
"Silahkan masuk Kak, Salma ada di dalam, sekalian ikut makan malam bareng aja." Gita mempersilakan tamunya yang tak lain adalah Salman Kakak Salma.
"Iya makasih, aku tunggu di sini aja." Salman duduk di sofa yang berada di ruang tamu tersebut, rasanya tak enak hati dengan kedua orang tua Gita, jika datang langsung makan, padahal tujuannya menjemput Salma.
"Ikut makan malam sekalian aja Kak, kita tadi masak banyak, sayang kalau enggak habis. Aku maksa lho," ujar Gita sambil tertawa kecil.
Akhirnya Salman pun menurut, dia mengikuti Gita masuk ke ruang makan. Ternyata hanya ada tiga gadi itu, keluarga Gita entah kemana.
Mereka bertiga tadi setelah pulang dari mall langsung ke rumah Gita, menggunakan mobil Gita yang dikemudikan oleh Indra, sebab Fajar memilih untuk menyusul Taka yang sepertinya pergi dalam kubangan emosi. Tak ingin terjadi sesuatu dengan teman sekaligus saudaranya itu.
"Ayo makan Kak, ini semua kita yang masak," celetuk Gita saat Salman sudah duduk di salah satu kursi.
Salman mengernyitkan dahi nampak tak percaya dengan ucapan Gita, "Salma masak?" tanyanya keheranan.
"Iya Bang, dia yang paling semangat masak. Tapi dia juga yang menghancurkan masakan kita," jawab Alya yang tampak kesal sambil melirik Salma.
Sedangkan Salma hanya menyengir tak merasa bersalah sedikit pun.
"Iya Bang aku cuma bantuin doa doang, yang masak lauk Alya, kalau yang buat puding dan kawan-kawannya Gita, aku mah terima beres," kini Salma ikut menjawab.
"Udah ayo kita makan, enggak penting siapa yang masak juga," Gita menengahi.
Mereka pun makan malam bersama, tapi Salman merasa aneh sebab di rumah itu tak ada orang tua Gita, ingin bertanya tapi rasanya tak enak hati. Akhirnya dia hanya menyimpan pertanyaan di dalam hatinya saja.
Selesai makan dan membereskan semuanya, setelah itu keduanya sahabatnya pun berpamitan pulang. Tak lupa Gita memberikan beberapa puding dan kue yang dia buat tadi bersama kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Dek, tadi kok di rumah Gita sepi? Emang orang tuanya kemana? Sama itu abangnya yang waktu itu juga enggak ada?" Salman ternyata masih penasaran dengan keadaan rumah Gita yang sepi.
Keduanya saat ini sudah berada di dalam mobil menuju kediaman mereka.
"Itu tadi rumah Mamanya Gita saat masih belum nikah, sebenarnya sekarang Gita sudah enggak tinggal di sana, tapi tinggal di rumah Papa tirinya. Kalau di rumah yang tadi sebenarnya ada orang tua angkat kembaran Gita, tapi mereka belum pulang," jelas Salma dan sang Kakak pun mengangguk mengerti.
"Gita kelihatan anaknya baik ya, meskipun dia anak orang kaya," celetuk Salman tiba-tiba, membuat sang adik menoleh mencari tahu apa maksud dari perkataan abangnya itu.
"Dia emang baik, enggak memandang orang lain dari kekayaannya, sampai-sampai di dulu dimanfaatin sama temen-temennya. Tapi yang buat aku kasihan dia selalu gagal dalam masalah percintaan, bahkan mantan-mantannya jadian sama dia juga karena ingin memanfaatkan. Mereka tahu Gita anak orang kaya, dan terlihat sangat polos tentunya mudah untuk dikelabui," Salma menceritakan sedikit tentang kehidupan Gita.
Abangnya itu nampak antusias, sepertinya dia sedikit tertarik dengan gadis itu. Tapi apakah Gita mau menerimanya? Sedangkan umur mereka saja terpaut jauh. Salman menghela nafas berat.
"Kenapa Bang? Abang tertarik sama Gita? Tumben tertarik sama gadis, biasanya aja tertariknya sama selang infus," Salma mencibir.
"CK, kalo orang suka itu ya di perjuangkan. Bukan malah mundur sebelum berjuang, enggak gentel banget sih Bang! Pantesan jomblo melulu dari lahir,"
"Iya ya adikku yang paling cantik. Kalau gitu kasih nomor dia dong," Salman berharap adiknya itu mau memberikan nomor Gita.
"Enggak! Enak aja minta sama aku, minta sendiri sama Gita. Datangi langsung rumahnya. Aku cuma mau kasih info kalau seminggu ke depan Gita bakalan tinggal di rumah yang tadi, selain itu cari tahu sendiri, biar terasa perjuangannya," tolak Salma mentah-mentah, ternyata sama Abangnya saja gadis itu tak mau memberikan nomor Gita, apalagi dengan orang lain sudah pasti menolaknya.
🥀🥀🥀🥀
Setelah kepergian dua sahabatnya, Bu Nurul dan Pak Ahmad pulang. Gita langsung menyambut keduanya. Dirinya memang sudah memberi tahu Bu Nurul jika akan tinggal di rumah itu sementara, tapi meski begitu rasanya tak enak jika tidak menunggu mereka berdua pulang.
Setelah beberapa saat mengobrol, akhirnya mereka memutuskan untuk masuk kamar masing-masing. Gita kembali mengerjakan skripsi yang sebentar lagi selesai itu. Dia berharap segera lolos dan akan langsung menyusul saudara kembarnya di luar negeri.
__ADS_1
Pukul sembilan malam, gadis itu keluar kamar bermaksud untuk mengambil air minum di bawah. Ternyata dia bertemu dengan Bu Nurul yang sedang duduk di ruang keluarga, menonton televisi. Sepertinya wanita paruh baya itu sedang menonton sinetron terlihat dari layar televisi yang menyala.
Gita ikut duduk di sisi Bu Nurul, "Belum tidur Bu?" tanyanya.
"Belum neng, Ibu belum ngantuk jam segini. Biasanya ibu tidur kalau sinetron Terbaliknya Dunia sudah selesai, tapi kalau capek juga kadang lebih awal tidurnya," jawab wanita itu.
"Kenapa Neng Gita belum tidur?" tanya Bu Nurul.
"Belum Bu, baru meriksa tugas kuliah. Dan ini kebetulan haus," jawabnya.
Mereka kembali mengobrol ringan, Gita merasa sedang berbicara dengan Mamanya. Bu Nurul begitu pengertian, merespon semua cerita yang dia ceritakan.
"Bu kalau misalnya aku tinggal di sini aja gimana ya?" tanya Gita, ingin mengetahui pendapat Bu Nurul. Kalau Bu Nurul merasa nyaman adanya dirinya di rumah itu, mungkin Gita akan memikirkan cara untuk tinggal di tempat ini.
"Jangan dong Neng, kasian Mama kalau Neng Gita tinggal di sini. Takutnya Mama akan mengira kalau Neng Gita enggak suka Mama menikah lagi. Jadi menurut Ibu, sebaiknya Neng Gita tetap tinggal di rumah itu. Kalau mau menginap di sini boleh-boleh aja, seperti saat ini kalau Mama enggak si rumah," jawab Bu Nurul.
"Iya Bu aku ngerti," timpalnya.
Mereka berdua terus bercerita hingga hampir tengah malam. Padahal Gita tak pernah sedekat itu dengan Bu Nurul sebelumnya. Tapi entah kenapa setelah mengobrol cukup lama dia merasakan kenyamanan saat bersama wanita itu.
Gita kembali ke kamar dengan perasaan sedikit lebih tenang, pasalnya dia menceritakan tentang perasaanya dengan Indra dan semua yang dia rasakan saat dekat dengan Indra. Bukan tanpa alasan bercerita seperti itu dengan Bu Nurul, sebab jika bercerita dengan sang Mama tidak mungkin sekali. Tentu saja Mamanya pasti akan merasa bersalah karena dirinya.
Bersambung.....
🥀🥀🥀
__ADS_1