Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Pernikahan Mama


__ADS_3

Bagi Gita waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa disadari hari pernikahan sang Mama sudah di depan mata, esok pagi tepatnya. Padahal hatinya masih rapuh, belum siap menerima semuanya, meski berulangkali mencoba untuk ikhlas dan merelakan, tetap saja rasanya masih menyisakan sesak di dada.


Keramaian di rumahnya sama sekali tak membuat gadis itu tergerak untuk ikut berkumpul dibawah sana, dengan dalih mengerjakan merevisi skripsinya, padahal dia hanya rebahan sambil memainkan ponsel dan sesekali melamun saat mengingat nasib percintaannya.


Berulangkali menghembuskan nafas beratnya, tapi hatinya masih tetap sama sesak, sesak sekali yang dia rasakan. Seperti biasa dia menelepon sang Abang untuk mencurahkan segala rasa gundah gulana yang dia rasa, berharap hatinya menjadi lebih tenang, tapi berulang kali dia menghubungi abangnya itu, berulangkali pula dia mendapatkan penolakan, hingga sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


'Ada apa lagi? Lagi diskusi sama temen-temen, nanti malam aja ya'


Gita berdecak membaca pesan kembarannya itu, tega sekali sih membiarkan adiknya galau, satu lagi yang terpenting kenapa enggak pulang disaat hari bahagia sang Mama.


Memikirkan hal tersebut membuat Gita makin kesal, kembali menghela nafas beratnya.


Tega banget sih enggak pulang dihari bahagia Mama


Gita menulis pesan dengan diakhiri emoticon kesal.


Makin kesal saat tak ada balasan dari sang Abang, membuatnya membuang ponsel ke sembarang arah, tak peduli ponselnya akan rusak. Memilih untuk melihat drama Korea kesukaanya, berharap dengan begitu galaunya hilang, atau malah justru bertambah karena yang dia tonton drama yang menguras air mata.


Tok Tok Tok


"Masuk, pintunya enggak di kunci," ucap Gita tanpa menoleh ke arah pintu, dia berpura-pura mengerjakan skripsi. Saat mendengar ketukan pintu, layarnya langsung dia alihkan ke tugas skripsinya, meninggalkan drama yang masih setengah permainan.


"Kenapa Van? Kangen ya sama Kak Gita?" celetuk Gita lagi-lagi tanpa menoleh ke arah sumber suara. Dia langsung menebak jika itu Revan dari parfum yang melintas di indera penciumannya. Parfum maskulin yang sepertinya tak asing dan dia mengira itu Revan, sebab hanya Revan yang berani masuk ke kamarnya. Tak mungkin anak Tante Arin, karena dia tidak begitu dekat dengan anak Tantenya itu.


Revan beserta sang Mama sudah datang sejak siang tadi, tapi Papanya baru bisa datang esok hari, dengan alasan ada pertemuan dengan klien malam ini. Entahlah menurut Gita itu hanya alasan sang Papa, sebab dia tahu betul sang Papa masih berharap bisa kembali dengan Mama, meski itu tak mungkin terjadi.


"Enggak, yang kangen itu gadis cerewet yang sejak tadi neror enggak sabaran," jawab orang yang baru masuk tersebut.


Gita terperangah mendengar jawaban orang itu, bukan, bukan jawabannya yang membuat dia terkejut melainkan suara itu. Tanpa ba bi bu Gita pun langsung melompat dari atas ranjang lalu menerjang seseorang yang baru saja masuk kamarnya. Hampir saja orang itu terjatuh karena serangan Gita yang mendadak, untung saja dia masih di depan pintu dan bisa bersandar di daun pintu yang sengaja dia tutup.

__ADS_1


"Abang! Ngeselin aku di prank!" Gita memukul punggung pemuda itu yang tak lain Kakak kembarnya.


Hafidz terkekeh mendengar Gita merajuk, dia sengaja pulang tanpa memberitahu siapa pun, sebagai kejutan. Tapi adiknya itu justru terus menerornya dengan menelfon tanpa henti, membuatnya sedikit kesal dan merijek setiap panggilan dari Gita.


"Gimana surprise nya? Seneng kan?" tanya Hafidz.


"Ih! Kesel tau! Tega banget sih bohong sama aku!" Gita belum melepas pelukannya, bukan lagi rindu yang dia rasakan, tapi keberadaan Abangnya memang sangat dibutuhkan saat ini.


"Siapa yang bohong coba? Tadi emang bareng temen-temen di kafe, dari bandara Indra langsung bawa ke kafe, dia ada janji sama yang lain," jelas Hafidz.


Mendengar nama Indra disebut, membuat Gita makin mengeratkan pelukannya, entah kenapa hanya nama saja tapi membuat hatinya kembali bergetar.


Menyadari pelukan adiknya makin erat, membuat Hafidz mengusap punggung Gita, memberi ketenangan pada kembarannya itu.


"Ini sudah keputusanmu, kan? Jadi, Abang harap kamu konsisten dengan keputusanmu itu. Jangan buat Mama sedih di hari bahagianya. Mama pasti tahu apa yang kamu rasakan, tapi tentu Mama tidak tahu apa masalah sebenarnya. Abang yakin, lama kelamaan perasaan itu akan memudar dan hilang dengan sendirinya," tutur Hafidz, membuat Gita terisak.


Hafidz memberi banyak solusi pada kembarannya itu, mereka berdua menghabiskan malam dengan bercerita satu sama lain, membuat Gita sedikit lebih lega. Bersyukur Abangnya pulang di saat yang tepat.


🥀🥀🥀🥀


Meski tak banyak tamu undangan yang datang, tapi rumah mewah itu kini terlihat ramai dengan hadirnya para tetangga dan keluarga besar dari kedua mempelai.


Mama Sinta masih berada di dalam kamar, ditemani Gita dan kedua saudaranya, Tante Sita dan Tante Arin. Wanita berumur empat puluh tahun lebih itu kini sedang di dandani sedemikian rupa oleh MUA yang mereka undang.


"Mbak hijabnya panjangin aja," titahnya saat sang MUA perempuan itu akan melipat hijab panjangnya.


"Baik Bu, saya rapikan saja kalau gitu," timpal MUA tersebut.


"Mama keliatan cantik banget, Om Luky pasti pangling, dikira gadis muda yang bersanding dengannya nanti," celetuk Gita sambil terkikik geli.

__ADS_1


Gita sudah terlihat lebih baik, setelah semalam mencurahkan semua isi hatinya Padang sang Abang. Menurutnya saat ini kebahagiaan sang Mama lebih penting dari apa pun.


"Jangan ngaco kamu!" sanggah sang Mama membuat semua yang ada di kamar itu terkekeh geli.


"Beneran kaya masih gadis kalau di make-up gini," sambung Tante Arin mendukung ucapan Gita.


"Kalah saing aku Ma," timpal Gita.


Mereka melakukan itu berharap mengurangi rasa tegang yang Mama rasakan.


Tak terasa acara sakral itu telah terlewat, kini Mama resmi menjadi istri Om Luky. Senyum bahagia terlihat dari sepasang pengantin baru itu. Keduanya menyalami tamu undangan satu persatu saat mereka berpamitan untuk pulang. Bukan di atas pelaminan, melainkan di depan pintu keluar, sebab tak ada pelaminan di acara pernikahan ini. Hanya dekorasi sederhana untuk kepentingan pemotretan, sesuai permintaan Mama.


"Maaf saya telat datangnya," ucap seseorang yang baru saja masu disaat yang lain berpamitan.


"Enggak apa-apa Mas, terimakasih sudah datang," jawab Mama ramah seperti biasa.


"Selamat untuk pernikahan kalian, semoga langgeng hingga mau memisahkan," ucap lelaki itu lagi, yang tak lain adalah Papanya Gita, Renaldy Atmawijaya.


"Aamiinn," jawab kedua pengantin itu.


Gita yang melihat Papanya baru saja datang justru menampakkan kekesalannya, dengan menyambut sang Papa dengan wajah cemberut. Sang Papa sangat mengerti dengan putrinya, tapi dia bisa apa? Dirinya memang sengaja datang disaat ijab qobul sudah terlaksana, tak mampu jika menyaksikan wanita yang masih ada di hatinya itu menjadi milik orang lain.


"Maafkan Papa ya," ucapnya pada Gita dan Hafidz yang kini menemani sang Papa.


"Enggak masalah Pa, Hafidz ngerti," berbeda dengan Gita, Hafidz sangat mengerti keadaan sang Papa.


Melihat suaminya baru saja hadir, membuat Sita sedikit bersedih, dia paham betul dengan perasaan sang suami, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Suaminya masih menerima dirinya dengan baik saja itu cukup, meski hati lelaki itu tak utuh menjadi miliknya.


🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA.


__ADS_2