Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Tak Mau Salah Paham


__ADS_3

"Sebenarnya Lo kenapa sih Ta?" Gita sebenarnya sudah sangat penasaran sejak tadi, tapi dia membiarkan sahabatnya itu untuk makan siang dan membersihkan badannya terlebih dahulu. Kini Meta sudah terlihat segar dengan pakaian milik Gita, untung saja gadis itu memiliki beberapa set pakaian dalam yang belum dipakai.


Meta menghela nafas berat, kemudian menggelengkan kepala. "Gue baik-baik aja Gita, Lo enggak usah khawatir," jawabnya.


Gita mendengus, dia tahu persis seperti apa sahabatnya itu. Padahal terlihat sedang tidak baik-baik saja, tapi ngakunya baik, sungguh bukan hal yang asing baginya, sebab hafal dengan sikap Meta yang tak ingin merepotkan orang lain.


"Kalo Lo baik-baik aja, terus kemana hape Lo? Mobil? Biasanya Lo kalo pergi enggak pernah lupa dengan dua hal itu. Tapi sekarang?" Gita menatap sepasang mata kelam dihadapannya ini, yang masih saja enggan menceritakan apa yang telah terjadi.


"Oke, gue kabur dari rumah. Sialnya hape gue ketinggalan. Soal mobil, gue sengaja enggak bawa, kalo gue bawa mobil bokap bakalan gampang nemuin gue dimana," akhirnya Meta membuka suara.


Gita bisa melihat, jika sahabatnya ini sedang memiliki masalah yang tidak biasa. Dia terus mendengarkan cerita dari Meta, gadis yang selalu ceria dan terlihat baik di luar, tapi kehidupan sebenarnya tak seperti apa yang selalu dia tampilkan dihadapan orang lain.


"Gue bingung mau kemana, akhirnya gue putusin ke sini naik kereta. Dan pas gue mutusin buat cari makan malah ketemu Indra, dan dia maksa gue ke sini."


Gita mengangguk, meski dia masih penasaran kenapa Meta bisa kabur dari rumah? Bukankah dia sudah baikan dengan ayahnya setelah sang Ayah bercerai dengan ibu tirinya? Ingin rasanya bertanya, tapi urung, biarkan Meta bercerita dengan sendirinya. Takut sahabatnya itu menjadi tidak nyaman.


"Gue sebenarnya enggak mau ngerepotin, gue cuma butuh menenangkan diri sebentar, sebelum balik lagi ke rumah," Meta masih menceritakan beberapa keluh kesahnya. Gita hanya bisa mengusap punggung gadis itu, memberi kekuatan.


"Bokap gue mau nikah lagi, itu sebuah bencana besar bagi gue Git. Setelah sekian lama hidup sama ibu tiri, gue rasanya enggak mau hal itu terulang kembali. Mungkin kalau cuma itu masalahnya, gue masih bisa nerima tentu saja dengan syarat gue enggak mau tinggal dirumah lagi,"


"Yang membuat gue enggak terima, wanita yang mau dinikahi bokap gue itu bukan wanita baik-baik Git. Gue beberapa kali pernah liat dia di klub, pas gue tanya sama Devan dia juga tahu cewek itu. Dan gue menolak keras dengan permintaan bokap, tapi bokap maksa, dia tetep mau nikahin wanita itu. Akhirnya gue milih kabur dari rumah." Meta mengakhiri kisahnya, dia menyeka air mata yang sudah menganak sungai tanpa terasa.


Gita memeluk Meta, mencoba menenangkan sahabatnya itu, dia juga bingung harus berkomentar seperti apa. Yang terpenting saat ini hanya menemani sahabatnya itu dengan baik.


Bukankah persahabatan terasa indah jika kita sama-sama saling percaya satu sama lain.


🥀🥀🥀


Sejak kedatangan Meta tiga hari yang lalu, Gita selalu bersama sahabatnya itu. Bahkan dia belum bertemu dengan Salman, pemuda itu mengatakan sedang sibuk dan belum sempat datang lagi ke rumah.


"Lo enggak kangen gitu sama tunangan Lo itu? Kayaknya sejak gue disini, dia belum ke sini lagi," celetuk Meta saat keduanya sedang menikmati makan siang bersama di kafe sebuah mall.

__ADS_1


"Dia sibuk Ta, nanti dia juga bakalan datang kalo udah enggak sibuk," jawab Gita santai tak merasa curiga sedikit pun.


Meta hanya mengangguk, jika Gita saja percaya sepenuhnya dengan sang kekasih, kenapa Meta merasa curiga? Kan, aneh. Mungkin Meta terlalu over thingking.


"Atau gue gue antar Lo ke rumah sakit aja. Sekalian bawa makanan buat dia, jam makan siang kan masih sekitar setengah jam lagi." Meta melihat pergelangan tangannya, memastikan jika jam istirahat belum datang.


Gita nampak berfikir sejenak, setelah itu tersenyum lalu mengangguk, "Ide bagus, gue juga kangen pengen ketemu dia," ujarnya.


Gita memesan beberapa makanan kesukaan Salman untuk dibawa ke rumah sakit tentunya. Berharap Salman akan menyukai apa yang dia bawa, ya meskipun makanan beli bukan dari jerih payahnya sendiri.


Perjalanan yang mereka lalui hanya beberapa menit saja, sebab mall dan rumah sakit keluarga Salman itu tak begitu jauh dari mall, tapi meski begitu kemacetan di jam seperti ini menjadi hal yang sangat menyebalkan.


Kedua gadis itu beriringan menuju ruang Salman, tadinya Meta mau menunggu di mob saja, tapi dengan paksaan sahabatnya akhirnya dia pun ikut turun.


Beberapa orang yang memang mengenal siapa Gita, menyapa gadis itu dengan sangat ramah. Berbeda jika mereka berpapasan dengan keluarga pasien yang nampak tak peduli sama sekali dengan kehadiran orang lain di tempat itu.


Seperti biasa, Gita mengetuk pintu ruangan sang kekasih, tapi tak ada jawaban dari dalam, membuatnya nekat membuka paksa ruangan itu. Ternyata si pemilik ruangan tak ada di tempat, bahkan di kamar pun tak ada, membuatnya keluar dari ruangan tersebut, tak lupa meletakkan makanan yang tadi dia beli.


"Maaf Mbak Gita cari dokter Salman?" seseorang yang baru saja keluar dari ruangan lain di sekitar tempat itu, menghampiri Gita.


"Ah iya Mbak, dimana dia ya?"


"Dokter Salman tadi berjalan ke arah kantin, saya sempat berpapasan sebelum ke sini," jawab seseorang itu, dilihat dari pakaian yang dikenakan sepertinya wanita ini seorang perawat.


Setelah mengucapkan terimakasih, Gita dan Meta pun menuju kantin rumah sakit, tempat yang baru pertama kali Gita datangi, sebab selama ini dia tak pernah sekali pun datang ke kantin, karena Salman selalu memesankan makanan dan di makan di runangan pemuda itu.


"Bukannya itu tunangan Lo Gita? Sama siapa dia?" Meta menunjuk ke arah meja di mana ada dua insan lawan jenis duduk sambil menikmati makan siang, bahkan keduanya terlihat saling melempar senyum.


"Mungkin teman dokternya juga, Lo jangan mikir aneh-aneh deh Git," dengan cepat Meta menjawab pertanyaannya sendiri, tentu takut membuat sahabtnya itu salah paham.


"Ayo kita pulang aja Ta, sepertinya dia enggak butuh kehadiranku saat ini." Gita menarik tangan Meta keluar kantin, tapi Meta mencegahnya.

__ADS_1


"Gita sayang, jangan suudzon dulu, kita samperin mereka biar tahu siapa sebenarnya wanita yang duduk berdua sama doi Lo. Kalau kita enggak samperin, kalian bisa salah paham lagi." Meta kembali menarik Gita untuk masuk ke dalam kantin tersebut.


"Males gue!" Gita bersikeras tak ingin menemui Salman, sebab dia masih ingat siapa wanita yang kini duduk berhadapan dengan pemuda itu, dia wanita yang sama saat di kafe waktu itu.


Tapi Meta tak menyerah, dia masih percaya jika itu hanya rekan kerja atau teman Salman saja, dan mungkin kebetulan mereka makan siang bersama. Gadis itu menarik Gita supaya mengikutinya.


"Sayang?" Salman lebih dulu menyadari keberadaan tunangannya itu bahkan sebelum kedua gadis itu sampai di dekat mejanya. Pemuda itu langsung menghampiri keduanya, tentu mendapatkan tatapan dan delikan kekesalan dari sang kekasih.


"Ayo aku akenalin sama Claudia, kami kebetulan bertemu saat mau ke kantin." Salman meraih pergelangan tangan gadis itu, sebenarnya Gita mau menolak tapi dia tetap memilih untuk mengikuti sang kekasih.


"Lau, kenalin ini gadis yang aku ceritain ke kamu, namanya Gita, dia tuanganku." Claudia lebih dulu menyodorkan tangannya, dengan terpaksa Gita pun menjabat tangan wanita itu.


"Claudia, teman SMA Salman," ucap wanita dihadapannya.


"Gita," hanya itu yang keluar dari bibir Gita.


Meta? Gita mencari keberadaan gadis itu, ternyata Meta sedang nyengir di meja paling pojok seorang diri, membuat Gita mendengus dalam hati.


"Kamu cantik seperti yang dikatakan oleh Salman, bahkan lebih cantik dari foto yang dia kasih lihat," ucapan Claudia itu justru menjadi aura disekitar makin mencekam, sebab pujian sederhana tersebut menandakan jika kedekatan Salman dan Claudia tidak hanya sebagai dokter dan keluarga pasien.


"Terimakasih Mbak," Gita memaksakan senyum pada wanita itu.


"Kak, aku pulang ya." Gita beranjak dari duduknya, meninggalkan dia insan tersebut.


Salman segera menyusul Gita, sebab dia merasa Gita tak menyukai situasi seperti ini.


"Ke ruanganku dulu ya, kita bicara. Aku enggak mau kamu salah paham lagi." Salman sudah membingkai tubuh Gita dengan lengan kekarnya.


Gita pasrah, dia mengikuti pemuda itu.


"Gue tunggu di mobil." Meta berjalan mendahului keduanya, meninggalkan mereka menuju tempat parkir.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2