Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Alasan Yang Sama


__ADS_3

Satu minggu berlalu setelah ingatan Gita kembali, gadis itu kini terlihat lebih baik, meski saat ini yang dia lakukan hanya mengganggu kesibukan sang kekasih, tak ada kegiatan pasti karena sang Papa masih melarang gadis itu untuk melakukan kegiatan sampai benar-benar sembuh.


Seperti biasa setelah pulang kerja, Indra selalu mengantar Gita pulang ke rumah sang Papa, jika gadis itu berada di apartemennya hingga dia pulang. Lelah sebenarnya tapi bagi Indra lelahnya terbayar kala melihat wajah cantik itu tersenyum manis saat bersamanya. Sudah tak sabar ingin segera meresmikan hubungan mereka, tapi Indra masih belum bisa meyakinkan Papa gadis itu.


"Aku akan bicara sama Papa kamu lagi, doakan ya sayang." Indra mengusap puncak kepala Gita dengan tangan kirinya, sebab tangan kanannya sedang mengendalikan kemudi.


"Pasti Bang, semoga aja Papa berubah pikiran kali ini, aku sungguh enggak mau pergi ke luar negeri lagi," Gita merasa sedikit trauma dengan kejadian yang membuatnya lupa ingatan, apalagi setelah Riky menceritakan bagaimana kecelakaan itu terjadi.


"Aku pun seperti itu, cukup kita LDR kita beberapa minggu lalu yang buat aku ketar-ketir tak karuan menanti mu kembali," Indra ingat jelas bagaiman dirinya saat gadis itu hilang ingatan, rasanya melebihi saat Gita berada di luar negeri.


"Maafkan aku Bang," sudah berulangkali Gita meminta maaf atas kejadian itu, yang sebenarnya hal itu tak perlu dilakukan sebab bukan salah Gita.


"Sudah Abang bilang berulang kali kalau itu semua sudah takdir, bukan salah kamu, jadi jangan meminta maaf," selalu seperti itu yang Indra katakan, dia hanya tak ingin Gita merasa bersalah karena memang gadis itu tidak bersalah sama sekali.


Obrolan mereka harus terhenti karena mobil yang dikendarai Indra sudah terparkir di halaman rumah Gita.


Gita menggenggam tangan Indra, memberi kekuatan pada pemuda itu supaya lebih tenang saat berbicara dengan sang Papa, "Semangat Bang, kali ini aku akan menunggu hasilnya tanpa ikut campur, aku yakin Papa akan kembali memikirkan hal ini," ucapnya memberi semangat pada sang kekasih.


"Terimakasih sayang, aku akan berjuang untuk kita." Indra meraih salah satu tangan Gita dan mengecupnya berulang kali. Apapun resikonya akan dia hadapi.


Kedatangan mereka langsung disambut oleh sang Papa, sebab Indra sudah memberitahu akan kedatangannya kali ini, untuk berbicara dengan calon mertuanya itu.


"Kalian sudah makan malam?" pertanyaan pertama yang keluar dari bibir sang Papa.

__ADS_1


"Udah Om," jawab Indra sedangkan Gita hanya mengangguk.


"Aku ke atas ya Pa, Bang." Gita meninggalkan dua pria berbeda generasi tersebut di ruang tamu.


Tak berapa lama setelah kepergian Gita, Hafidz datang, entah itu disengaja atau tidak. Pemuda itu langsung ikut duduk bersama keduanya, seakan mengerti apa yang akan mereka bicarakan.


"Maaf Om, kalau saya menggangu waktu istirahat Om. Saya datang kesini dengan maksud baik, mungkin Om sudah menebak apa yang akan aku bicarakan," Indra menjeda sejenak ucapannya, menarik nafas sebentar lalu membuangnya.


Renaldy maupun Hafidz tetap menyimak apa yang akan Indra katakan, meskipun mereka sudah bisa menebaknya, biarkan Indra mengutarakannya sendiri.


"Begini Om, niat baik saya kali ini untuk meminang putri Om Sagita. Maaf saya lancang mengatakan ini kembali, padahal waktu itu sudah setuju menunggu dia menyelesaikan kuliahnya dulu, tapi sekarang saya rasa, saya tidak bisa untuk menuggu selama itu Om, apalagi setelah kejadian Gita kecelakaan," ucap Indra apa adanya. Kali ini dia akan berusaha untuk meyakinkan Renaldy supaya mengijinkannya menikahi Gita dalam waktu dekat.


🥀🥀🥀


"Pa, menurut aku lebih baik mereka menikah sekarang, untuk menghindari fitnah, Papa lihat sendiri, kan? Gita bahkan lebih sering mengikuti kemanapun Indra pergi dari pada di rumah, aku takut terjadi hal yang tidak kita inginkan, meskipun aku percaya mereka tidak akan melakukan hal itu, tapi setan itu ada, dan akan selalu menggoda mereka. Lagian ya Pa, apa Papa tega membiarkan Gita hidup sendiri di negara orang, kalau aku jadi Papa enggak akan tega apalagi setelah kejadian itu," ujar Hafidz mengungkapkan pendapatnya.


"Papa akan pikirkan lagi. Papa cuma mau anak Papa berpendidikan," Papa ternyata masih ngotot, padahal kuliah tidak harus di luar negeri, di dalam negeri sendiri saja bisa.


"Lanjut kuliah disini, kan bisa Pa? Atau kalau Papa mau Gita tetap kuliah di sana, biarkan Indra ikut serta, aku yakin harta Papa enggak akan habis hanya untuk membiayai mereka hidup berdua di sana. Dan aku juga yakin Indra enggak akan berdiam diri menikmati kekayaan mertuanya, dia pasti akan mencari kerja," entah kenapa Hafidz rasanya tak suka dengan keputusan Papa kali ini, apalagi saat melihat wajah Indra yang berubah jadi masam tadi.


Ya, sang Papa kembali menolak niat baik Indra dengan alasan sama, biarkan Gita menyelesaikan kuliahnya dulu. Entahlah apa itu hanya alasan biasa, atau memang Papa memiliki rencana lain.


"Yaudah nanti akan Papa pikirkan lagi." Setelah mengucapkan itu, sang Papa pun berlalu meninggalkan Hafidz seorang diri.

__ADS_1


Hafidz menghela nafas mendengar ucapan sang Papa, dia pun ikut meninggalkan ruang tamu.


"Pa, Mama setuju dengan pemikiran Hafidz, kasian mereka Pa, pasti Gita akan sangat kecewa kalau mendengar ucapan Papa," ujar Mama Sita ketika Papa sudah berada di dalam kamar.


"Mama enggak usah ikut campur, Papa tahu yang terbaik untuk anak-anak."


"Pa! Bukannya aku ikut campur, Gita juga anakku kalo Papa lupa. Terserah kamu lah, jangan nyesel kalau anak-anak pada ninggalin kamu nantinya." Sita berlalu meninggalkan sang suami, kesal sekali mendengar ucapan sang suami yang keras kepala itu.


Sedangkan di dalam kamar Gita, gadis itu sedang menangis setelah mendengar keputusan Papa, bukan Indra yang memberitahu melainkan Hafidz, karena sepertinya Indra tidak akan tega mengatakan hal tersebut.


"Papa kenapa keras kepala banget sih Bang? Aku benci sama Papa," ujar gadis itu dalam pelukan sang Abang.


"Kamu harus bisa meyakinkan Papa, Abang yakin Papa akan berfikir ulang kalau kamu bisa meyakinkannya," tutur Hafidz meski dia tak begitu yakin dengan ucapannya.


Gita mengangguk, berharap bisa meluluhkan hati sang Papa, tapi entah bagaimana caranya.


"Bang, aku mau pulang ke Bandung," celetuk Gita tiba-tiba, membuat Hafidz secara paksa melepas pelukannya.


"Ini sudah malam, kamu serius mau pulang sekarang? Gimana kalau besok pagi aja, Abang janji Abang yang akan antar kamu." Hafidz menatap lekat kedua mola mata Gita, berharap adiknya setuju dengan ucapannya. Tidak mungkin mereka pergi malam ini, sebab jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


.


.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


Maaf baru bisa up, selamat membaca semuanya.


__ADS_2