Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Musibah membawa Berkah


__ADS_3

Meski kesal karena kedatangan tamu tak diundang yang mengganggunya, Indra tetap bersyukur kekasih hatinya kini telah kembali, dia tak akan sanggup lagi jika gadis yang kini tersenyum padanya itu pergi, kali ini apapun rintangannya dia bertekad untuk membuat gadis itu terus bersamanya.


Ternyata si kembar sudah merencanakan hal ini, makan malam bersama di apartemen Indra, pantas saja Gita menyiapkan berbagai makanan meski sebagian gadis itu memesannya, sebab hanya memasak makanan kesukaan Indra, sungguh Hafidz sebenarnya iri dengan pemuda itu, adiknya lebih memilih Indra dari pada dirinya. Tapi kali ini tak akan mengungkapkan secara langsung, melihat adiknya bahagia saja dia ikut merasakan kebahagiaan.


"Tadinya rencanakan ku hanya ada kita berdua, tapi pak satpam tidak menyetujuinya, menyebalkan bukan?" Gita menatap sekilas sang kakak yang dianggap sebagai satpam, satpam yang selalu ikut campur urusan pribadinya.


"Ganteng gini dibilang satpam?" Hafidz menggelengkan kepala tak terlalu mempedulikan ucapan Gita.


"Iya ganteng tapi sayang, jomblo," celetuk Indra yang juga kesal dengan pemuda itu, apalagi setelah mengetahui rencana awal Gita.


"Biar, jomblo terhormat ini." Hafidz terus membela diri meski saat berbicara terkesan begitu santai bahkan tidak menatap lawan bicara sebab sedang menikmati salad sayur yang memang khusus untuknya. Entah sejak kapan pemuda itu lebih menyukai sayuran bahkan makan tanpa nasi saat malam hari, sepetinya sejak kuliah di London.


"Udah Bang, kita anggap debu aja dia, ada tapi enggak keliatan. Toh dia siap jadi satpam kita berdua," celetuk Gita, lagi-lagi Hafidz tak begitu menggapai ucapan adiknya, karena menurutnya Gita hanya bercanda.


Selesai makan malam Gita benar-benar merealisasikan ucapannya tadi, dia seakan tak peduli dengan adanya Hafidz di sana, karena pemuda itu juga hanya diam sibuk dengan laptop. Meski sesekali berdeham dan itu sukses membuat sepasang kekasih yang sedang berbagi kisah itu mendengus.


"Kamu yakin kalau Gavin benar-benar sudah berubah?" tanya Indra setelah mendengar cerita dari Gita tentang Gavin, pemuda yang mereka bicarakan itu baru saja mengirim pesan pada Gita.


Gita mengangguk, "Yakin Bang. Gimana kalau kita temui dia besok, aku mau ucapin terimakasih." Gita menatap wajah Indra yang duduk disebelahnya, dan pemuda itu mengangguk, mengiyakan permintaan Gita. Toh sekarang Gita sudah bersamanya, jadi tidak masalah jika harus kembali bertemu dengan Gavin.


"Tapi Karin..." Gita terdiam sejenak, entah apa yang dipikirkan.


Indra meraih tangan Gita dan menggenggamnya, "Kamu tenang aja, dia pasti tidak akan berani berbuat lebih sama kamu, apalagi setelah dia tahu kalau ingatan kamu sudah kembali," ucapnya seakan mengerti kegelisahan Gita.


"Bukan itu bang, aku cuma enggak habis pikir aja sama dia, kenapa bisa setega itu sama aku. Bahkan saat di acara pernikahan Meta dia sangat baik, meski aku belum sepenuhnya menerima dia kembali," ujar Gita, mengingat bagaimana Karin saat mereka bersama dalam acara pernikahan Meta.


"Semua orang itu bisa berubah, sepeti contohnya Karin dan Gavin, mereka sama-sama berubah dengan porsi yang berbeda," bukan Indra yang menimpali ucapan Gita, melainkan Hafidz.

__ADS_1


"Ish Abang nguping ya! Aku jadi curiga, pasti sejak tadi enggak kerja tapi sengaja nguping dengan alasan pekerjaan," protes Gita, jika memang apa yang dikatakannya benar, tentu dia akan sangat mau dengan Hafidz karena dia dan Indra sempat saling melempar godaan dan ungkapan cinta.


"Enggak juga, tapi denger." Jawab Hafid tanpa menatap mereka berdua.


Gita hanya mendengus kesal. Kekesalan itu menghilang kala Indra mengusap punggung tangannya berulang kali, mungkin mencoba menenangkan gadis itu.


"Kan udah gue bilang, kalau Gavin udah benar-benar berubah, Lo aja sih yang enggak percaya," Hafidz menoleh sekilas ke arah Indra, sebab pemuda itu tidak percaya dengan dirinya saat Hafidz meyakinkannya hal tersebut, tapi dengan Gita, Indra langsung percaya bahkan saat gadis itu hanya mengatakan sekali saja.


"Yakali gue langsung percaya aja gitu, dia dari dulu sering buat onar dengan siap pun terutama yang berani mengusiknya," Indra tetap membela dirinya, merasa tidak mungkin jika akan langsung percaya begitu saja dengan Gavin.


"Udah deh, kalian ini." Gita mendengus saat perhatian Indra kini beralih pada sang Kakak, membuat gadis itu makin kes saja dengan Hafidz, sebab menurutnya mengganggu mereka berdua.


Malam makin larut Hafidz pun mengajak Gita untuk pulang, gadis itu harus menjaga kesehatannya, terutama untuk tidak begadang seperti yang sering Gita lakukan.


"Ayo aku antar sampai depan pintu." Indra beranjak dari duduknya, meraih tangan Gita yang seakan masih enggan untuk meninggalkan tempat itu.


"Gue sumpahin Lo lebih parah dari kita bucinnya!" ujar Indra tak mau kalah.


Tapi Hafidz tak menanggapi, sebab dia sudah masuk ke dalam unit apartemennya.


"Langsung tidur ya, jangan main hape dulu. Ini sudah terlalu malam." Indra mengacak rambut Gita sebelum melepaskan gadis itu masuk kedalam unit apartemen Hafidz.


Gita mengangguk, "Iya bang, Abang juga langsung tidur ya. See you." Gita mengecup pipi Indra sekilas sebelum masuk ke dalam, membuat pemuda itu tersenyum lalu menggelengkan kepala. Sedangkan Gita sebenarnya merasa malu dengan tingkahnya kali ini.


🥀🥀🥀


Sesuai rencana, pagi ini Gita bertemu dengan Gavin. Tapi pemuda itu tak menyangkan jika Gita membawa ikut serta Indra bersamanya, tapi setelah senyumnya mengembang kala menyadari sesuatu, dia terlihat bahagia tentu saja.

__ADS_1


"Maaf kalian pasti lama menunggu," ujarnya setelah duduk dihadapan dua sejoli ini.


"Tidak masalah, kita juga baru datang," sambung Gita.


Setelah mendesak beberapa cemilan dan juga minum, Gita mengutarakan maksudnya bertemu dengan Gavin, dan Gavin seakan mengerti dengan apa yang Gita utarakan.


"Gue terimakasih sama Lo karena udah jagain Gita," celetuk Indra tulus, sebab dia bisa melihat sendiri perubahan seorang Gavin.


"Tidak masalah, selama gue bisa bantu kenapa enggak?" ujar Gavin.


Indra hanya mengangguk, rasanya masih canggung dengan Gavin, mengingat dulu mereka seperti apa.


"Soal Karin, kami harus benar-benar jauhi dia. Sejak dulu gadis itu memang seperti itu, kamu pasti tidak menyangka jika dulu Karin selalu mendapatkan uang dari Mama kamu Tante Sita, setelah apa yang diperintahkan Tante berhasil dia lakukan," tutur Gavin sedikit banyak mengerti tentang kehidupan seorang Karin.


Gita menghela nafas mendengar ucapan Gavin, tak menyangka selama ini pertemanan dia dan Karin hanya sebuah kepalsuan tentu saja hanya karena uang.


"Kamu pasti kaget, kan? Dan itu kenyataannya, dia tidak pernah tulus berteman dengan kamu, entah apa itu alasannya," ucap Gavin lagi sebab tak mendapatkan respon dari Gita.


Cukup lama ketiga orang itu berbincang, hingga kecanggungan yang tadi tercipta antara Gavin dan Indra kini sudah tak lagi ada, mereka seperti tiga sahabat yang sedang saling mengejek satu sama lain.


"Mulai sekarang gue mau kita berteman, lupakan masa lalu yang membuat kita bermusuhan." Gavin menyalami Indra saat mereka akan berpisah di parkiran.


Indra tersenyum, "Baiklah, gue juga bosen musuhan terus," celetuk Indra membuat keduanya terkekeh.


Sedangkan Gita hanya tersenyum menyaksikan tingkah Indra dan Gavin, dia bersyukur saat mengetahui mereka berbaikan. Dia menyadari hikmah dari hilang ingatannya itu salah satunya menyatukan mereka berdua.


"Benar-benar musibah membawa berkah," gumamnya sambil tersenyum melihat tingkah dua orang itu.

__ADS_1


__ADS_2