
Pagi ini Riky tidak ada jadwal kuliah, membuatnya bisa bersantai. Bermain-main dengan bola basket seorang diri, sebab seseorang yang bisanya menemani kini tinggal jauh di ibu kota, sedikit merindukan kebersamaan itu sebenarnya, apalagi setelah dia kuliah rasanya malas untuk sekedar nongkrong seperti masih SMA dulu.
Atensinya teralihkan oleh ponselnya yang berdering, dia pun segera menerima panggilan itu. Ternyata dari seseorang yang biasanya menemani bermain basket, Indra sang Abang.
"Siap, kebetulan hari ini gue free." Ucapnya dengan seseorang diseberang sana.
Dia pun bergegas meninggalkan lapangan mini di rumahnya itu, untuk memenuhi permintaan sang Abang.
Penampilannya sudah terlihat rapi, bersiap untuk pergi. Langkahnya terhenti saat melihat kedua orang tuanya juga sudah rapi, seperti mau pergi.
"Kamu mau kemana Ky?" tanya sang Papi lebih dulu.
"Mau nganterin motor Bang Indra," jawabnya.
"Kebetulan Papi sama Mama juga mau ke sana, mau jenguk Oma kamu, sudah lama kita tidak ke sana." Sambung Papi dan Riky hanya mengangguk, niatnya tidak ingin berkunjung ke rumah Oma, sebab malas melihat wanita tua itu.
"Oma juga bilang katanya Gita nanti mau main ke sana," ucapan Mama Sinta membuat Riky terkejut.
"Lhoh Kak Gita pulang? Sejak kapan? Kok belum ke Bandung?" tanya Riky, dia juga merindukan Kakak tirinya itu, rindu ingin membuat Gita kesal seperti sebelumnya.
Mama Sinta mengangguk, "Beberapa hari yang lalu, dia belum ke sini karena sahabatnya menikah," jawabnya.
Setelah mendengar penjelasan Mama Sinta tentang Gita, Riky merubah rencananya yang akan langsung ke apartemen Indra. Dia akan ke rumah sang Oma dulu untuk bertemu dengan Gita. Biarlah Oma akan seperti apa nantinya, dia tak peduli.
Mengendarai motor tersebut dengan kecepatan diatas rata-rata, seakan takut jika Gita lebih dulu meninggalkan rumah Oma. Padahal bisa saja dia menemui Gita di rumah Papa gadis itu, bukan? Tapi entah kenapa dia ingin segera bertemu Gita meski itu di rumah Oma.
Perjalanan yang cukup melelahkan sebenarnya, sebab dia tak terbiasa pergi jauh menggunakan motor, biasanya menggunakan mobil itu pun ada sopir yang mengantarnya.
Rasa lelahnya terbayar saat dia menanyakan keberadaan Gita pada art yang berkerja di rumah Oma, dia langsung bersemangat dan ingin segera bertemu dengan Kakak tirinya itu. Menurut Art tadi, Gita sedang berada di taman belakang, dia pun bergegas ke tempat itu.
Baru saja dia akan memanggil nama Gita, langkahnya terhenti saat mendengar sang Oma berbicara. "Oma akan ceritakan sedikit tentang Bundanya Indra. Wanita itu bernama Indah," ucapan Oma membuat Riky bingung.
__ADS_1
Dia sengaja mencuri dengar, bersembunyi di balik pohon hias milik sang Oma. Tangannya mengepal kuat saat mendengar semua ucapan Oma. Entah kenapa dadanya tiba-tiba sesak, seakan ada sesuatu yang menindihnya.
Tak pernah tahu dengan semua cerita yang Oma kisahkan pada Gita itu, bahkan dia juga abru tahu jika selama ini Mami Indah hanya Mami sambungnya, bahkan setelah Mami Indah tiada. Kenapa semua orang menyembunyikan fakta itu darinya? Tega sekali mereka semua.
Saat kekesalannya dengan semua keluarganya memuncak, dia dibuat terkejut dengan kisah Mama kandungnya. Air matanya tanpa di duga menetes, dia pun menyeka dengan kasar air mata sialan itu.
Ternyata ini alasan kenapa semuanya menyembunyikan identitas aslinya. Kedua tangannya kembali mengepal kuat saat menyadari penderitaan yang di alami sang Papi dulu. Dia pun berdiri berniat meninggalkan tempat itu tanpa sepengetahuan dua orang perempuan beda generasi tersebut. Tapi karena dia tergesa, akhirnya tanpa sengaja menabrak pot bunga kecil dihadapannya.
Brak
Sialnya dia ikut terjatuh hanya karena pot kecil itu, dia langsung lari saat mendengar jeritan dua perempuan itu yang menyebut namanya.
Dia berlari meninggalkan kediaman Oma dengan perasaan berkecamuk, dada sesak sekaligus kekecewaan yang begitu mendalam. Bahkan dia melewati kedua orang tuanya begitu saja yang baru masuk ke dalam rumah Oma, tanpa sepatah kata pun.
Tak memiliki tujuan menentu, sebab dia tidak begitu hafal daerah ini. Akhirnya memutuskan untuk ke apartemen Indra. Sebelum itu, dia lebih dulu menelepon sang Abang untuk pulang sebentar.
"Lo pasti sudah tahu kalau gue bukan anak kandung Mami? Kenapa harus menyembunyikan masalah ini sih? Gue kecewa sama semuanya." Ujar Riky setelah duduk di sofa ruang tamu.
"Mungkin gue akan jadi orang bodoh terus kalau saja tidak mendengar cerita Oma sama Kak Gita tadi," tambahnya dengan wajah kesal.
"Mungkin Oma malu mengakui gue sebagai cucunya, karena gue terlahir dari wanita seperti itu," Riky masih saja mengungkapkan perasaanya, tak memberi ruang untuk Indra berbicara.
Indra terkejut mendengar penuturan Riky barusan, "Maksud Lo?" tanyanya.
"Lo jangan sok pura-pura bodoh Bang, Lo pasti tahu seperti apa wanita yang telah melahirkan gue ke dunia, hingga Oma benci sama gue!" nada bicara Riky sedikit meninggi, mengingat perkataan Oma tadi.
Indra menggeleng, "Lo salah Ky, gue enggak tahu masalah itu. Yang gue tahu, nyokap Lo pergi dengan keluarga barunya, itu yang Bunda katakan, enggak pernah bercerita yang lain tentang nyokap Lo," ujarnya tak terima dengan tuduhan Riky.
"Tapi kenapa kalian menyembunyikan kenyataan ini sama gue! Sakit tahu enggak!" nafas pemuda itu memburu, tak terima dirinya diperlakukan seperti itu.
"Itu semua permintaan Papi, beliau mengatakan akan menceritakan semuanya, makanya kami memilih diam, mengikuti permintaan Papi. Apalagi Bunda menyayangi Lo seperti anak kandung sendiri, itu juga salah satu alasan Papi belum mengatakan hal ini. Lo bisa tanyakan langsung sama Papi," Indra mengenal nafas, dia tahu Riky pasti kecewa dengan semua kenyataan yang ada.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Indra memilih kembali ke kantor, sebab masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan. Meninggalkan Riky dengan berbagai macam pikiran yang berseliweran di otaknya.
🥀🥀🥀
Di tempat lain, Oma dan yang lainnya terlihat gusar melihat kepergian Riky. Tak disangka, rahasia yang tersimpan rapat selama ini terbongkar karena ulah Oma sendiri. Menyesal, tentu saja dia menyesal, pasti Riky berfikir yang tidak-tidak, apalagi setelah mendengar cerita tentang ibunya.
"Kenapa Riky Mah?" tanya Papa Luky, sebab dia sempat melihat putranya itu seperti memendam amarah.
"Jangan bilang Mamah buat masalah sama anak itu lagi?" tuduh Luky.
"Bukan Pi, tadi sepetinya Riky mendengar cerita Oma," ujar Gita, tak terima Oma dituduh sepeti itu, sebab dia tadi bisa melihat jika Oma sudah menyesali perbuatannya dengan Riky di masa lalu.
Luky menatap sang Mama penuh selidik, tapi sedetik kemudian tatapannya melemah saat menyadari sang istri menggenggam tangannya.
"Kita duduk dulu Mas," ujar Sinta.
Gita sebenarnya ingin sekali memeluk sang Mama, tapi situasi yang tidak memungkinkan membuatnya hanya menatap sang Mama. Ikut duduk di sofa ruang tamu, bersebelahan dengan Oma Laila.
Oma mulai menceritakan secara singkat apa yang tadi diceritakan pada Gita. Luky yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas kasar, dia sebenarnya tak ingin anaknya mengetahui keburukan sang ibu, tapi semuanya sudah terlanjur.
"Riky pasti kecewa," lirihnya.
"Maafin Mamah, seharusnya Mamah enggak menceritakan hal ini," sesal Oma.
Dan Luky hanya mengangguk, pikirannya saat ini tertuju pada Riky, takut anaknya itu bertindak nekat.
"Riky di apartemen Bang Indra," ujar Gita lega, dia juga sempat berfikir jika Riky akan melakukan hal di luar nalar, tapi ternyata pikirannya salah, setelah membaca pesan dari Indra.
Terlihat Papi bernafas lega begitu pun dengan Oma.
🥀🥀🥀🥀
__ADS_1