Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Malam Pertama


__ADS_3

Resepsi pernikahan Indra dan Gita baru usai sekitar pukul sepuluh malam. Beberapa kali kedua pengantin itu mengganti baju dan merubah makeup, membuat Gita begitu lelah tak berdaya, dia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang seharian ini belum istirahat sama sekali, sebab waktu istirahat tadi siang tak mereka manfaatkan dengan baik.


Saat ini dua orang asisten MUA sedang membantu Gita melepas pernak-pernik yang menempel pada bagian tubuhnya, serta gaun yang melekat sejak dua jam yang lalu. Gita sengaja meminta bantuan dia orang itu, sebab dia merasa tak bisa melakukan hal itu sendirian. Sedangkan Indra, pemuda itu memilih membersihkan diri terlebih dahulu di kamar pengantin sambil menunggu Gita selesai.


"Terimakasih Mbak, aku akan kembali ke kamar sekarang," ucap Gita setelah melepaskan semua pernak-pernik yang ada serta gaun yang dia pakai, mengganti pakaiannya dengan dress biasa, wajahnya pun sudah tak berlapis makeup tebal. Dia langsung menuju kamar pengantin yang terletak dilantai paling atas hotel ini.


Pintu yang sedikit terbuka membuat gadis itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, mendapati pemuda yang tadi pagi berstatus sebagai suaminya itu sedang berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamar, dengan pakaian biasa. Sepertinya suaminya itu sudah mandi.


"Bang, aku mandi dulu ya," pamitnya pada pemuda itu.


Indra yang merasakan kehadiran sang istri langsung bangkit, mencekal tangan gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu untuk tidak masuk kedalam kamar mandi. Sengaja ingin menggodanya terlebih dahulu.


"Enggak usah mandi sekarang, nanti aja mandinya, biar hemat air. Lagian percuma mandi, setelah itu juga akan berkeringat," ucapnya.


Wajah Gita merona membayangkan sesuatu yang belum pernah dia rasakan, malu sendiri mendengar ucapan Indra, hingga tak berani menatap wajah pemuda itu.


"Apaan sih Bang?" sungutnya.


"Kamu mikir apa sih? Jangan bilang mikirin hal me sum," tebak Indra yang tepat sasaran.


"Enggak lah, Abang itu pasti. Udah ah aku mau mandi, biarpun setelah ini akan banjir keringat atau apa, yang penting sudah mandi." Gita melepas tangan Indra perlahan, dia tahu pemuda yang berstatus suaminya itu sengaja menggodanya.


"Ayo mandi bareng, Abang juga belum mandi." Indra bangkit dari duduknya, menyusul Gita yang baru saja melangkah.


"Jangan ngaco deh Bang," ujar Gita kesal.


"Apa ada yang salah? Kita mau mandi bareng atau apapun sah-sah saja lho, apa kamu lupa?" Indra mencolek dagu sang istri hingga menimbulkan rona merah di kedua pipi gadis itu.

__ADS_1


"Lain kali ya bang, sekarang aku udah gerah." Dengan cepat Gita berlari ke kamar mandi, tak ingin mendengar godaan dari suaminya lagi.


Indra terkekeh melihat tingkah sang istri, begitu menggemaskan menurutnya.


Tak berselang lama, Gita sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono yang melekat di tubuhnya, dia lupa membawa baju ganti karena godaan dari Indra. Mencari piyama yang sudah disiapkan sebelumnya di dalam lemari, lalu membawa piyama itu masuk kembali ke dalam kamar mandi, tentu tak ingin Indra melihat dia berganti pakaian.


Hanya beberapa menit saja, Gita sudah keluar dengan memakai setelan piyama berwarna ungu muda. Tak seperti pengantin baru yang akan mengenakan lingerie disaat malam pertama mereka, sebab Gita benar-benar belum siap jika Indra meminta haknya malam ini, tubuhnya begitu lelah takut jika tak bisa membuat suaminya bahagia dimalam pertama.


"Sini." Indra menepuk sisi kosong disebelahnya.


Gita bangkit dari duduknya setelah beberapa menit lalu mengoleskan skincare pada wajahnya.


"Mau ngapain Bang?" tanya Gita polos.


Indra tersenyum menggoda, lalu dia membisikkan sesuatu di telinga istrinya itu, "Gimana kalau kita buat Indra dan Gita junior?" ucapnya.


"Besok ya Bang, aku lelah," ucapnya dalam selimut.


Indra pun mengikuti istrinya, membaringkan tubuh yang juga terasa lelah, memeluk tubuh berlapis selimut itu. "Abang juga lelah, boleh enggak kalau nyicil dulu?" tanya pemuda itu.


Gita membuka selimutnya di bagian wajah, "Apanya yang nyicil? Emang Abang punya utang?" entah kenapa Gita sama sekali tidak nyambung dengan ucapan Indra.


"Kok utang sih sayang, nyicil buat Indra dan Gita juniornya." Indra menaik turunkan alisnya menggoda Gita.


"Ish, ada-ada saja Abang ini, emang bisa nyicil gitu?" tanya Gita pura-pura tidak tahu.


"Bisa dong, mau coba?" seketika pemuda itu bangkit lalu memposisikan dirinya diatas tubuh sang istri, membuat semburat mereka di pipi Gita.

__ADS_1


"Ayo kita coba, malam ini menu pendamping dulu tidak masalah, besok menu utamanya," ujar Indra sungguh-sungguh meski tak yakin jika dia hanya akan puas menikmati menu pendamping saja dan mengabaikan menu utama.


Wajah Gita benar-benar bak kepiting rebus, apalagi saat tatapan suaminya begitu mendamba, dia tak bisa menolak permintaan itu dan akhirnya mengangguk, meski tubuhnya terasa lelah saat ini. Dia juga tak yakin jika suaminya tak meminta lebih selain menu pendamping, bisa saja menu utamanya pun akan dilahap malam ini juga, sebab tadi siang pemuda itu sudah menikmati menu pendampingnya lebih dahulu, tentu tidak yakin jika malam ini hanya itu saja yang diinginkannya.


Cup


Sebuah kecupan dia daratkan di kening sang istri, lali bangkit dari tubuh istrinya itu. "Kata Oma kita harus sholat dulu, ayo kita sholat dulu." Kali ini pemuda itu membantu sang istri untuk bangun, dia membendung hasratnya terlebih dahulu ketika mengingat pesan Oma semalam.


Kini keduanya melakukan sholat Sunnah bersama, dan untuk pertama kalinya mereka melakukan sholat itu berdua, sungguh terasa berbeda ketika melakukan kewajiban sendiri dan berdua seperti saat ini.


Baru saja selesai salam terakhir ponsel Indra berdering, pemuda itu tetap mengabaikannya hingga deringan ke tiga dia pun menerima panggilan tersebut, dia menghela nafas saat mengetahui yang menelpon adalah sang Oma.


"Ada apa Oma?" tanya Indra tapi dia terkejut saat mendengar suara selain Oma dari seberang sana.


"Bang, cepetan ke kamar rias tadi, di tunggu sama Oma!" ucap seseorang di seberang sana yang tak lain adalah Riky, entah bagaimana bisa Riky menggunakan ponsel milik Oma.


"Ck, apaan sih, ganggu orang aja," decaknya tak terima di malam pengantin ini ada gangguan.


"Kenapa Bang?" tanya Gita yang sudah melepas mukenah nya.


"Bentar ya sayang, aku temui Oma dulu, kamu kunci pintunya dan jangan kemana-mana," ujar Indra, dia tak ingin Gita ikut bersamanya.


"Aku ikut aja deh Bang," usul gadis itu, dia juga khawatir terjadi sesuatu dengan Oma.


Indra menggeleng, "Kamu siap-siap aja, nanti kalau aku kembali kita lanjut yang sempat tertunda. Dan kamu harus siap menyajikan menu utamanya." Indra mengedipkan sebelah matanya, membuat gadis itu tersenyum dan rona muncul rona merah di wajahnya.


Sesuai permintaan Indra, Gita pun mengunci pintu kamar setelah suaminya keluar, menunggu sang suami sambil rebahan di atas ranjang, hingga tak terasa matanya terpejam sebab menunggu Indra terlalu lama.

__ADS_1


🥀🥀🥀


__ADS_2