sahabatnya itu menikah.
Hafidz mengangguk, dia paham betul jika Gavin yang sekarang sangat berbeda dengan Gavin yang dulu pernah adu jotos dengannya, Gavin yang sekarang terlihat lebih dewasa, dan berubah seratus persen. Bahkan dia dibuat kagum dengan pencapaian pemuda itu saat semua pemilik saham mengadakan pertemuan.
"Selain itu, beberapa hari ini aku sering mimpi bertemu Mama dan Abang, aku merasa kalian begitu dekat dengan ku, tapi aku enggak tahu kalian siapa. Wajah kalian berdua selalu menggangu pikiranku, terutama wajah Mama," Gita mengingat selama beberapa hari ini pikirannya dipenuhi oleh bayangan sang Mama dan saudara kembarnya.
"Indra? Kamu enggak mimpiin dia juga?" tanya Hafidz dengan senyum jailnya.
"Ish, itu enggak usah ditanya Abang pasti sudah tahu jawabannya. Gara-gara aku lihat foto kita bertiga waktu di depan kampus itu, aku jadi teringat dengan kalian terus, tapi aku enggak tahu siapa kalian," jawab Gita jujur.
Memang sejak saat itu, dia mengalami banyak hal aneh, terbayang wajah mereka berdua bahkan wajah Mama pun sering muncul.
"Bang ayo anterin aku ke Bang Indra, aku enggak tahu dimana kantornya." Gita sudah berdiri, merapikan pakaian yang dikenakannya.
"Gimana kalau kita kerjain dulu aja si Indra?" usul Hafidz.
"No! Dia pasti menderita selama beberapa hari ini, pasti cemburu karena aku sering sama Gavin, dan untuk menambah kesedihannya lagi aku enggak sanggup Bang," tolak Gita, tak tega melihat penderitaan Indra.
"Oke, kita ke sana sekarang." Hafidz ikut berdiri bersiap untuk ke kantor Indra, memberi kejutan pada pemuda yang beberapa hari ini menjadi sad boy.
.
.
🥀🥀🥀🥀
__ADS_1
...**Siapa yang seneng Gita sudah ingat semuanya?" Aku pun seneng banget....