Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Bertemu Salman


__ADS_3

Indra baru saja keluar dari kamar dengan pakaian rapi bersiap untuk ke kantor, tepat saat itu Gita juga membuka pintu kamarnya masih mengenakan piyama tidur, tapi matanya terlihat sangat kurang tidur dimalam hari. Wajah yang terlihat sedikit pucat, ditambah warna kehitaman di area bawah mata.


"Kurang tidur? Kenapa?" tanya Indra begitu penasaran, apalagi beberapa hari ini setelah Meta dijemput oleh Devin. Gadis itu terlihat lebih pendiam dan murung.


"Enggak apa-apa Bang, cape aja," jawaban itu membuat kening Indra mengkerut. Capek? Memangnya capek kenapa? Padahal Gita selalu di rumah dan jarang pergi.


"Karena Salman?" seakan mengetahui capek yang di rasa oleh Gita, bukan capek karena kelelahan badannya.


Gita menggeleng lemah, tapi tentu Indra memahami hal tersebut, sebab sorot mata gadis itu tak bisa berbohong, jika doa sedang memiliki masalah dengan kekasihnya. Hatinya begitu perih melihat gadis ini terluka karena lelaki, rasanya dia ingin sekali menghajar laki-laki itu, tapi tidak mungkin, kan?


"Kayaknya dia jarang ke sini? Enggak pernah lihat selama beberapa hari ini," Indra menanyakan hal lain, mungkin dengan cara seperti itu Gita akan bercerita.


"Biarkan Bang, aku sudah tak penting baginya,"


Jawaban Gita membaut Indra mengerti, jika mereka memang sedang ada masalah. Tapi dia tidak tahu masalah seperti apa yang mereka hadapi. Tak mungkin juga mengorek lebih banyak tentang masalah mereka, meski sebenarnya dia ingin sekali melakukan itu.


"Kalau ada masalah, selesaikan baik-baik, jangan biarkan berlarut, nanti masalah itu justru makin menjadi," tutur Indra tulus, dia tak ingin melihat gadis manis itu terus berada dalam naungan hitam yang menyesakkan. Sebab dia merasakan sesak yang sama saat menatap mata sayu itu.


"Iya Bang, makasih," ucapnya.


"Em Bang, aku lusa mau ke London, kebetulan Papa juga mau ke sana," entah kenapa Gita merasa perlu memberitahu Indra akan keberangkatannya ke London.


"Liburan? Atau mau daftar kuliah? Bukankah kamu belum wisuda ya?" Indra tidak berharap mendapatkan jawaban iya dari pertanyaan ke duanya, rasanya belum siap berpisah dengan gadis ini, meski status mereka hanya sebatas kakak beradik.

__ADS_1


"Entahlah Bang, aku mau melihat suasana dulu sambil menenangkan diri, soal wisuda bisa diatur nanti lah," jawab Gita sebab dia memang belum ingin melanjutkan kuliah lagi.


"Salman tahu?" Gita berdecak dalam hati mendapatkan pertanyaan itu dari Indra, kenapa kembali ke permasalahan awal sih?


Gita menggeleng, "Aku sengaja enggak ngasih tahu, biarkan dia nanti mencari ku jika memang masih membutuhkannya," jawab Gita dan meninggalkan Indra yang masih berdiri di depan kamar, sebab dia tak ingin Indra mengorek lebih dalam masalahnya dengan Salman.


Pikiran Indra terus dihantui dengan wajah murung Gita, bahkan dia tidak konsentrasi saat bekerja, membuat Mbak Salsa menegurnya beberapa kali sebab laporan yang dia buat selalu salah. Indra hanya bisa menghembuskan nafas kasar sambil sesekali melirik jam dipergelangan tangannya.


"Mbak, aku ada urusan. Jadi, enggak bisa ikut makan siang bersama." Tanpa menunggu jawaban Mbak Salsa, Indra melesat meninggalkan kantor tempat dia kerja itu, bahkan tidak berpamitan dengan managernya.


Tujuannya kali ini bukan kembali ke rumah, melainkan menuju sebuah gedung yang terlihat megah dan asri dari luar, terdapat beberapa bangunan berlantai lebih dari empat. Tempat yang amat sangat dihindari oleh seseorang yang terlihat bugar seperti pemuda ini. Dimana lagi jika bukan rumah sakit.


Setelah memarkirkan mobilnya, dia bergegas tak ingin membuang waktu tiga puluh menitnya sia-sia. Tapi langkahnya terhenti saat melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih, sekuat tenaga menahan gejolak ingin menghantam seseorang itu, dia sadar saat ini berada di rumah sakit, tak mau membuat kegaduhan. Dan satu lagi, bukankah masalah tidak bisa diselesaikan dengan saling hantam?


"Gue mau bicara sama Lo, penting." Indra tak menghiraukan tatapan dua wanita yang kini sudah masuk ke dalam mobil Salman.


Salman mengangguk, seakan dia mengerti apa yang akan dibicarakan oleh pemuda dihadapannya ini. Dia pun berjalan menjauh dari dua wanita tersebut.


"Soal Gita ya?" tanya Salman setelah mereka sedikit jauh dari parkiran.


"Gue akan temui dia dan menjelaskan semuanya tanpa Lo minta, jadi Lo enggak perlu khawatir," Salman kembali membuka suara sebelum Indra memulainya.


"Bagus deh, kalo Lo emang udah enggak butuh dia, jangan digantung, tapi beri kejelasan." Rasanya ingin sekali memukul wajah putih bersih berkacamata itu, tapi urung, Indra lebih bisa mengontrol kewarasannya. Tanpa berkata apa pun lagi, Indra meninggalkan Salman.

__ADS_1


Meski belum puas, Indra memutuskan untuk percaya pada pemuda itu yang akan menemui Gita, entah seperti apa nanti tentu dia akan menerimanya, buat Indra yang terpenting Gita bahagia.


🥀🥀🥀


"Serius lusa mau pergi, sayang?" tanya Mama saat sedang memperhatikan putrinya sedang membereskan pakaian yang akan dia bawa.


"Iya Ma, kesempatan mumpung Papa juga ke sana, kalau enggak sekarang kapan lagi? Aku berangkat sendiri belum punya keberanian Ma," jawab Gita tanpa menatap sang Mama dan fokus dengan pakaian yang dia masukkan ke dalam koper.


"Kamu udah minta ijin sama Salman?" pertanyaan yang sangat dihindari oleh Gita, sebab dia tak mungkin berbohong dengan sang Mama, tapi jika tidak berbohong Mama pasti melarangnya untuk pergi.


"Minat ijin dulu, takutnya nanti kamu dikira menghindar, bicara baik-baik kalau memang lagi ada masalah, jangan menghindari masalah itu, tapi selesaikan," tutur Mama seakan mengerti diamnya sang putri.


"Iya Ma," Gita hanya mampu mengiyakan, sebab kepergiannya memang untuk menghindar dari pemuda itu. Dia sudah merasa tersingkirkan secara tidak langsung, sebab sejak pertemuan terakhirnya di rumah sakit kala itu, Salman tak sedikitpun menghubunginya, membuatnya makin yakin jika Salman tak menginginkan kehadirannya. Padahal dulu pemuda itu meraih dirinya dengan begitu menggelora, tapi kenapa kini saat gadis itu mulai menerimanya dia justru mengabaikan? Sungguh tak sesuai harapan.


Ternyata orang yang baru saja mereka bicarakan kini sudah berada di rumah itu, Gita sebenarnya malas bertemu dengan pemuda yang berstatus sebagai ruangannya itu, tapi ada Mama yang tidak bisa membuatnya menolak kehadiran Salman.


"Kita harus bicara, tapi ku mohon jangan di sini," pinta pemuda itu.


Gita berfikir sejenak, melihat jam dipergelangan tangannya, masih ada beberapa waktu sebelum senja menyapa. "Baiklah, aku pamit sama Mama dulu," Gita kembali masuk ke dalam kamar, mengambil benda yang seharusnya dia bawa dan berpamitan dengan sang Mama.


Selama perjalanan keduanya tampak membisu, Salman beberapa kali menoleh ke arah Gita, tapi gadis itu bergeming terus menatap jendela, membuatnya menghela nafas berat. Entah kenapa tiba-tiba rasa sesak itu kembali muncul, padahal tadi dia sudah meyakinkan dirinya.


Bukan tidak tahu jika Gita terlihat sedang tidak baik-baik saja, tapi dia memilih diam, sebab dia tahu pasti siapa penyebabnya. Selama beberapa hari menghilang, dan kini gadis ini menerimanya dengan baik, tentu sebuah keajaiban, bahkan tadi dia berfikir jika Gita pasti sudah tak mau menemuinya.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2